Mag-log in20 menit kemudian.
Beberapa wartawan datang ke rumah sakit dengan membawa kamera dan ponselnya. Mereka menghampiri Gery dan Tiara yang sedang berdiri di depan kaca ruang ICU. "Maaf mengganggu waktunya, Tuan Gery." ucap salah satu wartawan yang menyodorkan mic nya. Gery dan Tiara terkejut, "Apa-apaan ini?" "Maaf, kami hanya ingin mengklarifikasi gosip Tuan Gery Alveric yang berselingkuh dengan seorang wanita muda. Apa benar, wanita di samping anda adalah wanita—" "Stop!" "Saya tegaskan ke kalian semua. Saya bukan pelakor." teriak Tiara. "Pergi!" usir Gery. "Kalian pergi dari sini atau saya panggil satpam untuk mengusir kalian semua!" ancamnya lagi. "Tolong anda klarifikasi berita perselingkuhan anda lebih dulu, Tuan." jawab seorang wartawan yang keras kepala. Gery menarik tangan Tiara dan berlari. "Tuan Gery!" teriak wartawan berlari mengejar. "Pak, anda mau membawa saya kemana?" tanya Tiara dengan langkah terseret. Gery masuk kedalam ruangan Jenazah bersama Tiara. "Kita bersembunyi di sini." pintanya. Tiara melihat sekitar ruangan. "Pak, tapi ini kamar Jenazah." "Iya, saya tahu. Tapi tempat ini paling aman. Kamu mau, para wartawan itu datang dan menyerangmu lagi? Kamu mau, kondisi ibumu semakin parah, ha?" jawab Gery mulai kesal. "Lagian, kenapa wartawan bisa ada di rumah sakit. Pasti anda sengaja membawanya kesini." tuduh Tiara. "Dan kenapa saya harus kabur, saya tidak bersalah." Gery memicingkan mata. "Lalu, kau pikir, semua ini salahku?" "Hey, ingat! Kamu yang lebih dulu menggodaku di hotel." jawabnya membuat Tiara kesal. "Tapi saya tidak pernah menggoda anda. Ini murni kecelakaan. Dan saya tidak meminta anda bertanggung jawab. Jadi, suruh wartawan itu pergi. Saya tahu, ini rencana anda, kan?" tuduh Tiara. "Kau pikir, saya pria bodoh yang selalu bertindak gegabah. Mana mungkin saya mengundang wartawan ke rumah sakit. Pasti ada seseorang yang mengundang mereka." ujar Gery. 'Apa Juna yang mengundang para wartawan itu?' batin Tiara. Di sisi lain. Sindy melihat berita siaran langsung di televisi rumahnya. Berita perselingkuhan Gery sudah menyebar di media sosial. "Sialan!" umpatnya melempar bantal sofa kearah televisinya. "Jadi, Gery ada di rumah sakit bersama wanita itu." teriaknya lagi. "Aku tidak pernah berpikir kalau Gery menyukai sekertaris itu. Dan semua rencanaku gagal!" "Ada apa sayang. Teriakanmu sampai ke telinga Ibu." ucap ibu kandung Sindy. "Aku salah bertindak, Bu." gumam Sindy. "Aku pikir, dengan cara menjebak Gery bermalam dengan sekertarisnya, Gery mau mempercepat pernikahannya denganku tapi ternyata semua itu salah besar! Gery justru membatalkan pernikahan kita dan dia memilih wanita rendahan itu." kesal Sindy. "Menjebak?" ucap Ibu Sindy terkejut. Sindy mengangguk. "Iya. Jadi, sewaktu ada pesta tahunan, Gery mengajak sekertarisnya itu bukan aku. Aku sakit hati dan aku bernisiatif untuk menjebaknya. Sewaktu Gery mabuk, aku diam-diam meminta orang untuk membawanya ke hotel. Aku buat seolah-olah ada scandal diantara mereka. Dan untuk menutupi masalah ini dari publik, Gery pasti mau mempercepat pernikahannya denganku. Tapi ternyata rencanaku gagal, Bu. Dia lebih memilih sekertarisnya yang jelek itu." "Lalu, kamu mau diam saja?" tanya ibunda Sindy. "Tidak mungkin. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak boleh kalah dengan wanita murahan itu. Mau di taruh mana harga diriku kalau semua orang tahu Gery lebih memilih sekertarisnya daripada aku. Aku bisa malu, Bu!" jawab Sindy dengan emosi yang menggebu. "Bagus. Ibu suka semangatmu. Kalian saling mencintai dan kalian pantas menjadi pasangan suami istri. Tapi kamu yakin, Gery dan sekertarisnya tidak melakukan apapun saat malam itu?" tanya Ibunda Sindy. "Tidak mungkin, Bu. Aku tidak melakukan apapun kepada wanita itu. Dan ada yang menjaga mereka." jawab Sindy yang mengingat kejadian malam di hotel. Flashback On. "Kamu berpura-pura sebagai pelayan hotel yang membantu Tuan Gery dan sekertarisnya sampai masuk kamar hotel. Dan satu lagi, kamu harus tetap berada di kamar itu. Pastikan mereka tidak melakukan apapun." ucap Sindy yang bersembunyi di balik dinding gedung hotel. "Baik, Nona. Tapi jangan lupa bayarannya." pinta seorang preman yang telah menyamar. "Bayaran dan bonus akan kalian dapatkan setelah pekerjaan kalian selesai." jawab Sindy. Flashback Off. "Lain kali, kamu tidak perlu melakukan hal itu lagi. Lebih baik, kamu saja yang menggoda Gery. Kamu bisa memanjakan dengan sentuhanmu itu." ucap Ibunda Sindy. Sindy menghela napasnya panjang. "Aku sudah berusaha. Untuk menciumnya saja sangat susah. Gery selalu sibuk dengan pekerjaannya." "Ya sudah, kamu tenang saja. Gery pasti mau menikah denganmu. Biar ibu yang bicarakan dengan keluarganya." jawab Ibunda Sindy yang menenangkan hati putrinya. "Aku harus memastikannya sendiri." ucap Sindy bangkit dari sofa. "Aku harus ke rumah sakit dan bicarakan hal ini dengan Gery. Tidak seharusnya, para wartawan mengetahui masalah ini." ketus Sindy berjalan keluar rumah. Waktu terus berjalan, tak terasa hampir 15 menit, Tiara dan Gery bersembunyi di kamar jenazah. "Kelihatannya, mereka sudah pergi." ucap Gery yang baru saja memantau keadaan luar rumah sakit. Tiara keluar kamar jenazah, "Pak, sebaiknya anda pergi dari sini. Saya tidak mau ada gosip lagi." pintanya memohon. "Kau pikir, siapa yang mau berlama-lama di sini?" "Setelah ibumu sadar dan menyetujui konsep pernikahan kita, saya akan pergi." tegas Gery. "Sudah berapa kali saya bilang, saya tidak mau menikah dengan anda. Saya tidak mau di madu dan saya tidak mau dikatakan pelakor." jawab Tiara kesal. "Dan masalah ibu saya, biar saya yang urus. Anda tidak perlu datang-datang lagi kesini." "Apa kau bisa membungkam mulutmu selamanya jika saya tidak menikahimu." tanya Gery. "Bisa jadi, bulan depan kamu hamil anak saya dan kamu datang pada saya untuk meminta pertanggung jawaban lalu kamu menuduh saya sebagai pria pengecut. Nama baik saya bisa hancur." "Saya jamin nama anda akan tetap bersih. Dan saya tidak akan hamil anak anda. Sekarang, anda bisa pergi dari sini." usir Tiara kemudian kembali ke depan ruang ICU. Gery terdiam sejenak, kemudian dia memutar tubuhnya untuk keluar rumah sakit tetapi tiba-tiba dia menyadari seseorang aneh yang sedang berdiri sembari memainkan ponselnya. Seseorang yang memakai topi hitam untuk menutupi wajahnya. Orang aneh itu pergi kearah Tiara. Tiara menyenderkan punggungnya di dinding rumah sakit. Dia melihat notifikasi pesan masuk dari seseorang. 