Share

Kunjungan Tuan Stuart

Author: Auphi
last update Last Updated: 2026-01-10 13:55:30

"Cepat bangun! Sungguh berperilaku seperti babi. Setiap hari bangunnya lama."

Orang yang menggedor-gedor pintu kamar adalah Betty.

Catherine menguap lebar dan melirik ke arah jendela. Melihat betapa gelap di luar sana, sepertinya belum jam enam pagi.

Udara yang dingin membuat semua orang enggan untuk bangun tetapi dia sudah dipaksa untuk melakukan pekerjaan kasar.

"Ada apa Betty?" ujarnya membuka gerendel pintu. "Orang akan mengiramu penagih hutang."

Muka tirus Betty merah padam. Satu-satunya yang berhak menegur dengan keras hanyalah countess Inggrid bukan perempuan rendahan.

Tangannya naik hendak menampar Catherine tetapi pemilik wajah sudah memiting lebih dulu.

"Kau sudah berkaca sebelum menamparku?" bisik Catherine dingin. "Tak merasa bersalah pada ibuku, hmm?"

"Lepaskan, Miss. Anda tak boleh bertindak kasar. Countess Inggrid akan murka."

"Ha!" seru Catherine dramatis. "Kau masih ingat bahwa aku majikanmu."

Betty semakin gusar tapi tak berani membantah. Countess masih tidur dan tak ada yang akan jadi pendukungnya. Nanti begitu beliau bangun, masih ada waktu memberi pelajaran pada gadis yatim.

"Sebaiknya Anda bergegas. Tuan Stuart akan sarapan di sini dan semalam lady Meredith sudah meminta anda menyiapkan pai buah yang enak."

"Aku tahu. Tak perlu mengacau di sini."

Kesal tapi tak bisa melampiaskan, Betty hanya bisa menghentakkan kaki sebelum beranjak.

Sementara itu, Catherine pergi ke dapur dan menyiapkan bara api. Tangannya yang kapalan memasak isian pai yang berupa campuran apel, gula, dan kayu manis. Sedangkan terigu, mentega, dengan sedikit air lemon diuleni untuk jadi bahan kulit.

Ketika semua bagian sudah dicetak dalam loyang, dia memanggangnya di atas api kecil. Dulu pelayan menyiapkan semua ini untuknya. Hanya jika ibunya di dapur, dia datang untuk melihat-lihat.

Lidah-lidah api seolah mengejek penderitaannya yang tak kunjung usai.

Sekitar pukul delapan pagi, tamu yang dinanti keluarga Percy akhirnya datang. Tunangan Meredith yang bernama Rupert Stuart adalah pria yang cukup tampan. Kenyataan ini ditambah status keluarga, membuatnya jadi menantu idaman.

"Makan yang banyak Mr. Stuart. Tidak setiap hari kita bisa makan pai apel yang lezat," tawar Edward tanpa malu. "Putriku sudah bangun awal hanya untuk memanggangnya."

Meredith yang duduk di sisi Rupert tersipu-sipu. "Ayah tak usah menceritakannya. Membuat pai apel bukanlah hal yang sulit."

Catherine yang kebetulan meletakkan wadah gula, nyaris tersedak ludah sendiri. Membuat pai mudah? Sepupunya yang manis bahkan tak bisa mengupas telur dengan benar.

"Pai ini meman lezat," balas Rupert. "Tetapi pemandangannya tak kalah istimewa. Sungguh cantik dan menawan."

Sementara berkata demikian, matanya menatap lekat. Buku kuduk Catherine sampai merinding.

Sudah acap Rupert Stuart memberinya tatapan ambigu tetapi yang sekarang lebih parah. Mata kelabu pucat itu seperti menelanjanginya. Catherine buru-buru mau pergi tetapi bibi Inggrid sudah memberi perintah yang lain.

"Pergi ke taman belakang. Siapkan buah dan camilan. Meredith dan tuan Stuart akan berbincang di sana."

Catherine mengangguk patuh. "Ya, My lady."

Taman yang dimaksud bibinya terletak di sebelah kiri manor. Biasanya dipakai untuk percakapan pribadi.

