Compartir

Sistem Sign-In Harian
Sistem Sign-In Harian
Autor: KoTz

1. Sistem

Autor: KoTz
last update Fecha de publicación: 2026-06-06 21:13:06

"Reuni? Besok? Ah, sori, aku absen dulu. Kerjaan lagi padat banget, beneran nggak bisa datang."

Reyhan Pradipta menekan tombol kirim di layar ponselnya, melepaskan pesan suara itu meluncur ke grup obrolan.

Balasan langsung masuk sedetik kemudian. "Jangan gitu, dong! Ini reuni pertama kita sejak lulus, lho. Anak-anak pada datang semua. Kamu wajib ikut. Besok jam lima sore di Hotel Nusantara. Pokoknya nggak terima alasan!"

Di lingkaran pertemanan seperti ini, orang sering terjebak dalam persaingan terselubung. Pencapaian karier dan merek mobil yang dibawa selalu menjadi tolok ukur harga diri.

Reyhan hanya bisa tersenyum masam. Acara berkedok temu kangen ini ujung-ujungnya pasti berubah menjadi ajang pamer pencapaian. Tempat semacam itu hanya panggung bagi mereka yang sudah mapan. Reyhan sadar diri, dia tidak pantas ikut campur.

Alasannya sederhana. Nasibnya mandek sejak hari kelulusan. Meski sekarang berhasil masuk ke perusahaan yang lumayan, nilai IPK tinggi rupanya tidak berarti apa-apa tanpa koneksi orang dalam. Gajinya cuma mentok di angka UMR. Memaksakan diri datang ke kontes pamer berkedok reuni itu sama saja dengan mencari malu.

Tidak ada satu pun hal dalam hidupnya yang bisa dibanggakan. Kosan masih bulanan, motor sering mogok, bahkan kemeja kerjanya jarang disetrika rapi.

"Mending aku di rumah aja maraton drama. Bodo amat sama reuni sok-sokan," batin Reyhan. Ia menghela napas, merelakan sisa-sisa gengsinya. Lagipula, rebahan sambil menonton drama jauh lebih nyaman daripada meladeni obrolan basa-basi.

"Kapan ya hidupku seberuntung CEO tajir ini."

Reyhan bergumam pelan, menatap sosok pemeran utama pria di layar ponselnya dengan tatapan kosong.

[Ding! Sistem Sign-In Harian sedang dimuat]

[Mendeteksi gelombang otak target. Tingkat kepasrahan hidup mencapai titik maksimal. Memenuhi syarat mutlak: 'Blank Slate Host', individu tanpa koneksi, tanpa aset, dan memiliki mentalitas stabil di bawah tekanan.]

[Ding! Sistem Sign-In Harian selesai dimuat]

[Host: Reyhan Pradipta

Umur: 23 tahun

Tinggi: 178 cm

Berat: 65 kg

Kepemilikan rumah: Belum ada

Kepemilikan mobil: Belum ada

Tabungan: Rp3.265.000

Keterampilan pribadi: Tidak ada]

"Apa-apaan ini?"

Reyhan tersentak. Kepalanya mendadak disusupi suara mekanis yang entah datang dari mana.

[Host, tidak perlu cemas. Saya adalah Sistem Sign-in Harian. Alasan pemilihan Anda: Sistem kosmis mendeteksi bahwa tingkat keberuntungan Anda telah ditekan hingga batas terendah selama dua puluh tiga tahun terakhir. Sistem ini hadir sebagai kompensasi takdir untuk memulihkan keseimbangan hidup Anda.]

[Sistem menilai Anda layak karena jiwa Anda terbukti murni dari keserakahan duniawi. Anda adalah kandidat paling ideal untuk mengelola dana tak terbatas tanpa merusak tatanan kewarasan. Lakukan sign-in setiap hari tepat waktu untuk mengklaim hadiah acak. Kemungkinannya tidak terbatas. Anda bisa mendapatkan properti, uang tunai, keterampilan, hingga hal-hal di luar nalar lainnya.]

Reyhan mencerna informasi itu perlahan. Penjelasan ini mengingatkannya pada genre sistem yang sering ia baca di novel online. Jalan hidup karakter-karakter dalam cerita semacam itu biasanya langsung berubah menjadi sangat mulus. Selama ini dia hanya membaca cerita klise tentang sistem, tidak disangka giliran itu jatuh padanya hari ini.

"Sistem, aku mau sign-in sekarang."

Reyhan tidak sabar melihat hadiah apa yang akan ia dapatkan di hari pertamanya.

[Ding! Proses sign-in Host dimulai. Selamat, Host! Sign-in berhasil. Anda mendapatkan hadiah sebesar sepuluh miliar Rupiah. Dana tersebut kini telah disetorkan ke rekening bank pribadi Anda. Harap verifikasi transaksi.]

