Home / Romansa / Skandal Panas CEO / Bab 6 Pertentangan.

Share

Bab 6 Pertentangan.

Author: Pieda11
last update Last Updated: 2025-12-04 13:00:00

Gery berlari keluar rumah sakit dan melihat orang aneh itu memasukkan tubuh Tiara kedalam mobil.

"Hey!" teriaknya yang berhasil menghadang pintu mobil.

"Mau dibawa kemana wanita itu, ha!"

Bugh!

Orang aneh itu seketika memukul wajah Gery sampai terjatuh ke tanah beruntung Gery langsung bangkit dan masuk ke dalam mobil.

Bugh!

Gery memukul orang aneh itu bertubi-tubi.

"Siapa kau!"

"Beraninya kau menculik calon istri saya!" teriaknya sembari tangan membuka topi hitam itu.

"Ampun Tuan." ucap orang aneh.

"Kamu!" gumam Gery saat melihat wajah orang tersebut yang tak lain adalah anak buah ayahnya.

"Apa Ayah yang memintamu menghabisi Tiara?"

"JAWAB!" bentak Gery.

"Iya, Tuan. Tuan Ryan yang meminta saya untuk membunuh sekertaris anda." jawabnya.

"Sialan!" umpat Gery kemudian memukul preman itu sampai jatuh pingsan.

Gery membawa Tiara keluar dari mobil dan meminta pertolongan suster.

"Dia pingsan karena di pukul seseorang dari belakang." ucapnya kepada suster yang menangani Tiara.

"Baik, saya akan obati wanita ini. Anda bisa tunggu di luar." pinta suster.

Gery berjalan keluar ruangan.

"Gery!" teriak Sindy yang di ikuti wartawan.

"Apalagi!" gumam Gery frustrasi.

"Untuk apa kamu bawa orang-orang tidak penting ini, ha!" geramnya.

"Mereka semua penting. Mereka yang akan mengumumkan pernikahan kita dan menepis isu perselingkuhan kamu dengan sekertarismu yang gatal." jawab Sindy.

"Wartawan semuanya, aku sengaja meminta kalian untuk kembali ke rumah sakit karena aku ingin mengumumkan kabar gembira. Pernikahanku dengan Gery akan di percepat dan isu perselingkuhan Gery dengan sekertarisnya itu tidak benar." ucap Sindy dengan lantang.

"Kalian semua pergi dari sini!" teriak Gery kepada wartawan.

"Dan kamu, ikut aku!" Gery menarik tangan Sindy menjauhi wartawan.

"Gery, pelan-pelan jalannya." ucap Sindy yang terseret.

Gery melepaskan genggaman tangannya setelah di taman rumah sakit.

"Jadi, kamu yang mengundang wartawan itu?" tanyanya lalu menendang pot bunga di sampingnya.

"Bukan aku. Aku bertemu mereka di depan rumah sakit." jawab Sindy.

"Jangan mengelak lagi." ketus Gery.

"Dan satu lagi, apa maksudmu bicara seperti itu di depan wartawan, ha?"

"Bukankah, kita sudah sepakat untuk menunda pernikahan ini sampai aku benar-benar yakin kepadamu!"

"Tapi aku tidak mau, Gery!"

"Aku sudah mengumumkan acara pernikahan kita yang mewah itu ke teman-temanku. Mau di taruh mana muka ku saat mereka tahu kalau pernikahan kita batal. Aku malu, Gery!" kesal Sindy.

"Apa jangan-jangan kamu sudah tidak mencintaiku?" tuduhnya.

Gery mengusap wajahnya berulang kali, dia sejenak menatap langit yang cerah.

"Jawab, Ger!" teriak Sindy sembari menggoyangkan lengan Gery. "Kamu masih cinta sama aku, kan?"

"Maaf, Sindy. Aku tidak tahu." jawab Gery lirih.

"Apa maksudmu, ha? APA!" bentak Sindy.

"AKU TIDAK TAHU PERASAANKU KEPADAMU UNTUK SEKARANG INI, SIN!" teriak Gery.

"Akhir-akhir ini, sikapmu berubah dan aku mulai meragukanmu."

"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin, Ger!" teriak Sindy frustrasi.

"Apa kamu sudah mencintai wanita murahan itu?"

"Tidak!"

"Aku tidak mencintai Tiara." jawab Gery lantang.

