Share

BAB - 02

Author: shart96
last update publish date: 2025-11-04 18:01:16

Kanaya membulatkan matanya, ini akan benar-benar menjadi akhir dari perkuliahannya.

Entah apa yang dilakukannya di masa lalu hingga harus menghadapi situasi seperti ini sekarang. Kini, dia hanya bisa menghela napas dan menerima semua ini. Setidaknya jika dia tidak melawan, mungkin hidupnya masih akan berjalan cukup normal.

“Baik, saya akan tutup mulut dan melupakan kejadian itu, karena saya juga tidak ingin kabar ini sampai tersebar dan merugikan perkuliahan saya yang tinggal dua semester lagi.” Kanaya mencoba tetap tenang, meski sekarang pikirannya sudah kemana-kemana.

Cara terbaik untuk mengamankan kuliahnya saat ini dengan mengikuti apa yang diminta pria yang berada di hadapannya ini, jangan sampai kerja kerasnya untuk kuliah sampai di tahap ini sia-sia karena skandal tersebut.

Dia hanya ingin selesai kuliah tepat waktu, bekerja dengan baik dan membahagiakan ibunya.

“Saya juga minta bapak untuk benar-benar menjaga rahasia ini, meskipun saya sudah tutup mulut tidak menutup kemungkinan malah rahasia ini bisa bocor dari pihak bapak.”

Kanaya juga akan menuntut pria tersebut, jika nanti ternyata benar rahasia ini bocor dari pihak Liam. Kanaya tidak ingin dirinya yang dirugikan sendiri nantinya, karena pasti pada akhirnya pihak wanita yang selalu banyak disalahkan oleh semua orang.

Liam tidak menjawab, hanya melempar senyum remeh. Kemudian, dia membetulkan letak kacamatanya.“Tapi kamu harus ingat point terakhir Kanaya, jika rahasia ini bocor dari kamu jangan harap kamu bisa lepas dari saya begitu saja.”

“Lepas? Memang saya burung di dalam sangkar, Pak?” Kanaya menghela napas pasrah.

Liam tidak bersuara, hanya menatap Kanaya dengan tajam.

Merasa tidak nyaman, Kanaya berdehem dan membetulkan posisi duduknya. “Kalau begitu, saya permisi, Pak. Masih ada kelas yang harus saya ikuti”

Namun, baru saja Kanaya berdiri, Liam telah lebih dulu berdiri lalu menahan bahu Kanaya. “Siapa yang mengizinkan kamu pergi?”

Kanaya menahan napasnya. Tatapan Liam kali ini terasa lebih menusuk.

“T–Tapi … saya masih ada kelas lagi, Pak,” lirih Kanaya sedikit terbata.

“Masih ada waktu,” kata Liam singkat. “Masih ada yang perlu saya bahas.”

Kanaya menggerutu pelan, wajahnya sudah tampak kesal dan lelah dengan semua yang terjadi hari ini.

“Ah, apalagi yang harus saya lakukan, Pak? Saya kan sudah setuju untuk diam, saya juga sudah minta maaf soal sikap saya di kelas tadi,” keluh Kanaya tanpa sadar.

Liam menghela napas berat, lalu menjauhkan tangannya dari bahu Kanaya. Sambil  berdecak pelan, dia berkata, “Seperti ini kah sikap wanita yang dijodohkan denganku?”

Mendengar itu, Kanaya mengernyitkan dahinya, lalu menatap Liam dengan kebingungan.

“Maksud Bapak apa?” tanya Kanaya penuh kebingungan.

Liam tampak menaikkan satu alisnya melihat respon Kanaya. “Sikapmu itu, buruk sekali.”

Namun, jawaban itu tidak membuat Kanaya puas. Bukan itu yang membuatnya bingung.

“Bukan itu. Tadi … kenapa Bapak bilang wanita yang dijodohkan dengan Bapak?” jelas Kanaya penasaran.

Liam terdiam sejenak. Matanya menelisik jauh ke dalam tatapan Kanaya, hingga akhirnya menyadari satu hal.

“Tidak ada. Sudah, kamu boleh keluar.” Tanpa menunggu jawaban Kanaya, Liam langsung berbalik badan dan kembali ke meja kerjanya.

