Mag-log in"Cepat bangun! Sungguh berperilaku seperti babi. Setiap hari bangunnya lama."
Orang yang menggedor-gedor pintu kamar adalah Betty. Catherine menguap lebar dan melirik ke arah jendela. Melihat betapa gelap di luar sana, sepertinya belum jam enam pagi. Udara yang dingin membuat semua orang enggan untuk bangun tetapi dia sudah dipaksa untuk melakukan pekerjaan kasar. "Ada apa Betty?" ujarnya membuka gerendel pintu. "Orang akan mengiramu penagih hutang." Muka tirus Betty merah padam. Satu-satunya yang berhak menegur dengan keras hanyalah countess Inggrid bukan perempuan rendahan. Tangannya naik hendak menampar Catherine tetapi pemilik wajah sudah memiting lebih dulu. "Kau sudah berkaca sebelum menamparku?" bisik Catherine dingin. "Tak merasa bersalah pada ibuku, hmm?" "Lepaskan, Miss. Anda tak boleh bertindak kasar. Countess Inggrid akan murka." "Ha!" seru Catherine dramatis. "Kau masih ingat bahwa aku majikanmu." Betty semakin gusar tapi tak berani membantah. Countess masih tidur dan tak ada yang akan jadi pendukungnya. Nanti begitu beliau bangun, masih ada waktu memberi pelajaran pada gadis yatim. "Sebaiknya Anda bergegas. Tuan Stuart akan sarapan di sini dan semalam lady Meredith sudah meminta anda menyiapkan pai buah yang enak." "Aku tahu. Tak perlu mengacau di sini." Kesal tapi tak bisa melampiaskan, Betty hanya bisa menghentakkan kaki sebelum beranjak. Sementara itu, Catherine pergi ke dapur dan menyiapkan bara api. Tangannya yang kapalan memasak isian pai yang berupa campuran apel, gula, dan kayu manis. Sedangkan terigu, mentega, dengan sedikit air lemon diuleni untuk jadi bahan kulit. Ketika semua bagian sudah dicetak dalam loyang, dia memanggangnya di atas api kecil. Dulu pelayan menyiapkan semua ini untuknya. Hanya jika ibunya di dapur, dia datang untuk melihat-lihat. Lidah-lidah api seolah mengejek penderitaannya yang tak kunjung usai. Sekitar pukul delapan pagi, tamu yang dinanti keluarga Percy akhirnya datang. Tunangan Meredith yang bernama Rupert Stuart adalah pria yang cukup tampan. Kenyataan ini ditambah status keluarga, membuatnya jadi menantu idaman. "Makan yang banyak Mr. Stuart. Tidak setiap hari kita bisa makan pai apel yang lezat," tawar Edward tanpa malu. "Putriku sudah bangun awal hanya untuk memanggangnya." Meredith yang duduk di sisi Rupert tersipu-sipu. "Ayah tak usah menceritakannya. Membuat pai apel bukanlah hal yang sulit." Catherine yang kebetulan meletakkan wadah gula, nyaris tersedak ludah sendiri. Membuat pai mudah? Sepupunya yang manis bahkan tak bisa mengupas telur dengan benar. "Pai ini meman lezat," balas Rupert. "Tetapi pemandangannya tak kalah istimewa. Sungguh cantik dan menawan." Sementara berkata demikian, matanya menatap lekat. Buku kuduk Catherine sampai merinding. Sudah acap Rupert Stuart memberinya tatapan ambigu tetapi yang sekarang lebih parah. Mata kelabu pucat itu seperti menelanjanginya. Catherine buru-buru mau pergi tetapi bibi Inggrid sudah memberi perintah yang lain. "Pergi ke taman belakang. Siapkan buah dan camilan. Meredith dan tuan Stuart akan berbincang di sana." Catherine mengangguk patuh. "Ya, My lady." Taman yang dimaksud bibinya terletak di sebelah kiri manor. Biasanya dipakai untuk percakapan pribadi. Selain pohon ek tua, sekelompok bunga daffodil dan bluebell tumbuh subur di sudut taman. Musim semi membuat segalanya lebih indah. Dengan cekatan, Catherine meletakkan beberapa nampan berisi kue kering dan buah-buahan tropis yang langka. Bibi Inggrid membelinya dengan harga mahal demi menyenangkan hati calon menantu. "Nona Catherine, suatu kebetulan yang manis melihat Anda di sini." Teguran ini membuat bulu kuduk Catherine meremang. Dia berbalik hanya untuk mendapati Rupert Stuart berdiri di belakang. Satu tangannya masuk ke saku sementara yang lain memainkan arloji emas. Seringainya yang menakutkan membuat Catherine punya keinginan untuk ditelan bumi sekarang juga. "Anda sungguh baik tuan Stuart. Silakan duduk dan nikmati makanannya. Saya masih ada pekerjaan." Catherine bersiap pergi tetapi sepasang tangan yang kuat kadung menahannya. "Buru-buru sekali. Kenapa kita tidak