LOGINCatherine belalak. Lidahnya kelu untuk bicara.
Pria kejam ini memang tampan tetapi wajahnya terlalu dingin. Cahaya lilin yang remang di dalam kereta pun tidak mampu menyembunyikannya. "Sa--saya tidak mendengar apapun." Wajah dingin itu bergeming. "Aku yang memutuskan kau dengar sesuatu atau tidak." Sungguh dominan! i Dia yang punya telinga tetapi kenapa pria ini yang memutuskan? Kalau bukan karena situasi, Catherine pasti sudah tertawa. Seumur-umur, baru sekarang dengar hal yang sangat lucu. "Kalau begitu... terserah anda saja," sahutnya di ujung kepasrahan. "Sebaiknya bunuh saya dalam sekali tembakan. Agar tidak terlalu sakit." Usai berkata demikian, Catherine menunggu dalam diam. Letusan senjata tak kunjung terdengar. Dia mendongak ke atas hingga matanya kembali bersirobok dengan wajah dingin itu. Di sana ada keheranan yang tidak berhasil disembunyikan. Keheningan masih menggantung ketika pelayan tadi kembali. Wajah kakunya menatap Catherine sejenak sebelum melapor pada atasannya. "Tuan, perintah anda sudah saya lakukan. Tetapi... ada hal mendesak lain." Dengan tangan masih mengacungkan pistol, pria kejam menyahut tak acuh. "Katakan." "Nyonya besar akan berkunjung ke manor dua hari lagi. Anda diminta tidak bepergian." Pria berwajah kejam membuang nafas kasar. Kedatangan sosok nyonya besar yang dimaksud sepertinya bikin dia sebal. "Kau beruntung aku sedang sibuk." Pria kejam memasukkan pistolnya ke saku. "Urusan kita belum selesai. Kau harus ikut kami." Catherine mau membantah. Tetapi menyadari situasi di sini juga tak kalah bahaya, tak ada pilihan. Dia sudah bersiap bangkit, saat suara pria kejam menghentikannya. "Tetap saja di dalam. Tidak terlalu nyaman duduk dengan orang asing." Rasanya ingin benar memaki. Apa salahnya membiarkan dia duduk di atas peti. Kakinya sudah mati rasa. Tubuh juga sudah pegal semua. Tak tahu entah berapa lama lagi harus meringkuk dalam kegelapan. Ketika kereta mulai berjalan, tubuh dan kepala Catherine mulai terbentur ke sisi-sisi peti. Makin parah saat melewati jalanan berbatu. Kereta baru berhenti ketika dia hampir menyerah untuk hidup. "Miss, silakan keluar. Kita sudah sampai." Asisten pria berwajah kejam membuka tutup peti dan membantunya berdiri. Tubuh Catherine seperti melayang biar pun kakinya sudah menjejak tanah. Dia menatap takjub pada kastil yang berdiri megah di depannya. Kalau ditaksir-taksir, tempat ini tiga kali lebih luas dibanding kediaman keluarga Percy. Dia melangkah ragu di belakang pria berwajah dingin. Sesekali matanya meneliti sekeliling untuk mencari tempat persembunyian apabila pria gila ini tiba-tiba kumat dan mengacungkan pistol. "Duduklah di situ. Jangan coba-coba kabur." Tentu saja tak berani kabur. Tempat ini sangat luas dan terpencil. Pemiliknya juga orang gila. Sedapat mungkin lebih baik tidak cari masalah. Catherine menyimpan semua pikirannya dalam hati dan tersenyum patuh. "Baik, My lord." Pria dingin itu mendengus lalu menaiki tangga raksasa menuju lantai dua. Sebagai perintang waktu, Catherine mengamati sekeliling. Tempat yang besar ini terasa dingin dan sunyi. Potret-potret yang tertempel di dinding sama sekali tidak membantu. Wajah orang-orang di sana sama dinginnya. Tetapi menilik dari bagaimana pakaian dan pose para