LOGIN"Tampaknya gelar mahasiswa terbaik kurang disukai di sini," ucap Reyhan santai. Ia sama sekali tidak terpancing oleh ejekan Reno dan komplotannya. "Kalian menertawakanku, padahal dulu nilai kalian hancur berantakan. Ini sama saja seperti karyawan bergaji kecil yang merasa lebih pintar dari atasannya. Menurut kalian itu masuk akal?"
Kalimat blak-blakan itu meluncur tanpa beban. Reyhan enggan berbasa-basi. Sindiran telaknya sukses membuat Wira dan yang lainnya bungkam seribu bahasa. "Sudah, sudah, jangan tegang begini. Kita kan jarang bisa kumpul, dinikmati saja acaranya," sela Siska cepat, berusaha mencairkan suasana. "Benar kata Siska. Momen ini spesial. Kita lupakan dulu masalah lama," sahut Hana diiringi senyum lembut. Primadona kampus itu menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Reyhan, kamu duduk di sini saja, sebelahku." Mendengar tawaran Hana, wajah Wira dan teman-temannya langsung pias menahan kesal. "Han, Reyhan kan laki-laki. Laki-laki tempatnya di meja sana, dekat minuman. Kita kan mau senang-senang!" seru Wira. Ia setengah memaksa merangkul bahu Reyhan dan menggiring pemuda itu menjauh dari meja para gadis, mengarahkannya ke meja Reno. Saat menarik Reyhan, mata Wira menangkap sekelebat benda logam dari saku celana pemuda itu. Ia langsung berseru dengan nada mengejek. "Wah, Reyhan sudah punya mobil sekarang? Coba sini lihat kuncinya. BMW atau Mercy, nih?" "Paling juga cuma korek api model baru," celetuk salah satu teman di meja itu sambil menyeringai. "Dengan baju lusuh begitu, mana mampu dia beli mobil. Memang lebih cocok bawa korek api," Wira menambahkan, memancing gelak tawa dari kubu Reno. Reyhan hanya mendengus dalam hati. Malam semakin larut, dan posisi Reno sebagai bintang utama reuni itu tidak bisa dipungkiri lagi. Begitu acara makan malam selesai, tuan muda itu berdiri dan bertepuk tangan untuk menarik perhatian. "Semuanya, tagihan malam ini biar aku yang bereskan! Habis ini kita pindah ke klub, lanjut senang-senang. Yang mau ikut, langsung saja masuk ke mobilku!" serunya sombong. "Siap meluncur, Bos!" balas Zia cepat. "Tidak heran, namanya juga anak bos properti. Level kita memang beda jauh," puji Wira terang-terangan. Hendra, yang sejak tadi duduk di dekat Reyhan, menepuk bahu sahabatnya itu. Sepanjang malam Reyhan diabaikan karena hampir semua orang sibuk mencari muka pada Reno, dan hal itu membuat Hendra muak. "Tidak apa-apa. Biarkan saja mereka senang-senang," bisik Reyhan, sama sekali tidak tersinggung. Dua jam kemudian. Kerumunan itu perlahan meninggalkan ruangan dan bergerak menuju lobi hotel. Reno berjalan paling depan layaknya seorang raja yang diiringi para pengawalnya. Setibanya di area luar, Reno menoleh ke belakang dengan senyum meremehkan. "Oh iya, Rey. Sepertinya mobil kita kurang. Kamu terpaksa pulang naik taksi saja, ya." "Ren, masa nggak ada kursi kosong sama sekali?" protes Hendra. "Kita bawa hampir sepuluh mobil. Kalau sedikit berdesakan, pasti masih muat." Wira tertawa mengejek. "Maaf ya, mobilku sudah pas empat orang. Tidak ada tempat lagi buat penumpang kelima." Wajah Hendra langsung memerah menahan amarah mendengar alasan konyol itu. Reno memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, memasang wajah seolah sedang berbaik hati. "Kalau Reyhan tidak keberatan, dia bisa masuk ke dalam bagasi Mercy milikku." Tatapannya menusuk langsung ke arah Reyhan, sarat akan niat