"Nggak mungkin. Seriusan sepuluh miliar?"

Mata Reyhan terbelalak lebar. Detik berikutnya, ponsel di tangannya memunculkan notifikasi B-Mobile.

[B-Mobile: Sobat B-Mobile! Dana Rp10.000.000.000,00 telah masuk ke Rek. 5432xxxxxx pada 02/06/2026 21:04. Saldo akhir kamu Rp10.003.265.000,00]

Untuk memastikan matanya tidak bermasalah, ia buru-buru membuka aplikasi mobile banking dan mencoba mentransfer seratus ribu rupiah ke akun E-Cash miliknya.

Berhasil. Uang seratus ribu itu masuk ke saldo E-Cash tanpa kendala.

"Sistem, uang sepuluh miliar tiba-tiba masuk rekeningku begini, pihak bank nggak bakal curiga?" Reyhan tahu betul bagaimana ketatnya pengawasan perbankan di negaranya. Jika asal-usul uang ini diusut, sepeser pun tak akan bisa ia nikmati.

[Host harap tenang. Sistem telah mengubah protokol perbankan. Hasil pelacakan akan mendeteksi dana ini sebagai hasil investasi dan transfer yang legal secara hukum. Semakin Host berkembang, pengamanan sistem akan semakin tidak tersentuh oleh pihak mana pun. Silakan gunakan dana Anda dengan sesuka hati.]

"Gila, luar biasa."

Jaminan dari sistem sukses melepaskan beban di pundak Reyhan. Ia kini bisa menikmati status miliarder dadakannya dengan nyaman. Sambil memproses kekayaan barunya, Reyhan memutuskan untuk pergi ke luar guna memastikan uang itu benar-benar ada di dunia nyata.

**

Setengah jam kemudian, Reyhan berdiri di depan mesin ATM minimarket dekat kosannya. Begitu ia memasukkan kartu dan menekan tombol cek saldo, deretan angka nol yang berbaris panjang di layar sukses membuat kepalanya sedikit pusing.

"Mumpung sekarang aku sudah tajir, malam ini waktunya makan enak," batin Reyhan.

Reyhan keluar dari area minimarket setelah tarik tunai, memesan ojek online, dan meluncur menuju salah satu restoran elite di pusat kota yang sering dijadikan tempat berkumpul kaum konglomerat.

Harga makanan di tempat itu jelas di luar nalar Reyhan yang dulu. Rata-rata tagihan mencapai puluhan juta per meja. Tempat yang mustahil diinjak oleh karyawan bergaji UMR sepertinya. Namun malam ini, nilai puluhan juta rupiah nyaris tidak ada artinya bagi Reyhan.

Begitu masuk ke area restoran, ia memilih meja di sudut dekat jendela besar. Ia melirik buku menu dan asal menunjuk pesanan steak sirloin kobe, tanpa repot-repot memikirkan apa saus pendampingnya.

"Sepertinya masih kurang. Mbak, botol wine paling mahal di sini harganya berapa?"

Mental Orang Kaya Baru bercampur jaminan bonus harian dari sistem membuat Reyhan berani. Jika besok ia bisa mendapatkan hadiah miliaran lagi, ia tidak perlu repot-repot berhemat.

"Selamat malam, Kak. Untuk red wine termahal kami saat ini ada koleksi Romanée-Conti, dibanderol seharga delapan puluh juta Rupiah per botolnya. Kakak berminat?"

Pelayan berseragam rapi dengan postur semampai itu menjawab ramah. Biasanya, pelanggan yang datang sendiri hanya akan memesan per gelas. Reyhan langsung memesan satu botol utuh.

"Oke, pas. Saya ambil satu botol itu."

"Maaf, Kak. Kakak yakin ingin memesan satu botol penuh?" Pelayan itu tidak bisa menutupi rasa herannya.

"Santai saja, Mbak. Kalau nggak habis, nanti saya bawa pulang."

Reyhan menjawab santai tanpa repot memberi penjelasan lebih. Ia sadar penampilannya yang sederhana ini tidak meyakinkan untuk memesan minuman seharga delapan puluh juta. Tanpa peduli dengan keraguan sang pelayan, ia langsung mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.

Pelayan itu merespons cepat dengan menyodorkan mesin EDC nirkabel. Reyhan meraih mesin tersebut, memasukkan kartunya, lalu menekan enam digit nomor sandi dengan santai.

Begitu mesin EDC memproses dan mencetak struk tanda transaksi berhasil, mata pelayan itu membulat. Awalnya ia mengira pelanggan ini hanya sekadar membual demi gengsi. Pakaian Reyhan benar-benar meneriakkan status ekonomi menengah ke bawah.