leluhur ini, Catherine menyimpulkan bahwa pria dingin tadi adalah seorang bangsawan, bahkan salah satu dari gelar tertinggi. Ukuran kastil sudah menjelaskannya dengan baik. Cukup lama Catherine menunggu hingga pria dingin kembali menampakkan diri. Wajahnya lebih segar. Kemeja rumahan sederhana mengurangi aura kejamnya sedikit. "Siapa namamu dan kenapa menyusup dalam keretaku?" todongnya tiba-tiba. Catherine yang tidak siap agak terbata menjawab. "Nama saya Catherine, My lord. Saya menyusup dalam kereta karena... majikan ingin menjual saya." Wajah dingin pria asing mendadak skeptis. "Apa nama keluargamu?" "Seorang pelayan tidak selalu punya nama keluarga, My lord." Berdiri di hadapan pria kejam ini membuat Catherine merasa kerdil. Matanya menyusuri pola indah karpet Persia di atas lantai. Kegiatan sepele yang mengurai sedikit rasa takut. "Kalau begitu, aku harus mengembalikanmu pada keluarga Percy. Seorang bangsawan tidak merebut pelayan orang lain." Entah kenapa ketika mengucapkan kalimat terakhir, ada ejekan samar dalam suara pria tersebut yang tak sempat dipikirkan Catherine sebab paling penting sekarang adalah menyelamatkan hidupnya yang kembali terancam. "Tidak, anda tak boleh melakukan itu, My lord." "Kenapa tidak?" Pria itu menyahut enteng. "Nama seorang budak pasti terdaftar dalam sistem administrasi kerajaan. Kalau sampai ketahuan bahwa aku melarikan budak orang, bukankah nama sendiri yang jadi jelek?" "Tetapi... mereka sangat kejam. Setiap hari menyiksa bahkan... mau menjual saya pada kakek-kakek." Pengalaman pahit di manor keluarga Percy membuka kembali semua rasa sakit yang selama ini disimpan Catherine rapat-rapat. Air matanya mengalir sampai heran sendiri betapa mudah dia membuka diri di hadapan laki-laki asing yang baru saja mengacungkan pistol ke wajahnya. "Dari pada pulang ke sana lebih baik... anda membunuh saya di sini." Catherine menutup permohonan dengan kepasrahan. Dia bersimpuh seperti sedang menyerahkan nyawa. Entah apa yang ada di pikiran pria tersebut, yang jelas tidak ada lagi percakapan tentang mengembalikannya pada keluarga Percy. Tentu saja, orang kejam tetaplah kejam. Dalam kamus mereka hanya ada transaksi kepentingan. "Kau boleh saja tinggal di sini. Tetapi... apa untungnya untukku?" Harapan yang sempat redup, kembali hidup. Catherine menatap sepasang netra gelap itu dengan tekad kuat. "Anda boleh mempekerjakan saya sebagai pelayan. Asalkan bisa hidup dengan tenang, saya tak akan mengeluh." Bibir pria itu tersenyum sinis. "Bukannya kaum kalian paling suka mengeluh?" Catherine harus mengakui kenekatan wanita yang berani mengeluh di telinga pria ini. "Saya berjanji tak akan mengeluh, My lord. Asalkan ada makanan dan tempat berteduh." Sekali lagi keheningan kembali menyelimuti. Di bawah tatapan tajam itu, Catherine merasakan kakinya mendadak lemah seperti puding. Dia bukan perempuan bernyali kecil tetapi aura pria ini memang sangat menakutkan. Entah masa lalu apa yang menempanya jadi sosok yang begitu dingin. "Ingat kata-katamu. Jangan mengeluh di kemudian hari. Kau yang menyodorkan diri jadi pelayanku." Pria itu berseru memanggil seseorang yang diyakini Catherine adalah butler -- kepala pelayan utama -- di kastil. "Arthur, siapkan sebuah kamar untuk gadis