Home / Fantasi / Snowborn Sword God / Bab 6: Musim Dingin Neraka

Share

Bab 6: Musim Dingin Neraka

Author: GSilva
last update publish date: 2026-03-13 12:01:59

[Usia Rowan: 12 Tahun] [Lokasi: Gubuk Hans - Desa Frosheim]

Musim dingin tahun ini datang membawa dendam

.

Biasanya, badai salju di Frosheim hanya berlangsung seminggu, memberi jeda bagi matahari untuk muncul sehari, lalu badai lagi. Tapi tahun ini berbeda. Langit tertutup awan hitam pekat selama dua bulan tanpa henti.

Di dalam gubuk reot itu, uap napas mereka membeku menjadi kristal es di udara sebelum menyentuh tanah. Kayu bakar sudah habis seminggu yang lalu. Perabot kayu—kursi makan, meja tua, bahkan rak sepatu—sudah mereka bakar demi mendapatkan sedikit kehangatan.

Tapi itu tidak cukup.

"Uhuk... uhuk...!"

Suara batuk Hans terdengar basah dan berat, seolah paru-parunya penuh air. Pria tua itu duduk meringkuk di dekat tungku yang hanya menyisakan bara merah redup. Wajahnya abu-abu, matanya cekung.

"Maafkan Ayah, Rowan..." bisik Hans, suaranya gemetar. "Ayah... tidak bisa pergi ke hutan. Kaki Ayah... tidak bisa digerakkan."

Rowan menatap kaki Hans. Kulitnya menghitam karena frostbite (radang dingin). Hans memaksakan diri bekerja di awal badai tanpa sepatu bot yang layak, hanya agar bisa membeli kentang. Sekarang, dia membayar harganya.

"Sudahlah, Yah. Hemat tenagamu," kata Rowan pelan. Dia menyelimuti kaki ayahnya dengan jubah tipis miliknya sendiri.

Di sudut lain, Maria terbaring diam. Dia tidak batuk. Dia terlalu lemah bahkan untuk batuk. Wanita itu memberikan jatah sup kentangnya kepada Rowan selama tiga hari terakhir dengan alasan "Ibu sedang puasa ". Rowan tahu itu bohong, tapi dia tidak bisa menolaknya karena tubuh anak-anaknya juga menjerit kelaparan.

[Status Window]

Rowan memejamkan mata, mengaktifkan satu-satunya skill analisis yang dia miliki. Dunia berubah menjadi data digital.

Target: Hans

Kondisi: Kritis.

Penyakit: [Paru-Paru Kristal Es]

Target: Maria

Kondisi: Koma Hipotermia.

Rowan mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya memutih.

Dia membuka status dirinya sendiri.

Nama: Rowan

Level: 11

Strength: 35

Agility: 28

Stamina: 12

Mana: 15

Tapi apa gunanya? Bisakah dia memukul badai salju agar berhenti? Tidak. Bisakah dia menendang penyakit keluar dari tubuh orang tuanya? Tidak. Bisakah dia menciptakan api atau makanan dari udara kosong? Tidak.

Dia butuh sihir penyembuh tingkat tinggi, atau setidaknya uang untuk membeli obat. Tapi dia tidak punya keduanya.

"Seharusnya aku tidak sombong," batin Rowan, air mata frustrasi menggenang. "Seharusnya aku menyisakan satu kartu obat."

Tiba-tiba, tangan dingin Maria bergerak lemah, menyentuh lutut Rowan.

"Rowan..." bisik wanita itu, matanya setengah terbuka tapi tidak fokus. "Jangan... jangan membenci dunia ini ya, Nak. Meskipun dingin... Dewa pasti punya rencana..."

Rowan menggigit bibirnya sampai berdarah. Rencana Dewa? Persetan dengan Dewa. Dewa yang mengirim badai ini ingin membunuh kalian.

"Ibu, bertahanlah. Aku akan keluar sebentar," kata Rowan, suaranya bergetar tapi tegas.

"Jangan... badai..." cegah Hans lemah.

"Aku kuat, Yah. Aku level... maksudku, aku sudah latihan," Rowan berbohong. Dia bangkit berdiri, mengenakan tudung jubah lusuhnya.

Dia berjalan ke pintu gubuk. Angin menderu seperti lolongan serigala di luar sana.

Rowan tahu, di Desa Frosheim, semua toko sudah tutup. Pedagang sudah mengungsi. Tidak ada yang jual obat. Hanya ada satu tempat yang lampunya masih menyala terang. Satu tempat yang cerobong asapnya masih mengepulkan asap hangat. Satu tempat yang gudangnya penuh daging asap dan obat mahal.

