Home / Urban / Sistem Sign-In Harian / 3. Primadona Kampus

Share

3. Primadona Kampus

Author: KoTz
last update publish date: 2026-06-06 21:15:23

Sambil mengunyah permen karet santai, Reno menjawab, "Nggak mahal-mahal amat kok, cuma 1,5 miliar."

"Cuma 1,5 miliar? Kamu memang selalu merendah, Tuan Muda!"

"Astaga, 1,5 miliar. Gajiku saja cuma 5 juta sebulan. Berapa tahun aku harus puasa biar bisa beli itu?" celetuk seorang gadis cantik dengan nada tidak percaya.

Gadis itu bernama Siska. Dari segi wajah dan penampilan, ia memang lumayan menonjol di lingkaran itu.

Tiba-tiba seseorang dari kerumunan itu melontarkan godaan, "Kalau kamu bisa luluhin Tuan Muda Reno, siapa tahu kamu bisa ngisi kursi kosong di sebelahnya!"

Siska tersipu mendengar komentar tersebut. Ia membalas dengan raut cemberut yang sengaja dibuat-buat, "Ehh! Walaupun aku naksir, belum tentu Tuan Muda Reno ngerasain hal yang sama ke aku!"

Gelak tawa pun pecah di antara mereka.

Pada saat yang sama, sebuah taksi berhenti di area lobi. Seorang gadis anggun melangkah keluar. Ia mengenakan blus bergaya Korea berwarna ungu muda yang dipadukan dengan celana jins hitam pas badan. Penampilannya yang sudah mencolok sejak awal, kini semakin sempurna dengan sepasang sepatu hak tingginya.

Ia adalah Hana Qirania, teman sekelas mereka yang dulu selalu menyandang gelar primadona kampus.

"Lihat siapa yang datang, primadona kelas kita! Belum genap setahun lulus, pesona Hana makin memikat saja!"

"Gadis paling cantik di kampus memang beda auranya. Dulu pengagumnya banyak banget, entah sekarang dia udah ada yang punya atau belum."

Gumaman kagum mulai menyebar di antara kerumunan tersebut.

"Hai, semua. Aku belum telat, kan?" sapa Hana seraya tersenyum manis dan melambaikan tangan ke arah teman-temannya.

"Belum kok. Kita juga masih nunggu yang lain," jawab Wira, salah satu teman sekelas mereka, sambil tersenyum lebar.

"Bener banget. Waktumu pas banget, Han. Kita baru aja nebak-nebak kamu bakal dateng atau nggak, eh ternyata langsung muncul. Panjang umur! Haha!"

Hana melayangkan tatapan pura-pura kesal ke arah Wira dan kawan-kawannya. "Ya ampun, ini kan reuni pertama sejak kita lulus. Masa kalian ngira aku bakal absen?"

"Bener juga. Maksud kalian apa sih? Reuni perdana begini Hana pasti wajib dateng," timpal Siska. Ia langsung menggandeng lengan Hana sambil memutar bola mata ke arah teman-teman prianya.

"Han, jangan dihiraukan. Laki-laki memang suka gitu kalau lihat perempuan cantik," tambah Siska lagi.

Hana hanya mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, Reno melangkah mendekat dengan senyum andalannya. "Hana, udah lama kita nggak ketemu. Kamu tetep memukau kayak biasanya."

"Hei, Tuan Muda, baru dateng langsung godain anak orang? Bukannya itu agak berlebihan?" goda Siska.

Reno mengangkat bahu acuh dan berkelakar, "Ya mau gimana lagi, dia kan primadona. Kalau kamu yang jadi primadonanya, aku pasti juga bakal godain kamu."

"Huh! Aku memang bukan primadona kampus, tapi seenggaknya aku yang paling semok di kelas kita!" Pipi Siska merona saat ia melayangkan pukulan ringan bercanda ke lengan Reno.

Reno dan yang lainnya tertawa lepas melihat reaksi gadis itu.

"Oke, semuanya. Udah waktunya kita masuk dan nunggu di dalem aja. Jangan ngumpul di pintu masuk begini. Nanti dikira orang kita mau demo."

Diiringi obrolan dan canda tawa, rombongan itu beranjak menuju ruang VIP hotel. Dekorasi, desain, serta kemewahan tempat tersebut sungguh mengesankan. Perjalanan dari lobi, naik menggunakan lift khusus, hingga tiba di ruangan tersebut menjadi pengalaman luar biasa bagi sebagian besar dari mereka.