***

Hari ini, Kanaya pulang ke rumah ibunya dan ayah sambungnya. Sejak masuk kuliah, Kanaya tinggal di asrama kampus dan biasanya hanya pulang saat libur panjang saja. Sudah lama ia tidak merasakan suasana rumah.

Baru saja melangkah masuk melewati pintu, Kanaya mendengar suara percakapan dari ruang tengah. Suara ayah sambungnya, Rio, terdengar keras dan tajam.

“Bodoh sekali kamu! Kenapa tidak setuju saja menjodohkan Kanaya dengan cucu teman Ayahmu itu? Dengan begitu, dia tidak akan menjadi beban tanggungan aku lagi!” bentak Rio tanpa menahan volume suara.

Kanaya tertegun.

‘Dijodohkan?’ gumamnya dalam hati.

Ini pertama kalinya ia mendengar rencana itu.

Suara ibunya terdengar bergetar menahan emosi. “Aku tidak bisa setuju begitu saja. Itu menyangkut masa depan Kanaya. Semua harus seizin dia juga.”

Belum sempat ucapan itu selesai sepenuhnya, suara tamparan keras terdengar memecah ruangan, diikuti isak kecil yang langsung mengoyak hati Kanaya. Tubuhnya membeku, jemarinya mengepal begitu kuat hingga memutih.

Kanaya sama sekali tak menyangka bahwa Rio, yang selama ini terlihat tenang dan biasa saja di hadapannya, bisa memperlakukan ibunya seperti itu. Ternyata selama ini, ia hanya melihat topeng.

“Pakaian, pendidikan, makanan, tempat tinggal, semua itu dari siapa, hah?! Kalau bukan dari aku, dari mana?!” Rio menghardik sambil menarik rambut Tania, ibunya, semakin keras hingga wanita itu meringis menahan sakit.

Suara Tania pecah dalam tangis. “Kenapa kamu menjadi begitu perhitungan? Dulu kamu bilang akan menganggap Kanaya seperti anakmu sendiri…”

Kanaya menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan gemetar yang merambat di seluruh tubuhnya. Hatinya terasa seperti diremas.

‘Apa… sebaiknya aku menerima saja perjodohan itu,’ pikirnya getir.

‘Kalau itu bisa menghentikan ayah memperlakukan Ibu seperti ini. Selama ini… ternyata dia hanya menganggapku beban,’ gumam Kanaya lagi dalam hati.

Selama ini Kanaya selalu berusaha memahami sikap ayah sambungnya yang dingin dan sering mengabaikannya. Ia pikir itu hanya karena mereka belum dekat. Ia percaya setiap orang punya karakter yang berbeda.

Namun kini, ia tahu kebenarannya, yaitu ayah sambungnya tidak pernah menganggapnya sebagai keluarga.

“Ibu,” sapa Kanaya dengan senyum kecil yang dipaksakan, seolah ia tidak mengetahui apa pun yang baru saja terjadi.

Rio menatapnya tajam. “Lebih baik kamu bicarakan tentang yang tadi sekarang.”

Suaranya dingin, sebelum ia berbalik dan berjalan pergi menuju kamar tanpa menunggu jawaban.

Kanaya pura-pura kebingungan, menoleh pada ibunya. “Ada apa, Bu?” tanyanya pelan.

Tania menarik napas panjang, berusaha terlihat tenang meski matanya masih memerah.

“Tidak apa-apa. Kamu sudah makan? Kalau belum, ayo makan dulu,” ajaknya dengan senyum yang dipaksakan.

Kanaya mendekat dan menggenggam kedua tangan ibunya erat. “Aku sudah makan sebelum ke sini, Bu.”

Tania mengangguk pelan. “Kalau begitu… ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan. Kita ngobrol di kamar kamu saja, ya.”

“Tentu. Aku juga merasa ini hal yang penting,” jawab Kanaya, berusaha tetap netral.

Tania tidak menjawab lagi, hanya memegang tangan putrinya dan menuntunnya menuju kamar. Sesampainya di sana, keduanya duduk di tepi tempat tidur. Hening sejenak, hanya suara napas gugup Tania yang terdengar.

“Apa yang ingin Ibu sampaikan?” tanya Kanaya, menatap ibunya dalam-dalam.

Tania perlahan melepas genggaman tangannya, kemudian berdiri dan membuka laci meja. Ia kembali membawa sebuah kotak persegi panjang berwarna gelap.

