LOGINTidak pernah terbayang sebelumnya, bagi Laras ini bagai mimpi indah dan ia tidak mau bangun. Terlalu indah, terlalu sayang jika dilewati begitu saja. Bibirnya yang masih pucat itu menyunggingkan senyum dan kulit kuning langsatnya terasa hangat di bawah selimut serta rangkulan erat tangan suaminya.Tidak pernah juga ia menduga suaminya saat ini adalah Dirga, mantan ayah mertuanya, yang dulu ia nilai sebagai pria cabul karena mengintipnya mandi. Mengingatnya saja membuat ia geli setengah mati, dan ia percaya saja pria itu memang darurat mencari toilet.Sekali lagi, ia menoleh pada Dirga yang juga menatap ke arahnya. Bibir mereka nyaris mendekat, aroma woody dan spicy pria itu sungguh menenangkan membuatnya ingin menempel. Namun, Laras sadar diri mereka tidak lagi berduaan. Melainkan ada ibu mertuanya dan Ratih yang baru saja masuk ruang perawatan ini. Ya, setelah tubuhnya membaik dan tidak terindikasi apa pun, Laras dipindahkan ke kamarnya.“Abang, jauhan! Jangan dekat-dekat, istrimu in
Dirga mempercayakan dua buah hatinya pada perawat, mereka akan mengantarnya nanti setelah Laras dipulihkan. Meskipun senyum mengembang terukir di bibir, tekanan darahnya masih cukup tinggi. Dokter sudah memberikan obat lagi, tetapi masih memerlukan waktu agar tubuhnya menyerap semua zat itu.Selama menemani Laras di ruang pemulihan, Dirga menggenggam tangan lembut dan dingin. Ia menciumi punggung tangan Laras berkali-kali, tidak bosan-bosan rasanya. Mengingat perjuangan istrinya, ia bahkan tidak menyangka memiliki anak kembar dari murid bimbingannya sendiri, yang usianya terlampau jauh di bawahnya, dan ia lebih cocok sebagai pamannya.Bayang-bayang pertemuan pertama mereka di desa kembali singgah. Ia menghela napas, ternyata gadis yang diintipnya itu kini menjadi belahan jiwanya. Mungkin itu sudah takdir, pikirnya. Takdir yang menyenangkan, melepas masa duda dengan mendapat perawan yang menggemaskan.Kebelet pipis waktu itu sepertinya sebuah tanda ia akan mendapat jodoh. Kala itu Dirg
“Mas Dokter!” jerit Laras menggema di ruang operasi itu. Bukan karena anestesinya lenyap hingga ia merasakan perihnya sayatan pisau bedah itu. Bukan!Mata hitamnya banjir sudah, yang ia bisa lihat hanya bayang-bayang Dirga dan Devi yang meminta alat-alat pada perawat. Bahkan dokter anastesi pun sibuk mengamati pergerakan tanda vitalnya di monitor.“Mmmaaasss! Anakku! Tolong, Mas,” jerit Laras diakhiri nada lirih yang menyesakkan dada. “Dokter Dirga … selamatkan anakku,” pintanya formal.“Mas Dokter!” jerit Laras menggema di ruang operasi itu. Bukan karena anestesinya lenyap hingga ia merasakan perihnya sayatan pisau bedah itu. Bukan!Mata hitamnya banjir sudah, yang ia bisa lihat hanya bayang-bayang Dirga dan Devi yang sibuk meminta alat-alat pada perawat. Bahkan dokter anestesi pun sibuk mengamati pergerakan tanda vitalnya di monitor.“Mmmaaasss! Anakku! Tolong, Mas,” jerit Laras diakhiri nada lirih yang menyesakkan dada. “Dokter Dirga… selamatkan anakku,” pintanya formal.Dokter ane
“Mmmaaas,” panggil Laras. Sial suaranya tercekat, tenaganya nyaris habis. Ia ingin meminta bantuan suaminya, meskipun tahu ini beda keahlian. Setidaknya pria itu sudah pengalaman. Namun Dokter Devi tiba-tiba menghalangi jarak pandang Laras dengan Dirga yang sibuk menangani putra pertama mereka.“Saya saja. Saya ini dokter kandungan!” tekan Devi, tangannya memusatkan pada perut buncit Laras. Dokter Devi segera memeriksa, raut wajahnya berubah tegang. Tangannya menekan perut Laras kuat-kuat, memijat rahimnya dari luar, berusaha memancing gelombang mulas.Laras mengerang panjang, tubuhnya melengkung ke atas ranjang karena pijatan brutal itu. "Hhhnnnggghhh ... ahh ...," desisnya dengan bibir bergetar, serta giginya saling beradu menahan ngilu. Pijatan itu menyakitkan memang, tetapi anehnya … itu tidak memicu mulas sedikit pun.Rasa sakitnya hanya berasal dari tekanan tangan Devi."Tolong, Dok! A—an—anak saya," rintih Laras, matanya membulat.Dirga yang masih menggenggam bayi pertamanya l
“Mmmaaasss,” panggil Laras, suaranya tercekat, tubuhnya seketika merosot di atas lantai. Tangannya memeluk perutnya. Tubuhnya gemetar dan bulir keringat mulai bermunculan memenuhi kening, serta mengalir deras di punggungnya.Matanya bergerak-gerak lurus ke arah partisi yang sialnya menghalangi jarak pandang. Satu tangannya berusaha menggapai-gapai Dirga yang ada di sana, bersama suara tawa dan rengekan anak kecil.‘Mas Dokter,’ panggil Laras dalam hati.Napasnya masih tersendat-sendat. Meskipun tubuhnya berat dan rasa nyeri begitu kuat, Laras mengesot. Ia harus berusaha memberitahu suaminya yang saat ini sedang menunggunya. Namun mulas dan ngilu itu menjalar brutal dari perut bawah ke pinggangnya, membuat Laras hanya bisa menancapkan kuku pada marmer. Suara derak kecil pun muncul.“Mas!” panggil Laras mengandalkan sisa kekuatannya. Sumpah! Ia harus menyelamatkan si kembar. Apa pun yang terjadi, anak-anaknya ini harus lahir ke dunia.“Mas Dokter!” Laras berhasil membebaskan suaranya yan
Setelah Laras cukup tenang dan dipastikan tidak ada kontraksi palsu lagi, Dirga memutuskan untuk segera membawa istrinya pulang. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju apartemen, keheningan cukup dalam menyelimuti mobil. Hanya embusan napas mereka saja yang terdengar. Laras duduk kaku, dengan pandangannya terpaku pada jendela samping mobil. Bahkan wanita itu menarik tangannya jauh ke samping. Jelas ia memberi jarak, menolak sentuhan Dirga yang duduk di kursi pengemudi.Hanya saja Dirga tidak menyerah. Tangan kirinya tetap terulur, dan mendarat lembut di paha wanitanya. Sesekali, ia meremas paha itu dengan penuh kasih sayang, lalu beralih mengelus perut buncit yang tiba-tiba menendang, seolah si kembar ikut merasakan ketegangan orang tuanya. Dirga kemudian mengelus rambut Laras."Maaf, Yang," bisiknya lemah lembut lembut, dan suaranya ini memecah keheningan. "Saya benar-benar lupa. Dokumen itu udah lama sekali. Mohon pengertiannya, hm."Laras hanya mengambil napas dalam di







