LOGINRisa masih mematung, matanya membelalak kaget. Ia tak sengaja menatap sekilas Permen Ponakan’nya yang kini menjulang bebas.
Nanang menoleh, tidak menyadari kebisuan Risa. "Iya, Tan, mau tanya apa?"
Risa cepat-cepat mengendalikan ekspresinya.
"Gak jadi, Nang. Boleh Tante duduk di ranjang kamu?"
"Tan, maaf, kan Nanang belum beres ganti baju," jawab Nanang Canggung.
"Gak apa-apa, Nang, cuek aja. Tante gak akan lihat, kok. Lagian Tante mau beresin tempat tidur k
Nanang hanya bisa pasrah. Tubuhnya kini menjadi sasaran cumbuan liar Risa.Dengan kasar, Risa mendorong tubuh Nanang yang sudah tak berbusana hingga jatuh terjerembap ke atas kasur empuknya.Dengan cekatan, satu per satu pakaian Risa pun jatuh berserakan di lantai, menanggalkan seluruh penghalangnya.Dengan gerakan yang sangat menggoda, Gunung kembarnya membusung tinggi dan semak hitam miliknya yang rimbun terpampang nyata saat ia menghampiri Nanang.Tanpa aba-aba, Risa langsung melumat bibir Nanang yang sebenarnya masih basah karena bekas lumatan Dyah tadi.Lidah mereka saling menari dan beradu di dalam rongga mulut. Nanang akhirnya membalas lumatan itu hingga mulut mereka benar-benar basah oleh air llur yang saling bertukar.Dengan napas yang mulai memburu, Risa menurunkan kecupannya ke leher Nanang. Ia memberikan gigitan-gigitan kecil sambil menghisap kullt leher itu dengan kuat.Nanang yang tersadar segera mencoba menolak dengan g
Di tengah suasana yang semakin panas, Nanang berbisik di telinga Dyah.“Mbak Dyah, kapan terakhir kali melakukan hal seperti ini?”“Sudah lama sekali, Nang...Mungkin sudah setahun lebih, sejak sebelum suami Mbak pergi,” jawab Dyah dengan napas yang memburu.“Aku hi-sap lagi ya, Mbak?” tanya Nanang meminta izin."Iya, Nang... jilat kelerengnya, Nang. Enak banget..." pinta Dyah dengan suara parau yang penuh harap.Nanang kembali menundukkan kepalanya, menyapu dan menghisap kembali kelereng Dyah yang sudah mengeras.SLURPPT..!!!Dyah sampai kejang-kejang dibuatnya, merasakan sensasi luar biasa yang sudah lama tidak ia rasakan.Tangan Nanang mulai bergerak turun, mencoba melepas celana dalam merah Dyah yang sudah sangat lembap.Setelah berhasil menanggalkannya, Nanang mulai mengelus area sensitif itu dengan dua jarinya.Terasa sangat jelas bahwa Lembah Dyah sudah benar-benar basah oleh cairan hasrat.Dyah memandang sayu ke arah Nanang, matanya menyiratkan keinginan yang tak tertahankan la
Nanang menelan ludah.Godaan visual Tantenya, yang sedang berada dalam posisi telungkup, begitu menghujam hasratnya.Nanang melintas cepat, berusaha melewatinya.Tiba-tiba, Tantenya menoleh ke arah Nanang sambil tersenyum.“Eh, Nanang sudah pulang?” Tanyanya lembut."Sudah, Tan. Tapi Nanang mau izin langsung main ke rumah teman, boleh enggak, Tan?""Boleh aja. Asal pulangnya jangan terlalu malam ya," pesan Tantenya."Baik, Tan."Nanang segera masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.Entah kenapa, rasa rindu pada Salsa terjadi setiap saat, padahal seharian dia bekerja bersamanya, pikir Nanang, merasakan kegelisahan yang aneh.Setelah berganti pakaian, ia keluar kamar. Tantenya masih dalam posisi telungkup di karpet permadani."Ya ampun, Tan. Itu Bemper udah mirip kasur lipat, lebar banget," gumamnya, matanya tak sengaja tertuju sejenak.Namun, ia segera mengalihkan pandangannya, takut hasrat liarnya
Salsa termenung sejenak, matanya menatap kosong ke suatu titik. Keputusan ini terasa begitu berat.Kemudian, tatapannya kembali tertuju pada Doni, memancarkan keputusasaan yang tertahan."Yaudah, gue mau," ucap Salsa pelan, nyaris tak terdengar. "Tapi, lo janji mesti hapus video itu!"Doni tersenyum menang, rasa jijik muncul di wajah Salsa."Oke. Kita main di hotel bintang tiga saja, biar gampang dan cepat," ujar Doni santai, menyebut nama hotel check-in instan."Terserah lo," Salsa membalas dingin.Tiba-tiba, Nanang yang sudah selesai dan siap pulang menghampiri mereka."Yuk, Sa, balik," ajak Nanang riang.Salsa tercekat, harus berbohong di depan Doni."Sorry, Nang. Lo pulang duluan saja, ya. Soalnya gue lembur, ada yang masih gue kerjain.”Doni hanya menyeringai puas melihat sandiwara Salsa.“Yaudah, Pak, Sa. Gue duluan ya.” Nanang pamit dan segera menghilang.Doni tak menjawab, hanya mengangguk ke
Saat di toko, energi kerja Nanang membara. Nanang dengan penuh fokus menata produk di kasir, memastikan setiap susunan rapi sempurna.Di sisi lain, Salsa melayani pembeli dengan senyum tulus, menjaga flow toko tetap hidup.Tiba-tiba, pintu depan terbuka.Sosok Doni Kepala Toko yang selalu datang sangat terlambat, muncul dengan langkah santai, jaket kulitnya masih tergantung di bahu."Sori, Sa. Gue terlambat parah lagi," ucap Doni tanpa nada penyesalan yang berarti."Iya, enggak apa-apa, Pak," jawab Salsa, senyum profesionalnya terasa dipaksakan. Dalam hati, ia sudah mencak-mencak melihat kebiasaan buruk atasannya."Oke, kalau gitu gue ke belakang dulu, ya, nyimpan tas."Doni melangkah, jalannya ngeloyor tanpa memperhatikan sekitarnya. Tepat di samping Nanang, ia menyenggol bahu Nanang dengan kasar dan sengaja.Tumpukan barang yang baru saja Nanang susun dengan susah payah berhamburan ke lantai dengan bunyi berisik, menarik perh
Risa menatap Ponakannya, matanya tampak sayu dan penuh godaan yang tak terbantahkan."Kok malah bengong? Ayo, buka pakaianmu. Kamu sudah janji, 'kan?" desaknya, suaranya terdengar serak.Nanang menghela napas panjang. "Baik, Tan," jawabnya.Perlahan, Nanang mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu. Hingga terakhir, saat celana pendeknya terlepas, Permennya menjulang hebat, kaku dan panas.Seketika mata Risa terbelalak. Ia langsung bangkit dari posisinya yang berbaring.Nanang masih berdiri tegak di hadapan Risa. Dengan gerakan yang penuh hasrat, Risa langsung meraih Permen Nanang yang membara sambil mulai mengo-c*knya.Nanang tersentak. Sentuhan tangan Risa terasa begitu hangat dan lembut di kulitnya."Maafin Nanang, Om," lirihnya dalam hati.Risa terlihat sangat bahagia, matanya berbinar penuh gairah.“Ya ampun, Nanang, Permen kamu sampai segede ini. Punya Om kamu saja sampai kalah, loh!” racaunya sambil mendongak, m