Selain pohon ek tua, sekelompok bunga daffodil dan bluebell tumbuh subur di sudut taman. Musim semi membuat segalanya lebih indah.

Dengan cekatan, Catherine meletakkan beberapa nampan berisi kue kering dan buah-buahan tropis yang langka. Bibi Inggrid membelinya dengan harga mahal demi menyenangkan hati calon menantu.

"Nona Catherine, suatu kebetulan yang manis melihat Anda di sini."

Teguran ini membuat bulu kuduk Catherine meremang.

Dia berbalik hanya untuk mendapati Rupert Stuart berdiri di belakang. Satu tangannya masuk ke saku sementara yang lain memainkan arloji emas.

Seringainya yang menakutkan membuat Catherine punya keinginan untuk ditelan bumi sekarang juga.

"Anda sungguh baik tuan Stuart. Silakan duduk dan nikmati makanannya. Saya masih ada pekerjaan."

Catherine bersiap pergi tetapi sepasang tangan yang kuat kadung menahannya.

"Buru-buru sekali. Kenapa kita tidak duduk dan lebih mengenal satu sama lain?"

Dia adalah gadis rumahan yang tidak tahu dunia luar. Tetapi manusia dibekali insting dan naluri untuk bertahan hidup. Tatapan mata dan seringai menjijikkan itu, mana mungkin tak tahu artinya?

"Tuan Stuart, tolong jaga sikap. Anda adalah tunangan lady Meredith. Perbuatan anda sungguh tidak pantas."

Alih-alih menurut, Rupert malah mendekatkan wajah hingga embusan nafasnya meniup tengkuk Catherine.

"Jangan sok jual mahal. Kapan lagi pelayan sepertimu punya kesempatan untuk bicara dengan bangsawan. Menurutlah selagi aku masih baik."

Sikap cabul berbalut kesombongan membuat Catherine makin berang. Dia meronta sembari menatap tajam lawan bicaranya.

"Anda begitu terhormat tetapi bisa-bisanya menaruh hati pada pelayan? Kalau sampai Lady Meredith tahu, anda akan dalam masalah besar."

Mulanya ada ketakutan di wajah Rupert. Namun rasa marah karena diancam pelayan, membuat akal sehatnya memudar. Dia tertawa keras seperti seorang maniak.

"Jalang kecil berani mengancamku?" bisiknya berbahaya. "Kita lihat siapa yang lebih mereka percaya. Aku atau kau."

Secepat kilat dia menarik Catherine dalam dekapan dan menciumi wajahnya. Tangannya yang besar juga mulai bergerak di bagian dada dan bokong. Nafasnya memburu oleh gairah yang membara.

"Hentikan! Anda tak boleh begini."

Protesnya segera dibungkam oleh ciuman Rupert yang liar dan ganas.

Catherine meronta sekuat tenaga tetapi dibanding pria dewasa yang makan dengan teratur, apalah daya gadis muda yang kelaparan setiap hari.

Ketika bagian depan gaun sudah robek dan dia hampir kehabisan nafas barulah Rupert melepas ciumannya. Namun semua sudah terlambat. Posisi ambigu mereka sudah terlanjur dilihat orang lain.

"Kurang ajar! Apa yang kau lakukan di sini?"

Tangan Rupert yang melingkari pinggangnya terlepas begitu saja hingga Catherine terhempas kasar di atas rerumputan.

Muka bibinya sudah merah padam sementara Meredith terlalu kaget untuk bicara. Gadis itu berdiri kaku dengan wajah pucat pasi.

"My lady, ini tidak seperti yang Anda pikirkan." Rupert berdiri dengan sikap sopan. "Saya hanya membantunya berdiri tetapi pelayan ini nekad melakukan hal memalukan. Anda harus memecatnya."

Menjijikkan sekali!

Dia belum buka mulut, tetapi pecundang itu sudah bicara panjang lebar. Berlagak seperti pria terhormat ternyata cuma serigala berkedok manusia. Penampilan memang menipu.

Walau sudah tahu tak akan ada yang percaya, Catherine merasa punya kewajiban untuk membela diri. "My lady, saya tak melakukan apapun. Tuan Stuart menyerang saya lebih dulu."

