LOGIN
"Reuni? Besok? Ah, sori, aku absen dulu. Kerjaan lagi padat banget, beneran nggak bisa datang."
Reyhan Pradipta menekan tombol kirim di layar ponselnya, melepaskan pesan suara itu meluncur ke grup obrolan. Balasan langsung masuk sedetik kemudian. "Jangan gitu, dong! Ini reuni pertama kita sejak lulus, lho. Anak-anak pada datang semua. Kamu wajib ikut. Besok jam lima sore di Hotel Nusantara. Pokoknya nggak terima alasan!" Di lingkaran pertemanan seperti ini, orang sering terjebak dalam persaingan terselubung. Pencapaian karier dan merek mobil yang dibawa selalu menjadi tolok ukur harga diri. Reyhan hanya bisa tersenyum masam. Acara berkedok temu kangen ini ujung-ujungnya pasti berubah menjadi ajang pamer pencapaian. Tempat semacam itu hanya panggung bagi mereka yang sudah mapan. Reyhan sadar diri, dia tidak pantas ikut campur. Alasannya sederhana. Nasibnya mandek sejak hari kelulusan. Meski sekarang berhasil masuk ke perusahaan yang lumayan, nilai IPK tinggi rupanya tidak berarti apa-apa tanpa koneksi orang dalam. Gajinya cuma mentok di angka UMR. Memaksakan diri datang ke kontes pamer berkedok reuni itu sama saja dengan mencari malu. Tidak ada satu pun hal dalam hidupnya yang bisa dibanggakan. Kosan masih bulanan, motor sering mogok, bahkan kemeja kerjanya jarang disetrika rapi. "Mending aku di rumah aja maraton drama. Bodo amat sama reuni sok-sokan," batin Reyhan. Ia menghela napas, merelakan sisa-sisa gengsinya. Lagipula, rebahan sambil menonton drama jauh lebih nyaman daripada meladeni obrolan basa-basi. "Kapan ya hidupku seberuntung CEO tajir ini." Reyhan bergumam pelan, menatap sosok pemeran utama pria di layar ponselnya dengan tatapan kosong. [Ding! Sistem Sign-In Harian sedang dimuat] [Mendeteksi gelombang otak target. Tingkat kepasrahan hidup mencapai titik maksimal. Memenuhi syarat mutlak: 'Blank Slate Host', individu tanpa koneksi, tanpa aset, dan memiliki mentalitas stabil di bawah tekanan.] [Ding! Sistem Sign-In Harian selesai dimuat] [Host: Reyhan Pradipta Umur: 23 tahun Tinggi: 178 cm Berat: 65 kg Kepemilikan rumah: Belum ada Kepemilikan mobil: Belum ada Tabungan: Rp3.265.000 Keterampilan pribadi: Tidak ada] "Apa-apaan ini?" Reyhan tersentak. Kepalanya mendadak disusupi suara mekanis yang entah datang dari mana. [Host, tidak perlu cemas. Saya adalah Sistem Sign-in Harian. Alasan pemilihan Anda: Sistem kosmis mendeteksi bahwa tingkat keberuntungan Anda telah ditekan hingga batas terendah selama dua puluh tiga tahun terakhir. Sistem ini hadir sebagai kompensasi takdir untuk memulihkan keseimbangan hidup Anda.] [Sistem menilai Anda layak karena jiwa Anda terbukti murni dari keserakahan duniawi. Anda adalah kandidat paling ideal untuk mengelola dana tak terbatas tanpa merusak tatanan kewarasan. Lakukan sign-in setiap hari tepat waktu untuk mengklaim hadiah acak. Kemungkinannya tidak terbatas. Anda bisa mendapatkan properti, uang tunai, keterampilan, hingga hal-hal di luar nalar lainnya.] Reyhan mencerna informasi itu perlahan. Penjelasan ini mengingatkannya pada genre sistem yang sering ia baca di novel online. Jalan hidup karakter-karakter dalam cerita semacam itu biasanya langsung berubah menjadi sangat mulus. Selama ini dia hanya membaca cerita klise tentang sistem, tidak disangka giliran itu jatuh padanya hari ini. "Sistem, aku mau sign-in sekarang." Reyhan tidak sabar melihat hadiah apa yang akan ia dapatkan di hari pertamanya. [Ding! Proses sign-in Host dimulai. Selamat, Host! Sign-in berhasil. Anda mendapatkan hadiah sebesar sepuluh miliar Rupiah. Dana tersebut kini telah disetorkan ke rekening bank pribadi Anda. Harap verifikasi transaksi.] "Nggak