duduk dan lebih mengenal satu sama lain?" Dia adalah gadis rumahan yang tidak tahu dunia luar. Tetapi manusia dibekali insting dan naluri untuk bertahan hidup. Tatapan mata dan seringai menjijikkan itu, mana mungkin tak tahu artinya? "Tuan Stuart, tolong jaga sikap. Anda adalah tunangan lady Meredith. Perbuatan anda sungguh tidak pantas." Alih-alih menurut, Rupert malah mendekatkan wajah hingga embusan nafasnya meniup tengkuk Catherine. "Jangan sok jual mahal. Kapan lagi pelayan sepertimu punya kesempatan untuk bicara dengan bangsawan. Menurutlah selagi aku masih baik." Sikap cabul berbalut kesombongan membuat Catherine makin berang. Dia meronta sembari menatap tajam lawan bicaranya. "Anda begitu terhormat tetapi bisa-bisanya menaruh hati pada pelayan? Kalau sampai Lady Meredith tahu, anda akan dalam masalah besar." Mulanya ada ketakutan di wajah Rupert. Namun rasa marah karena diancam pelayan, membuat akal sehatnya memudar. Dia tertawa keras seperti seorang maniak. "Jalang kecil berani mengancamku?" bisiknya berbahaya. "Kita lihat siapa yang lebih mereka percaya. Aku atau kau." Secepat kilat dia menarik Catherine dalam dekapan dan menciumi wajahnya. Tangannya yang besar juga mulai bergerak di bagian dada dan bokong. Nafasnya memburu oleh gairah yang membara. "Hentikan! Anda tak boleh begini." Protesnya segera dibungkam oleh ciuman Rupert yang liar dan ganas. Catherine meronta sekuat tenaga tetapi dibanding pria dewasa yang makan dengan teratur, apalah daya gadis muda yang kelaparan setiap hari. Ketika bagian depan gaun sudah robek dan dia hampir kehabisan nafas barulah Rupert melepas ciumannya. Namun semua sudah terlambat. Posisi ambigu mereka sudah terlanjur dilihat orang lain. "Kurang ajar! Apa yang kau lakukan di sini?" Tangan Rupert yang melingkari pinggangnya terlepas begitu saja hingga Catherine terhempas kasar di atas rerumputan. Muka bibinya sudah merah padam sementara Meredith terlalu kaget untuk bicara. Gadis itu berdiri kaku dengan wajah pucat pasi. "My lady, ini tidak seperti yang Anda pikirkan." Rupert berdiri dengan sikap sopan. "Saya hanya membantunya berdiri tetapi pelayan ini nekad melakukan hal memalukan. Anda harus memecatnya." Menjijikkan sekali! Dia belum buka mulut, tetapi pecundang itu sudah bicara panjang lebar. Berlagak seperti pria terhormat ternyata cuma serigala berkedok manusia. Penampilan memang menipu. Walau sudah tahu tak akan ada yang percaya, Catherine merasa punya kewajiban untuk membela diri. "My lady, saya tak melakukan apapun. Tuan Stuart menyerang saya lebih dulu." Plak! Plak! Plak! Atas perintah bibinya, Betty bergerak tangkas. Menamparnya berulang-ulang. Catherine bisa merasakan sudut bibirnya koyak. "Tutup mulutmu. Dasar jalang rendahan!" Caroline yang berdiri di sisi Meredith ikut menyuarakan kemarahan. "Cuma pelayan tapi berani bersikap kurang ajar. Kau lebih rendah dari binatang." Kemampuan orang-orang ini memutar-balikkan fakta membuat hati Catherine jadi dingin. Persetan nama baik keluarga! "Kalau anda tak percaya, silakan bawa saya ke pihak yang berwajib, My lady. Saya yakin mereka akan memberi anda keadilan." Dia mau lihat seberapa besar nyali para penindas. Kalau mereka sampai berani melapor ke pihak berwajib maka identitasnya sebagai putri Earl of Pembroke ketiga pasti akan terbongkar."Jangan-jangan Baron Cecil di sini," gumam Catherine pada diri sendiri. Lekas dia melongok ke bawah, lewat jendela perancis yang menghadap ke jalan utama. Kereta-kereta para bangsawan tampak memasuki pekarangan sementara pelayan lalu-lalang menyambut tamu yang datang. Suara musik yang terdengar samar juga menceritakan dengan jelas betapa meriah pesta di bawah sana. Sepertinya ada perjamuan besar di manor. "Aku harus cepat," gumamnya lagi. Caroline menatap nanar ke sekeliling ruangan, mencari apapun yang bisa dipakai untuk melarikan diri lewat jendela. Rupanya nihil. Dalam keputus-asaan, dia menggedor pintu kamar sekeras-kerasnya. Selang beberapa menit, seorang pelayan membuka pintu dari luar. "Ada apa bikin keributan? Tidakkah kau tahu hari ini pesta debut lady Caroline?" Barulah Catherine sadar apa yang terjadi. Sejak bulan lalu, bibinya sudah merencanakan pesta ini dengan matang. Caroline adalah putri countess Inggrid yang paling cantik. Sebab itu harapan besar untuk