“Apa ini, Bu?” Kanaya bertanya hati-hati ketika ibunya menyerahkan kotak itu ke tangannya.

“Bukalah.” Suara Tania bergetar, tetapi tegas.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kanaya membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah foto, dua pria berdiri merangkul satu sama lain, tampak sangat akrab. Bersama foto itu, ada sepasang cincin, sebuah kalung, dan sepucuk surat yang warnanya sudah menguning dimakan waktu.

Kanaya mengalihkan pandangannya ke cincin dan kalung itu sejenak, lalu mengambil surat tersebut dan membukanya perlahan. Ia mulai membaca isi surat itu dengan seksama, sementara Tania menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh.

“Ternyata … pria yang akan dijodohkan denganku itu Pak Liam.”

Kanaya membeku di tempat, tubuhnya seolah kehilangan tenaga saat membaca nama lengkap yang tertera dalam surat itu. Yang mampu ia lakukan hanya menatap lembaran putih itu dengan tangan bergetar.

‘Kenapa bisa jadi seperti ini?’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 39

    Nafia terlihat ragu beberapa detik saat akan menjawab, wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya penuh kepanikan.“Obat itu bukan milikku.”Pintu lift menutup sebelum Kanaya sempat bertanya Kanaya berdiri terpaku beberapa saat. Liam menatap pintu lift, lalu beralih kepadanya.“Apa yang dia katakan?”Kanaya mengangkat wajah. “Dia bilang obat itu bukan miliknya, dok.” sahutnya pelan.Liam mengerutkan kening. “Maksudnya?”“Aku tidak tahu.”Ponsel Liam berdering. Ia membaca pesan yang masuk, dan ekspresinya seketika berubah.“Ada apa?” tanya Kanaya.Liam menunjukkan layar ponselnya. Sebuah foto kemasan obat telah dikirim oleh perawat dari kamar hotel. Di bagian bawah kemasan terdapat nama pasien lain, ditulis dengan tinta hitam yang mulai luntur.Kanaya membaca nama itu sekali, lalu menatap Liam.“Bukankah ini kamar yang kita tempati semalam?”Liam tidak segera menjawab, dan dari arah koridor, seorang petugas keamanan berlari mendekat.“Dokter Liam, ada sedikit masalah di lobi,” katanya t

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 38

    Pintu ruang observasi terbuka lebar. Dua perawat dan seorang dokter jaga bergegas masuk, disusul suara roda troli yang berderak di lantai.“Tekanan darah turun lagi,” ujar Kanaya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.“Pasien mengeluh nyeri perut hebat dan sempat kehilangan kesadaran beberapa detik.”Dokter jaga segera mengambil alih pemeriksaan. “Pasang cairan infus kedua. Siapkan pemeriksaan laboratorium lengkap dan hubungi radiologi. Kita perlu memastikan tidak ada perdarahan atau masalah lain di dalam perut.”Kanaya bergerak mengikuti instruksi. Tangannya masih gemetar, tetapi ia memaksa dirinya fokus pada setiap tindakan.Nafia yang tadi terus menuntut ingin ini dan itu kini ha

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 37

    Tangan Kanaya yang memegang pena berhenti sejenak. Tuduhan itu tidak masuk akal, tetapi tetap saja membuat dadanya terasa sesak.Siapa juga ingin suaminya didekati wanita seperti Nafia, meski harus profesional sudah jelas-jelas wanita dihadapannya ini terang-terangan ingin bisa berdekatan dengan Liam.Tidak, lebih tepat ingin menggoda suaminya secara terang-terangan.“Saya sedang bekerja. Tolong jangan membuat kesimpulan sendiri.”“Aku ingin kamar yang lebih tenang. Aku tidak tahan mendengar suara orang-orang.” Nafia dengan nada angkuh meski kondisinya saat ini tidak baik-baik saja.“Untuk saat ini, anda akan ditempatkan di ruang observasi karena kondisinya belum stabil.”

