Home / Romansa / Skandal Di Balik Meja Pengacara / Tolong Damien… Jangan…

Share

Tolong Damien… Jangan…

Author: AD07
last update Last Updated: 2025-10-14 08:58:28

“Kenapa…” suara Soraya pecah, bercampur isak tangis tertahan.

“Aku tidak punya salah apapun padamu, Damien. Aku… aku hanya ingin namaku bersih.”

Damien tidak menjawab. Ia hanya memutar tubuh Soraya perlahan hingga kembali menghadapnya. Gaun hitam itu kini melorot dari bahu, tertahan hanya oleh lekuk dadanya yang naik turun dengan panik.

“Tatap aku,” perintahnya lembut. Terlalu lembut.

Soraya menggeleng, memejamkan mata rapat-rapat. Air mata mengalir deras, merusak riasannya. “Ini salah. Aku punya suami. George… dia percaya padamu. Dia percaya padaku.”

“George percaya pada hasil, Sayang. Dia tidak peduli pada prosesnya,” gumam Damien.

Tangannya yang besar dan hangat bergerak turun, dari pinggang ramping Soraya, melewati pinggul, lalu menyusup ke balik belahan gaun yang kini longgar. Telapak tangannya mendarat di kulit paha Soraya yang telanjang.

Soraya tersentak hebat. Lututnya goyah. Sensasi kulit kasar Damien diatas kulitnya yang sehalus sutra begitu kontras, begitu mengejutkan, hingga sebuah erangan kecil lolos dari bibirnya tanpa izin.

“Dengar itu?” bisik Damien, nada kemenangannya kembali. “Itu suara kejujuran. Tubuhmu lebih jujur daripada mulutmu.”

Ia mengelus paha dalam Soraya, gerakan jempolnya lambat dan memabukkan, semakin lama semakin tinggi, mendekati pusat panas yang mulai berdenyut menyakitkan di antara kedua kaki Soraya.

Keringat dingin mulai membasahi pelipis Soraya. Nafasnya pendek-pendek, memburu. Ia merasa pusing, terombang-ambing antara rasa jijik pada dirinya sendiri dan gelombang kenikmatan asing yang mulai menjalar.

Bayangan wajah George, senyum tenangnya, kepercayaan palsunya, berkelebat di benaknya, membuatnya merasa kotor.

“Tolong, Damien… jangan,” rintihnya, namun tangannya justru mencengkeram lengan kemeja Damien, bukan untuk mendorongnya menjauh, melainkan untuk berpegangan agar tidak jatuh.

“Jangan apa?” Damien mencondongkan wajah, mengecup rahang Soraya yang menegang, menyesap asin air matanya. “Jangan berhenti? Karena aku bisa merasakan betapa basahnya kau sekarang, Soraya. Kau mengkhianatinya bukan karena aku memaksamu… tapi karena kau menginginkannya.”

Kata-kata itu menghantam Soraya lebih keras daripada tamparan fisik. Itu adalah tuduhan yang paling ia takutkan, karena jauh di lubuk hatinya, di tempat tergelap yang tak pernah ia akui… ia tahu itu benar.

**

Air di dalam bathtub pualam itu mengepul panas, nyaris melepuhkan kulit. Namun, bagi Soraya, itu belum cukup panas untuk melunturkan jejak tangan Damien dari tubuhnya.

Ia membenamkan diri hingga sebatas hidung, membiarkan air merendam telinganya, menciptakan kesunyian artifisial yang hanya diisi oleh detak jantungnya sendiri yang masih kacau. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berdoa agar kegelapan di balik kelopak matanya bisa mengusir bayangan pria itu.

Sia-sia.

Memori itu tidak meminta izin untuk masuk, ia mendobrak, sama kurang ajarnya seperti pemiliknya. Soraya kembali merasakan dinginnya meja kaca di penthouse itu di bawah punggungnya yang setengah telanjang.

Ia ingat bagaimana Damien tidak melepaskan tatapannya sedetikpun saat jemarinya… ah, jemari yang terampil dan kejam itu menemukan pusat kewanitaannya yang sudah basah kuyup karena pengkhianatan tubuhnya sendiri.