merendahkan. Kerumunan di lobi hanya terdiam, seolah setuju dengan penghinaan tersebut. Wira bahkan menepuk bahu Reyhan. "Ayolah, kawan. Duduk di bagasi Mercy milik Tuan Muda Reno jauh lebih terhormat daripada naik taksi. Bagaimana? Kamu mau?" Reyhan menepis tangan Wira perlahan. Ia membalas tatapan mereka dengan senyum tipis. "Tidak perlu repot-repot. Aku bawa kendaraan sendiri. Bagasi itu kalian pakai saja." Reyhan merogoh sakunya, mengeluarkan benda logam yang sedari tadi menjadi bahan tertawaan. Ia menatap Wira sejenak, lalu mengarahkan benda itu ke sudut pelataran VVIP hotel. "Lagi pula, aku mau ngecek apakah korek api ini bisa menyalakan mesin," ucap Reyhan santai seraya menekan tombol di tangannya. Bip! Bip! Suara alarm yang jernih memecah kesunyian udara malam, diikuti nyala lampu dari sebuah hypercar hitam legam yang merespons panggilan tuannya. Detik itu juga, puluhan pasang mata menoleh serempak. Napas mereka seolah tercekat melihat monster mesin yang terparkir gagah di sudut lobi. "Rey... itu... itu benar-benar mobilmu?" Wira tergagap. Matanya terbelalak lebar seakan melihat hantu. Reyhan mengangkat bahu. "Memangnya ada masalah?" Di bawah tatapan kosong semua orang, Reyhan melangkah tenang menghampiri mobilnya. Ia menyentuh tuasnya. Diiringi desis hidrolik yang halus, pintu model sayap kupu-kupu itu terangkat perlahan ke atas dengan sangat elegan, memamerkan interior mewahnya. Lobi hotel langsung meledak heboh. "Astaga! Itu Bugatti edisi terbatas, kan? Aku tidak percaya bisa melihatnya langsung!" "Bugatti? Memangnya berapa harganya? Kelihatannya mewah sekali." Siska bergumam takjub. "Aku pernah baca artikelnya. Harga mobil ini bisa sampai dua puluh miliar Rupiah!" jerit Zia kaget. "Dua puluh miliar? Kamu pikir mobil edisi global terbatas ini semurah itu? Ini minimal seratus sembilan puluh miliar Rupiah! Orang yang punya harta triliunan saja belum tentu diberi akses untuk membelinya!" ralat seorang pemuda berkacamata dengan suara bergetar. "Apa?! Seratus sembilan puluh miliar?!" Kepala Siska mendadak pening. Seluruh tabungannya bahkan tidak menyentuh angka seratus sembilan puluh juta. Pada level harga setinggi itu, setiap kali ban mobil ini berputar sama saja dengan membuang-buang uang di jalanan. "Nggak mungkin!" Reno membeku di tempatnya. Ia menatap Bugatti itu dengan mata nyaris keluar dari sarangnya. Otaknya mendadak blank. Reyhan, pria miskin yang baru saja ia suruh duduk di bagasi mobil seharga satu setengah miliar, kini berdiri di samping hypercar seharga seratus sembilan puluh miliar. Wira menggosok matanya kasar. "Bagaimana dia bisa beli? Jangan-jangan dia cuma bekerja jadi sopir orang kaya? Atau ini mobil sewaan?" Spekulasi sembarangan itu langsung dihujani tatapan sinis oleh teman-temannya yang lain. "Sopir pribadi? Memangnya ada bos yang membiarkan sopirnya membawa mobil ratusan miliar sendiri? Sewa? Coba kamu cari tempat yang menyewakan mobil seperti ini, biar kami yang bayar!" Omongan bodoh Wira langsung dibungkam, memperlihatkan betapa sempitnya wawasan pria itu. Vroom! Raungan buas dari mesin W16 menggetarkan area lobi. Reyhan memundurkan Bugatti itu perlahan, lalu memutar kemudi dan berhenti tepat di depan Reno serta Wira. Ia lalu membuka pintu hypercar, menatap kedua pria yang mematung pucat itu. "Sepertinya aku benar-benar tidak perlu menumpang di bagasi Mercy-mu, ya kan?" Reyhan