"Lalu, kenapa kamu membatalkan pernikahan kita kalau kamu tidak menyukai wanita itu, ha? KENAPA!" teriak Sindy sembari menyeka air matanya.

"Aku hanya menundanya bukan membatalkan. Aku hanya ingin mengetahui perasaanku yang sesungguhnya. Apakah aku mencintaimu atau hanya menganggapmu sebagai adikku." jawab Gery.

Plak!

"Enak sekali bicaramu, Ger!"

"Kamu pikir, aku mainan yang bisa kamu memainkan kapan saja, ha?" bentak Sindy.

Gery mengusap pipinya yang bekas tamparan Sindy.

"Maafkan aku," ucap Gery kemudian pergi keluar rumah sakit.

"Gery, kamu mau kemana?"

"Kita belum selesai bicara!" teriak Sindy.

Gery masuk kedalam mobilnya, dia mengendarai mobilnya menuju rumahnya.

Setelah sampai di rumah, Gery menemui Ayahnya di ruang kerja.

"Mas Gery, cari siapa?" tanya Bryan saat melihat Gery keluar dari ruang kerja ayahnya.

"Dimana Ayah?" tanya Gery yang menampilkan kerutan di keningnya.

"Tunggu dulu, Mas. Tenangkan hatimu, jangan bertindak dengan emosi." pinta Bryan.

"Memangnya ada masalah apa?" tanyanya lagi.

"Katakan, dimana Ayah." bentak Gery.

"Ayah ada di kamarnya, dia sedang beristirahat. Sebaiknya, Mas Gery jangan ganggu ayah dulu." pinta Bryan.

Gery bergegas menuju kamar ayahnya, dia membuka paksa pintu kamar yang tertutup rapat.

Ryan yang sedang berdiri di dekat jendela pun melihat kedatangan putranya.

"Apa ada yang ingin kamu bicarakan, Gery?" tanyanya dengan santai.

Gery menghampiri ayahnya. "Kenapa Ayah tega kepada Tiara, KENAPA!"

"Apa yang kamu maksud, Gery?" tanya Ryan.

"Jangan berpura-pura, aku sudah tahu semuanya. Ayah yang meminta orang untuk membunuh Tiara, kan?" cecar Gery.

"Bunuh?" gumam Ryan.

"Sudah sepantasnya ayah menyingkirkan sekertaris rendahan itu. Dia sudah berani merusak nama baikmu." ucap Ryan menatap wajah Gery.

"Dia tidak pernah merusak nama baik ku. Dan satu lagi, Ayah jangan pernah ikut campur urusan pribadiku." tegas Gery.

Ryan berjalan menuju sofa. "Kamu itu anak Ayah. Dan Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Sekertarismu bukan wanita baik-baik, dia sudah menghancurkan hubunganmu dengan Sindy. Ayah sudah mendengar skandal mu dengan sekertarismu di hotel."

"Oh, pasti Sindy yang menceritakan semuanya?" tanya Gery.

"Gery, ayah tidak mau mempunyai menantu selain Sindy." tegas Ryan.

"Pernikahan kalian tidak boleh dibatalkan." ucap Gery lagi.

"Aku tidak bisa menikahi Sindy." tegas Gery.

"Aku akan menikahi Tiara dan aku sudah berjanji pada ibunya. Jadi, jangan coba-coba membunuh calon istriku!"

"Apa kamu sudah gila, Gery?" ejek Ryan.

"Kamu mau menikahi wanita yang tidak tahu asal usulnya? Bisa saja, dia sengaja merencanakan kejadian di hotel itu dan ingin menguasai semua hartamu." kesal Ryan.

"Dia sekertarisku dan dia sudah bekerja cukup lama di perusahaanku. Dia wanita baik-baik. Aku dan dia di jebak oleh seseorang." ucap Gery lalu mengingat percakapan Juna dan Tiara tadi.

"Memangnya, apa yang kamu lakukan kepada sekertaris sialan itu, ha? Kamu tinggal beri dia uang yang banyak tanpa perlu menikahinya. Dan kamu bisa melanjutkan pernikahanmu dengan Sindy. Ayah yakin, dia tidak akan menolak uang." ketus Ryan.

"Jangan mengorbankan masa depanmu, Ger! Kamu dan Sindy saling mencintai."

"Aku sudah berjanji mau menikahi Tiara. Dan—"

"Ibu tidak setuju kamu menikah dengan sekertaris itu, Gery!" ucap Natalia yang tiba-tiba masuk ke kamar dengan membawa tas belanjaan.