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 36

    Kanaya yang baru saja memasukkan makanan ke dalam mulut hampir menyemburkannya ke meja. Ia buru-buru menutup mulut dengan kedua tangan. Namun, makanan itu telanjur membuat tenggorokan dan hidungnya terasa panas karena tersedak.Semua orang di meja makan langsung menoleh kepadanya.“Ya ampun, Kanaya! Kamu tidak apa-apa?” Danendra tampak meringis. Ia tahu betul penyebab menantunya tersedak adalah ucapan istrinya.Kanaya segera meraih gelas di sampingnya dan meneguk air sampai habis. Setelah nafasnya kembali teratur, ia mengusap sudut bibirnya.“Tidak apa-apa. Sekarang sudah lebih baik.”“Masih pagi, lho. Kenapa pembahasannya bisa merembet ke sana?” keluh Kanaya dalam hati.

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 35

    “Ya ampun, ternyata tidak sia-sia juga sesekali menonton drama.” Kanaya menelan ludah, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. “Aku kira kejadian seperti ini hanya ada di drama. Ternyata mengalaminya sendiri benar-benar bikin spot jantung.”Gumamnya begitu pelan hingga nyaris tertelan suara orang-orang di sekelilingnya.Tatapan Kanaya beralih kepada Nafia. Perempuan itu kini hanya diam, tidak berkutik setelah mendengar ucapan Liam. Keberanian yang tadi memenuhi ruangan seolah lenyap begitu saja, menyisakan wajah tegang dan bibir yang terkatup rapat.Kanaya menghembuskan napas perlahan. Detak jantungnya masih belum kembali normal. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan sesuatu senekat itu sepanjang hidupnya. Selama ini, Kanaya selalu menjalani hidup dengan lurus, berhati-hati, dan sebisa mungkin menjauh dari masalah.Namun, hari ini ia justru menantang dirinya sendiri.Entah masalah apa yang akan datang setelah ini, Kanaya belum tahu. Yang jelas, ia merasa sedang b

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 34

    “Setelah ini siap-siap saja rumah tangga kalian akan renggang, begitu kak William melihat semuanya aku yakin akan langsung meminta cerai saat itu juga.” gumam Nafia pelan saat berjalan hendak masuk ke dalam salah satu kamar hotel tersebut.“Kalian?” ucap Nafia dengan kebingungan.Wajah yang tadinya penuh dengan senyum penuh kemenangan kini berubah penuh kebingungan, orang yang berada di dalam ternyata bukan orang yang dia duga sesuai rencananya.Nafia mencoba mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, namun tidak menemukan keberadaan Kanaya disana. “Kenapa bukan wanita itu? kemana dia pergi sebenarnya,” ucap Nafia dalam hati mencoba mengedarkan pandangannya sekali lagi untuk memastikan.Di dalam kamar, tepatnya di atas tempat tidur dua orang langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka tidak mengenakan pakaian. Terlihat Sang pria masih setengah sadar, sedangkan wanita di sampingnya mencoba untuk membangunkan prianya.“Siapa kalian? Kenapa masuk tanpa izin.” bentak pria ya

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 04

    Kanaya membuka mulutnya, namun tak satu kata pun keluar. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.“Saya…” suaranya nyaris tidak terdengar, tenggorokannya seakan terkunci.Liam menatapnya lebih dalam, lalu berkata, “Katakan nanti saja di pertemuan keluarga.”Setelah itu, Liam lang

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 03

    Tiba-tiba saja, potongan ingatan soal kejadian di ruang dosen itu kembali terputar di kepala Kanaya, ketika Liam menyinggung sikap Kanaya dengan menyebutnya sebagai wanita yang dijodohkan dengannya.Saat itu, Kanaya sama sekali tak paham dengan maksud ucapan Liam. Dia pikir, Liam mungkin salah bica

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 06

    Pagi ini Kanaya bergegas menuju ruang dosen, beberapa saat yang lalu Liam telah mengirimnya pesan untuk segera mengambil formulir surat kepindahannya dari asrama.Begitu sampai di ruang dosen, Kanaya langsung disambut oleh tatapan dingin Liam yang duduk di kursi kerjanya.“Mau ambil formulir pindah

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 01

    “Uhh … tolong pelan-pelan …”Kanaya menggeliat ketika pria itu menjamah tubuhnya. Rasa geli sekaligus nikmat menyerang seluruh indera di tubuh Kanaya.Beberapa menit yang lalu, gadis–tidak, wanita itu masih dalam keadaan sadar di pesta ulang tahun temannya. Namun, entah apa yang terjadi, tiba-tiba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status