"Jangan berpaling, Soraya," bisikan Damien bergema lagi di kepalanya, serak dan menuntut. "Lihat bagaimana kau berantakan karenaku."

Ia ingat rintihannya sendiri. Bukan rintihan penolakan, meski otaknya menjeritkan kata 'tidak'. Itu adalah suara hewaniah, suara murni dari kebutuhan yang memalukan saat Damien mempermainkan titik paling sensitifnya dengan ritme yang menyiksa, terlalu lambat, lalu terlalu cepat, menguasainya sepenuhnya.

Dan kemudian, bagian terburuknya. Klimaks itu.

Itu bukan pelepasan yang lembut seperti yang kadang ia rasakan bersama George di malam-malam yang sopan dan teratur. Ini adalah ledakan yang kasar, sebuah gelombang kejang yang merenggut kendali atas dirinya, membuatnya melengkungkan punggung dan meneriakkan nama pria yang bukan suaminya.

Di dalam bathtub, Soraya terisak. Air mata panas bercampur dengan air rendaman. Ia mengangkat tangannya dari dalam air, menatap jemarinya yang gemetar. Ia merasa kotor. Bukan karena Damien telah menyentuhnya, tetapi karena ia membiarkannya.

Lebih buruk lagi, karena sedetik sebelum dunianya meledak dalam kenikmatan tadi, ia menginginkan lebih.

"Ya Tuhan, George..." bisiknya parau, rasa bersalah menghimpit dadanya hingga sesak.

Bayangan wajah suaminya, tenang, bermartabat, percaya, kini terasa seperti hukuman mati. Ia telah menjadi persis seperti apa yang dituduhkan media padanya, seorang wanita murahan. Bedanya, kali ini bukan demi uang, melainkan demi sentuhan seorang pria yang tahu persis cara menghancurkannya.

Ia menggosok kulit pahanya dengan spons kasar, lagi dan lagi, hingga kulitnya memerah dan perih, berusaha menghapus sensasi menggelitik yang masih tertinggal di sana. Jejak hantu dari kepuasan yang seharusnya tidak pernah ia rasakan.

**

“Bagaimana semalam? Lancar?”

Soraya nyaris menjatuhkan garpu peraknya ke piring porselen. Denting kecil yang dihasilkannya terdengar memekakkan telinga di ruang makan yang sunyi itu.

Ia mendongak, jantungnya berdegup liar di balik blus sutra berleher tinggi yang sengaja ia pilih pagi ini, sebuah usaha menyedihkan untuk menutupi rasa malunya, seolah kain itu bisa menyembunyikan jejak dosa yang ia rasakan di sekujur tubuhnya.

"Ah... ya," jawabnya tergagap, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Serak dan tipis. "Lancar. Kami... kami membahas banyak strategi."

George tidak langsung merespons. Ia menyesap kopinya dengan ketenangan yang selalu membuat Soraya merasa kecil. Tatapan mata birunya yang tajam mengamati Soraya dari balik cangkir, seolah sedang membaca laporan intelijen yang rumit.

"Bagus," katanya akhirnya, meletakkan cangkir dengan gerakan tenang. "Vargan memang mahal, tapi dia tahu cara bermain di lumpur tanpa terlihat kotor."

George mencondongkan tubuh sedikit ke depan, siku bertumpu di meja. Senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum diplomat yang telah dilatih untuk menenangkan sekaligus mengintimidasi lawan bicara.

"Ingat, Sayang," lanjutnya, suaranya lembut namun setiap kata memiliki bobot besi, "ikuti saja instruksinya. Apa pun itu. Jangan bertanya, jangan ragu. Kemenangan kita tergantung pada seberapa cepat kau bisa menyerap pelajarannya."

Darah Soraya terasa membeku.

Apa pun itu.

Kalimat itu bergaung di kepalanya, bertabrakan dengan memori bisikan Damien semalam. "George percaya pada hasil, Sayang. Dia tidak peduli pada prosesnya."

Tiba-tiba, rasa mual menyergapnya. Roti panggang di piringnya tampak menjijikkan.