Gery menatap sinis Natalia.

"Aku tidak perduli, mau kalian setuju atau tidak, itu bukan urusan aku. Dan stop ganggu Tiara lagi atau aku akan beri kalian pelajaran!" gertak Gery.

"Gery!" bentak Ryan.

"Kamu harus memikirkan perasaan Sindy!" ucap Natalia.

"Aku akan bicarakan hal ini kepada Sindy dan keluarganya." jawab Gery yang berjalan keluar kamar.

"Gery, ibu tidak setuju!" teriak Natalia yang diabaikan Gery.

"Mas, kamu kejar Gery, jangan sampai dia bicara sesuatu yang menyakiti hati keluarga Sindy." pinta Natalia menggoyangkan lengan suaminya.

"Mas Gery mau kemana?" tanya Bryan yang menghadangnya di dekat pintu rumah.

"Gantikan aku menikahi Sindy!" pinta Gery.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Panas CEO   Bab 45 Persyaratan

    Suara ketukan membuat Tiara seketika bangkit. "Apa di rumah ini masih ada tamu?" tanya Gery terkejut."Em," Tiara tersenyum tipis. "Pak Gery?" panggil Renata dari luar kamar.Gery menautkan kedua alisnya. "Bukankah itu suara Renata. Apa dia masih ada di rumah ini?" tanya Gery yang mendapat anggukan dari Tiara."Em … maaf, Pak. Sebenarnya, malam ini Renata mau menginap di sini. Dan karena saya tidak bisa menolak permintaannya, jadi saya izinkan dia menginap sehari di sini." jawab Tiara lirih."Apa telingamu bermasalah, ha? Bukankah saya memintamu untuk mengusirnya, tapi kenapa kamu malah membiarkan dia menginap di sini. Sangat mengganggu!" gerutu Gery.Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pak, boleh saya minta bantuan anda?" pinta Tiara memohon.Gery menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kamu berani menyuruhku?" tanyanya."Eh, bukan seperti itu maksudku, Pak. Tapi saya memang butuh bantuan anda. Saya tadi izin ke Renata mau ke dapur mengambil minuman tapi karena anda, saya t

  • Skandal Panas CEO   Bab 44 Ketukan Pintu

    Tiara tersedak minumannya. Uhuk … Uhuk …."Apa-apaan sih. Mana mungkin aku tidak mengizinkanmu tinggal di rumahku. Ya sudah, aku izinkan kamu menginap satu hari di rumahku tapi—""Jangan pakai tapi-tapian!" ketus Renata, "Sekarang aku tidur dimana?""Hehehe …." Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamar tamu saja, bagaimana? Gudang sudah aku bersihkan menjadi kamar tamu. Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa pakai kamar itu.""Lalu kamu tidur dimana? Jangan bilang, malam ini kamu mau tidur dengan Pak Gery?" tuduh Renata.'Em … dia sudah tahu kalau kita pasangan suami istri. Ya, pastinya dia memintaku untuk tidur bersamanya. Itu pikiranku saja.' gumam Tiara dalam hati.'Jangan sampai Tiara dan Pak Gery tidur di satu ranjang. Aku tidak terima!' batin Renata."Em, begini saja. Bagaimana kalau kamu tidur bersamaku saja. Biarkan Pak Gery tidur sendirian. Ingat, Tiara, Pak Gery sedang amnesia dan dia tidak tahu siapa kamu!" ucap Renata dengan senyum manisnya."Tapi—""Jangan pakai

  • Skandal Panas CEO   Bab 43 Mengusir Renata

    Tiara berhenti di depan pintu, jarinya yang lentik mulai memutar gagang pintu. 'Aku tidak bisa mengusir Renata tapi aku juga tidak bisa melawan perintah Pak Gery. Jadi, aku harus apa? Kenapa aku bisa sampai di situasi yang rumit ini, Tuhan!' jerit Tiara dalam hati."Tunggu!" pekik Gery membuat Tiara menarik tangannya dari gagang pintu."Ada apalagi, Pak?" tanya Tiara tanpa menoleh kebelakang."Karena kamu sudah mau patuh padaku maka aku akan merubah keputusanku untuk tidak mengusir Renata dari rumah tapi secepatnya dia harus pergi!" titah Gery yang membuat hati Tiara terasa lega.'Nah begitu dong, jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkan alasan untuk mengusir Renata dan aku juga punya kesempatan untuk memantaunya.' batin Tiara bergegas pergi.Renata yang melihat gagang pintu kamar bergerak pun langsung berlari ke tempat duduknya. 'Aduh, sialan. Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka selain Pak Gery meminta Tiara mengusirku. Tapi Pak Gery benar-benar menyebalkan. Tega-teganya di