menyeringai, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Wira. "Dan oh ya, Wir. Ternyata korek api milikku lumayan canggih. Bukan untuk menyalakan rokok, tapi Bugatti." "I-ini..." Reno tergagap parah. Wajah pemuda kaya itu memerah seperti kepiting rebus. Ia merasa seolah sebuah telapak tangan tak kasat mata baru saja menampar kedua pipinya dengan sangat keras. Ia bahkan tidak berani membalas tatapan Reyhan. "Rey, kamu ini benar-benar licik! Beli mobil ratusan miliar tanpa bilang-bilang, pasti kamu baru dapat durian runtuh, ya!" seru Hendra. Ia tidak bisa menahan tawanya melihat nasib nahas wajah congkak Reno dan kawan-kawannya. Reyhan tertawa pelan. "Bisa dibilang begitu. Oh ya, Hend, ngapain masih berdiri di situ? Ayo naik, kursi penumpangku lebih nyaman daripada bagasi Mercy." Wajah Reno semakin pias mendengar sindiran telak itu."Tahan Rey. Aku sudah menyiapkan kamar VIP. Kondisi kakek masih belum stabil sepenuhnya, kau pantang angkat kaki dari area ini sebelum semuanya aman terkendali," cegah David menahan bahu Reyhan, memastikan temannya tak bisa kabur. Pria itu lekas menggiring Reyhan pindah menuju kamar tamu.Begitu semuanya terkondisikan, David menyuruh staf pribadinya menebus obat sesuai resep."Terima kasih banyak," bisik Sandra menyandarkan kepala menyentuh bahu Reyhan."Ini cuma urusan sepele. Berbekal reputasi kakekmu yang terselamatkan, aku ingin lihat siapa lagi anggota Keluarga Narendra yang bernyali menentang pernikahan kita," tukas Reyhan tertawa jemawa."Kalian berdua wajib banget ya pamer kemesraan di depan mataku?" tegur David mendadak muncul, merusak atmosfer hangat tersebut."Bang David, kalau iri, cari pasangan sendiri sana," ejek Reyhan. Ia mendaratkan kecupan kilat di pipi Sandra lantas melempar seringai meledek."Sialan. Tadinya niat awalku mau mengajakmu mencoba senapan tempur di mark
"Cairan eksudat apa itu?!" Reyhan menolak memberi penjabaran medis. Ia memberi isyarat menyuruh tim perawat mundur menjauh, lantas mengambil posisi jongkok. Cairan pekat di ubin sama sekali tidak membaur mengikuti hukum fisika zat cair, melainkan menggumpal mempertahankan wujud awalnya bak benda padat. Anomali yang teramat janggal. Reyhan meraup sejumput karbon sisa rokok menggunakan jempol dan telunjuknya, menaburkan serbuk tersebut tepat di atas gumpalan cairan aspal tadi. Reaksi instan terjadi. Gumpalan hitam itu mendidih senyap, terserap larut ke dalam matriks abu karbon. Begitu seluruh serbuk dihabiskan, Reyhan menarik napas lega. Persis saat itu, manifestasi mengerikan terungkap. Abu basah tersebut menggeliat pelan. Biarpun sekadar pergerakan mikroskopis, pemandangan ganjil itu sukses membuat seluruh staf medis memucat ngeri. "Makhluk apa itu?!" "Biotoksin parasitik. Para spesialis senior pasti familier mendengarnya, kan?" Reyhan bangkit menegakkan punggungnya, menyandarkan
Wajah Kakek Theo pucat pasi bak pualam, indikasi jelas dari kegagalan sistemik yang menggerogoti tubuhnya. Tanpa ritme elektrokardiogram (EKG) yang terus berdenging konstan pada monitor, Reyhan mungkin mengira pria sepuh itu sudah tak bernapas."Rey, ini rekam medis dan hasil laboratorium terakhir dari Dokter Kemal. Tolong periksa," ujar David menyodorkan sebuah tablet medis.Reyhan menggulir layar cekatan, memindai rentetan parameter klinis. Fokusnya terhenti saat matanya menangkap anomali pada profil hematologi sang kakek. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur. Ia mendaratkan tiga jarinya menekan arteri radialis Kakek Theo, menghitung frekuensi serta kekuatan denyut nadi pria tersebut."Apa-apaan ini?" Sekelompok dokter spesialis melangkah mendekat. Bisik-bisik keheranan mereka lekas berubah menjadi interogasi tajam menyasar Reyhan."Semuanya tenang, dia ini murid langsung Dokter Kemal. Dia sedang melakukan observasi klinis tambahan," David berusaha meredam keributan, memasang t
