FAZER LOGINDi kediaman keluarga Caldwell ...Margareth sedang melihat selebaran berita pernikahan Pangeran Edgar dan Aubrey ketika pikiran itu muncul.Dia lantas memanggil Aubrey.“Ya, Bu, ada apa?”Margareth menunjukkan selebaran itu. “Berita pernikahanmu dengan Pangeran Edgar sudah tersebar luas. Tapi apakah kau sudah menghadap Duchess Rosalie? Biar bagaimana pun ia pernah menjadi ibu mertuamu. Kau harus menemuinya, membicarakan ini, setidaknya kita harus menghargainya sebagai seseorang yang pernah menerimamu dan memilihmu, Aubrey.”Aubrey tertunduk. “Aku belum menemuinya, Bu. Memang aku takut dan tak memiliki muka lagi untuk menemuinya. Dia pasti marah. Dulu dia yang paling baik padaku. Sekalipun Oliver mengabaikanku, tapi dia memperlakukanku sebagai putrinya sendiri.”Margareth mengangguk. “Maka dari itu, kita harus menemuinya. Kita harus meredakan hatinya yang pastilah panas dan meradang. Ayo kita bersiap!”“Baiklah.”Margareth dan Aubrey menuju kediaman Duchess Rosalie.Ketika sampai, kepa
Suara kepala pelayan mengalihkan perhatian mereka berdua.Lagi-lagi, Zeline terkejut.Selama ini ia tidak pernah berani bertemu tatap muka dengan orang tua Oliver dan dia terus berusaha sebisa mungkin mengeluarkan beribu alasan agar tidak perlu bertemu tatap dengan orang tua Oliver.Karena itu juga, hubungan mereka pun menjadi stagnan, jalan di tempat. Oliver ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan, tapi Zeline sudah bertekad tidak akan pernah mau bertemu dengan orang tua Oliver. Karena dia tak siap dihujat.Satu-satunya yang bisa ditawarkan Oliver untuknya dan bisa ia terima hanyalah pernikahan diam-diam. Tentu saja, konsekuensi pernikahan diam-diam, ia takkan pernah bisa mengakui Oliver sebagai suaminya di depan publik.Kini, saat ia sedang di mansion Oliver, Duchess Rosalie tiba-tiba datang.Zeline ingin bergegas ke lantai atas untuk bersembunyi karena ia tidak datang dengan keretanya. Tapi sungguh tak terduga, di belakang kepala pelayan, Duchess Rosalie sudah melangkah.Zeline tak
“It- itu berlian biru! Jenis berlian langka! Ap- apakah kau serius, Duchess?”Annora sampai terbata-bata saat memandangi berlian biru di jari manis Aubrey.Annora tentu saja senang bukan kepalang melihat Aubrey mendapatkan calon suami yang bisa memberikannya benda selangka itu.Tapi Zeline, hati busuknya langsung menyeletuk, “Oh Dear Duchess, apakah itu asli? Bisa saja yang diberikan calon suamimu itu kaca biru, tapi kalian langsung mengatakan berlian biru.Aku pernah melihat pedagang di dekat perbatasan kota menjual cincin dengan berlian mainan warna warni. Harganya sangat murah, hanya seharga permen anak-anak.Coba sekarang beritahu aku, apakah kau sudah menguji kualitas berlian ini? Jika belum, mohon maaf, Duchess, aku tidak akan bisa percaya ini berlian biru. Apalagi jika dari pandangan mata telanjangku, aku lebih yakin itu hanyalah kaca biasa.”Annora langsung emosi mendengarnya. Dia nyaris berteriak, “Jika kau beranggapan seperti itu, aku rasa itu hanya karena ketidakmampuanmu me
Zeline semakin kesal dan makin tak mau kalah.“Wah, calon suami? Jadi akhirnya pria itu mau menunjukkan rasa tanggung jawabnya?”“Iya! Kami akan menikah dalam waktu satu bulan.”Zeline pura-pura terkejut lagi. “Menikah? Tapi apa Anda sudah yakin? Bagaimana kelangsungan hidup kalian nantinya? Anda seorang bangsawan, sudah biasa hidup enak. Semua dikerjakan pelayan. Bagaimana jika nanti menjadi istri dari pria yang tak jelas?Anda harus mengerjakan semua seorang diri. Bahkan bisa-bisa Anda juga harus dipaksa bekerja mencari nafkah hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari kalian. Apa Anda sanggup?Karena sejatinya, wanita itu haruslah mencari suami yang lebih tinggi statusnya. Seperti aku, contohnya. Walaupun aku pada awalnya bukanlah seorang bangsawan, tapi aku mendapatkan perhatian dari Duke Oliver. Dan itu jelas bukan tanpa usaha. Duke Oliver melihat kegigihan dan ketekunanku berjuang mencari nafkah dengan menjahit dan membuka butik.Maka itu, dia jatuh hati padaku. Saat kami menik
Aura bahagia terpancar dalam diri Aubrey sehingga ia mulai berani untuk keluar rumah lagi.Tempat pertama yang ia kunjungi sudah tentu adalah cafe Sheina.Teman-temannya kebetulan semua ada di sana. Mereka berseru senang ketika melihat Aubrey muncul setelah sekian lama.“Duchess! Akhirnya kau datang juga. Kami sangat kehilanganmu sejak kau tidak datang-datang.”Lady Annora memeluk hangat. Begitu pun Lady Freya. Lalu Sheina juga memeluknya.Mereka melihat ke arah Avery yang ikut dengannya kali ini.Aubrey mengenalkan Avery pada mereka semua.“Duduk, duduk! Coba jelaskan pada kami, kenapa kau tidak muncul-muncul selama berminggu-minggu?”Aubrey menggerakkan tangannya. “Tidak ada yang perlu diceritakan. Aku hanya bercerai lalu pindah kembali ke rumah ibuku. Itu saja.”“Tapi kau terlihat lebih bahagia setelah bercerai,” ujar Lady Freya yang mengarahkan pandangan ke tubuhnya.“Maksudmu aku gemukan? Oh, Dear, jangan terlalu kentara mengataiku. Aku akan marah lho.”Aubrey mengucapkan itu den
“Kau mau mengajakku ke mana?” tanya Aubrey saat mereka berada di kereta, berdua saja. Meski terlihat tenang, Aubrey harus berusaha keras menyembunyikan kegembiraannya saat ini. Edgar mengajaknya keluar jalan, ia sangat senang. Apalagi hari ini masih pagi. “Coba tebak. Tempat ini pernah kita kunjungi bersama.” Aubrey berpikir. Lalu menjawab, “Pondok ke-dua mu?” Aubrey menanyakannya dengan raut yang penuh kerlingan rayuan yang menggemaskan. Itu membuat Edgar terhenyak sejenak. Lalu ia menggeleng. “Bukan. Tentu saja bukan. Kenapa kau menjawab itu? Kau masih ingin ke sana?” Aubrey cemberut. “Tidak. Aku tidak ingin ke sana lagi. Sudah cukup beberapa kali aku sendirian di pondok mu yang dekat mansion Oliver.” Mendengar nama Oliver disebut, Edgar jadi teringat pertanyaan yang penuh bercokol di benaknya. “Apa kau pernah tidur dengan nya selama menjadi istrinya?” Aubrey terheran lalu menatap Edgar. Aubrey heran karena bukankah sudah jelas pertama kalinya ia adalah bersama Edgar. Ken