  • Skandal Panas CEO   Bab 42 Sikap Aneh

    "Ma-maaf, saya tidak sengaja. Saya antar anda ke kamar tamu." ucap Tiara yang kemudian berlari.Gery menggelengkan kepalanya, 'Dasar wanita aneh, tapi lucu juga ekspresi wajahnya.' gumamnya.Tiara menghentikan langkahnya di depan kamar. "Apa-apaan ini. Masa aku harus satu kamar dengan Pak Gery. Ya, walaupun aku dan dia sepasang suami istri tapi dia sekarang sedang amnesia. Ya sudahlah, lebih baik aku tidur di ruang tamu saja untuk antisipasi.""Siapa yang memintamu tidur di ruang tamu, hem?" ucap Gery yang baru saja datang. "Pa-pak Gery, anda mendengar—""Ya, saya dengar semuanya dan ternyata apa yang dikatakan Pak Rt itu benar, kita ini sepasang suami istri dan anak yang ada di dalam kandunganmu itu anak saya?" cecar Gery."Pak, anda—""Tidak perlu mengelak lagi. Semuanya sudah jelas. Tapi kenapa kamu sembunyikan rahasia ini dari saya? Apa karena saya amnesia dan kamu takut terjadi sesuatu dengan saya?" tanya Gery membuat Tiara semakin terpojok."Tidak, Pak. Anda salah paham. Saya—"

  • Skandal Panas CEO   Bab 42 Pertengkaran

    "Sabar dulu, Tiara." keluh Gery yang tengah melepas sepatunya. "Pak, anda bisa melepas sepatu itu di dalam rumah." pinta Tiara menyembunyikan kepanikannya."Ah, biar saya saja yang urus. Anda masuk kedalam rumah." ucap Tiara tak sabar.Tiara mendorong tubuh Gery sampai masuk kedalam rumahnya. Tok … Tok ….Gery mengerutkan keningnya. "Siapa yang ketuk pintu?" tanyanya.'Haduh, pasti Pak Rt datang. Pak Gery tidak boleh bertemu dengan Pak Rt. Bisa-bisa Pak Rt bicara yang sebenarnya dan kondisi Pak Gery langsung drop.' gumam Tiara dalam hati."Biar saya saja yang—""Pak Gery tunggu di dalam rumah.Biar saya saja yang melihat kedepan rumah." titah Tiara yang berlari dan membuka sedikit pintu rumah."Tiara." panggil Pak Rt.Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ad-ada apa ya, Pak? Tumben sekali Pak Rt datang ke rumah." tanyanya sembari melirik kearah ruang tamu."Dimana suami mu? Tadi saya lihat suamimu ada di sini?" tanya Pak Rt."Su-suami? Oh, Pak Rt salah lihat. Suamiku belum pul

  • Skandal Panas CEO   Bab 40 Pergi Ke Rumah

    Tiara menatap wajah Renata. "Ta-tadi aku dengar—""Kamu jangan salah paham dulu. Pak Gery tidak pernah mencintaiku. Dia sengaja bicara seperti itu supaya pernikahannya dengan Nona Sindy batal. Kamu harus percaya padaku. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung anak Pak Gery. Tidak mungkin, aku merebut Pak Gery darimu." ucap Renata.Tiara mengangguk, 'Tapi kenapa rasanya sangat sakit sekali?' batinnya.'Seketika raut wajahmu berubah saat mendengar ucapan Pak Gery. Ini baru permulaan, Tiara. Aku janji, akan merebut Pak Gery darimu.' gumam Renata dalam hati."Aku tidak percaya kalau kamu mencintai wanita bernama Renata itu. Aku yakin, Ger!" teriak Sindy."Ya sudah, kalau kamu tidak percaya. Aku juga tidak butuh kamu percaya denganku." ketus Gery kemudian membuka pintu mobilnya dan melihat bangku depan kosong. 'Renata pergi kemana? Apa jangan-jangan dia kabur atau Ayah menyuruh seseorang untuk menangkapnya?' batin Gery panik lalu menutup pintu mobilnya dan berjalan beberapa langkah menuju

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status