Share

Sketsa
Sketsa
Penulis: Cheruu

1

“Apa?!”

Satu rentetan kata yang berasal dari Tian di ujung sana membuat Naya menghempaskan tubuhnya lemas di kursi kerjanya. Ia tahu kakak laki-lakinya itu suka bercanda, tapi di dengar dari sudut manapun, kali ini Tian benar-benar serius. Gadis itu sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, padahal akhir-akhir ini orang tua nya tidak membicarakan sesuatu yang serius seperti 'menikah' atau 'pertunangan'. Tapi, mengapa sekarang ada kabar mengejutkan seperti ini, bukan dari orangtuanya melainkan malah dari Tian. Tanpa menghubungi Naya? Apa Tian benar-benar bercanda?

“Dengar, kak. Kalau kau bercanda kali ini juga, maka aku akan berhenti mengerjakan proyek yang kau tawarkan padaku sekarang,” ujar Naya berharap kalau kakaknya sedang bercanda sekarang. Namun yang didengar gadis itu malah helaan napas kasar nan frustasi sebagai jawaban. Naya semakin meremas benda pipih yang masih setia menempel di telinganya.

“Heh, untuk apa aku bercanda dengan bahan candaan seperti ini? Aku juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan mereka. Tiba-tiba saja, mereka mengundangku untuk makan malam besok karena akan ada pertemuan antara keluarga kita dengan keluarga rekan bisnis ayah untuk membahas pertunanganmu,”

Naya memandang komputernya yang sudah penuh dengan desain-desain ruangan. Rencananya untuk desain villa yang akan dibangun atas nama kakaknya satu minggu lagi, tapi dengan kabar yang mengejutkan seperti ini rasanya ia ingin menghapus desain ruangan yang ia buat tanpa bersisa. Moodnya benar-benar hancur.

“Apa kau punya rencana?” Lirih Naya berharap.

Hening diantara mereka beberapa menit.

Nampaknya Tian sedang mencari-cari ide, atau malah sudah memiliki ide yang masih harus dipertimbangkan.

“Aku punya,”

“Kapan kakak pulang?”

“Sekitar setengah jam lagi aku sampai, jangan dibawa stress dulu,”

Panggilan pun diputus sepihak oleh Tian, menyisakan tampilan nama laki-laki itu dengan durasi panggilannya di ponsel. Sementara si pemilik ponsel sudah menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya yang di lipat di atas meja.

Tiba-tiba saat Naya sedang merenungi nasibnya, ponselnya bergetar. Membuat gadis itu bangkit dan merasa tidak yakin untuk mengecek ponselnya. Berharap bukan nomor ibu, ayah, ataupun bawahan mereka.

Selaasa send a picture.

Aninn send a messege.

Naya menghembuskan napas lega, untung saja notifikasinya hanyalah pesan kangen yang dikirim oleh kedua sahabatnya. Mereka berdua kebetulan sedang berlibur meskipun dengan tujuan yang berbeda. Senyuman timbul di wajah Naya ketika melihat foto konyol dari Sela yang menampakkan dirinya bergulung-gulung di salju bersama kekasihnya Karel, sementara Anin sedang mengirimkan pesan ingin segera pulang dari bulan madunya dan bercerita banyak dengan Naya.

“Hmm, kapan aku bisa meikmati hidupku seperti mereka dan menemukanmu?”

Manik gadis itu menyorot satu pigura besar yang di dalamnya terdapat lukisan laki-laki dengan rambut hitam legam dengan manik biru yang indah. Di bawah lukisan tersebut ada tulisan kecil bertuliskan ‘Gerald’.

***

Tian menghela napas frustasi. Ia sudah berjanji pada Naya untuk sampai di rumah tiga puluh menit lagi, namun tak disangka ia harus menemui klien terlebih dahulu untuk membahas apa saja yang mungkin ditambahkan oleh klien tersebut pada villa nantinya. Awalnya Tian hendak menolak, namun mengingat klien yang menghubunginya agak ‘unik’ alias menyebalkan dan gampang marah, ia jadi mengiyakan saja.

Mobil sedan putihnya telah memasuki pekarangan rumah dengan terburu. Ia memang selau terburu apabila ini menyangkut adiknya, apalagi kalau masalah seperti pertunangan tanpa persetujuan. Boro-boro melihat adiknya bertunangan, Tian saja masih mengawasi siapa saja laki-laki yang dekat dengan adiknya meski mereka hanya berteman.

Singkatnya, ia juga tak terima ada kabar yang mendadak seperti ini tanpa berdiskusi. Ia tahu rencana orangtuanya, tapi tidak dengan Naya.

“Nay!”

Suara Tian cukup menggema di rumah yang hanya ditinggali olehnya dan adiknya itu, membuat Naya langsung mendengar suara Tian dan menyembulkan kepalanya keluar dari pintu kamar. Ia menatap Tian dengan tatapan malas.

Benar-benar tidak dapat dipercaya. Lelaki itu sudah terlambat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan.

“Apa? Setelah dipikir lagi, kelihatanya kakak berbohong soal solusi tersebut, lebih baik aku tidur lagi saja,” ujar Naya sembari menguap.

