LOGIN“Sini … biar gue bantu tetesin obat merahnya ke kaki lo,” ucap seseorang menghampiri Agnia. Membawa kotak obat lengkap di tangannya. Agnia mendongak. Lalu, tangannya sigap terulur guna mengambil kotak tersebut. Akan tetapi, alih-alih memberikan kotak obatnya, cowok bernama Rian itu pun justru malah refleks berlutut tepat di hadapan Agnia. “Biar sama gue aja. Lagian, kaki lo terluka juga gara-gara gue,” ujar cowok itu merasa bersalah. Kemudian, ia pun mulai membuka kotak obat di tangannya di tengah Agnia yang merasa tidak enak kalau harus merepotkan. “Eh, gak perlu, Yan. Biar gue sendiri aja yang tetesin obat merahnya ke luka gue,” tukas Agnia menolak. Bersiap merebut kotak obat di tangan Rian, tetapi dengan cepat pula Rian agak menjauhkan kotak obatnya agar Agnia tak bisa merebutnya. “Udah, Nia. Biar gue aja. Mana coba lihat.” Rian bersikeras. Alhasil, Agnia pun hanya bisa menghela nafas seiring dengan Rian yang mulai menuangkan cairan alkohol dalam botol ke permukaan kapas.“Ini
Sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Agnia terus saja memikirkan perkataan Irgi tentang dia yang bersikeras ingin bercerai dari Rossi. Walau begitu, Agnia pun belum siap untuk melihat kakaknya hancur karena perceraian yang terjadi padanya. Sehingga dari percakapan terakhir yang dirinya lakukan dengan Irgi sebelum akhirnya Agnia pamit kembali ke rumah sakit, ia terpaksa meminta sedikit waktu untuk memikirkan segalanya. “Aku tau ini gak akan mudah, Mas. Baik buat kamu apalagi buat aku. Tapi … aku jahat gak sih kalo sampe ngebiarin kakakku sendiri hancur karena perceraian itu? Ya walaupun di satu sisi aku punya harapan buat bisa bersatu sama kamu, sih, Mas. Cuma gimana ya. Aku tetep aja ngerasa belum siap buat ngeliat kakakku sendiri yang harus jadi korbannya.” Agnia benar-benar tidak mengerti harus berbuat bahkan memberi keputusan seperti apa saat Irgi menanyainya lagi entah kapan. Agnia akui bahwa ia sudah mulai takut kehilangan Irgi dikarenakan rasa cintanya yang amat besar. Namun
“ASTAGA INI JAM BERAPA?” pekik Agnia refleks terjaga. Secepat kilat, ia pun mencari keberadaan ponselnya dengan sangat panik. Berharap tidak ada log panggilan tak terjawab, di saat hari sudah berganti gelap dari yang tadinya terang benderang. “APA INI? DUA PULUH PANGGILAN TAK TERJAWAB? YA TUHAN … MAS IRGI!” teriak Agnia sigap beranjak. Melompat turun dengan tergesa sambil mencari keberadaan pakaiannya yang entah ada dimana. Sampai ketika matanya tertuju ke atas sofa yang berada di sudut jendela, sesegera mungkin Agnia pun menyambarnya dan memakainya dengan terburu-buru. Bersamaan itu, Irgi yang baru selesai menyiapkan untuk makan malam pun muncul dengan sendirinya dari arah pintu yang kini sudah dirinya dorong terbuka. “Sayang, kamu sudah bangun rupanya…” Mendengar suara yang amat dikenalnya, Agnia yang baru selesai berpakaian lengkap dari atas hingga bawah pun seketika saja menoleh ke sumber suara. Melihat Irgi sedang tersenyum lembut tanpa tahu sepanik apa dirinya sekarang, Agn
Agnia tidur meringkuk sambil memeluk perut Irgi yang berotot. Setelah bertempur bertukar peluh hingga kelelahan, Agnia pun tertidur nyenyak tanpa sempat membersihkan diri. Didukung oleh Irgi yang malah meng-puk-puknya seperti menidurkan bayi yang baru lahir. “Lucu sekali wanitaku ini. Dia benar-benar selalu menggemaskan dan membuatku semakin takut kehilangan. Sabar dulu ya, Sayang. Aku pun sedang mengusahakan yang terbaik untuk kita. Termasuk, mencari celah agar aku bisa segera menceraikan Rossi tanpa perlu melukai egonya,” gumam Irgi mendesah berat. Ya, semenjak Agnia menunjukkan cinta kasihnya yang semakin hari semakin menonjol, keputusan Irgi untuk menyudahi pernikahannya dengan Rossi pun semakin besar dan ingin segera ia akhiri.Meski Agnia sempat melarangnya untuk menceraikan Rossi, tetapi Irgi sudah sangat bertekad bulat untuk tidak melanjutkan lagi jalinan pernikahannya dengan Rossi. Pikirnya, untuk apa juga dipertahankan selama itu? Toh, Irgi sudah menemukan tambatan hatinya
Agnia sudah menghabiskan dua batang es krim, tetapi Irgi belum juga kunjung kembali. Mendecak, Agnia yang mulai kesal pun lalu melempar es krim ketiga di tangannya tepat ke atas piring yang sengaja ia simpan di atas meja. “Mas Irgi kemana, sih? Udah kayak remot tv aja tiba-tiba ngilang. Ini seriusan dia digondol kurir gaib? Kok, bisa-bisanya gak balik lagi,” cetus Agnia mengomel.Kali ini, dia bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan mondar-mandir bak sebuah setrika yang sedang dipakai melicin. Muka Agnia ditekuk total, kedua tangannya dilipat tanpa berminat menghentikan kegiatan mondar-mandirnya.Sampai pada saat emosi Agnia sudah berada di puncaknya, tiba-tiba yang ditunggu pun muncul masuk tanpa bilang permisi. “Loh, Sayang. Es krimnya sudah datang?” tegurnya seperti orang yang tidak punya salah. Mendengar bahkan melihat Irgi yang tengah berdiri santai seolah tidak sedang melakukan kesalahan, Agnia pun sempat mendelik sinis seiring dengan ia yang menghentikan aksi mondar-mandirn
Setelah puas menangis hingga berhenti sendiri. Agnia pun kini terlihat sedikit lebih manja pada pria yang sedari tadi duduk menemaninya. Entah kenapa, mendadak saja Agnia ingin sekali bergelayut manja di lengan kekar Irgi. Sekaligus menyandarkan kepalanya juga di sana, sambil membayangkan makan es krim rasa stroberi.“Mas,” panggil Agnia pelan.“Ya, Sayang?” Irgi menyahut lembut. “Di kulkas, ada stok es krim gak?” tanya Agnia tiba-tiba. Untuk sesaat, sedikit berhasil membuat Irgi mengernyit heran karena merasa kaget mendengar Agnia menanyakan hal seremeh itu. “Es krim? Sepertinya ada. Aku agak lupa sebenarnya. Tapi kalau mau, mungkin aku bisa memeriksanya dulu sekarang. Bagaimana? Apa aku boleh mengeceknya sebentar?” Agnia menarik kepalanya dari posisi semula. Kemudian, ia menghela nafas sambil mengangguk. “Boleh. Tapi jangan lama ya, Mas,” ucap wanita itu memberi izin. Tersenyum geli, Irgi yang tidak biasa melihat sikap clingy Agnia seperti saat ini pun lalu sigap mengangguk dan







