Home / Urban / Sistem Sign-In Harian / 25. Topeng Sang Pewaris

Share

25. Topeng Sang Pewaris

Author: KoTz
last update publish date: 2026-07-16 22:38:30

"Kamu bohong lagi?" tanya Sandra seraya bersiap menarik senjatanya.

"Tahan dulu, biar aku tunjukkan sedikit trik," sela Reyhan sambil meletakkan telapak tangannya di bahu jenazah Kakek Abas.

Reyhan menyalurkan kekuatannya secara mendadak. Seketika, bercak merah tua merembes dari balik dada jenazah tersebut, tepat di atas letak jantung.

"Ini..." gumam Sandra terkejut.

"Tuan Rey, apa maksudnya ini?" tanya Darwin yang berusaha tetap tenang meski matanya terlihat heran.

"Tenaga dalam," jawab R
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sistem Sign-In Harian   26. Hadiah Satu Miliar

    Sandra berdiri kaku, ujung laras senjatanya masih mengepulkan asap tipis."Panggil ambulans, bawa dia ke rumah sakit!" perintah Darwin seraya memberi isyarat kepada anak buahnya."Kenapa kamu menarik pelatuk?" tanya Darwin dengan tatapan tajam.Sandra hanya membisu seraya menundukkan kepalanya.Setelah mengamankan lokasi, Darwin dan timnya bergegas menggotong tubuh Kevin keluar."Terima kasih. Kapan-kapan aku traktir makan," ucap Reyhan sembari menyelipkan secarik kertas ke telapak tangan Sandra.Penyidik itu menggenggam kertas tersebut tanpa bersuara, lalu berbalik menyusul rekan-rekannya.Pintu kontrakan tertutup kembali. Reyhan merapikan sisa kekacauan di ruang tamu. "Hari yang sangat padat. Orang bebas datang dan pergi, padahal tempatku ini sempit, tidak akan cukup menampung semua drama mereka," kekehnya getir."Tuan Rey, kita bertemu lagi," sapa sebuah suara dari sudut ruangan.Reyhan membalikkan badan. "Jason. Kalau boleh jujur, aku sangat berharap kita tidak perlu bertemu lagi,

  • Sistem Sign-In Harian   25. Topeng Sang Pewaris

    "Kamu bohong lagi?" tanya Sandra seraya bersiap menarik senjatanya. "Tahan dulu, biar aku tunjukkan sedikit trik," sela Reyhan sambil meletakkan telapak tangannya di bahu jenazah Kakek Abas. Reyhan menyalurkan kekuatannya secara mendadak. Seketika, bercak merah tua merembes dari balik dada jenazah tersebut, tepat di atas letak jantung. "Ini..." gumam Sandra terkejut. "Tuan Rey, apa maksudnya ini?" tanya Darwin yang berusaha tetap tenang meski matanya terlihat heran. "Tenaga dalam," jawab Reyhan singkat. "Tenaga dalam?" ulang Darwin memastikan pendengarannya. "Benar. Teknik penyaluran kekuatan kuno yang sulit dicerna oleh logika manusia modern," jelas Reyhan. "Jangan mengada-ada, Reyhan. Kekuatan semacam itu cuma mitos di film aksi," protes Sandra tidak terima. "Dengar, tenaga dalam itu ilmu menyalurkan energi secara terarah. Kalau pukulan fisik biasa, dampaknya cuma merusak permukaan kulit dan tulang. Tapi tenaga dalam bisa menembus jauh ke dalam, menghancurkan organ tanpa me

  • Sistem Sign-In Harian   24. Tangkap Kevin!

    Lamunan Reyhan terputus saat melihat Kevin memberi isyarat kasar kepada anak buahnya untuk memindahkan jenazah ke atas brankar roda. Mereka bersiap mengevakuasi jasad itu keluar.Dengan sigap, Darwin melangkah, memblokir akses menuju pintu. "Tuan Kevin, jenazah ini tidak akan ke mana-mana. Penyelidikan belum selesai."Kevin membalas tatapan itu dengan wajah mengeras. "Pak Darwin, memburu penjahat itu tugas penyidik. Saya tidak sudi ayah saya ditelantarkan di tempat dingin ini. Kalau RIC Investigasi tidak becus memecahkan kasusnya, saya akan cabut laporannya sekarang juga. Berhenti merusak jasad ayah saya!"Darwin tidak bergeser seinci pun. Sepatunya seolah terpaku di lantai. "Tuan Kevin, pikirkan baik-baik. Anda tidak menginginkan keadilan untuk ayah Anda?"Di tengah ketegangan itu, Reyhan menarik pelan lengan seragam Sandra. "Sandra, aku sudah tahu," bisiknya nyaris tak terdengar.Sandra menoleh, keningnya berkerut tajam. "Tahu apa?"Reyhan melirik sekilas ke arah brankar. "Kevin yan