Melihat bukti pembayaran yang sah di tangannya, pelayan itu tersenyum gembira, nyaris ingin melompat. Penjualan satu botol wine semahal ini otomatis memberikannya komisi tambahan hingga jutaan rupiah.

"Ini kartunya, Kak."

Wajah pelayan itu kini berseri-seri. Senyumnya jauh lebih manis saat mengembalikan kartu debit milik Reyhan. Tanpa diminta, ia langsung membuka botol mewah tersebut, menuangkannya ke dalam gelas Reyhan dengan teknik yang sangat elegan.

Bukan sekadar menuangkan minuman, pelayan itu tetap berdiri siaga di samping meja Reyhan dan berinisiatif menjelaskan sedikit profil rasa dari anggur tersebut layaknya seorang ahli. Perlakuan istimewa itu sukses membuat ujung bibir Reyhan tertarik naik.

Pelayan wanita itu mundur selangkah setelah memastikan gelas Reyhan terisi sepertiga penuh.

Reyhan mengangkat gelas kristal tersebut. Ia menyesap cairan merah marun itu perlahan. Jujur saja, bagi lidahnya yang terbiasa dengan es teh manis warteg, rasa anggur ini dominan sepat dan asam. Namun, mengingat harga delapan puluh juta yang mengalir ke tenggorokannya, ia memaksakan diri untuk mengangguk pelan.

"Ternyata begini rasanya minuman orang kaya," batin Reyhan.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sistem Sign-In Harian   30. Pagi Setelah Malam Itu

    Rembulan bersembunyi di balik dahan-dahan, seolah enggan mengintip panasnya kamar itu."Kau... kau berat," Sandra mengoceh di sela desahan. Kata-katanya masih kental oleh alkohol, tidak sepenuhnya sadar, tapi juga tidak sepenuhnya mabuk.Reyhan ingin menjawab, tapi otaknya tidak mampu merangkai kata. Alkohol dan sensasi yang menjalar dari setiap titik kontak tubuh mereka membuatnya hanya bisa fokus pada ritme. Naik. Turun. Lambat, lalu cepat, lalu lambat lagi, karena ia sendiri tidak yakin apakah ia ingin segera menyelesaikan ini atau memperpanjangnya hingga pagi."Jangan berhenti," bisik Sandra. Kali ini tangannya yang tadi hanya mencengkeram sprei kini berpindah ke punggung Reyhan. Kuku-kukunya menelusuri tulang belakangnya, meninggalkan jejak merah samar yang mungkin akan menjadi satu-satunya bukti bahwa malam ini benar-benar terjadi.Di luar, hujan mulai turun. Rintiknya mengetuk kaca jendela seperti jari-jari kecil yang ingin masuk."Kamu... Reyhan, kan?" Sandra tiba-tiba bertany

  • Sistem Sign-In Harian   29. Vila di Bukit Seruni

    "Tentu saja. Jangan coba-coba main-main dengan kami." "Kalau begitu, tangkap ini." Reyhan melemparkan mantel Sandra ke udara, siap memberi pelajaran kepada mereka. Tapi saat mantel itu melayang turun, sebuah kartu identitas RIC meluncur keluar dari sakunya, diikuti oleh sebuah pistol hitam mengilap. Melihat moncong senjata api itu, mereka tersandung mundur. Wajah mereka pucat seketika, seolah baru saja melihat hantu. Pria berambut cepak yang pertama angkat bicara. Suaranya bergetar hebat. "Ba... Bang, itu pistol beneran?" Pria berotot itu menelan ludah kasar. Tatapan congkaknya lenyap dalam sekejap mata. Reyhan sendiri mengangkat alis, sama terkejutnya. Ia melirik ke arah Sandra yang masih terlelap di dalam mobil. "Wanita ini ternyata membawa pistol di balik mantelnya?" gumam Reyhan. Ia membungkuk, memungut pistol itu, lalu mendongak menatap mereka yang sudah mundur beberapa langkah. "Jadi, kita masih mau lanjutkan negosiasi seratus juta tadi?" tanya Reyhan pelan, namun penuh i

