LOGINJumat malam ini, Dirga memboyong istri dan anak-anaknya menuju vila pribadi mereka di kawasan Puncak. Perjalanan yang biasanya lumayan singkat berubah lebih melelahkan karena macet sejak gerbang tol. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat saat mobil mewah itu mulai menanjak di jalanan yang berkelok.Bahkan Leksa dan Laksa sudah terkapar pulas di kursi belakang dengan posisi kepala saling bertumpu. Berbeda dengan Laras berkali-kali mengerjapkan mata, berusaha menahan kantuknya karena tidak tega membiarkan sang suami menyetir sendirian dalam kesunyian.Begitu mobil memasuki kawasan perkebunan kopi, suhu udara turun drastis. Laksa mengerjap-ngerjap kecil sambil memeluk lengannya sendiri. "Dingin, Mi …," gumamnya dengan suara khas bangun tidur.Gegas Laras memutar tombol suhu AC ke arah yang lebih hangat. Sedangkan Dirga tetap fokus menatap jalanan yang berkabut pun ikut menimpali tanpa menoleh, "Pakai jaketnya, jagoan. Udara gunung beda sama AC rumah."Si kembar buru-buru mena
Malam harinya, aroma gurih sup ikan kiriman dari Ratih memenuhi ruang rawat yang terang dan hangat.Kini, Randy duduk di tepi ranjang. Tangan kokoh pria itu memegang sendok yang diarahkan tepat ke bibir Dinda."Mas, uuhh, udah dibilang saya itu nggak sakit. Saya bisa makan sendiri," protes Dinda sambil meraih mangkoknya.Alih-alih menurut, Randy justru menjauhkan mangkok itu diiringi senyum memesona yang sialnya membuat pria itu terlihat sangat tampan. "Diam dulu, Sayang. Saya mau manjain istri malam ini. Pokoknya harus disuapi!" Kukuh pria itu.Wajah Dinda seketika merona, sampai tak sengaja mendorong bahu Randy untuk menutupi rasa malunya. Nahas, gerakan itu membuat kuah sup di mangkok sedikit miring dan tumpah mengotori sprei rumah sakit."Duh! Maaf, Mas ... Saya nggak sengaja," pekik Dinda. Ia sibuk mencari tisu.Randy malah terkekeh melihat wajah panik istrinya. "Nah, ini akibatnya kamu nggak bisa diam. Sudah, tenang saja. Sebentar saya panggil perawat buat ganti sprei dan se
“Tante, besok traktir lagi, ya. Ini enak. Apa semua daun enak dibumbu kacang gini juga?” celoteh Laksa, usai menghabiskan dua porsi lotek yang dibelikan Dinda.“Iya, iya, besok Tante traktir lagi. Selama masih murah, aman di kantong, deh,” jawab Dinda sambil menatap Leksa yang begitu lahap. “Kamu pelan-pelan makannya! Untung Papi kalian banyak uang, kalau nggak bisa bangkrut punya dua anak modelan kayak gini, hih.”Dinda bergidik dan mengusap tengkuknya, sedangkan Leksa sedang menikmati nasi lemak karena baginya satu porsi lotek hanya menggelitik lambung.Leksa menoleh ke arah Dinda dengan mulut yang belepotan bumbu kacang dan santan nasi lemak. Dinda yang gemas langsung telaten mengelap bibir keponakannya itu dengan tisu."Putra mahkota ini lucu banget, sih, kayak masih bayi tahu nggak," canda Dinda sambil mencubit pipi Leksa gemas.Bocah itu memajukan bibirnya, Leksa merasa harga dirinya anak ganteng jatuh. Ia ingin mengomel, tetapi perutnya masih lapar, lalu kembali fokus menghabis
Pagi ini, Dinda dan Randy sudah ada di ruangan obgyn. Sejak pengakuan wanita itu, Randy menjadi lebih peka dan ia terus memegangi tangan istrinya yang tengah menjalani pemeriksaan USG transvaginal."Pasti berhasil, Sayang," bisik Randy memberi kekuatan.Dokter Devi menggeser kursor pada layar monitor, menunjukkan bulatan-bulatan hitam yang cukup banyak."Hasilnya bagus sekali. Sel telurnya banyak yang sudah matang dan ukurannya ideal. Kita akan lakukan tindakan pengambilan sel telur nanti malam," jelas Dokter Devi.Penjelasannya itu, bagai bibit-bibit bunga pembawa harapan baru di taman Randy dan Dinda.Randy pun tersenyum lebar. Ia tidak kuasa menahan rasa haru. Saking senang ia sampai melontarkan pertanyaan beruntun, "Beneran bagus dok hasilnya? Maksud saya, peluangnya besar ‘kan? Tapi istri saya tetap aman, Dok?""Iya, bagus sekali. Tapi Pak Randy, tolong ingatkan Dokter Dinda untuk tetap tenang. Manajemen stres itu kunci utama. Jangan sampai pikiran yang terlalu berat memengaruhi
Sudah dua belas hari Dinda menerima obat guna meningkatkan kualitas dan kuantitas sel telurnya. Ini adalah hari terakhir. Namun, ini adalah akhir pekan.Beruntunglah ia bisa libur, tetapi tidak bisa menolak acara kumpul keluarga di rumah Laras. Di halaman rumah luas nan asri itu, tingkah si kembar asyik dengan dunia imajinasi.Laksa dan Leksa tampak gagah mengenakan jubah kecil ala Sherlock Holmes lengkap dengan topi yang dibelikan Dirga. Mereka dalam menyelidiki hilangnya stoples camilan tadi pagi.Laksa berjongkok di dekat semak, menyodorkan lensa cembungnya ke arah seekor serangga hijau."Kupu-kupu, apa kamu melihat ada orang asing yang masuk rumah ini?" tanya Laksa, jangan lupakan wajahnya yang berlagak serius.Leksa yang sedang memeriksa rumput langsung menoleh dan berkacak pinggang. "Hey Laksa! Dia itu belalang, belalang sembah, bukan kupu-kupu!"Tidak mau kalah, Laksa mendongak pada kembarannya. "Iya, ini belalang, namanya kupu-kupu, Leksa!""Nggak ada sejarahnya! Ini belalang
Bukannya langsung menjawab, Randy malah memandangi Dinda cukup lama. Pria itu lantas memeluk istrinya lebih erat."Mas?" panggil Dinda di balik dada Randy. Namun, Randy tetap diam.Pria itu bukannya diam tanpa alasan, kepalanya sedang berpikir keras. Baginya, kehadiran seorang anak itu anugerah, bukan keharusan yang dikejar sampai mengorbankan ketenangan batin. Randy … takut, jika mereka terlalu terobsesi, Dinda akan kehilangan jati dirinya sendiri."Mas Randy ... nggak mau ya?" tanya Dinda lagi, suaranya terdengar makin parau.Randy bergeming, hingga merasakan kemejanya basah. Ternyata tangisan Dinda makin lama makin deras hingga tubuh wanita itu bergetar.Melihat tangis sang istri yang begitu memilukan, hati Randy seperti diremas-remas.Sakit sekali.Randy melepaskan pelukannya, lalu menangkup pipi Dinda. Ibu jarinya mengusap air mata yang terus mengalir di pipi istrinya."Sayang, dengarkan saya. Sebenarnya saya nggak masalah kapan pun kita diberi anak. Mau sekarang, tahun depan, at