  • Sistem Sign-In Harian   23. Teknik yang Seharusnya Punah

    Di bawah penerangan lampu neon yang memancarkan cahaya hijau pucat, suasana ruangan itu terasa sangat mencekam. Anehnya, tidak ada satu pun jenazah yang tergeletak di atas meja, melainkan hanya deretan laci logam tebal yang tertanam di sepanjang dinding. Darwin memberikan instruksi kepada petugas jaga di sudut ruangan. "Laci dua dua nol tiga." Setelah nomor itu diketikkan, sebuah laci logam meluncur keluar dari dinding dengan suara mesin yang halus, persis seperti peti mati modern. Beberapa petugas membantu menarik laci tersebut hingga terbuka sepenuhnya di hadapan Reyhan. Begitu hawa sedingin es menyeruak menerpa wajahnya, Reyhan baru menyadari bahwa laci itu adalah unit pendingin khusus. Reyhan memberanikan diri menunduk dan mengintip ke dalam. Sosok pria paruh baya yang terbaring kaku di sana terlihat sangat familiar di ingatannya. "Tuan Abas?" sebut Reyhan cepat. Darwin mengangguk pelan. "Benar. Kakek Abas adalah sosok pengusaha yang sangat dihormati di kota ini. Pengaruhnya

  • Sistem Sign-In Harian   22. Kasus yang Membingungkan Reserse

    Di kursi belakang mobil, Reyhan mengangkat kedua tangannya yang terborgol. "Ayolah, Bu. Apa ini benar-benar perlu? Saya diborgol begini sudah seperti penjahat kelas kakap."Petugas wanita di kursi depan menatapnya tajam dari kaca spion. "Diam. Apa Anda lebih suka saya lepas borgolnya supaya Anda bisa kabur?"Reyhan menyandarkan punggungnya perlahan. "Maksud saya, saya ini warga negara yang taat hukum. Tidak bisakah Anda sedikit lebih ramah?" Ia merasa tidak pernah melakukan kejahatan yang pantas membuatnya diperlakukan kasar oleh aparat.Petugas itu tersenyum sinis. "Anak orang kaya, tukang foya-foya, dan cuma jadi parasit masyarakat."Reyhan menggeleng pelan, berusaha meluruskan penilaian sepihak itu. "Tahan dulu, mari kita luruskan faktanya. Saya ini kaya karena hasil kerja keras sendiri. Ayah saya petani tulen. Sebagai catatan, saya tidak pernah merugikan siapa pun. Kalau Anda tidak percaya, silakan tanya orang-orang di kantor tentang kelakuan mantan manajer saya itu. Lagi pula, se

  • Sistem Sign-In Harian   21. Penangkapan Sang CEO Baru

    "Kurang ajar!" bentak Indra dengan tubuh bergetar hebat. Jarinya menunjuk lurus ke arah wajah Maya."Tahan dulu, aku ingin bertanya sedikit," tegur Reyhan berdeham pelan, memotong perang urat saraf di antara kedua orang tersebut."Kamu pikir kamu punya hak bicara di sini? Tunggu saja sampai petugas menyeret kamu keluar!" bentak Maya. Tatapan tajamnya langsung berpindah menjadikan Reyhan sebagai sasaran tembak.Belum sempat Reyhan merespons, tiga orang petugas dari Reserse Investigation Criminal (RIC) berseragam taktis melangkah masuk ke dalam ruangan. Sekelompok karyawan perusahaan terlihat mengekor dari kejauhan, mengintip dari celah pintu."Selamat pagi. Kami dari Reserse Investigation Criminal menindaklanjuti laporan dugaan tindak kekerasan di lokasi ini," ucap seorang petugas wanita berwajah tegas di barisan terdepan. Pandangannya menyapu seisi ruangan. "Siapa yang bernama Reyhan?""Itu dia, Bu! Dia pelakunya!" seru Maya seraya menunjuk lurus ke arah Reyhan.Petugas wanita itu lan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status