ANMELDENYeay, Dirga dan Laras resmi jadi Papi Mami jangan lupa kirim kado ke apartemen mereka yaa ^^ Teman Teman besok aku libu dulu sehari ya. Sampai ketemu hari sabtu ^^
Pukul enam sore, begitu selesai rapat bersama dewan komite, Dirga buru-buru keluar dari rumah sakit. Karena pekerjaan yang banyak, tetapi ia tidak pulang sendirian, melainkan menyeret Randy untuk mengantarnya. Asisten muda itu mau tak mau memenuhi keinginan Dirga, padahal Randy tahu setengah jam lagi Dinda selesai praktik.Hanya saja, sebelum Porsche hitam benar-benar meninggalkan area parkir, mendadak Randy menoleh.“Pak, di depan ada … Pak Raymond.” Jempol Randy menunjuk ke depan.Dirga mengikuti arah telunjuk Randy. Benar saja, di sana Raymond dengan tongkatnya beridri tegak. Dari tatapannya saja, ia tahu pria itu ingin bertemu. Dirga mendnegkus kasar, lalu turun dari mobil.Dengan langkah berat dan aura dingin nan menusuk, ia mendekat. Namun ia berhenti beberapa meter di depan pria yang makin terlihat tua itu.Wajah Dirga datar, tanpa basa-basi ia langsung bicara. “Ada perlu apa, Pak Raymond? Kita tidak ada kerja sama apa pun. Saya harap kedatangan Anda bukan untuk mengganggu lagi
Usai mendapat asupan pagi yang tidak terduga-duga, saat ini Dirga tersenyum-senyum sendiri dalam ruangannya. Sesekali menggosok pelan wajah dari hidung ke dagu. Pemandangannya pun tidak fokus pada berkas yang baru saja disodorkan oleh Randy.Rasa panas dari bibir dan bayangan Laras yang berlutut di depannya dengan tatapan menantang masih melekat jelas. Sungguh, istrinya itu adalah perpaduan malaikat dan iblis yang membuatnya kecanduan.“Pak?” panggil asisten itu. Sudah setengah jam Randy berdiri menanti berkas yang dibawanya itu selesai ditandatangi sang bos. Apalagi ia memiliki tugas penting mengejar Dinda demi masa depan, ingin makan siang bersama di sela kesibukan gadis itu di IGD. Sungguh sial karena Dirga menghalangi.Randy mulai menggesekkan kaki di lantai, arloji di pergelangannya terus menarik perhatian, setiap detiknya membuang kesempatan untuk bertemu sang pujaan hati. Jantungnya berdebar cemas.Sedangkan Dirga geleng-geleng dan jemarinya bergerak pelan mengusap figura foto
“Maksud kamu?” Dirga menelan ludahnya susah payah lantaran pemandangan yang membuat sekujur tubuhnya panas, darahnya bergejolak di seluruh pembuluhnya.Dengan senyum kecilnya Laras membawa tangan Dirga ke bahunya. Jemari pria itu dibimbing untuk melepaskan tali tipis. Namun Laras meninggalkan tangan suaminya di sana. Dengan seringai kecil ia menyentuh perlahan kejantanan yang sudah tidak tertutup apa pun lagi. Bisa ia rasakan bagaimana bagian itu menegang sempurna, otot-ototnya begitu kuat dan menonjol.“Nggak kuat, ya? Masih ada waktu sebelum ke rumah sakit,” bisik Laras sembari menggenggam milik Dirga di bawah sana.“Laras … Yang?” Suara Dirga serak, dan matanya sedikit memejam.“Apa, Mas? Kok ini nggak dibuka bajunya? Memang nggak kangen sama ini?” Laras maju selangkah kecil, menempelkan dadanya tepat di kulit agak hangat Dirga. Laras merasa seperti wanita nakal yang menarik perhatian pria. Ah, tetapi Dirga adalah suaminya, tidak masalah mau ia senakal apa pun. Dulu ia selalu mendam
Tepat sebulan setelah Laras melahirkan, apartemen terasa hidup dan lebih hangat, jauh dari kesan dingin apa pun. Pagi ini Laras menyeka keringat tipis di pelipisnya, puas menatap botol-botol kaca yang kini berjejer rapi di atas nakas, penuh dengan liquid gold. Pompa ASI canggih yang dibelikan Dirga bulan lalu itu dimatikan, dan ia tersenyum jumawa. Dirga benar-bear suamiable, sebab dukungan emosionalnya memang efektif meningkatkan produksi ASI hingga kini melimpah ruah. Laras bergerak pelan mengenakan kembali outer longgar satin ungu tua, lalu mengintip keluar kamar tidur. Di ruang tengah, tawa renyah terdengar. Tepat di atas karpet tebal, kedua putranya yang diberi nama Danendra Leksa Bradley dan adik kembarnya Dimas Laksmana Bradley, sedang bergantian diasuh oleh tenaga sukarela, meskipun sudah ada babysitter yang disewa oleh Dirga. Saat ini Dinda mengajak ngobrol si Kakak Kembar Leksa, sedangkan Ratih dengan telaten menyanyikan lagu anak-anak, menggendong Laksa dengan penuh k
Tidak pernah Dirga sangka hatinya berlabuh pada anak didiknya sendiri, sekaligus mantan menantunya. Sepuluh tahun hidup menduda tidak pernah terpikirkan olehnya menikah lagi, kalaupun iya, ia akan memilih gadis desa saja supaya memiliki alasan untuk tetap tinggal di sana. Sudah muak rasanya harus kembali ke Ibu kota dan bertarung dengan keluarganya sendiri yang lebih mempercayai Raina daripada ia sendiri.Dirga merasa kepalanya terus berdenyut setelah video lima belas detiknya tersebar. Ia tidak habis pikir siapa yang merekam kegiatan intimnya bersama Laras. Lebih mengejutkannya lagi, dini hari itu pagar rumahnya bergeser. Dirga yang sedang duduk di kursi kayu gegas melongok.Matanya menyipit tatkala menyibak tirai. Ada pria bertubuh tinggi agak kurus mendorong pagar. Satu yang berhasil ia tangkap, sosok itu bukanlah warga desa ini. Pakaiannya saja mencerminkan anak muda, anak kota.‘Siapa bertamu malam-malam?’ pikirnya. Ia lalu keluar rumah, berdiri tegas di teras.Saat satu uni
Setelah kecanggungan yang menyergap semalam sampai pagi menjelang, Dinda juga insomnia. Masalahnya adalah, Randy mengajaknya bermalam di ruangannya. Lebih gilanya lagi, mereka tidur bersisian di atas sofa sempit yang cukup lumayan bisa menampung tubuh tinggi keduanya. Meskipun dengan posisi memunggungi, Dinda tetap bisa merasakan dekapan Randy di atas tulang dadanya.Ia menutup muka teringat kegilaannya semalam. “Aduh! Kok, bisa, sih.”Dinda tidak sadar bahwa saat ini Laras yang sedang menyesap susu hangat buatan Dirga ditambah camilan kacang almond pemberian Dewi menatap kakaknya itu dengan mata menyipit. “Kenapa, lu, Din?” bisiknya.Tersentak, Dinda menurunkan tangannya sedikit dan mencondongkan kepala pada Laras."Gila, Ras. Semalem, si Bapak ….” Dinda memelankan suara, sambil menatap Dirga yang mengayun bayi kembar di kedua tangannya. Ia memulai lagi dengan suara berbisik, “Pak Randy, maksudnya, ngajakin kenalan serius gitu lho. Dia bilang nggak mau pacaran, maunya langsung ke jen