ini. Mulai besok dia akan bertanggung jawab untuk mengurus segala keperluanku." Usai menyampaikan titahnya, pria itu beranjak. Menyisakan Arthur dan Catherine dalam suasana canggung. "Kenapa diam saja? Ayo ikut aku sekarang." Nada tak bersahabat dalam suara Arthur mengejutkan Catherine. Mereka baru pertama kali bertemu, tetapi sudah ada aura permusuhan. Dia mengikuti langkah Arthur dalam keheningan hingga mereka sampai di depan sebuah ruangan yang letaknya agak di belakang. "Mulai sekarang, kau tinggal di sini. Besok bangun lebih awal untuk menyiapkan semua keperluan lord Hardy. Kalau tidak... tanggung sendiri akibatnya."Rona kekalahan di muka Bruce cukup menghibur hati Catherine. Tapi ini tak berlangsung lama. Sebab di lantai dansa, dia harus meladeni kekonyolan Rick. "Jadi... kau mau kuajak dansa karena menghindari bocah Campbell?""Dia sudah dua puluh tahun, My lord." Catherine menegaskan fakta ini dalam nada dingin."Biar pun bukan pengagum Bruce, bukan berarti suka melihat sepupunya direndahkan. Rick tergelak kecil. "Kau sangat serius, Catherine. Aku memanggilnya begitu karena umurnya jauh lebih muda dariku."Pria yang berdiri di depannya sekarang berbeda dengan Rick yang dulu. Setahunya, Rick bukan pria menyebalkan. Walau terkadang bercanda tapi masih dalam batas wajar. Sementara yang berdiri sekarang berlagak paling tahu. "Apakah menjadi tua sesuatu yang menyenangkan bagi anda, tuan Kenwood?" balas Catherine tajam. "Hanya beberapa waktu tak ketemu tetapi anda jadi sangat berbeda.""Apa yang berbeda? Aku masih orang y
Catherine ingin sekali menampar kesombongan Bruce. Tetapi mengingat Annabelle juga manusia menyebalkan, dia merasa itu sepadan. Sekarang tak perlu lagi menebak apa penyebab kebencian yang begitu dalam di mata Annabelle."Kenapa menolaknya? Bukankah dia sangat cantik?" selidiknya kemudian. Perempuan memang begitu. Kalau dipuji, pura-pura tak peduli. Jika wanita lain yang dipuji, mereka penasaran setengah mati. Entah apa maunya. "Menurutmu dia cantik?" Senyuman Bruce sangat menggoda. Persis pria gombal yang suka pamer pesona. "Maaf saja. Tapi aku punya selera yang sangat tinggi.""Oh, ya?" Alis Catherine yang terukir rapi menukik tajam. "Memangnya seperti apa gadis idamanmu?""Gampang saja. Waktu bercermin perhatikan pantulan wajah siapa yang nampak. Itulah gadis idamanku."Muka Catherine memanas. Dia merutuki ketajaman lidah Bruce. Tetapi diatas segalanya, dia lebih benci dirinya yang suka main api. Ketika terbakar, entah mau kabur kemana. "Hmph, dasar kau." Dia menggumam seraya
Wajah Annabelle mengeras sementara suara-suara di aula jadi senyap. Adalah kurang sopan kalau meragukan niat tulus tuan rumah. Tetapi kalau tidak teliti bisa menjatuhkan diri sendiri dalam perangkap. Catherine memilih resiko pertama. "Kalau memang lady Catherine sangat meragukan niat baik kami, pakai saja piano saya."Annabelle memang lawan sepadan. Dengan kalimat selugas ini tak mungkin ada yang curiga akan kualitas piano. Kalau nanti pada saat main timbul masalah, orang-orang hanya bisa mengatainya kurang cakap. "Kalau begitu saya tak akan sungkan," sahut Catherine tenang. "Saya hanya seorang gadis yatim. Pendidikan tidak sebagus My lady. Anda tentu tak akan mempermasalahkan hal ini dengan saya, kan?"Ketika Catherine sudah membawa kekurangannya sendiri ke depan umum, siapa lagi yang bisa mengejek walau sikapnya seperti gadis berpikiran dangkal?Kalau Annabelle masih tak terima, orang-orang hanya akan menganggapnya perempuan berpikiran sempit. Dengan wajah masam, Annabelle ban