mungkin. Seriusan sepuluh miliar?" Mata Reyhan terbelalak lebar. Detik berikutnya, ponsel di tangannya memunculkan notifikasi B-Mobile. [B-Mobile: Sobat B-Mobile! Dana Rp10.000.000.000,00 telah masuk ke Rek. 5432xxxxxx pada 02/06/2026 21:04. Saldo akhir kamu Rp10.003.265.000,00] Untuk memastikan matanya tidak bermasalah, ia buru-buru membuka aplikasi mobile banking dan mencoba mentransfer seratus ribu rupiah ke akun E-Cash miliknya. Berhasil. Uang seratus ribu itu masuk ke saldo E-Cash tanpa kendala. "Sistem, uang sepuluh miliar tiba-tiba masuk rekeningku begini, pihak bank nggak bakal curiga?" Reyhan tahu betul bagaimana ketatnya pengawasan perbankan di negaranya. Jika asal-usul uang ini diusut, sepeser pun tak akan bisa ia nikmati. [Host harap tenang. Sistem telah mengubah protokol perbankan. Hasil pelacakan akan mendeteksi dana ini sebagai hasil investasi dan transfer yang legal secara hukum. Semakin Host berkembang, pengamanan sistem akan semakin tidak tersentuh oleh pihak mana pun. Silakan gunakan dana Anda dengan sesuka hati.] "Gila, luar biasa." Jaminan dari sistem sukses melepaskan beban di pundak Reyhan. Ia kini bisa menikmati status miliarder dadakannya dengan nyaman. Sambil memproses kekayaan barunya, Reyhan memutuskan untuk pergi ke luar guna memastikan uang itu benar-benar ada di dunia nyata. ** Setengah jam kemudian, Reyhan berdiri di depan mesin ATM minimarket dekat kosannya. Begitu ia memasukkan kartu dan menekan tombol cek saldo, deretan angka nol yang berbaris panjang di layar sukses membuat kepalanya sedikit pusing. "Mumpung sekarang aku sudah tajir, malam ini waktunya makan enak," batin Reyhan. Reyhan keluar dari area minimarket setelah tarik tunai, memesan ojek online, dan meluncur menuju salah satu restoran elite di pusat kota yang sering dijadikan tempat berkumpul kaum konglomerat. Harga makanan di tempat itu jelas di luar nalar Reyhan yang dulu. Rata-rata tagihan mencapai puluhan juta per meja. Tempat yang mustahil diinjak oleh karyawan bergaji UMR sepertinya. Namun malam ini, nilai puluhan juta rupiah nyaris tidak ada artinya bagi Reyhan. Begitu masuk ke area restoran, ia memilih meja di sudut dekat jendela besar. Ia melirik buku menu dan asal menunjuk pesanan steak sirloin kobe, tanpa repot-repot memikirkan apa saus pendampingnya. "Sepertinya masih kurang. Mbak, botol wine paling mahal di sini harganya berapa?" Mental Orang Kaya Baru bercampur jaminan bonus harian dari sistem membuat Reyhan berani. Jika besok ia bisa mendapatkan hadiah miliaran lagi, ia tidak perlu repot-repot berhemat. "Selamat malam, Kak. Untuk red wine termahal kami saat ini ada koleksi Romanée-Conti, dibanderol seharga delapan puluh juta Rupiah per botolnya. Kakak berminat?" Pelayan berseragam rapi dengan postur semampai itu menjawab ramah. Biasanya, pelanggan yang datang sendiri hanya akan memesan per gelas. Reyhan langsung memesan satu botol utuh. "Oke, pas. Saya ambil satu botol itu." "Maaf, Kak. Kakak yakin ingin memesan satu botol penuh?" Pelayan itu tidak bisa menutupi rasa herannya. "Santai saja, Mbak. Kalau nggak habis, nanti saya bawa pulang." Reyhan menjawab santai tanpa repot memberi penjelasan lebih. Ia sadar penampilannya yang sederhana ini tidak meyakinkan untuk memesan minuman seharga delapan puluh juta. Tanpa peduli dengan keraguan sang pelayan, ia langsung mengeluarkan kartu debit dari dompetnya. Pelayan itu merespons cepat dengan menyodorkan mesin EDC nirkabel. Reyhan meraih mesin tersebut, memasukkan kartunya, lalu menekan enam digit nomor sandi dengan santai. Begitu mesin EDC memproses dan mencetak struk tanda transaksi berhasil, mata pelayan