“Hhh, tadi ada klien dan- Ah! Sudahlah, menjelaskannya padamu akan makin membuatmu tidak percaya pada kakak,”

Tian menarik adiknya itu untuk duduk di sofa ruang tengah. Naya dengan malas hanya mengikuti tarikan Tian dengan sesekali menguap karena ia benar-benar merasa mengantuk.

“Jadi? Ucapkan selama lima menit, atau aku akan kembali ke kamar dan menghapus semua desain untuk villa mu,”

“Apa?! Hey –“

Adiknya ini benar-benar. Kalau sudah ngambek ia akan bertingkah menyebalkan seperti ini. Bahkan sebelum Tian sempat protes pun, tangan Naya sudah mengeluarkan ponsel dari celananya dan sudah mensetel stopwatch.

“Sebenarnya aku ini kakakmu atau bawahanmu, sih,” ujar Tian menatap sebal Naya.

“Kurangi omong kosong dan segera bilang, atau kau akan kehabisan waktu,” Naya menunjuk stopwatchnya yang sudah menunjukkan satu menit berlalu.

“Oke, jadi..”

Apa solusi yang dipikirkan Tian sudah benar? Entah kenapa ia masih ragu dengan solusi yang dipikirkannya sekarang. Semua pikiran ini tadi juga sudah mengambil alih fokus Tian saat di jalan dan saat membahas hal penting dengan kliennya.

“Jadi...?” Naya mengikuti nada berbicara Tian karena mulai kesal saat kakaknya itu malah memilih untuk menjadi patung dibanding meneruskan jawabannya.

“Kenapa kau sangat tidak sabaran, sih! Sebentar, aku masih benar-benar bimbang!”

“Apa kakak baru saja meneriaki ku?”

Tian segera menutup mulutnya rapat, dan menunjukkan cengiran minta maaf. “Jadi, kau akan pergi sementara dari kota ini dengan alasan kau juga mengerjakan proyek perumahan yang sedang aku kerjakan di kota sebelah,” Tian menelan ludah setelah mengucapkan itu, seakan ia sudah mengatakan kesalahan besar.

“Oh, perumahan mewah yang di dekat perbukitan itu? Tapi, tunggu...kakak tidak benar-benar menyuruhku bekerja, kan?”

“Oh tentu saja bekerja. Agar alasan kita tidak terdengar seperti alasan dan realistis,” Tian menggunakan senyum pebisnis andalannya, membuat Naya mendecih dan menatap sebal Tian. 

“Kau akan disana kurang lebih satu bulan, sementara itu aku akan sesekali mengunjungimu dan mengendalikan keadaan disini,”

Naya nampak berpikir, “Apa tempat yang kutinggali nyaman? Lalu, kapan kita akan berangkat?”

“Aku yakin kau akan suka, tempatnya bernuansa hutan. Kau suka tempat seperti itu kan?”

Naya hanya menanggapinya dengan mengangguk.

“Dan untuk masalah berangkat, kita akan berangkat sore ini juga. Agar saat sampai disana matahari sudah terbit lagi,”

***

Sementara itu, di suatu rumah yang nampak tak terurus, seorang laki-laki berdiri di bagian halaman depan rumah itu. Lagi dan lagi dirinya terjebak disini, atau mungkin laki-laki itu memang ingin ke rumah ini.

Jika ditanya mengapa, dia pasti akan menggeleng dan tidak akan menemukan jawabannya. Rumah yang nampak minimalis dengan pekarangan yang kotor ini, entah apa yang membuat laki-laki itu tertarik untuk sekedar duduk di pinggiran kolam air mancur yang nampaknya sudah tidak berfungsi lama.

Padahal sudah beberapa kali warga desa menceritakan soal hantu yang menjelma menjadi kucing hitam dan cahaya yang tiba-tiba memancar dari rumah itu jika hari sudah mulai petang. Tidak tahu saja para warga itu kalau yang mereka bicarakan adalah kucing hitamnya dan kunang-kunang dalam pekarangan rumah itu.

Dasar mereka aneh.

“Sudah kuduga. Kau sedang apa disini? Ini sudah mau petang, kalau ada pasien bagaimana? Dasar orang aneh kenapa kau tertarik pada rumah kosong, ha?” Seorang wanita yang mengenakan seragam perawat menghampirinya, sembari terus menggosokkan tangannya karena cuaca yang mulai dingin dan mencekam. Wajar saja sebenarnya karena mereka ada di lokasi perbukitan.

“Kau tidak tahu harta karun apa yang ada disini, makanya kau tidak tertarik,”

Wanita itu mendecak malas, ia sudah hampir setahun bekerja dengan dokter dihadapannya ini, tapi sikapnya yang aneh tidak pernah berkurang darinya sedikitpun. Hidupnya tidak pernah mudah setelah resmi bekerja dengan pria dihadapannya ini.

“Ah! Sudahlah, ayo kembali. Lama-lama aku bisa gila karena hanya mencarimu hampir seharian penuh,”

Wanita itu meraih lampu minyak yang sempat ia letakkan di dekat gerbang rumah ini, dan menarik tangan laki-laki itu dengan cepat. Sementara itu yang ditarik hanya diam memperhatikan tangan wanita itu.

Deja vu?

***

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
menarik nih ceritanya.. pengen follow akun sosmed nya tp ga ketemu :( boleh kasih tau gaa?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status