**

Sementara itu, setelah memarkirkan Bugatti-nya di area aman yang jauh dari pantauan kerumunan, Reyhan akhirnya berjalan kaki menuju pintu masuk Hotel Nusantara.

"Rey, kamu di mana? Anak-anak udah kumpul semua, tinggal kamu yang belum kelihatan!"

Tepat pada saat itu, Hendra, sahabat terdekatnya mengirimkan sebuah pesan suara. Hendra adalah teman sekelas yang paling akrab dengannya semasa kuliah, usianya setengah tahun lebih tua dari Reyhan.

"Hend, aku udah di pintu masuk lobi nih. Kamu bisa turun buat jemput aku? Aku bingung kita di ruangan yang mana," balas Reyhan.

"Oke! Aku turun sekarang!"

Begitu menerima pesan balasan, Hendra langsung bergegas keluar dari ruangan VIP tersebut.

"Astaga, akhirnya dateng juga kamu! Aku hampir ngira kamu bakal bolos!"

Hendra menyambut sahabatnya di pintu masuk lobi dengan senyum lebar, raut wajahnya terlihat sangat lega.

"Mana mungkin aku ngelewatin reuni? Semuanya udah kumpul?" tanya Reyhan seraya memberikan tepukan akrab di bahu Hendra.

Hendra menyeringai, memamerkan deretan giginya. "Udah. Kita beneran cuma nungguin kamu doang! Ayo naik."

Reyhan diam-diam menyelipkan kunci Bugatti miliknya lebih dalam ke saku celana, memastikan Hendra tidak melihatnya. Kendati sahabatnya itu sempat melihat sekilas, kemungkinan besar ia hanya akan mengiranya sebagai pemantik api berdesain mewah.

"Tunggu bentar!" Hendra mendadak meraih lengan Reyhan dan menahan langkahnya. "Rey, ini reuni kelas, masa kamu dateng pakai baju santai begini? Kamu nggak takut dijadiin bahan ejekan sama anak-anak?"

Reyhan menunduk sejenak, menatap setelan kemeja kasual dan celana bahan biasa yang ia kenakan. "Emangnya kenapa? Ada yang salah?"

"Ya ampun, kamu ini terlalu polos apa pura-pura bodoh, sih? Reuni kelas itu intinya kan ajang pamer. Kalau kamu nggak dandan agak rapi, gimana caranya kamu bisa bertahan di dalem sana?" Hendra mendecak kesal.

"Sekalipun ini cuma ajang pamer, dan sekalipun kamu belum sukses, seenggaknya usahain penampilanmu kelihatan meyakinkan. Kalau nanti waktunya pamer tiba, siapa juga yang repot-repot ngecek omonganmu jujur atau bohong?"

Reyhan tidak kuasa menahan tawa kecilnya. Dengan saldo sepuluh miliar rupiah yang mengendap tenang di rekeningnya, ia merasa sama sekali tidak perlu ikut bermain dalam sandiwara pamer harta tersebut.

"Hend, udah deh, nggak usah ngomong yang aneh-aneh. Namanya reuni ya buat nyambung silaturahmi, bukan ajang pamer. Ada-ada aja kamu ini. Ayo jalan, yang lain udah nunggu tuh."

"Dasar keras kepala!" gerutu Hendra pelan.

**

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan pintu ruang VIP. Di dalam, suasana sudah sangat ramai. Terlihat hampir dua puluh orang pria dan wanita yang merupakan mantan teman sekelas mereka berkumpul di sana.

"Teman-teman, Reyhan udah sampai nih! Karena semua udah lengkap, mari kita mulai acaranya!" seru Hendra lantang begitu ia mendorong pintu dan melangkah masuk.

Namun, sapaan antusias tersebut menguap begitu saja. Kehadiran Reyhan nyaris tidak mendapat perhatian dari kerumunan yang sibuk mengelilingi Reno. Dibandingkan dengan tuan muda tersebut, sosok Reyhan benar-benar dianggap tidak memiliki nilai di mata mereka.

"Wah, bukannya itu Reyhan si mahasiswa jenius? Sini, Rey! Kita pengen lihat dari dekat kayak apa sih nasib 'lulusan paling menjanjikan' kebanggaan dosen kita dulu."

