Home / Urban / Sistem Sign-In Harian / 2. Bugatti La Voiture Noire

Share

2. Bugatti La Voiture Noire

Author: KoTz
last update publish date: 2026-06-06 21:14:27

Tidak lama kemudian, pesanan steak yang ia tunggu tiba di meja. Wangi daging panggang kelas satu berpadu dengan lelehan mentega langsung memanjakan indra penciumannya.

Pisau di tangannya memotong daging itu dengan sangat mudah. Begitu masuk ke mulut, teksturnya luar biasa lembut dan lumer. Sangat jauh berbeda dengan daging alot yang biasa ia beli di pasar.

Sambil menikmati hidangan mahal pertamanya, tatapan Reyhan menyapu seisi restoran. Orang-orang di sekitarnya mengenakan setelan rapi, gaun desainer, dan berbicara dengan suara pelan yang elegan. Beberapa jam lalu, ia masih berada di kasta yang sangat berbeda dengan mereka. Sekarang, ia bisa duduk sejajar, menikmati fasilitas yang sama, bahkan mendapat perlakuan super istimewa.

***

Satu jam berlalu. Piring di depannya sudah bersih tanpa sisa. Anggur di dalam botol tinggal setengah.

Pelayan wanita tadi mendekat dengan sopan. "Permisi, Kak. Apakah botol minumannya ingin saya bungkus sekarang?"

Reyhan menatap botol itu sejenak, lalu tersenyum kecil. "Nggak usah dibungkus, Mbak. Sisa wine itu buat kamu saja. Silakan jual lagi per gelas ke pelanggan lain yang mau, dan uangnya masuk kantong kamu saja."

Pelayan itu tersentak, matanya membulat sempurna. Harga sisa anggur di dalam botol itu masih bernilai setidaknya empat puluh juta rupiah. "M-maksud Kakak... serius buat saya?"

"Anggap saja hadiah karena pelayananmu memuaskan," jawab Reyhan santai. Ia mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja sebagai tip tambahan.

Pelayan itu nyaris kehabisan kata-kata, lalu lekas menunduk hormat mengucapkan terima kasih berulang kali dengan suara bergetar.

Reyhan berjalan keluar melewati pintu kaca restoran. Angin malam langsung menyapu wajahnya. Ia menarik napas panjang. Beban hidup yang selama bertahun-tahun menekan pundaknya seolah menguap begitu saja ke udara.

Ponsel di sakunya bergetar singkat. Sebuah notifikasi grup obrolan kelas kembali muncul di layar.

"Aku sudah booking meja VIP buat reuni besok. Pastikan kalian semua datang tepat waktu. Jangan sampai ada yang telat, apalagi yang datang cuma buat numpang makan."

Pesan itu dikirim oleh Reno, mantan ketua kelas yang kebetulan lahir sebagai anak orang kaya. Orang yang paling suka merendahkan Reyhan semasa kuliah dulu.

Melihat rentetan kalimat bernada congkak itu, Reyhan menghentikan langkahnya sejenak.

"Tadinya aku malas datang. Tapi mumpung situasinya sudah beda, sepertinya seru juga melihat wajah sombongmu besok, Reno," batin Reyhan.

Tanpa pikir panjang, Reyhan langsung meraih ponsel dan mengetik pesan di grup W******p kelas.

"Teman-teman, aku pasti hadir di reuni besok!"

Namun, pesannya seolah tidak dianggap. Grup tersebut sedang sibuk membahas teman sekelas mereka yang sangat kaya, Reno.

Reno memang selalu menjadi pusat perhatian. Ayahnya adalah bos perusahaan properti ternama di kota ini, dengan aset mencapai ratusan miliar. Sejak dulu, Reyhan tidak pernah menyukainya, apalagi jika mengingat perundungan halus yang sering ia terima semasa kuliah.

Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu memesan taksi online untuk pulang ke kosan eksklusifnya. Malam ini, ia akan tidur nyenyak dan menyambut hari esok dengan identitas baru.

**

Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah.

Reyhan meregangkan badan, lalu bangkit dari tempat tidur. Menikmati hidup yang tidak lagi dicekik masalah finansial benar-benar terasa membebaskan.

[Pengingat harian. Sistem Sign-In tersedia. Silakan selesaikan proses sign-in, Host.]

Mendengar suara mekanis itu di pagi hari sukses membuat senyum Reyhan mengembang.

"Sistem ini memang pintar, ngasih pengingat juga. Penasaran, hari ini aku bakal dapat apa," batin Reyhan.

"Sistem, aku sign-in sekarang."

[Ding! Selamat, Host. Sign-in berhasil. Anda menerima Bugatti La Voiture Noire.]