"Memangnya kau siapa sampai aku harus mendengarmu?" Cuma pelayan tapi berani mengatur majikan." Alasan klise countess Inggrid membuat Catherine tersenyum sinis. Sesuai dugaan, bibinya tak siap berhadapan dengan hukum kalau sampai identitasnya terbongkar. "Seret wanita rendahan ini ke belakang." Dua pelayan bertubuh besar menghelanya ke gudang belakang. Tubuhnya dilempar seperti seonggok kain kering sebelum pintu kayu raksasa itu berdebam. Catherine terbaring lemah menatap langit-langit gudang penyimpanan yang mulai lapuk termakan usia. Rasa lelah juga frustasi membuatnya jatuh dalam lelap untuk beberapa saat. Dinginnya semburan air adalah hal yang membangunkan Catherine. Tak butuh waktu lama baginya untuk melihat pelaku penyiraman. Caroline Percy berdiri gagah dalam balutan gaun rumahan berwarna merah muda. Sementara dia melempar ember air ke sembarang arah, tangan yang satu lagi mengambil cambuk yang dipegang Betty. "Hei jalang! Masih bisa tidur setelah menggoda tunangan k
"Cepat bangun! Sungguh berperilaku seperti babi. Setiap hari bangunnya lama." Orang yang menggedor-gedor pintu kamar adalah Betty. Catherine menguap lebar dan melirik ke arah jendela. Melihat betapa gelap di luar sana, sepertinya belum jam enam pagi. Udara yang dingin membuat semua orang enggan untuk bangun tetapi dia sudah dipaksa untuk melakukan pekerjaan kasar. "Ada apa Betty?" ujarnya membuka gerendel pintu. "Orang akan mengiramu penagih hutang." Muka tirus Betty merah padam. Satu-satunya yang berhak menegur dengan keras hanyalah countess Inggrid bukan perempuan rendahan. Tangannya naik hendak menampar Catherine tetapi pemilik wajah sudah memiting lebih dulu. "Kau sudah berkaca sebelum menamparku?" bisik Catherine dingin. "Tak merasa bersalah pada ibuku, hmm?" "Lepaskan, Miss. Anda tak boleh bertindak kasar. Countess Inggrid akan murka." "Ha!" seru Catherine dramatis. "Kau masih ingat bahwa aku majikanmu." Betty semakin gusar tapi tak berani membantah. Countess masi
Sorenya, Catherine baru saja meletakkan hidangan terakhir di atas meja ketika Inggrid yang baru pulang dari jamuan minum teh memanggilnya ke aula tengah. Dia membungkuk sedikit sebelum berdiri tegak di hadapan istri pamannya. "Ya, My lady. Ada apa memanggil saya?" Selama tinggal di manor, Inggrid mewajibkannya memanggil dengan gelar kehormatan. Katanya agar penyamaran Catherine berhasil. "Apa kau sudah mengerjakan apa yang kusuruh tadi pagi?" "Ya, My lady. Saya sudah membersihkannya." "Bohong! Tadi pagi aku ke perpustakaan, kau tak ada di sana." "Anda bisa meminta yang lain memeriksanya, My lady." Inggrid mengamati wajahnya dengan seksama. Walau Catherine membungkuk sedikit, namun raut muka dan nada suaranya yang tenang tidak menyiratkan kepalsuan. Lagi pula selama tinggal di manor, keponakan ini selalu jujur dan naif. Meski begitu, Inggrid masih mau memastikan. "Kalau begitu, apa kau mendengar percakapan antara pamanmu dan aku?" Kedua tangan Catherine mengep
Sekujur tubuh Catherine Percy luruh di atas lantai yang dingin. Baru saja sepupunya memaksa sang paman untuk menjualnya pada seorang baron tua demi melunasi hutang judi. Gagasan ini seperti palu kematian yang menghantam jiwa. "Coba ayah pikirkan. Kita akan kaya raya begitu baron Cecil memberi mas kawin." Pamannya mendebat. "Catherine tak akan setuju. Umur baron Cecil terlalu tua. Lebih cocok jadi kakeknya." Catherine nyaris tertawa. Kalau cuma tua tak mengapa. Baron Cecil sudah kawin cerai berulang kali. Usia istrinya rata-rata separuh umurnya. Pernah juga terdengar kabar kalau baron ini terjangkit penyakit kelamin. "Siapa yang peduli tentang pendapatnya. Anggap saja balas jasa karena. Selama ini kita sudah menampungnya." Air mata Caroline jatuh begitu saja. Ayah kandungnya adalah Earl of Pembroke yang ketiga. Ketika umurnya baru tujuh tahun, kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan ketika mau menghadiri pesta musim semi di London. Kereta yang mereka tumpangi terjungka