itu membulat. Awalnya ia mengira pelanggan ini hanya sekadar membual demi gengsi. Pakaian Reyhan benar-benar meneriakkan status ekonomi menengah ke bawah. Melihat bukti pembayaran yang sah di tangannya, pelayan itu tersenyum gembira, nyaris ingin melompat. Penjualan satu botol wine semahal ini otomatis memberikannya komisi tambahan hingga jutaan rupiah. "Ini kartunya, Kak." Wajah pelayan itu kini berseri-seri. Senyumnya jauh lebih manis saat mengembalikan kartu debit milik Reyhan. Tanpa diminta, ia langsung membuka botol mewah tersebut, menuangkannya ke dalam gelas Reyhan dengan teknik yang sangat elegan. Bukan sekadar menuangkan minuman, pelayan itu tetap berdiri siaga di samping meja Reyhan dan berinisiatif menjelaskan sedikit profil rasa dari anggur tersebut layaknya seorang ahli. Perlakuan istimewa itu sukses membuat ujung bibir Reyhan tertarik naik. Pelayan wanita itu mundur selangkah setelah memastikan gelas Reyhan terisi sepertiga penuh. Reyhan mengangkat gelas kristal tersebut. Ia menyesap cairan merah marun itu perlahan. Jujur saja, bagi lidahnya yang terbiasa dengan es teh manis warteg, rasa anggur ini dominan sepat dan asam. Namun, mengingat harga delapan puluh juta yang mengalir ke tenggorokannya, ia memaksakan diri untuk mengangguk pelan. "Ternyata begini rasanya minuman orang kaya," batin Reyhan."Rey..." Hendra menahan napas, tak berani membayangkan amarah sahabatnya.Di atas bekas fondasi rumah itu, berdiri sebuah bedeng darurat beratap terpal. Beberapa pria berwajah kasar tampak sedang asyik bermain kartu di bawah cahaya lampu redup, diselingi tawa dan umpatan kasar.Tanpa sepatah kata pun, Reyhan melangkah maju menerobos puing-puing."Woi! Siapa kau?!" Seorang pria gemuk yang sedang memegang kartu mendongak kaget."Di mana orang tuaku?" Suara Reyhan terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan niat membunuh."Mana aku tahu! Pergi sana, jangan cari mampus di sini!" Pria gemuk itu bangkit, tangan kanannya refleks menyambar botol bir kosong dari atas meja.Reyhan tidak mengulang pertanyaannya. Ia menutup jarak dalam sekejap mata. Tangan kanannya melesat mencekik leher pria itu, mengangkat tubuh gempalnya dari kursi dengan tenaga brutal."Di mana. Orang tuaku."Pria itu meronta panik karena kehabisan napas. Dalam keputusasaan, ia mengayunkan botol bir di tangannya ke arah k
"Kabar apa? Terakhir aku pulang pas libur tahun kemarin, semuanya baik-baik saja," dahi Reyhan berkerut bingung."Rey, keluargamu sedang hancur. Kau benar-benar tidak tahu?" Azlan merendahkan suaranya, menatap temannya kasihan. "Kaki Bapakmu dipatahkan oleh anak kepala desa. Ibumu jatuh sakit parah karena syok, dan... rumah kalian sudah diratakan dengan tanah." Brak! Reyhan menggebrak meja dan langsung berdiri. Gelas whiskey-nya terguling. Sorot matanya menajam, memancarkan aura membunuh. "Apa kau bilang?!"Azlan menelan ludah, lalu menceritakan semuanya dengan cepat. Ternyata, orang tua Reyhan dulu diam-diam meminjam uang dari kepala desa untuk membiayai pendidikan Reyhan di kota. Bukannya bantuan, pinjaman itu berbunga mencekik layaknya lintah darat. Selama tiga tahun bekerja banting tulang, uang hasil panen orang tuanya bahkan tidak cukup untuk menutupi bunganya saja. Mereka menutup rapat rahasia ini agar Reyhan bisa fokus belajar dan meniti karier. Saat Reyhan pulang tahun lal