"Gila, Bugatti!"

Mendengar nama hadiah tersebut, Reyhan langsung melompat dari ranjang.

Sebelumnya, ia hanya pernah melihat wujud Bugatti La Voiture Noire di toktik. Mobil langka yang hanya diproduksi satu unit di dunia. Diciptakan khusus untuk menghormati seri Bugatti Type 57 SC Atlantic yang ikonik, harganya ditaksir sekitar sebelas juta Euro, atau setara 190 miliar Rupiah.

Sebuah hypercar seharga hampir dua ratus miliar. Membayangkan deretan angka nolnya saja sudah membuat kepala Reyhan sedikit pening. Dibandingkan dengan ini, Bugatti Veyron seolah hanya adik kecil, harganya bahkan tidak mencapai setengahnya.

"Sistem, di mana Bugatti-ku sekarang?" tanya Reyhan tidak sabar.

Bagi seorang laki-laki, mobil ibarat nyawa kedua. Sejak dulu ia bermimpi memiliki mobil sport, tetapi kerasnya hidup membuat ia hanya sanggup memelihara motor lawas.

[Notifikasi lokasi. Bugatti Anda saat ini berada di area parkir bawah tanah gedung tempat tinggal Anda. Kunci kendaraan telah ditransfer ke saku Anda. Silakan menuju lokasi untuk mengambilnya.]

"Ya jelas aku ambil. Siapa yang sebodoh itu membiarkan mobil nyaris dua ratus miliar nganggur di parkiran."

Begitu merasakan ada benda logam padat di sakunya, Reyhan buru-buru mengganti pakaian, lalu melesat turun ke area parkir bawah tanah.

Ketika sampai di area parkir bawah tanah, tempat itu sudah dipenuhi kerumunan orang.

Mobil hypercar seharga ratusan miliar, jika ditambah pajak barang mewah, nilainya akan semakin tidak masuk akal. Wajar saja hal tersebut membuat heboh suasana di pagi hari.

Penghuni gedung dan karyawan ruko yang hendak berangkat kerja malah asyik menonton. Mereka hanya berani mengagumi dari jarak aman, tidak ada yang berani menyentuhnya.

"Ya ampun, baru tahu ada mobil sekeren ini. Bisa duduk di dalamnya pasti rasanya beda banget."

Seorang karyawati tampak kegirangan, sibuk memotret Bugatti itu dari berbagai sisi. Kalau tidak ditahan oleh temannya, ia pasti sudah naik ke kap mesin untuk berswafoto. Sayangnya, mobil ini terlalu berharga. Cukup dipandang, jangan disentuh.

"Bakal aku posting di medsos nih. Ini baru namanya mobil sultan. Nggak nyangka ada orang setajir ini di kompleks kita."

"Kak, tolong fotoin aku dong, cepetan. Mau aku pamerin di Story."

Reyhan berjalan santai membelah kerumunan yang sesak itu.

"Mas Raka, ada ramai-ramai apa ini?" tanya Reyhan kepada teman satu kompleksnya yang sedang bersiap mengeluarkan motor.

Raka menoleh. "Itu, ada yang parkir Bugatti ratusan miliar di sini. Eh, Rey, tolong fotoin aku dong. Nggak sabar pengen pamer status."

"Ngapain repot-repot foto dari luar? Sini, Mas, aku kasih duduk di dalamnya," tawar Reyhan sambil tersenyum kecil.

"Bercanda aja kamu. Penampilan kita pas-pasan begini. Kita lahir sepuluh kali lagi juga belum tentu sanggup beli bannya," dengus Raka.

"Oh, nggak mau nih?"

Reyhan tidak mau repot berdebat. Ia hanya tersenyum kecil sambil menekan tombol kunci di tangannya.

Di depan Raka dan puluhan pasang mata yang terbelalak kaget, pintu model kupu-kupu Bugatti itu perlahan terbuka ke atas. Reyhan melangkah santai menerobos kerumunan, lalu duduk di kursi pengemudi.

Interior mewahnya langsung memancarkan wibawa kelas atas.

Vroom!

Raungan mesin menggema keras di seluruh garasi bawah tanah, layaknya auman binatang buas.

Bahkan ketika Reyhan sudah melaju pergi, Raka masih berdiri mematung menatap area parkir yang kini kosong.

"Itu tadi beneran si Reyhan?" gumamnya pelan.

Harus diakui, pesona mobil super mewah memang berbeda. Dikendarai melaju di jalanan, semua mata otomatis menoleh ke arahnya.

Mengenai tarikan dan kestabilan, Bugatti ini jelas memiliki kelasnya sendiri, jauh di atas rata-rata mobil di jalan raya.