Apakah George tahu? Pertanyaan itu melintas mengerikan. Apakah suaminya, dengan segala koneksi dan kecerdasannya, tahu persis metode "latihan" macam apa yang diterapkan Damien?

"Nama kita harus bersih kembali, Sayang," tambah George, nadanya kembali normal, seolah ia baru saja membicarakan cuaca, bukan menyerahkan istrinya ke kandang singa. "Itu satu-satunya prioritas kita sekarang."

Soraya menatap pria yang telah dinikahinya selama lima tahun itu. Wajah tampan yang selalu ia kagumi kini tampak seperti topeng yang retak. Di balik ketenangannya, Soraya melihat dinginnya ambisi yang tak berperasaan.

Damien benar. George tidak melihatnya sebagai istri yang perlu dilindungi. Ia melihat Soraya sebagai aset yang perlu diperbaiki, dengan cara apa pun yang diperlukan.

"Aku mengerti, George," bisik Soraya, menundukkan kepala untuk menyembunyikan mata yang mulai panas. Rasa bersalah yang tadi malam mencekiknya kini perlahan bercampur dengan sesuatu yang baru, benih rasa pahit yang mulai tumbuh di hatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Bukan sekedar Klien

    George tidak main-main dengan ancamannya. Pria itu membangun benteng tak kasat mata di sekeliling istrinya, sebuah sangkar emas yang dirancang dengan dalih "perlindungan dan cinta", namun beraroma kepemilikan yang sakit.Soraya merasa ruang geraknya terbatas, seolah oksigen di sekitarnya dijatah.Pagi itu, Soraya mencoba keluar dengan alasan ingin membeli bunga segar, hobi lamanya. Namun, baru saja kakinya melangkah ke teras, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam langsung menghalanginya. "Maaf, Nyonya," ucap salah satu dari mereka, nadanya sopan namun memblokir jalan sepenuhnya. "Tuan berpesan agar Nyonya tidak keluar tanpa pendampingan beliau. Jika Nyonya menginginkan bunga, kami akan memanggil florist terbaik untuk datang ke sini membawakan katalog.""Aku hanya ingin jalan-jalan, menghirup udara!" protes Soraya, tangannya mengepal."Udara di taman belakang sangat segar,. Dan jauh lebih aman dari polusi," jawab pengawal itu tanpa berkedip.Soraya mendengus kesal,

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Menutup Semua Akses

    Uap panas mengepul dari permukaan air di dalam bathtub marmer yang luas itu, memenuhi kamar mandi dengan kabut tipis yang menyesakkan. Soraya membiarkan keran air terus menyala meski bak sudah hampir penuh, suara gemericik air yang jatuh menjadi satu-satunya white noise yang meredam kebisingan di kepalanya. Dia telah menanggalkan seluruh pakaiannya, menumpuknya sembarangan di lantai, kebiasaan baru yang dia pelajari dari ketidaksabaran Damien.Dia berdiri di depan cermin wastafel yang berembun, tangannya mencengkram pinggiran meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri, namun pikirannya tertuju pada kemeja putih yang teronggok di sofa luar sana.Menyadari fakta kemungkinan George selingkuh, hati Soraya jelas saja sakit.Ada rasa perih yang menjalar di dadanya, bukan seperti tikaman pisau yang tajam, melainkan seperti pukulan benda tumpul yang menyisakan memar dalam. Rasa sakit itu membingungkan baginya. Bukankah dia sendiri baru saja pulang

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Noda Lipstik

    Soraya hendak melangkah menuju kamar mandi, membawa serta tas-tas belanjaan yang menjadi alibi sempurnanya, ketika tiba-tiba tangan kuat George menahannya.Tanpa peringatan, George menarik pinggul Soraya sampai jatuh ke atas pangkuannya."Ahh! George!" pekik Soraya kaget, tubuhnya terhempas ke paha suaminya yang keras. Tas-tas belanjaan itu terlepas dari tangannya, jatuh ke karpet tebal dengan bunyi buk yang teredam.George tidak membiarkannya bangun. Lengan pria itu melingkar erat di perut Soraya, menahan wanita itu dalam posisi menyamping di pangkuannya. Wajah George yang lelah namun penuh kemenangan berada begitu dekat. Aroma kopi basi dan kertas tua menguar dari pakaiannya, sangat berbeda dengan aroma whiskey dan maskulinitas tajam yang baru saja Soraya nikmati bersama Damien.Ia mencumbu Soraya, bibirnya mencari leher istrinya dengan gerakan yang tidak sabar. George ingin menuntaskan hasrat. Mungkin keberhasilan menyelesaikan pidato PBB-nya, ditambah dengan kepulangan Soraya yang