Plak! Plak! Plak!

Atas perintah bibinya, Betty bergerak tangkas. Menamparnya berulang-ulang. Catherine bisa merasakan sudut bibirnya koyak.

"Tutup mulutmu. Dasar jalang rendahan!" Caroline yang berdiri di sisi Meredith ikut menyuarakan kemarahan. "Cuma pelayan tapi berani bersikap kurang ajar. Kau lebih rendah dari binatang."

Kemampuan orang-orang ini memutar-balikkan fakta membuat hati Catherine jadi dingin. Persetan nama baik keluarga!

"Kalau anda tak percaya, silakan bawa saya ke pihak yang berwajib, My lady. Saya yakin mereka akan memberi anda keadilan."

Dia mau lihat seberapa besar nyali para penindas. Kalau mereka sampai berani melapor ke pihak berwajib maka identitasnya sebagai putri Earl of Pembroke ketiga pasti akan terbongkar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Frederick Pulang

    Rona kekalahan di muka Bruce cukup menghibur hati Catherine. Tapi ini tak berlangsung lama. Sebab di lantai dansa, dia harus meladeni kekonyolan Rick. "Jadi... kau mau kuajak dansa karena menghindari bocah Campbell?""Dia sudah dua puluh tahun, My lord." Catherine menegaskan fakta ini dalam nada dingin."Biar pun bukan pengagum Bruce, bukan berarti suka melihat sepupunya direndahkan. Rick tergelak kecil. "Kau sangat serius, Catherine. Aku memanggilnya begitu karena umurnya jauh lebih muda dariku."Pria yang berdiri di depannya sekarang berbeda dengan Rick yang dulu. Setahunya, Rick bukan pria menyebalkan. Walau terkadang bercanda tapi masih dalam batas wajar. Sementara yang berdiri sekarang berlagak paling tahu. "Apakah menjadi tua sesuatu yang menyenangkan bagi anda, tuan Kenwood?" balas Catherine tajam. "Hanya beberapa waktu tak ketemu tetapi anda jadi sangat berbeda.""Apa yang berbeda? Aku masih orang y

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Menyenangkan Berdansa dengan Anda

    Catherine ingin sekali menampar kesombongan Bruce. Tetapi mengingat Annabelle juga manusia menyebalkan, dia merasa itu sepadan. Sekarang tak perlu lagi menebak apa penyebab kebencian yang begitu dalam di mata Annabelle."Kenapa menolaknya? Bukankah dia sangat cantik?" selidiknya kemudian. Perempuan memang begitu. Kalau dipuji, pura-pura tak peduli. Jika wanita lain yang dipuji, mereka penasaran setengah mati. Entah apa maunya. "Menurutmu dia cantik?" Senyuman Bruce sangat menggoda. Persis pria gombal yang suka pamer pesona. "Maaf saja. Tapi aku punya selera yang sangat tinggi.""Oh, ya?" Alis Catherine yang terukir rapi menukik tajam. "Memangnya seperti apa gadis idamanmu?""Gampang saja. Waktu bercermin perhatikan pantulan wajah siapa yang nampak. Itulah gadis idamanku."Muka Catherine memanas. Dia merutuki ketajaman lidah Bruce. Tetapi diatas segalanya, dia lebih benci dirinya yang suka main api. Ketika terbakar, entah mau kabur kemana. "Hmph, dasar kau." Dia menggumam seraya

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Aku Baru Menolaknya

    Wajah Annabelle mengeras sementara suara-suara di aula jadi senyap. Adalah kurang sopan kalau meragukan niat tulus tuan rumah. Tetapi kalau tidak teliti bisa menjatuhkan diri sendiri dalam perangkap. Catherine memilih resiko pertama. "Kalau memang lady Catherine sangat meragukan niat baik kami, pakai saja piano saya."Annabelle memang lawan sepadan. Dengan kalimat selugas ini tak mungkin ada yang curiga akan kualitas piano. Kalau nanti pada saat main timbul masalah, orang-orang hanya bisa mengatainya kurang cakap. "Kalau begitu saya tak akan sungkan," sahut Catherine tenang. "Saya hanya seorang gadis yatim. Pendidikan tidak sebagus My lady. Anda tentu tak akan mempermasalahkan hal ini dengan saya, kan?"Ketika Catherine sudah membawa kekurangannya sendiri ke depan umum, siapa lagi yang bisa mengejek walau sikapnya seperti gadis berpikiran dangkal?Kalau Annabelle masih tak terima, orang-orang hanya akan menganggapnya perempuan berpikiran sempit. Dengan wajah masam, Annabelle ban