Wira, salah satu pengikut setia Reno, langsung bangkit berdiri, siap melontarkan ejekan tajam.

"Astaga, Rey. Itu seragam kerjamu? Dateng ke reuni kelas kok penampilannya berantakan begitu?" timpal Zia yang tidak bisa menahan diri untuk ikut mencibir.

"Ck ck, kayaknya bintang kelas kita ini gagal nikmatin hidup mewah. Untung aja dulu aku nggak terlalu nurutin nasihatnya. Lulus dengan nilai pas-pasan ternyata nasibnya jauh lebih baik, ya?"

Kedatangan Reyhan seketika memicu rentetan sindiran dari beberapa saingan lamanya semasa kuliah.

Suasana menyudutkan semacam ini sebenarnya sudah bisa ditebak sejak awal. Semua orang di dalam ruangan tersebut sangat menyadari perseteruan tidak kasat mata antara Reyhan dan Reno. Mereka sengaja merendahkan Reyhan karena itu adalah cara paling cepat untuk mencari muka di depan Reno. Kesempatan emas untuk menjilat semacam itu tentu tidak akan mereka biarkan berlalu begitu saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sistem Sign-In Harian   108. Menagih Hutang Darah

    "Rey..." Hendra menahan napas, tak berani membayangkan amarah sahabatnya.Di atas bekas fondasi rumah itu, berdiri sebuah bedeng darurat beratap terpal. Beberapa pria berwajah kasar tampak sedang asyik bermain kartu di bawah cahaya lampu redup, diselingi tawa dan umpatan kasar.Tanpa sepatah kata pun, Reyhan melangkah maju menerobos puing-puing."Woi! Siapa kau?!" Seorang pria gemuk yang sedang memegang kartu mendongak kaget."Di mana orang tuaku?" Suara Reyhan terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan niat membunuh."Mana aku tahu! Pergi sana, jangan cari mampus di sini!" Pria gemuk itu bangkit, tangan kanannya refleks menyambar botol bir kosong dari atas meja.Reyhan tidak mengulang pertanyaannya. Ia menutup jarak dalam sekejap mata. Tangan kanannya melesat mencekik leher pria itu, mengangkat tubuh gempalnya dari kursi dengan tenaga brutal."Di mana. Orang tuaku."Pria itu meronta panik karena kehabisan napas. Dalam keputusasaan, ia mengayunkan botol bir di tangannya ke arah k

  • Sistem Sign-In Harian   107. Amarah Reyhan

    "Kabar apa? Terakhir aku pulang pas libur tahun kemarin, semuanya baik-baik saja," dahi Reyhan berkerut bingung."Rey, keluargamu sedang hancur. Kau benar-benar tidak tahu?" Azlan merendahkan suaranya, menatap temannya kasihan. "Kaki Bapakmu dipatahkan oleh anak kepala desa. Ibumu jatuh sakit parah karena syok, dan... rumah kalian sudah diratakan dengan tanah." Brak! Reyhan menggebrak meja dan langsung berdiri. Gelas whiskey-nya terguling. Sorot matanya menajam, memancarkan aura membunuh. "Apa kau bilang?!"Azlan menelan ludah, lalu menceritakan semuanya dengan cepat. Ternyata, orang tua Reyhan dulu diam-diam meminjam uang dari kepala desa untuk membiayai pendidikan Reyhan di kota. Bukannya bantuan, pinjaman itu berbunga mencekik layaknya lintah darat. Selama tiga tahun bekerja banting tulang, uang hasil panen orang tuanya bahkan tidak cukup untuk menutupi bunganya saja. Mereka menutup rapat rahasia ini agar Reyhan bisa fokus belajar dan meniti karier. Saat Reyhan pulang tahun lal

  • Sistem Sign-In Harian   106. Reuni yang Tak Terduga

    Sinar matahari pagi menyusup lewat celah tirai jendela, jatuh tepat di wajah Reyhan. Pria itu perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya. Ranjang di sebelahnya sudah kosong; Sandra ternyata berangkat kerja lebih awal.***Siang harinya, Reyhan mampir ke kantor Starlight bersama Hendra. Berkat kerja keras Evan, fondasi perusahaan semakin solid, membuat suasana kantor terasa lebih hidup dan terstruktur. Reyhan tidak lagi menyinggung soal jari Hendra yang putus, ia membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Elsa kini diam-diam mulai memberi perhatian lebih pada Hendra."Pak Rey, Anda memanggil saya?" Evan melangkah masuk ke ruangan."Bawa ini ke Rania. Dia yang akan menghubungkanmu dengan pihak lain," ujar Reyhan seraya menyerahkan flashdisk berisi cetak biru Tesla Note yang asli kepada Evan. "Ingat, kita hanya mengambil persentase hak kita. Dan terlepas dari siapa pun yang memegangnya nanti, b

