LOGIN[Lokasi: Gudang Penyimpanan Kepala Desa]
Rumah Kepala Desa adalah satu-satunya bangunan batu dua lantai di Frosheim. Dindingnya licin, dan pagar besi setinggi tiga meter. Bagi orang biasa, ini benteng. Bagi Rowan, ini cuma taman bermain. Wush! Rowan melompati pagar besi tanpa suara. Kakinya mendarat di salju selembut kucing. Kecepatan Rowan sudah di luar nalar. Dia merayap di dinding, mencari ventilasi udara di lantai dua. "Mudah," batin Rowan. "Terlalu mudah." Dia masuk lewat celah ventilasi, mendarat di atas tumpukan karung gandum. Hawa hangat langsung menyapa kulitnya yang beku. Aroma surga menusuk hidungnya—daging asap, keju tua, dan roti gandum yang baru dipanggang. Perut Rowan berbunyi keras, melilit nyeri. Dia ingin memakan semuanya. Tapi dia menahan diri. Fokus. Obat dulu. Makanan nanti. Matanya yang tajam (berkat Mata Dewa Pedang) memindai ruangan gelap itu. Di rak paling atas, ada botol kaca berisi cairan merah. .[Item: Minor Healing Potion] Efek: Menyembuhkan penyakit paru-paru ringan dan memulihkan stamina. - "Itu dia!" mata Rowan berbinar. Dia memanjat rak itu dengan gesit. Tangannya meraih dua botol ramuan merah dan sepotong besar paha daging domba asap. Ayah, Ibu... kalian selamat. Rowan tersenyum lebar. Dia turun dari rak, bersiap keluar lewat jalan yang sama. Kakinya melangkah menuju ventilasi. Namun, saat kakinya menginjak lantai kayu di dekat pintu keluar... TING! Sebuah benang tipis yang tak kasat mata terputus. Bukan benang biasa. Itu adalah Benang Mana. Rowan, yang buta sihir (karena tidak punya skill deteksi mana), tidak melihat jebakan sihir sederhana itu. Wiuuu! Wiuuu! Wiuuu! Suara sirene sihir melengking memekakkan telinga. Cahaya merah berkedip-kedip di seluruh ruangan gudang. "Sialan! Alarm sihir?!" umpat Rowan. Jantungnya mencelos. "Aku lupa orang kaya punya mainan beginian!" BRAK! Pintu gudang didobrak kasar. Cahaya obor menyilaukan mata Rowan yang terbiasa gelap. "Lihat siapa tamu kecil kita," suara berat dan sombong terdengar. Kepala Desa (Baron Frosheim) masuk dengan mantel bulu mewah dan tongkat sihir. Di belakangnya, berdiri empat penjaga berbadan besar memegang tombak. Dan di sela-sela kaki mereka, Denten menyeringai lebar, seolah sudah menunggu momen ini seharian. "Sudah kuduga," kata Kepala Desa, menatap jijik pada Rowan yang memegang daging curian. "Anak pungut dari keluarga miskin pasti punya darah maling. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Rowan Terkepung. Kepala Desa tertawa. "Tangkap dia, aku mau dia utuh untuk tontonan nanti malam." "Siap, Tuan!" Dua penjaga maju. Mereka Level 15. Lengkap dengan Chainmail Armor dan tombak besi. Rowan cuma Level 11. Pakai baju kain tipis dan pedang kayu. Secara logika, Rowan kalah telak. Tapi Rowan punya satu hal yang mereka tidak punya: Teknik Pedang Dewa. Seorang penjaga menusukkan tombaknya. Wush! Rowan tidak mundur. Dia justru maju menabrak jarak serang tombak itu. Dengan gerakan minimalis, dia menepis ujung tombak ke samping, lalu memutar tubuhnya.[Skill: Low Kick] Krak! Rowan menendang tempurung lutut si penjaga dengan kekuatan penuh. Penjaga itu menjerit, kakinya bengkok ke arah yang salah. Dia ambruk. "Apa?!" Kepala Desa terbelalak. "Bocah itu... gerakannya..." Penjaga kedua menyerang dari belakang. Rowan melompat salto ke belakang, mendarat di punggung penjaga itu, dan memukul kepala penjaga yang tertutup helm dengan pedang kayu. Denten yang tadi menyeringai kini mundur ketakutan. "Ayah! Dia monster! Bunuh dia!" Kepala Desa mendengus. "Lincah juga untuk ukuran tikus got. Tapi..." Kepala Desa mengangkat tongkat sihirnya. "Kau lupa satu hal, Nak. Ini dunia sihir."