Reyhan memang belum pernah mengemudikan mobil sport sebelumnya. Namun entah mengapa, kendaraan dari sistem ini terasa begitu mulus dan mudah dikendalikan. Meskipun jalanan ibu kota mustahil digunakan untuk menguji kecepatan maksimalnya yang menembus 480 km/jam, tarikan mesin saat Reyhan memasuki jalur tol sudah cukup untuk membuat jantungnya berdebar kencang.

Walaupun sepanjang jalan banyak pengemudi yang sengaja melambat untuk memotret mobilnya, bagi Reyhan yang sekarang sudah menjadi triliuner, semua itu hanya hiburan kecil.

Pukul setengah lima sore, sekumpulan anak muda dengan pakaian modis tampak berkumpul di area lobi Hotel Nusantara. Mereka asyik mengobrol santai sambil menunggu rekan yang lain datang.

Tidak lama kemudian, sebuah Mercedes-Benz S-Class hitam mengilap melaju pelan dan berhenti tepat di depan mereka.

Mereka yang jeli langsung mengenali siapa pemilik kendaraan itu.

"Wah, lihat siapa yang datang. Bos Reno!"

Dan benar saja. Begitu pintu mobil terbuka, Reno melangkah keluar menenteng tas kerja kecil, memancarkan gaya yang sangat percaya diri.

Kerumunan anak muda itu langsung menyambutnya dengan heboh.

"Gila, Ren! Ganti mobil baru lagi? S-Class nih? Harganya pasti mahal banget, kan?" puji seorang pemuda berpotongan cepak yang langsung maju menyambutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sistem Sign-In Harian   108. Menagih Hutang Darah

    "Rey..." Hendra menahan napas, tak berani membayangkan amarah sahabatnya.Di atas bekas fondasi rumah itu, berdiri sebuah bedeng darurat beratap terpal. Beberapa pria berwajah kasar tampak sedang asyik bermain kartu di bawah cahaya lampu redup, diselingi tawa dan umpatan kasar.Tanpa sepatah kata pun, Reyhan melangkah maju menerobos puing-puing."Woi! Siapa kau?!" Seorang pria gemuk yang sedang memegang kartu mendongak kaget."Di mana orang tuaku?" Suara Reyhan terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan niat membunuh."Mana aku tahu! Pergi sana, jangan cari mampus di sini!" Pria gemuk itu bangkit, tangan kanannya refleks menyambar botol bir kosong dari atas meja.Reyhan tidak mengulang pertanyaannya. Ia menutup jarak dalam sekejap mata. Tangan kanannya melesat mencekik leher pria itu, mengangkat tubuh gempalnya dari kursi dengan tenaga brutal."Di mana. Orang tuaku."Pria itu meronta panik karena kehabisan napas. Dalam keputusasaan, ia mengayunkan botol bir di tangannya ke arah k

  • Sistem Sign-In Harian   107. Amarah Reyhan

    "Kabar apa? Terakhir aku pulang pas libur tahun kemarin, semuanya baik-baik saja," dahi Reyhan berkerut bingung."Rey, keluargamu sedang hancur. Kau benar-benar tidak tahu?" Azlan merendahkan suaranya, menatap temannya kasihan. "Kaki Bapakmu dipatahkan oleh anak kepala desa. Ibumu jatuh sakit parah karena syok, dan... rumah kalian sudah diratakan dengan tanah." Brak! Reyhan menggebrak meja dan langsung berdiri. Gelas whiskey-nya terguling. Sorot matanya menajam, memancarkan aura membunuh. "Apa kau bilang?!"Azlan menelan ludah, lalu menceritakan semuanya dengan cepat. Ternyata, orang tua Reyhan dulu diam-diam meminjam uang dari kepala desa untuk membiayai pendidikan Reyhan di kota. Bukannya bantuan, pinjaman itu berbunga mencekik layaknya lintah darat. Selama tiga tahun bekerja banting tulang, uang hasil panen orang tuanya bahkan tidak cukup untuk menutupi bunganya saja. Mereka menutup rapat rahasia ini agar Reyhan bisa fokus belajar dan meniti karier. Saat Reyhan pulang tahun lal

