Beranda / Romansa / Skandal Panas CEO / Bab 7 Rumah Sakit

Share

Bab 7 Rumah Sakit

Penulis: Pieda11
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-04 23:22:57

"A-aku menggantikan Mas Gery?" ucap Bryan tak percaya.

"Gery!" teriak Ryan.

"Kamu tidak bisa meminta adikmu menggantikanmu menikahi Sindy. Pernikahan ini bukan main-main. Jangan bersikap kekanak-kanakkan." ucap Ryan lagi.

"Apa bedanya aku dengan Bryan? Kita sama-sama anak keluarga Alveric. Dan Bryan mau menggantikanku." jawab Gery lalu melihat jam di pergelangan tangannya.

"Aku tidak bisa menggantikanmu, Mas. Orang yang dicintai Mba Sindy itu Mas Gery bukan aku. Dan … rasanya aneh sekali kalau aku menggantikanmu. Pasti Mba Sindy juga tidak akan setuju. Orang yang dicintai Mba Sindy bukan aku." tolak Bryan halus.

"Dan keluarga kita juga memiliki hubungan baik dengan keluarga Sindy. Bahkan almarhum ibumu bersahabat dengan ibunya Sindy. Kamu tidak bisa mengecewakan ibunya Sindy dengan meminta Bryan menggantikanmu." tegas Ryan.

Gery terdiam lalu pergi menuju mobilnya.

Rya mendengus kesal saat melihat kepergian Gery.

"Bryan, kalau Gery memaksamu menikahi Sindy, kamu jangan mau." tegas Ryan.

"Baik, Yah. Tapi kenapa Mas Gery sangat keras kepala ingin membatalkan pernikahannya padahal dulu dia sangat bersemangat menikahi Mba Sindy. Aku rasa, penyebabnya bukan hanya di skandal hotel itu tapi ada yang lain. Bisa saja, Mba Sindy melukai hati Mas Gery? Ayah tidak boleh menyalahkan Mas Gery terus-terusan." tebak Bryan yang menatap lekat Ryan.

"Kamu tidak perlu ikut campur urusan Gery. Lebih baik, kamu fokus menyelasaikan pekerjaanmu. Kamu sudah tertinggal jauh oleh Gery. Dia mampu menakhlukan banyak tender besar. Dan kamu mana, hem?" ucap Ryan lalu kembali ke kamarnya.

Di sisi lain.

"Apakah anda teman dekat dari pasien bernama Tiara?" tanya suster kepada Sindy.

"Aku? Teman dekat? Apa anda tidak salah bicara?" ucapnya sembari menunjuk dirinya sendiri. 'Tapi tunggu dulu. Kelihatannya, aku bisa memanfaatkan kesempatan ini.' batinnya.

"Em, iya, Sus. Tiara teman dekatku. Bagaimana keadaannya?" tanya Tiara memasang raut wajah sedihnya.

"Kondisi pasien sudah jauh lebih baik. Pasien hanya mengalami luka ringan dan tidak ada luka dalam. Pasien juga sudah sadar dan di perbolehkan pulang." jawab suster.

"Oh, syukurlah. Apa aku boleh masuk menjenguk Tiara? Aku sangat cemas dengan keadaannya." tanya Sindy lagi.

"Silahkan, tapi dilarang membuat keributan." jawab suster membuat Sindy bergegas masuk kedalam.

Di dalam ruangan Tiara.

Tiara yang sudah sadar melihat kedatangan Sindy.

"Ka-kamu." gumam Tiara terbata.

"Kenapa? Kok terkejut saat melihatku masuk?" ucap Sindy dengan senyum mengejeknya.

"Mau apa kamu?" tanya Tiara.

"Dan dimana Pak Gery?" ucapnya lagi.

"Hahaha …." Sindy berkacak pinggang.

"Kamu berharap Gery ada disini menemanimu?" ucapnya lagi. "JANGAN MIMPI!"

"Saya …." Tiara mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. "Bukan seperti itu, tapi saya—"

"Ingat, ya! Gery sudah punya pacar dan sebentar lagi Gery mau menikah. Jadi, stop genit ke calon suami orang. Atau kamu memang sengaja ingin merebut Gery dari aku karena kamu tahu kalau harta Gery sangat banyak?"