'Tiara, ucapanku tidak main-main. Aku tidak suka kamu menikah dengan pria manapun termasuk dengan selingkuhanmu itu. Kalau sampai kamu menikah dengan selingkuhanmu, aku tidak akan segan-segan menyebarkan fotomu di hotel. Dan aku akan mengirimkannya kepada ibumu juga.' gumam Tiara saat membaca pesan masuk dari Juna. "Juna, kamu keterlaluan!" geram Tiara, Bugh! Tiba-tiba seseorang menyerang Tiara dari belakang sampai tak sadarkan diri. "Hey!" teriak Gery saat melihat Tiara di gendong oleh orang aneh. Orang aneh memakai topi hitam itu pun bergegas pergi sambil menggendong Tiara saat mendengar teriakan Gery. "Jangan kabur!" teriak Gery lagi. "Aku harus selamatkan Tiara.""Juna!" pekik Tiara. "Kamu ngomong apa sih!""Saya tidak mau Tiara hamil sekarang!" tegas Juna."Jangan dengarkan pria tidak jelas itu, dok!" kesal Tiara.Dokter dan perawat yang sedang bertugas pun kebingungan melihat perdebatan antara Tiara dan Juna."Asal dokter tahu, anak itu bukan anak saya dan saya tidak mau, Tiara hamil anak pria lain!" ucap Juna terbawa emosi. "Bisa kan, dok?""U-untuk kehamilan Ibu Tiara yang masih muda memang masih bisa tapi saya tidak berani melakukan hal keji itu. Apalagi, kondisi janin nya dalam keadaan sehat. Saya tidak bisa mengambil resiko. Dan lebih baik, kalian bicarakan hal ini lebih dulu." pinta dokter."Kamu gila, Jun! Aku tidak mau membunuh anak ini. Kamu tidak berhak, Jun!" teriak Tiara."Aku benci anak itu, Tiara!" pekik Juna."Tapi kamu tidak berhak membuat keputusan sendiri. Apalagi kamu bukan siapa-siapaku! Hubungan kita sudah berakhir. Dan aku sudah menikah dengan pria yang menjadi ayah dari calon anakku." kesal Tiara."Dok, sebenarnya dia
Ryan mengambil ponselnya dan menghubungi Gery.Di tempat kerjanya.Gery melihat ponselnya yang menyala "Ayah?" gumamnya kemudian menggeser tombol hijau di layar ponsel."Ada apa Ayah menelfonku, aku sedang sibuk?" tanya Gery sembari menatap langit-langit kantor."Cepat pulang! Ayah ingin bicara denganmu!" geram Ryan.Gery menghentikan jarinya yang sedang menari di papan keyboard laptopnya. 'Jangan-jangan Sindy sudah mengatakan semuanya.' batin Gery."Aku akan pulang satu jam lagi." jawab Gery."Kenapa harus 1 jam lagi, ha? Apa kamu mau menemui wanita pelakor itu!" bentak Ryan. "DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI! Cepat pulang!" pekik Ryan lagi yang kemudian mematikan telfonnya."Mas, kamu yang sabar, dong. Ingat, wajahmu sudah banyak kerutan apalagi di setiap sudut mata. Tolong jangan tambah kerutan halusmu lagi. Kamu kan seorang pemimpin perusahaan, jadi jaga penampilan dan fisikmu." ucap Natalia sembari mengusap lembut pundak Ryan.Ryan menjatuhkan pantatnya di sofa. "Aku tidak bisa berdiam
Di sisi lain.Tiara baru saja mengunci pintu rumahnya, dia melangkahkan kakinya dengan sesekali menghapus air matanya.Tangannya melambai saat melihat taksi online yang melewatinya."Pak, tolong antarkan saya ke rumah sakit." titah Tiara."Baik, Pak." jawab supir taksi online.Tak memakan waktu lama, taksi online yang ditumpangi oleh Tiara sudah terparkir di depan lobby rumah sakit."Ini uangnya, Pak!" ucap Tiara kemudian keluar dari mobil. Dia masuk kedalam rumah sakit. "Saya mau periksa kehamilan." ucapnya ke tempat pendaftaran."Baik, silahkan tunggu. Nanti kami akan panggil nomer antrian." jawab suster yang menyodorkan nomer antrian kepada Tiara.Tiara melihat kertas yang bertuliskan 10. Dia duduk di bangku yang sudah disediakan.Sembari menunggu nomernya dipanggil, Tiara menyempatkan diri untuk membuka ponselnya dan dia melihat notifikasi pesan masuk dari mantan kekasihnya.'Untuk apa kamu di rumah sakit?' ucap Tiara yang sedang membaca pesan dari Juna."Juna tahu kalau aku lagi