  • Sistem Sign-In Harian   106. Reuni yang Tak Terduga

    Sinar matahari pagi menyusup lewat celah tirai jendela, jatuh tepat di wajah Reyhan. Pria itu perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya. Ranjang di sebelahnya sudah kosong; Sandra ternyata berangkat kerja lebih awal.***Siang harinya, Reyhan mampir ke kantor Starlight bersama Hendra. Berkat kerja keras Evan, fondasi perusahaan semakin solid, membuat suasana kantor terasa lebih hidup dan terstruktur. Reyhan tidak lagi menyinggung soal jari Hendra yang putus, ia membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Elsa kini diam-diam mulai memberi perhatian lebih pada Hendra."Pak Rey, Anda memanggil saya?" Evan melangkah masuk ke ruangan."Bawa ini ke Rania. Dia yang akan menghubungkanmu dengan pihak lain," ujar Reyhan seraya menyerahkan flashdisk berisi cetak biru Tesla Note yang asli kepada Evan. "Ingat, kita hanya mengambil persentase hak kita. Dan terlepas dari siapa pun yang memegangnya nanti, b

  • Sistem Sign-In Harian   105. Gairah Reyhan

    "Bisa atau tidaknya kau memimpin proyek ini, penentunya bukan aku, melainkan dirimu sendiri, Rania. Semuanya bergantung pada seberapa besar keberanianmu merebut kekuasaan dari bayang-bayang keluarga Cross. Soal kemungkinan kau menusukku dari belakang... aku akui itu membuatku ragu. Tapi intuisiku bilang, kau tidak akan memilih jalan sebodoh itu," balas Reyhan percaya diri. Melihat obrolan tingkat tinggi yang penuh kode dan kalkulasi itu, Jason memilih menepi. Ia berjalan dalam diam dan membuka jendela lebar, membiarkan asap rokok yang menyesakkan dada itu tersapu angin malam. Setelah kesepakatan tercapai, Reyhan akhirnya pamit undur diri. Sebuah flashdisk berisi data purwarupa Tesla Note yang sedari tadi ia bawa kini telah berpindah aman ke tangan Rania. "Nona, Anda yakin ingin mengambil risiko bersekutu dengannya?" tanya Jason dengan wajah cemas begitu pintu tertutup rapat. "Kenapa tidak? Tesla Note, cetak biru energi masa depan... itu godaan yang terlalu manis untuk dilewatkan.

  • Sistem Sign-In Harian   104. Tawaran Besar Reyhan

    Di bawah tatapan Reyhan yang menusuk, Evan akhirnya menyerah. Dengan suara pelan, ia menyebutkan satu nama. Ryan Yudistira.Nama itu membuat darah Reyhan mendidih.Rupanya, Ryan menyuruh anak buahnya menyelidiki Reyhan, Hendra, dan Evan sejak kemarin. Berkas mereka sampai ke tangan Ryan dalam waktu singkat.Ia lalu menyuruh anak buahnya memotong jari kelingking Hendra dan Evan sebagai hadiah peringatan untuk Reyhan. Jelas sekali, urusan antara Ryan dan Reyhan makin memanas."Dia juga titip pesan, Starlight akan dihancurkan. Dan setelah itu... nyawamu yang jadi target," aku Hendra akhirnya, sadar ia tidak bisa lagi berbohong.Reyhan terdiam, lalu sudut bibirnya berkedut membentuk senyum dingin. "Menarik. Rupanya keluarga Yudistira memang tidak pernah rela menerima kekalahan."Tanpa bicara lagi, Reyhan berbalik dan melangkah keluar rumah.Ditinggal begitu saja, Hendra dan Evan saling berpandangan cemas, sama sekali tidak tahu apa yang akan ucapkan Reyhan barusan.Reyhan memacu mobilnya

  • Sistem Sign-In Harian   103. Jari yang Hilang

    "Kakek, Reyhan sudah tiba," bisik David pelan dari samping.Kakek Theo menoleh, menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. "Pemuda tampan. Kudengar kau yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan orang tua ini?" tanya Kakek Theo datar."Benar, Kek," jawab Reyhan tenang."Bagus! Dan kabarnya kau juga membuat kekacauan besar di rumah keluarga Yudistira, bahkan ribut dengan Anderson dan menyeret Dokter Kemal ke dalam masalah?"Reyhan tersenyum tipis. "Ehem... keadannya kebetulan memang tidak bisa di hindari, Kek.""Bagus sekali. Pemuda yang menjanjikan." Suara Kakek Theo berubah dingin. "Tapi kau juga sudah menggagalkan pertunangan cucuku, dan itu harus kita luruskan.""Kakek, Sandra sudah menjadi kekasihnya," sela David cepat.Kakek Theo tidak memedulikan omongan itu. Ia menatap lurus ke arah Reyhan. "Aku tahu, Nak. Sekarang jawab aku, bagaimana kau akan memperlakukan Sandra ke depannya?"Reyhan menegakkan punggungnya. "Tenang, Kakek. Sandra itu yang utama bagiku. Aku men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status