"Saya tidak pernah berpikir untuk merebut Pak Gery dari siapapun dan saya bukan wanita gila harta." jawab Tiara.

"Ya sudah, buktikan ucapanmu. Jauhi Gery dan minta Gery untuk tidak menunda pernikahannya denganku!" teriak Sindy. "Bisa tidak, ha!" teriaknya lagi.

Drt … Drt ….

Ponsel Tiara bergetar. Dia melihat notifikasi pesan masuk dari Juna.

'Pasti itu pesan dari pacarnya.' batin Sindy yang merebut paksa ponsel Tiara.

Tiara terkejut saat ponselnya di ambil paksa. Dia berusaha merebut ponselnya kembali.

"Kembalikan ponselku." pinta Tiara.

"Pasti ini pesan masuk dari pacarmu, kan? Aku hanya ingin pacarmu tahu kondisimu yang sekarang. Jadi, kamu tidak perlu mengharapkan kedatangan Gery. Biar pacarmu yang jelek dan miskin itu yang mengurusmu disini." ucap Sindy yang mundur tiga langkah. Dia membuka pesan dari Juna.

Tiara memijakkan kedua kakinya ke lantai, dengan langkah gontai, dia berusaha menghampiri Sindy.

"Tolong kembalikan ponselku." pinta Tiara.

Sindy terkejut saat membaca pesan dari Juna.

"Hah!" teriak Sindy.

Tiara merebut paksa ponselnya dan berhasil. Dia melihat isi pesan Juna.

"Jadi, setelah bermalam dengan Gery, kamu juga memberikan tubuhmu untuk pacarmu juga? Astaga, benar-benar wanita murahan. Oh bukan, kamu bukan hanya murahan tapi haus belaian." sindir Sindy dengan tatapan jijiknya.

"Kamu tidak tahu kejadiannya seperti apa. Jadi, stop bicara yang tidak benar!" geram Tiara.

"Haha … tapi semua itu fakta. Kamu adalah wanita yang haus belaian. Ada ya, di dunia ini wanita sepertimu. Tapi tunggu dulu, kalau Gery sampai tahu masalah ini, apa mungkin dia mau seperhatian ini denganmu?" ucap Sindy dengan senyum sinisnya.

"Kamu salah paham. Saya—"

"Ada apa ini?" tanya Gery yang baru saja datang dan melihat Sindy. "Bukankah aku sudah memintamu pergi tapi kenapa kamu masih disini, Sin?"

"Gery, akhirnya kamu datang juga. Aku punya berita panas dan terbaru. Pasti kamu terkejut sama seperti aku." ucap Sindy merangkul mesra lengan Gery.

Gery menatap wajah Tiara yang panik. "Kamu sudah sadar?"

"Untuk apa kamu bertanya seperti itu, sayang? Dia sudah berdiri di depan kita, bahkan matanya sudah terbuka lebar. Itu artinya, dia sudah sadar." ucap Sindy menyenderkan kepalanya di lengan Gery.

"Maafkan saya, Tiara." pinta Gery.

"Maaf untuk apa, Pak? Anda tidak bersalah." jawab Tiara.

"Justru saya yang seharusnya berterimakasih karena anda sudah menyelamatkan saya dari orang tak dikenal itu." ucap Tiara.

'Maafkan saya, karena saya tidak bisa berkata jujur kalau orang tadi itu preman suruhan ayah saya.' batin Gery.

Tiara menatap sekilas Sindy yang bergelayut manja kepada Gery. "Saya permisi, Pak. Saya mau memastikan kondisi ibu saya."

"Saya temani." jawab Gery.

"Sayang, untuk apa kamu menemani wanita murahan dan haus belaian itu, ha? Buang-buang waktumu saja." ucap Sindy sembari menghentakkan kedua kakinya bergantian.

"Jaga ucapanmu, Sindy." pinta Gery.

"Loh, kenapa aku harus jaga ucapanku, sayang? Semua yang aku ucapkan itu memang benar apa adanya. Dia wanita yang haus belaian. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan sendiri ke orangnya. Setelah bermalam denganmu, dia langsung melayani pacarnya. Aku lihat sendiri pacarnya mengirim pesan ke ponselnya. Bahkan, mereka punya foto saat di atas ranjang. Hebatkan?" sindir Sindy.