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Tantangan Annabelle Wesley

    Suasana di aula dalam memang tidak terlalu hening tetapi bisik-bisik orang di belakang masih terdengar dengan jelas di telinga Catherine. Mau tak Mau, matanya melirik Annabelle Wesley. Rasa persaingan mendadak timbul di dalam hati. Gadis ini sangat cantik, punya talenta, juga dari keluarga baik-baik. Dengan kualitas ini masih belum berhasil mencuri perhatian Frederick. Bagaimana dengan dirinya? Tiba-tiba Annabelle Wesley mendongak. Mata mereka terkunci. Catherine merasakan aura dingin disana. "Kau kenapa?" senggol Wilona. "Kau juga menikmati kecantikan sang dewi?"Catherine tersenyum masam. Apa sejelas itu dia memperhatikan lawan. "Tak apa. Kurasa musiknya sangat bagus.""Dibanding kemampuanmu, itu tak seberapa."Entah karena suara Wilona yang terlalu keras atau nasib lagi apes, duchess Wesley mendengar jelas perkataan ini. Mana ada ibu yang suka kemampuan anaknya disepelekan.Rasa ingin tahu yang tinggi membuat beliau menoleh ke arah Elizabeth Campbell. "Lizzy, keponakanmu jag

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Gosip

    Keluarga Percy terbelalak. Kenapa mereka jadi seteru terhadap dua keluarga hebat di London hanya karena seorang gadis yatim? Melawan Fiona saja sudah sulit apa lagi Elizabeth Campbell. Wanita bergelar duchess ini tak pernah kenal takut. Tetapi kalau mundur sekarang, bukankah sangat memalukan? Inggrid mau menangis rasanya. Maju tak berani, mundur juga tak sanggup. Akhirnya Edward Percy membuka kerumunan orang-orang. Wajah tuanya yang berkerut menunduk malu. "Para nyonya sekalian, saya minta maaf atas perbuatan anak dan istri. Harap jangan diambil hati. Nanti begitu sampai di rumah, saya akan menasihati mereka dengan baik." Usai berkata demikian, dia menyeret Caroline dan Inggrid kedalam sementara Meredith di bawah kendali mertuanya. Situasi kembali aman. Meski di permukaan Catherine menang, pada kenyataannya orang-orang masih membicarakannya di belakang. Catherine tak ambil pusing. Dia membungkuk ke arah Fiona dan Elizabeth Campbell. "Terima kasih buat kedua lady. Kalau bu

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hiburan Menyenangkan

    Tuduhan yang sangat keji tetapi semua orang mendengar dalam diam. Tak ada satu pun yang repot-repot membela Catherine. Pada saat ini, Fiona akhirnya maju. Tanpa sungkan menampar mulut Caroline bolak-balik. "Kalau countess Inggrid tak bisa mendidikmu, biar aku membantunya." Mata Caroline membelalak tak percaya. "Anda... menamparku?" "Kenapa tidak? Aku akan berdosa pada Frederick kalau tidak menampar mulutmu yang kurang ajar." "Kenapa aku kurang ajar? Semua yang kukatakan adalah fakta." "Apakah fakta yang kau maksud seterang mulutmu yang kurang ajar? Sepertinya kau senang sekali kalau kakakku mati di lautan. Dimana empatimu?" Kerumunan orang-orang mulai berbisik satu sama lain. Fakta bahwa Duke Hardy adalah pahlawan yang dikagumi semua orang sudah diketahui sejak dulu. Ketika seorang gadis muda dengan sombongnya tertawa sambil membicarakan kecelakaan sosok penting ini, mana mungkin hati mereka tidak dingin. "Ya, marchioness Seymour benar. Caroline Percy memang terlalu lancang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status