  • Sistem Sign-In Harian   28. Badut dalam Cerita Mereka

    "Ternyata aku hanya badut dalam cerita mereka," desah Hendra pelan. Suaranya terdengar getir."Sudahlah, lupakan. Itu bukan salahmu. Dia yang mempermainkanmu," hibur Reyhan. Tangannya tetap mantap menggenggam kemudi.Hendra tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, membiarkan lampu-lampu kota bergerak cepat seperti kilasan kenangan yang pahit.***Tak lama kemudian, Reyhan memarkir Bugatti di Bar. Ia menggiring Hendra masuk ke dalam, lengannya melingkar di bahu sahabatnya itu. Mereka memilih bilik kosong di sudut, dan Reyhan memberi isyarat kepada bartender untuk membawa beberapa minuman.Sandra tiba beberapa menit kemudian, masih dengan koper kecil di tangannya. Ia langsung duduk tanpa basa-basi dan meraih sebotol bir yang sudah terbuka."Bersulang dan tidak berhenti sampai mabuk," seru Sandra, meneguk langsung dari botol.Reyhan mengamatinya dari seberang meja, benar-benar bingung."Uhuk, uhuk," Sandra terbatuk sedetik kemudian. Rupanya ia tidak terbiasa menenggak minuman ke

  • Sistem Sign-In Harian   27. Malam Para Pecundang

    Reyhan segera menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Dari dalam saku jaketnya, ia mengeluarkan selembar cek dengan nominal fantastis. Pandangannya tertuju lama pada deretan angka tersebut. "Rania Maheswari... siapa kamu sebenarnya?" gumamnya pelan. Pikirannya tenggelam hingga akhirnya matanya terpejam. Reyhan pun tertidur pulas. ** Reyhan terbangun saat lampu-lampu jalan telah menyala. Langit di luar jendela tampak gelap. Setelah membasuh wajah, ia bersiap keluar untuk mencari makan. Telepon genggamnya berdering tepat ketika semangkuk mi instan panas diletakkan di atas meja. Suara Hendra yang panik terdengar dari seberang. "Rey, jemput aku di kantor RIC sekarang." Alis Reyhan bertaut. "Kantor RIC? Kamu ditahan?" "Iya," jawab Hendra singkat. Mi instan yang masih mengepul itu pun ditinggalkan. Reyhan segera masuk ke mobil dan melaju cepat sembari menggerutu. Siang hari ia yang berurusan dengan penyidik, kini giliran Hendra pada malam harinya. Di area parkir kantor RIC, Reyhan berpapasan

  • Sistem Sign-In Harian   26. Hadiah Satu Miliar

    Sandra berdiri kaku, ujung laras senjatanya masih mengepulkan asap tipis."Panggil ambulans, bawa dia ke rumah sakit!" perintah Darwin seraya memberi isyarat kepada anak buahnya."Kenapa kamu menarik pelatuk?" tanya Darwin dengan tatapan tajam.Sandra hanya membisu seraya menundukkan kepalanya.Setelah mengamankan lokasi, Darwin dan timnya bergegas menggotong tubuh Kevin keluar."Terima kasih. Kapan-kapan aku traktir makan," ucap Reyhan sembari menyelipkan secarik kertas ke telapak tangan Sandra.Penyidik itu menggenggam kertas tersebut tanpa bersuara, lalu berbalik menyusul rekan-rekannya.Pintu kontrakan tertutup kembali. Reyhan merapikan sisa kekacauan di ruang tamu. "Hari yang sangat padat. Orang bebas datang dan pergi, padahal tempatku ini sempit, tidak akan cukup menampung semua drama mereka," kekehnya getir."Tuan Rey, kita bertemu lagi," sapa sebuah suara dari sudut ruangan.Reyhan membalikkan badan. "Jason. Kalau boleh jujur, aku sangat berharap kita tidak perlu bertemu lagi,

  • Sistem Sign-In Harian   25. Topeng Sang Pewaris

    "Kamu bohong lagi?" tanya Sandra seraya bersiap menarik senjatanya. "Tahan dulu, biar aku tunjukkan sedikit trik," sela Reyhan sambil meletakkan telapak tangannya di bahu jenazah Kakek Abas. Reyhan menyalurkan kekuatannya secara mendadak. Seketika, bercak merah tua merembes dari balik dada jenazah tersebut, tepat di atas letak jantung. "Ini..." gumam Sandra terkejut. "Tuan Rey, apa maksudnya ini?" tanya Darwin yang berusaha tetap tenang meski matanya terlihat heran. "Tenaga dalam," jawab Reyhan singkat. "Tenaga dalam?" ulang Darwin memastikan pendengarannya. "Benar. Teknik penyaluran kekuatan kuno yang sulit dicerna oleh logika manusia modern," jelas Reyhan. "Jangan mengada-ada, Reyhan. Kekuatan semacam itu cuma mitos di film aksi," protes Sandra tidak terima. "Dengar, tenaga dalam itu ilmu menyalurkan energi secara terarah. Kalau pukulan fisik biasa, dampaknya cuma merusak permukaan kulit dan tulang. Tapi tenaga dalam bisa menembus jauh ke dalam, menghancurkan organ tanpa me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status