  • Sistem Sign-In Harian   105. Gairah Reyhan

    "Bisa atau tidaknya kau memimpin proyek ini, penentunya bukan aku, melainkan dirimu sendiri, Rania. Semuanya bergantung pada seberapa besar keberanianmu merebut kekuasaan dari bayang-bayang keluarga Cross. Soal kemungkinan kau menusukku dari belakang... aku akui itu membuatku ragu. Tapi intuisiku bilang, kau tidak akan memilih jalan sebodoh itu," balas Reyhan percaya diri. Melihat obrolan tingkat tinggi yang penuh kode dan kalkulasi itu, Jason memilih menepi. Ia berjalan dalam diam dan membuka jendela lebar, membiarkan asap rokok yang menyesakkan dada itu tersapu angin malam. Setelah kesepakatan tercapai, Reyhan akhirnya pamit undur diri. Sebuah flashdisk berisi data purwarupa Tesla Note yang sedari tadi ia bawa kini telah berpindah aman ke tangan Rania. "Nona, Anda yakin ingin mengambil risiko bersekutu dengannya?" tanya Jason dengan wajah cemas begitu pintu tertutup rapat. "Kenapa tidak? Tesla Note, cetak biru energi masa depan... itu godaan yang terlalu manis untuk dilewatkan.

  • Sistem Sign-In Harian   104. Tawaran Besar Reyhan

    Di bawah tatapan Reyhan yang menusuk, Evan akhirnya menyerah. Dengan suara pelan, ia menyebutkan satu nama. Ryan Yudistira.Nama itu membuat darah Reyhan mendidih.Rupanya, Ryan menyuruh anak buahnya menyelidiki Reyhan, Hendra, dan Evan sejak kemarin. Berkas mereka sampai ke tangan Ryan dalam waktu singkat.Ia lalu menyuruh anak buahnya memotong jari kelingking Hendra dan Evan sebagai hadiah peringatan untuk Reyhan. Jelas sekali, urusan antara Ryan dan Reyhan makin memanas."Dia juga titip pesan, Starlight akan dihancurkan. Dan setelah itu... nyawamu yang jadi target," aku Hendra akhirnya, sadar ia tidak bisa lagi berbohong.Reyhan terdiam, lalu sudut bibirnya berkedut membentuk senyum dingin. "Menarik. Rupanya keluarga Yudistira memang tidak pernah rela menerima kekalahan."Tanpa bicara lagi, Reyhan berbalik dan melangkah keluar rumah.Ditinggal begitu saja, Hendra dan Evan saling berpandangan cemas, sama sekali tidak tahu apa yang akan ucapkan Reyhan barusan.Reyhan memacu mobilnya

  • Sistem Sign-In Harian   103. Jari yang Hilang

    "Kakek, Reyhan sudah tiba," bisik David pelan dari samping.Kakek Theo menoleh, menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. "Pemuda tampan. Kudengar kau yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan orang tua ini?" tanya Kakek Theo datar."Benar, Kek," jawab Reyhan tenang."Bagus! Dan kabarnya kau juga membuat kekacauan besar di rumah keluarga Yudistira, bahkan ribut dengan Anderson dan menyeret Dokter Kemal ke dalam masalah?"Reyhan tersenyum tipis. "Ehem... keadannya kebetulan memang tidak bisa di hindari, Kek.""Bagus sekali. Pemuda yang menjanjikan." Suara Kakek Theo berubah dingin. "Tapi kau juga sudah menggagalkan pertunangan cucuku, dan itu harus kita luruskan.""Kakek, Sandra sudah menjadi kekasihnya," sela David cepat.Kakek Theo tidak memedulikan omongan itu. Ia menatap lurus ke arah Reyhan. "Aku tahu, Nak. Sekarang jawab aku, bagaimana kau akan memperlakukan Sandra ke depannya?"Reyhan menegakkan punggungnya. "Tenang, Kakek. Sandra itu yang utama bagiku. Aku men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status