Keesokan paginya, Sandra membangunkan Reyhan. Ia memberitahu bahwa David sudah menunggu di lobi hotel cukup lama. Mendengar itu, Reyhan terpaksa menyeret tubuhnya dari ranjang. Tentu saja, proses berpakaian mereka diwarnai sedikit kekacauan canggung. "Simpan sedikit tenagamu, Anak Muda," sindir David dengan senyum penuh arti saat mereka akhirnya bertemu, membuat telinga Reyhan langsung memerah. Sandra yang berdiri di sebelahnya hanya menunduk dalam, tangannya diam-diam melayangkan cubitan maut ke pinggang Reyhan. Pesannya sangat jelas: Kalau kau tidak bertingkah macam-macam semalam, Kak David tidak akan punya bahan untuk menyindir kita. Wajah David seketika berubah serius. "Rey, waktunya pulang bersamaku. Ingat baik-baik kondisi kakekku. Pintu Keluarga Narendra hanya akan terbuka untukmu setelah beliau sadar. Kalau kau gagal, jangan harap bisa melangkahkan kaki ke kediaman kami, dan Sandra... dia mungkin akan dicoret dari silsilah keluarga," ancam David dingin, menegaskan taruhan
"Lalu kenapa dia tidak bergabung dengan lingkaran kalian?" tanya Reyhan semakin penasaran. "Pertama, karena ada Rebecca. Ecca itu menyukai Ashford, sementara Ashford mengejar Rania. Drama cinta segitiga semacam itu tidak sehat kalau dicampur dalam satu tongkrongan. Kedua, level Rania sudah jauh berbeda. Dia tidak punya waktu bergaul dengan anak-anak bawang macam kami," jelas Kai terang-terangan. "Benar. Kami sudah pernah mencicipi permainannya dulu, dan kami kalah telak. Nasihatku, sebaiknya kau jaga jarak darinya," tambah Rio yang sedari tadi diam. Jelas, Rania meninggalkan trauma tersendiri baginya. Setelah percakapan panjang itu, Reyhan yang tubuhnya masih memulihkan luka, mulai didera kantuk. Ia tertidur lelap dan baru benar-benar terbangun saat pesawat mendarat di Ibukota. Kali ini, Reyhan memilih untuk tidak ikut rombongan ke kediaman Keluarga Di Stefano. Ia memutuskan bermalam di hotel pusat kota, dengan rencana kembali ke kota asalnya besok untuk memeriksa kondisi kakek Sa
Reyhan sama sekali tidak menyadari bahwa Dokter Kemal tengah digerogoti penyakit mematikan yang tak kasatmata. Penyakit itu tak menunjukkan gejala fisik apa pun dan hanya bisa dideteksi melalui pemeriksaan medis khusus. Jelas sudah, Dokter Kemal telah menyembunyikan keadaannya. "Ethan, sudah berapa lama kau mengabdi bersamaku?" tanya Dokter Kemal dengan suara parau. Ia menarik napas dalam beberapa kali, berusaha menenangkan tubuhnya yang mulai gemetar samar. "Tujuh tahun mendampingi Dokter secara langsung, sebelum akhirnya saya dipindahtugaskan. Kalau dihitung secara keseluruhan, sudah lebih dari dua puluh tahun," jawab Ethan tenang. "Dua puluh tahun lebih..." gumam Dokter Kemal pilu. "Berapa kalikah seseorang bisa memiliki siklus dua puluh tahun dalam hidupnya? Kau telah memikul beban yang begitu berat. Pasti sangat tidak mudah." "Semua itu bukan beban bagi saya, Dok." "Semuanya akan segera terungkap. Aku sungguh tidak menyangka, di penghujung usiaku, aku masih berkesempatan men