Sinar matahari pagi menyusup lewat celah tirai jendela, jatuh tepat di wajah Reyhan. Pria itu perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya. Ranjang di sebelahnya sudah kosong; Sandra ternyata berangkat kerja lebih awal.***Siang harinya, Reyhan mampir ke kantor Starlight bersama Hendra. Berkat kerja keras Evan, fondasi perusahaan semakin solid, membuat suasana kantor terasa lebih hidup dan terstruktur. Reyhan tidak lagi menyinggung soal jari Hendra yang putus, ia membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Elsa kini diam-diam mulai memberi perhatian lebih pada Hendra."Pak Rey, Anda memanggil saya?" Evan melangkah masuk ke ruangan."Bawa ini ke Rania. Dia yang akan menghubungkanmu dengan pihak lain," ujar Reyhan seraya menyerahkan flashdisk berisi cetak biru Tesla Note yang asli kepada Evan. "Ingat, kita hanya mengambil persentase hak kita. Dan terlepas dari siapa pun yang memegangnya nanti, b
"Bisa atau tidaknya kau memimpin proyek ini, penentunya bukan aku, melainkan dirimu sendiri, Rania. Semuanya bergantung pada seberapa besar keberanianmu merebut kekuasaan dari bayang-bayang keluarga Cross. Soal kemungkinan kau menusukku dari belakang... aku akui itu membuatku ragu. Tapi intuisiku bilang, kau tidak akan memilih jalan sebodoh itu," balas Reyhan percaya diri. Melihat obrolan tingkat tinggi yang penuh kode dan kalkulasi itu, Jason memilih menepi. Ia berjalan dalam diam dan membuka jendela lebar, membiarkan asap rokok yang menyesakkan dada itu tersapu angin malam. Setelah kesepakatan tercapai, Reyhan akhirnya pamit undur diri. Sebuah flashdisk berisi data purwarupa Tesla Note yang sedari tadi ia bawa kini telah berpindah aman ke tangan Rania. "Nona, Anda yakin ingin mengambil risiko bersekutu dengannya?" tanya Jason dengan wajah cemas begitu pintu tertutup rapat. "Kenapa tidak? Tesla Note, cetak biru energi masa depan... itu godaan yang terlalu manis untuk dilewatkan.
Di bawah tatapan Reyhan yang menusuk, Evan akhirnya menyerah. Dengan suara pelan, ia menyebutkan satu nama. Ryan Yudistira.Nama itu membuat darah Reyhan mendidih.Rupanya, Ryan menyuruh anak buahnya menyelidiki Reyhan, Hendra, dan Evan sejak kemarin. Berkas mereka sampai ke tangan Ryan dalam waktu singkat.Ia lalu menyuruh anak buahnya memotong jari kelingking Hendra dan Evan sebagai hadiah peringatan untuk Reyhan. Jelas sekali, urusan antara Ryan dan Reyhan makin memanas."Dia juga titip pesan, Starlight akan dihancurkan. Dan setelah itu... nyawamu yang jadi target," aku Hendra akhirnya, sadar ia tidak bisa lagi berbohong.Reyhan terdiam, lalu sudut bibirnya berkedut membentuk senyum dingin. "Menarik. Rupanya keluarga Yudistira memang tidak pernah rela menerima kekalahan."Tanpa bicara lagi, Reyhan berbalik dan melangkah keluar rumah.Ditinggal begitu saja, Hendra dan Evan saling berpandangan cemas, sama sekali tidak tahu apa yang akan ucapkan Reyhan barusan.Reyhan memacu mobilnya
"Kakek, Reyhan sudah tiba," bisik David pelan dari samping.Kakek Theo menoleh, menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. "Pemuda tampan. Kudengar kau yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan orang tua ini?" tanya Kakek Theo datar."Benar, Kek," jawab Reyhan tenang."Bagus! Dan kabarnya kau juga membuat kekacauan besar di rumah keluarga Yudistira, bahkan ribut dengan Anderson dan menyeret Dokter Kemal ke dalam masalah?"Reyhan tersenyum tipis. "Ehem... keadannya kebetulan memang tidak bisa di hindari, Kek.""Bagus sekali. Pemuda yang menjanjikan." Suara Kakek Theo berubah dingin. "Tapi kau juga sudah menggagalkan pertunangan cucuku, dan itu harus kita luruskan.""Kakek, Sandra sudah menjadi kekasihnya," sela David cepat.Kakek Theo tidak memedulikan omongan itu. Ia menatap lurus ke arah Reyhan. "Aku tahu, Nak. Sekarang jawab aku, bagaimana kau akan memperlakukan Sandra ke depannya?"Reyhan menegakkan punggungnya. "Tenang, Kakek. Sandra itu yang utama bagiku. Aku men