'Ya Tuhan, kenapa semua masalah ini semakin rumit. Pak Gery sudah tahu masalahku dengan Juna dan pastinya, dia tidak akan percaya kalau suatu saat nanti aku hamil anaknya, tapi jangan sampai aku hamil anak Pak Gery. Aku harus mencegahnya.' batin Tiara.

"Tuh kan, Tiara diam saja, dan itu artinya semua ucapanku benar. Kamu harus hati-hati sama wanita yang modelannya seperti Tiara. Bisa jadi, dia sudah tidur dengan banyak pria dan dia sengaja menjebakmu di hotel karena dia tahu, kamu orang yang sangat kaya raya." ujar Sindy membuat Gery menatap Tiara lekat.

'Kali ini, Gery pasti akan ilfil dengan Tiara.' batin Sindy dengan senyum kemenangannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Skandal Panas CEO   Bab 45 Persyaratan

    Suara ketukan membuat Tiara seketika bangkit. "Apa di rumah ini masih ada tamu?" tanya Gery terkejut."Em," Tiara tersenyum tipis. "Pak Gery?" panggil Renata dari luar kamar.Gery menautkan kedua alisnya. "Bukankah itu suara Renata. Apa dia masih ada di rumah ini?" tanya Gery yang mendapat anggukan dari Tiara."Em … maaf, Pak. Sebenarnya, malam ini Renata mau menginap di sini. Dan karena saya tidak bisa menolak permintaannya, jadi saya izinkan dia menginap sehari di sini." jawab Tiara lirih."Apa telingamu bermasalah, ha? Bukankah saya memintamu untuk mengusirnya, tapi kenapa kamu malah membiarkan dia menginap di sini. Sangat mengganggu!" gerutu Gery.Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pak, boleh saya minta bantuan anda?" pinta Tiara memohon.Gery menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kamu berani menyuruhku?" tanyanya."Eh, bukan seperti itu maksudku, Pak. Tapi saya memang butuh bantuan anda. Saya tadi izin ke Renata mau ke dapur mengambil minuman tapi karena anda, saya t

  • Skandal Panas CEO   Bab 44 Ketukan Pintu

    Tiara tersedak minumannya. Uhuk … Uhuk …."Apa-apaan sih. Mana mungkin aku tidak mengizinkanmu tinggal di rumahku. Ya sudah, aku izinkan kamu menginap satu hari di rumahku tapi—""Jangan pakai tapi-tapian!" ketus Renata, "Sekarang aku tidur dimana?""Hehehe …." Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamar tamu saja, bagaimana? Gudang sudah aku bersihkan menjadi kamar tamu. Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa pakai kamar itu.""Lalu kamu tidur dimana? Jangan bilang, malam ini kamu mau tidur dengan Pak Gery?" tuduh Renata.'Em … dia sudah tahu kalau kita pasangan suami istri. Ya, pastinya dia memintaku untuk tidur bersamanya. Itu pikiranku saja.' gumam Tiara dalam hati.'Jangan sampai Tiara dan Pak Gery tidur di satu ranjang. Aku tidak terima!' batin Renata."Em, begini saja. Bagaimana kalau kamu tidur bersamaku saja. Biarkan Pak Gery tidur sendirian. Ingat, Tiara, Pak Gery sedang amnesia dan dia tidak tahu siapa kamu!" ucap Renata dengan senyum manisnya."Tapi—""Jangan pakai

  • Skandal Panas CEO   Bab 43 Mengusir Renata

    Tiara berhenti di depan pintu, jarinya yang lentik mulai memutar gagang pintu. 'Aku tidak bisa mengusir Renata tapi aku juga tidak bisa melawan perintah Pak Gery. Jadi, aku harus apa? Kenapa aku bisa sampai di situasi yang rumit ini, Tuhan!' jerit Tiara dalam hati."Tunggu!" pekik Gery membuat Tiara menarik tangannya dari gagang pintu."Ada apalagi, Pak?" tanya Tiara tanpa menoleh kebelakang."Karena kamu sudah mau patuh padaku maka aku akan merubah keputusanku untuk tidak mengusir Renata dari rumah tapi secepatnya dia harus pergi!" titah Gery yang membuat hati Tiara terasa lega.'Nah begitu dong, jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkan alasan untuk mengusir Renata dan aku juga punya kesempatan untuk memantaunya.' batin Tiara bergegas pergi.Renata yang melihat gagang pintu kamar bergerak pun langsung berlari ke tempat duduknya. 'Aduh, sialan. Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka selain Pak Gery meminta Tiara mengusirku. Tapi Pak Gery benar-benar menyebalkan. Tega-teganya di