[Spell: Gravity Bind] Cahaya ungu keluar dari tongkat Kepala Desa. Tiba-tiba, tubuh Rowan terasa berat. Lututnya gemetar. Dia jatuh tersungkur ke lantai kayu, wajahnya menghantam lantai keras. "ARGHHH!" Rowan mencoba bangun, tapi gravitasi menekannya seperti ada gajah duduk di punggungnya.[Stamina: 2/15] [Status: Paralyzed (Lumpuh)] "Fisikmu kuat, tapi kau tidak punya pertahanan sihir sama sekali," ejek Kepala Desa sambil berjalan mendekat. Dia menendang tangan Rowan sampai pedang kayunya terlepas. "Ambil obatnya," perintah Kepala Desa pada Denten. Denten maju dengan berani (sekarang karena Rowan sudah tidak berdaya). Dia merampas botol obat di saku rowan. "Terima kasih untuk obatnya, Tikus," bisik Denten, lalu menendang wajah Rowan yang sedang ditekan ke lantai. BUK! Hidung Rowan patah lagi. Darah segar mengalir. Pandangannya kabur. Dia melihat botol obat itu—harapan hidup orang tuanya—diambil menjauh. "Tidak... kumohon..." suara Rowan parau, bercampur darah. Harga dirinya hancur. " tolong... obat itu... orang tuaku sakit..." Kepala Desa berjongkok, menjambak rambut Rowan agar mendongak."orang tuamu sakit? Bagus. Itu artinya berkurang satu keluarga miskin di desaku," bisik Kepala Desa dingin. "Ikat dia. Bawa ke alun-alun. Bunyikan lonceng desa. Biar semua orang melihat hukuman bagi pencuri di rumah bangsawan." Kegelapan menyelimuti kesadaran Rowan. Bukan karena pingsan, tapi karena kebencian yang mendidih membakar akal sehatnya.Rowan melangkah masuk ke dalam guild, diikuti oleh Sylphi. Suasana di dalam langsung terasa ramai. Beberapa petualang berdiri di depan meja resepsionis, beberapa berbicara santai dengan rekan mereka, sementara yang lain terlihat sibuk merapikan perlengkapan. Namun, yang menarik perhatian banyak orang bukanlah Rowan melainkan Sylphi. Sebagai seorang elf yang cantik dan kulit putih,Tatapan mereka tajam, penuh rasa penasaran. Rowan tahu betul apa yang ada dalam pikiran mereka. Elf di dekat manusia pasti adalah seorang budak. Namun, dia tidak peduli.Sylphi, di sisi lain, merasakan tatapan itu dengan jelas. Meskipun dia sudah terbiasa, masih ada sedikit rasa canggung di matanya. Matanya menunduk, mencoba mengabaikan pandangan yang terus mengarah kepadanya. Namun, Rowan bisa melihat dari sudut matanya bahwa itu masih terasa berat baginya.Rowan meliriknya sekilas. “Jangan pedulikan mereka,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sylphi. Dengan langkah tegas, dia bergerak m
Pagi di Kota Lotus terasa cerah dan hangat. Cahaya matahari jatuh lembut di jalanan batu, membuat kota terlihat hidup sejak pagi hari. Pasar sudah ramai, suara pedagang bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang, sementara aroma makanan dan rempah memenuhi udara.Di tengah keramaian itu, Rowan dan Sylphi berjalan berdampingan.Hari ini mereka tidak sekadar berjalan-jalan. Mereka sedang mempersiapkan perjalanan ke kota berikutnya.Rowan sudah memutuskan untuk tidak menggunakan kereta kuda. Kali ini mereka akan berjalan kaki, bukan hanya untuk menghemat, tetapi juga karena Rowan ingin melatih Sylphi selama perjalanan.Perjalanan itu tidak singkat. Untuk mencapai kota berikutnya, mereka membutuhkan waktu sekitar dua minggu jika berjalan kaki.Itu berarti mereka harus mempersiapkan banyak hal.Makanan, perlengkapan, dan senjata.Rowan berhenti di depan sebuah toko pandai besi. Papan kayu di atas pintu bergoyang pelan tertiup angin, menandakan tempat itu sudah lama berdir