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Aku akan Keluar Lagi

    Cahaya kota New York yang tak pernah tidur berpendar di bawah kaki mereka, sebuah lautan neon dan beton yang membentang sejauh mata memandang dari lantai 40. Namun, pemandangan spektakuler Manhattan itu seketika menjadi latar yang kabur dan menakutkan saat Damien melakukan manuver yang mendominasi.Tanpa peringatan, Damien menarik pinggang Soraya, menyeret tubuh wanita itu menjauh dari meja kerja, melintasi karpet tebal, dan langsung menyandarkannya di dinding kaca raksasa yang transparan."Damien! Ya Tuhan!" pekik Soraya tertahan.Soraya sempat panik. Matanya melebar saat menyadari tidak ada apa-apa di belakang punggungnya selain selembar kaca tebal dan jurang vertikal setinggi ratusan meter. Lampu-lampu mobil di 5th Avenue tampak seperti semut bercahaya yang merayap jauh di bawah sana. Vertigo menyerangnya sesaat, rasa takut akan ketinggian bercampur aduk dengan rasa takut akan keterbukaan, seolah seluruh kota bisa melihat ketelanjangannya."Lihat ke bawah," bisik Damien di teling

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Diam… jangan Sebut Namanya

    Lampu merah di kamera utama studio Global Crossfire masih menyala terang, merekam setiap kedutan mikro di wajah narasumbernya. Pertanyaan Sebastian Wolf menggantung di udara seperti guillotine yang siap jatuh, menuduh, menjebak, dan menuntut pengakuan tentang "bom waktu" yang mungkin disembunyikan sang pengacara.Jutaan pasang mata di seluruh Amerika, dan satu pasang mata indah yang sedang menahan napas di sebuah suite hotel mewah di Manhattan, menunggu jawaban itu.Damien tersenyum tipis.Itu bukan senyum gugup, bukan pula senyum arogansi yang berlebihan. Itu adalah senyum seorang pemain catur yang baru saja memindahkan kudanya ke posisi mematikan, namun lawannya belum menyadarinya.Lalu menjawab pertanyaan pembawa acara dengan lugas, suaranya lebih tenang dari danau tak tersentuh, kontras dengan agresivitas Sebastian."Bom waktu adalah istilah yang terlalu dramatis untuk sebuah strategi hukum," ucap Damien santai, menatap lurus ke kamera seolah menatap jiwa Soraya di seberang sana.

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Termasuk Orang yang Membayar Anda?

    Palu hakim telah diketuk tiga hari yang lalu, menghasilkan gema yang seharusnya melegakan bagi siapa pun yang duduk di kursi pesakitan. Vonis bebas murni. Kata-kata itu dicetak tebal di setiap surat kabar nasional, diteriakkan oleh penyiar berita di televisi, dan dirayakan oleh tim hubungan masyarakat George sebagai kemenangan kebenaran melawan fitnah keji.Serangkaian perjalanan hukum dilewati Soraya dengan kecepatan yang tidak wajar, sebuah blitzkrieg hukum yang dirancang oleh Damien Vargan dan didanai oleh ambisi politik George.Akhirnya Soraya divonis tidak bersalah.Nama baiknya dikembalikan. Aset-aset yang sempat dibekukan kini cair kembali. Undangan-undangan pesta sosialita mulai membanjiri kotak suratnya lagi, seolah-olah masyarakat elit Amerika mengalami amnesia kolektif tentang skandal yang baru saja terjadi beberapa bulan terakhir.George berjalan dengan kepala tegak, merangkul Soraya di setiap kesempatan pers, memamerkan istrinya yang "suci" sebagai trofi kemenangannya ata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status