  • Skandal Panas CEO   Bab 42 Sikap Aneh

    "Ma-maaf, saya tidak sengaja. Saya antar anda ke kamar tamu." ucap Tiara yang kemudian berlari.Gery menggelengkan kepalanya, 'Dasar wanita aneh, tapi lucu juga ekspresi wajahnya.' gumamnya.Tiara menghentikan langkahnya di depan kamar. "Apa-apaan ini. Masa aku harus satu kamar dengan Pak Gery. Ya, walaupun aku dan dia sepasang suami istri tapi dia sekarang sedang amnesia. Ya sudahlah, lebih baik aku tidur di ruang tamu saja untuk antisipasi.""Siapa yang memintamu tidur di ruang tamu, hem?" ucap Gery yang baru saja datang. "Pa-pak Gery, anda mendengar—""Ya, saya dengar semuanya dan ternyata apa yang dikatakan Pak Rt itu benar, kita ini sepasang suami istri dan anak yang ada di dalam kandunganmu itu anak saya?" cecar Gery."Pak, anda—""Tidak perlu mengelak lagi. Semuanya sudah jelas. Tapi kenapa kamu sembunyikan rahasia ini dari saya? Apa karena saya amnesia dan kamu takut terjadi sesuatu dengan saya?" tanya Gery membuat Tiara semakin terpojok."Tidak, Pak. Anda salah paham. Saya—"

  • Skandal Panas CEO   Bab 42 Pertengkaran

    "Sabar dulu, Tiara." keluh Gery yang tengah melepas sepatunya. "Pak, anda bisa melepas sepatu itu di dalam rumah." pinta Tiara menyembunyikan kepanikannya."Ah, biar saya saja yang urus. Anda masuk kedalam rumah." ucap Tiara tak sabar.Tiara mendorong tubuh Gery sampai masuk kedalam rumahnya. Tok … Tok ….Gery mengerutkan keningnya. "Siapa yang ketuk pintu?" tanyanya.'Haduh, pasti Pak Rt datang. Pak Gery tidak boleh bertemu dengan Pak Rt. Bisa-bisa Pak Rt bicara yang sebenarnya dan kondisi Pak Gery langsung drop.' gumam Tiara dalam hati."Biar saya saja yang—""Pak Gery tunggu di dalam rumah.Biar saya saja yang melihat kedepan rumah." titah Tiara yang berlari dan membuka sedikit pintu rumah."Tiara." panggil Pak Rt.Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ad-ada apa ya, Pak? Tumben sekali Pak Rt datang ke rumah." tanyanya sembari melirik kearah ruang tamu."Dimana suami mu? Tadi saya lihat suamimu ada di sini?" tanya Pak Rt."Su-suami? Oh, Pak Rt salah lihat. Suamiku belum pul

  • Skandal Panas CEO   Bab 40 Pergi Ke Rumah

    Tiara menatap wajah Renata. "Ta-tadi aku dengar—""Kamu jangan salah paham dulu. Pak Gery tidak pernah mencintaiku. Dia sengaja bicara seperti itu supaya pernikahannya dengan Nona Sindy batal. Kamu harus percaya padaku. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung anak Pak Gery. Tidak mungkin, aku merebut Pak Gery darimu." ucap Renata.Tiara mengangguk, 'Tapi kenapa rasanya sangat sakit sekali?' batinnya.'Seketika raut wajahmu berubah saat mendengar ucapan Pak Gery. Ini baru permulaan, Tiara. Aku janji, akan merebut Pak Gery darimu.' gumam Renata dalam hati."Aku tidak percaya kalau kamu mencintai wanita bernama Renata itu. Aku yakin, Ger!" teriak Sindy."Ya sudah, kalau kamu tidak percaya. Aku juga tidak butuh kamu percaya denganku." ketus Gery kemudian membuka pintu mobilnya dan melihat bangku depan kosong. 'Renata pergi kemana? Apa jangan-jangan dia kabur atau Ayah menyuruh seseorang untuk menangkapnya?' batin Gery panik lalu menutup pintu mobilnya dan berjalan beberapa langkah menuju

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status