Rumah Kepala Desa.

Rowan menoleh sekali lagi ke arah dua sosok yang paling dicintainya di dunia ini. Mereka yang menyelamatkannya saat dia dibuang di salju sebagai bayi. Mereka yang rela kelaparan demi dia bisa makan.

Hati nurani Rowan, sisa-sisa moralitas manusia modernnya, berteriak: Mencuri itu salah! Itu kriminal!

Tapi kemudian dia melihat dada Maria yang hampir berhenti bergerak.

Logika dingin Rowan mengambil alih. Tatapan matanya berubah gelap.

Hukum diciptakan untuk orang yang kenyang. Bagi orang yang kelaparan, moralitas adalah kemewahan yang tidak mampu kami beli.

"Aku akan menjadi iblis malam ini," bisik Rowan pada kegelapan. "Jika menjadi penjahat bisa membuat kalian sehat lagi, aku akan merampok seluruh dunia."

Dia membuka pintu, dan melangkah keluar menuju badai salju.

Langkah kakinya ringan, tapi hatinya terasa lebih berat dari gunung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Snowborn Sword God   Bab 20: Misi Pengawalan

    Rowan melangkah masuk ke dalam guild, diikuti oleh Sylphi. Suasana di dalam langsung terasa ramai. Beberapa petualang berdiri di depan meja resepsionis, beberapa berbicara santai dengan rekan mereka, sementara yang lain terlihat sibuk merapikan perlengkapan. Namun, yang menarik perhatian banyak orang bukanlah Rowan melainkan Sylphi. Sebagai seorang elf yang cantik dan kulit putih,Tatapan mereka tajam, penuh rasa penasaran. Rowan tahu betul apa yang ada dalam pikiran mereka. Elf di dekat manusia pasti adalah seorang budak. Namun, dia tidak peduli.Sylphi, di sisi lain, merasakan tatapan itu dengan jelas. Meskipun dia sudah terbiasa, masih ada sedikit rasa canggung di matanya. Matanya menunduk, mencoba mengabaikan pandangan yang terus mengarah kepadanya. Namun, Rowan bisa melihat dari sudut matanya bahwa itu masih terasa berat baginya.Rowan meliriknya sekilas. “Jangan pedulikan mereka,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sylphi. Dengan langkah tegas, dia bergerak m

  • Snowborn Sword God   Bab 19: Persiapan Perjalanan

    Pagi di Kota Lotus terasa cerah dan hangat. Cahaya matahari jatuh lembut di jalanan batu, membuat kota terlihat hidup sejak pagi hari. Pasar sudah ramai, suara pedagang bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang, sementara aroma makanan dan rempah memenuhi udara.Di tengah keramaian itu, Rowan dan Sylphi berjalan berdampingan.Hari ini mereka tidak sekadar berjalan-jalan. Mereka sedang mempersiapkan perjalanan ke kota berikutnya.Rowan sudah memutuskan untuk tidak menggunakan kereta kuda. Kali ini mereka akan berjalan kaki, bukan hanya untuk menghemat, tetapi juga karena Rowan ingin melatih Sylphi selama perjalanan.Perjalanan itu tidak singkat. Untuk mencapai kota berikutnya, mereka membutuhkan waktu sekitar dua minggu jika berjalan kaki.Itu berarti mereka harus mempersiapkan banyak hal.Makanan, perlengkapan, dan senjata.Rowan berhenti di depan sebuah toko pandai besi. Papan kayu di atas pintu bergoyang pelan tertiup angin, menandakan tempat itu sudah lama berdir

  • Snowborn Sword God   Bab 18: Suara yang Hilang

    [Restoran Kota Lotus]Restoran itu sederhana, tapi ramai. Aroma makanan memenuhi udara—daging panggang, sup hangat, dan bumbu tajam bercampur menjadi satu. Suara tawa, percakapan, dan dentingan gelas saling bertabrakan, membuat ruangan terasa hidup.Namun di tengah keramaian itu, ada satu meja yang terasa berbeda.Beberapa orang melirik. Tatapan sinis. Tidak suka.Sumbernya jelas.Rowan dan Sylphi.Tubuh elf itu masih kurus, kotor, dan lemah. Meskipun tertutup jubah, penampilannya tetap mencolok. Tidak seperti pelanggan lain.Rowan duduk tenang. Tidak peduli.“…makan.”Sylphi langsung bergerak.Tidak bertanya. Tidak menolak.Dia mulai makan.Awalnya pelan. Ragu.Lalu—lebih cepat.Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh makanan hangat itu. Sup yang layak. Daging yang benar-benar daging. Roti yang tidak keras seperti batu.Sudah lama.Terlalu lama.Air mata jatuh.Diam. Tanpa suara.Rowan memperhatikannya sebentar.“…hanya karena ini.”Makanan murah.Namun bagi Sylphi—itu cukup