Suasana di aula dalam memang tidak terlalu hening tetapi bisik-bisik orang di belakang masih terdengar dengan jelas di telinga Catherine. Mau tak Mau, matanya melirik Annabelle Wesley. Rasa persaingan mendadak timbul di dalam hati. Gadis ini sangat cantik, punya talenta, juga dari keluarga baik-baik. Dengan kualitas ini masih belum berhasil mencuri perhatian Frederick. Bagaimana dengan dirinya? Tiba-tiba Annabelle Wesley mendongak. Mata mereka terkunci. Catherine merasakan aura dingin disana. "Kau kenapa?" senggol Wilona. "Kau juga menikmati kecantikan sang dewi?"Catherine tersenyum masam. Apa sejelas itu dia memperhatikan lawan. "Tak apa. Kurasa musiknya sangat bagus.""Dibanding kemampuanmu, itu tak seberapa."Entah karena suara Wilona yang terlalu keras atau nasib lagi apes, duchess Wesley mendengar jelas perkataan ini. Mana ada ibu yang suka kemampuan anaknya disepelekan.Rasa ingin tahu yang tinggi membuat beliau menoleh ke arah Elizabeth Campbell. "Lizzy, keponakanmu jag
Keluarga Percy terbelalak. Kenapa mereka jadi seteru terhadap dua keluarga hebat di London hanya karena seorang gadis yatim? Melawan Fiona saja sudah sulit apa lagi Elizabeth Campbell. Wanita bergelar duchess ini tak pernah kenal takut. Tetapi kalau mundur sekarang, bukankah sangat memalukan? Inggrid mau menangis rasanya. Maju tak berani, mundur juga tak sanggup. Akhirnya Edward Percy membuka kerumunan orang-orang. Wajah tuanya yang berkerut menunduk malu. "Para nyonya sekalian, saya minta maaf atas perbuatan anak dan istri. Harap jangan diambil hati. Nanti begitu sampai di rumah, saya akan menasihati mereka dengan baik." Usai berkata demikian, dia menyeret Caroline dan Inggrid kedalam sementara Meredith di bawah kendali mertuanya. Situasi kembali aman. Meski di permukaan Catherine menang, pada kenyataannya orang-orang masih membicarakannya di belakang. Catherine tak ambil pusing. Dia membungkuk ke arah Fiona dan Elizabeth Campbell. "Terima kasih buat kedua lady. Kalau bu
Tuduhan yang sangat keji tetapi semua orang mendengar dalam diam. Tak ada satu pun yang repot-repot membela Catherine. Pada saat ini, Fiona akhirnya maju. Tanpa sungkan menampar mulut Caroline bolak-balik. "Kalau countess Inggrid tak bisa mendidikmu, biar aku membantunya." Mata Caroline membelalak tak percaya. "Anda... menamparku?" "Kenapa tidak? Aku akan berdosa pada Frederick kalau tidak menampar mulutmu yang kurang ajar." "Kenapa aku kurang ajar? Semua yang kukatakan adalah fakta." "Apakah fakta yang kau maksud seterang mulutmu yang kurang ajar? Sepertinya kau senang sekali kalau kakakku mati di lautan. Dimana empatimu?" Kerumunan orang-orang mulai berbisik satu sama lain. Fakta bahwa Duke Hardy adalah pahlawan yang dikagumi semua orang sudah diketahui sejak dulu. Ketika seorang gadis muda dengan sombongnya tertawa sambil membicarakan kecelakaan sosok penting ini, mana mungkin hati mereka tidak dingin. "Ya, marchioness Seymour benar. Caroline Percy memang terlalu lancang.