Gery masuk kedalam kantor tanpa mendengarkan ucapan Sindy."Please Gery, kita perlu bicara!" pekik Sindy menarik lengan Gery.Gery menghentikan langkahnya, ekor matanya melirik ke sekitar ruangan yang ramai."Ini masalah penting. Ini masalah pernikahanmu dengan Tiara." ucap Sindy.'Kenapa dia bisa tahu tentang pernikahanku. Atau jangan-jangan Tiara yang membongkar semua atau wanita bayarannya yang memberitahunya?' batin Gery."Aku sudah tahu semuanya dan aku butuh penjelasan darimu. Bisa-bisanya kamu menikah dengan wanita gila harta dan haus belaian itu. Padahal, sebentar lagi kita akan menikah!" ucap Sindy emosi.Gery menghembuskan napasnya panjang, dia membawa Sindy masuk kedalam ruangannya."Kenapa, kamu malu kalau semua karyawanmu tahu tentang pernikahanmu dengan Tiara?" sindir Sindy."Kamu tidak tahu apa-apa. Jadi, jangan ikut campur urusan pribadiku." tegas Gery."Jelas aku harus ikut campur. Kita mau menikah, Gery. Bahkan, persiapan pernikahan kita hampir selesai. Aku tidak ter
"Apa? Saya di pecat? Ta-tapi apa alasannya, Pak? Saya tidak pernah melanggar peraturan atau perintah dari anda?" tanya Renata syok. "Jangan pecat saya, Pak. Saya butuh pekerjaan ini. Saya mohon." pinta Renata memohon. "Jangan pecat Renata. Kamu bisa menegurnya kalau dia buat kesalahan." titah Tiara. "Diam. Tidak ada yang mengajakmu bicara." ketus Gery. Renata bersujud dihadapan Gery. "Pak, saya mohon, jangan pecat saya. Saya tidak tahu lagi, harus mencari pekerjaan kemana lagi." Gery memicingkan matanya. "Kau sudah bolos kantor." "Tapi saya tidak bolos kantor. Saya hanya ingin mengecek kondisi Tiara. Bukankah Pak Gery yang meminta saya untuk memantau keadaan Tiara?" jawab Renata sembari mengatupkan tangannya di dada. "Itu dulu." ketus Gery. "Untuk sekarang dan seterusnya, dia bukan tanggung jawabmu!" ujar Gery. Tiara menundukkan wajahnya sembari menghapus air mata yang hampir saja menetes. "Ta-tapi, Pak—" "Saya tidak mau mendengar apapun lagi. Kalau kamu masih m
"Aku tidak tahu tapi kita tidak boleh menuduh orang tanpa bukti." jawab Tiara.Di sisi lain.Juna menjatuhkan pantatnya di warung makan pinggir jalan."Es teh satu!" ucapnya kepada ibu penjual."Huh, dasar wanita pengkhianat. Bisa-bisanya dia hamil dengan Bos nya sendiri. Mentang-mentang, aku tidak sekaya bos nya, jadi dia tidak mau hamil anakku. Awas saja, Tiara. Sampai kapanpun aku akan tetap menerormu. Kamu harus menerima pembalasanku." gumam Juna sembari memainkan ponselnya.Sindy menghentikkan mobilnya di perempatan. Tak sengaja dia melihat Juna yang sedang bersantai."Kebetulan, ada pria itu." gumamnya lalu memarkirkan mobilnya di depan warung makan.Juna melototkan matanya saat melihat seorang wanita turun dari mobil."Dia … bukankah dia wanita—" ucapan Juna terhenti saat melihat Sindy berdiri di hadapannya."Es teh nya, Mas." ucap ibu pemilik warung."Oh iya," jawab Juna lalu menyeruput es teh nya.Sindy tersenyum sinis, "Tolong bersihkan tempat duduk itu!" pintanya sembari me