  • Snowborn Sword God   Bab 17: Yang Terlupakan

    [Ruang Budak – Dalam Gedung]Udara di dalam gedung pasar budak terasa berat dan pengap. Bau keringat, darah, dan kelembapan bercampur menjadi satu, membuat siapa pun yang masuk akan langsung merasa tidak nyaman. Cahaya dari batu sihir di dinding hanya cukup untuk menerangi sebagian lorong, sementara bagian lain tenggelam dalam bayangan gelap.Rowan berjalan perlahan di dalam ruangan itu.Di kiri dan kanan, deretan sel berdiri rapat. Di dalamnya, berbagai ras dikurung tanpa perbedaan—manusia, beastkin, bahkan elf. Tidak ada yang terlihat layak. Beberapa duduk diam dengan tatapan kosong, beberapa terbaring lemah, dan ada juga yang bahkan tidak bergerak sama sekali.Penjaga di sampingnya mendengus pelan. “Jadi, Tuan…” “Mau yang seperti apa?”Rowan tidak menoleh. “…aku mau lihat dulu.”Penjaga mendecak. “…cih.”Dia bergumam pelan. “Banyak juga yang cuma lihat-lihat.” “Ujungnya tidak beli.”Rowan tidak peduli.Dia terus berjalan.Semakin dalam—Semakin gelap.Cahaya batu sihir mulai b

  • Snowborn Sword God   Bab 16: Kota Lotus

    [Gerbang Kota Lotus]Kereta mereka berhenti, pintu kereta terbuka, penumpang turun satu persatu, rowan merasakan udara yang berbeda tidak lagi dingin tapi hangat, rowan turun bagian akhir, matanya langsung melihat kedepan gerbang kota yang besar, orang orang yang ramai mengantri untuk masuk dan keluar.Beberapa anggota guild membantu kusir yang terluka.“Cepat, bawa dia ke pusat pemulihan.”“Lukanya dalam.”Mereka bergerak cepat.Salah satu anggota guild menoleh ke Rowan.“Hei, anak muda.”Rowan berhenti.“Kalau kau cari penginapan…”Dia menunjuk ke arah utara.“…ke sana.”“Kau pasti langsung tahu tempatnya.”Rowan mengangguk.“…terima kasih.”Tanpa banyak kata rowang langsung pergi.[Jalan Kota – Pagi Hari]Kota Lotus yang terasa hiudp lebih ramai dari eldrham, banyak pedagang yang saling berteriak agar pelanggan membeli dagangannya, banyak dagangan berjejer, makanan, senjata, kain. Rowab berjalan pelan matanya bergerak pada sesuatu yang tidak biasa bagi dirinya, sebuah kereta dengan

  • Snowborn Sword God   Bab 15: Perjalanan

    [Hutan Frosheim]Salju masih turun.Tipis.Beberapa sosok berdiri di tengah hutan.Ketua guild.Dan beberapa anggota lainnya.Tanah di depan mereka—berantakan.Tubuh-tubuh tergeletak di atas salju.Darah membeku.Bekas tebasan terlihat jelas.Cepat.Bersih.“…tidak lama.”Salah satu anggota berlutut.Memeriksa luka.“Sekali tebas.”“…tanpa ragu.”Asisten guild menelan ludah.“Guild Master… apakah Anda tahu siapa pelakunya?”Hening.Ketua guild menatap tubuh-tubuh itu.Matanya tenang.Lalu—senyum tipis muncul.“…aku punya gambaran.”Dia menghela napas pelan.“Aku sudah bilang…”Tatapannya sedikit berubah.“…jangan buat masalah di desa.”Hening.“Tapi…”Dia menoleh ke arah hutan yang lebih dalam.“…ini terjadi di luar desa.”Senyumnya melebar sedikit.“…jadi…”“…sulit menyalahkannya.”Beberapa anggota guild saling melirik.“…Anda tidak akan menyelidikinya?”Ketua guild terkekeh pelan.“Yang mati…”“…mencari masalah duluan.”Hening.“…anggap saja ini pelajaran.”Dia berbalik.“Kita sele

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status