[Restoran Kota Lotus]Restoran itu sederhana, tapi ramai. Aroma makanan memenuhi udara—daging panggang, sup hangat, dan bumbu tajam bercampur menjadi satu. Suara tawa, percakapan, dan dentingan gelas saling bertabrakan, membuat ruangan terasa hidup.Namun di tengah keramaian itu, ada satu meja yang terasa berbeda.Beberapa orang melirik. Tatapan sinis. Tidak suka.Sumbernya jelas.Rowan dan Sylphi.Tubuh elf itu masih kurus, kotor, dan lemah. Meskipun tertutup jubah, penampilannya tetap mencolok. Tidak seperti pelanggan lain.Rowan duduk tenang. Tidak peduli.“…makan.”Sylphi langsung bergerak.Tidak bertanya. Tidak menolak.Dia mulai makan.Awalnya pelan. Ragu.Lalu—lebih cepat.Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh makanan hangat itu. Sup yang layak. Daging yang benar-benar daging. Roti yang tidak keras seperti batu.Sudah lama.Terlalu lama.Air mata jatuh.Diam. Tanpa suara.Rowan memperhatikannya sebentar.“…hanya karena ini.”Makanan murah.Namun bagi Sylphi—itu cukup
[Ruang Budak – Dalam Gedung]Udara di dalam gedung pasar budak terasa berat dan pengap. Bau keringat, darah, dan kelembapan bercampur menjadi satu, membuat siapa pun yang masuk akan langsung merasa tidak nyaman. Cahaya dari batu sihir di dinding hanya cukup untuk menerangi sebagian lorong, sementara bagian lain tenggelam dalam bayangan gelap.Rowan berjalan perlahan di dalam ruangan itu.Di kiri dan kanan, deretan sel berdiri rapat. Di dalamnya, berbagai ras dikurung tanpa perbedaan—manusia, beastkin, bahkan elf. Tidak ada yang terlihat layak. Beberapa duduk diam dengan tatapan kosong, beberapa terbaring lemah, dan ada juga yang bahkan tidak bergerak sama sekali.Penjaga di sampingnya mendengus pelan. “Jadi, Tuan…” “Mau yang seperti apa?”Rowan tidak menoleh. “…aku mau lihat dulu.”Penjaga mendecak. “…cih.”Dia bergumam pelan. “Banyak juga yang cuma lihat-lihat.” “Ujungnya tidak beli.”Rowan tidak peduli.Dia terus berjalan.Semakin dalam—Semakin gelap.Cahaya batu sihir mulai b
[Gerbang Kota Lotus]Kereta mereka berhenti, pintu kereta terbuka, penumpang turun satu persatu, rowan merasakan udara yang berbeda tidak lagi dingin tapi hangat, rowan turun bagian akhir, matanya langsung melihat kedepan gerbang kota yang besar, orang orang yang ramai mengantri untuk masuk dan keluar.Beberapa anggota guild membantu kusir yang terluka.“Cepat, bawa dia ke pusat pemulihan.”“Lukanya dalam.”Mereka bergerak cepat.Salah satu anggota guild menoleh ke Rowan.“Hei, anak muda.”Rowan berhenti.“Kalau kau cari penginapan…”Dia menunjuk ke arah utara.“…ke sana.”“Kau pasti langsung tahu tempatnya.”Rowan mengangguk.“…terima kasih.”Tanpa banyak kata rowang langsung pergi.[Jalan Kota – Pagi Hari]Kota Lotus yang terasa hiudp lebih ramai dari eldrham, banyak pedagang yang saling berteriak agar pelanggan membeli dagangannya, banyak dagangan berjejer, makanan, senjata, kain. Rowab berjalan pelan matanya bergerak pada sesuatu yang tidak biasa bagi dirinya, sebuah kereta dengan
[Hutan Frosheim]Salju masih turun.Tipis.Beberapa sosok berdiri di tengah hutan.Ketua guild.Dan beberapa anggota lainnya.Tanah di depan mereka—berantakan.Tubuh-tubuh tergeletak di atas salju.Darah membeku.Bekas tebasan terlihat jelas.Cepat.Bersih.“…tidak lama.”Salah satu anggota berlutut.Memeriksa luka.“Sekali tebas.”“…tanpa ragu.”Asisten guild menelan ludah.“Guild Master… apakah Anda tahu siapa pelakunya?”Hening.Ketua guild menatap tubuh-tubuh itu.Matanya tenang.Lalu—senyum tipis muncul.“…aku punya gambaran.”Dia menghela napas pelan.“Aku sudah bilang…”Tatapannya sedikit berubah.“…jangan buat masalah di desa.”Hening.“Tapi…”Dia menoleh ke arah hutan yang lebih dalam.“…ini terjadi di luar desa.”Senyumnya melebar sedikit.“…jadi…”“…sulit menyalahkannya.”Beberapa anggota guild saling melirik.“…Anda tidak akan menyelidikinya?”Ketua guild terkekeh pelan.“Yang mati…”“…mencari masalah duluan.”Hening.“…anggap saja ini pelajaran.”Dia berbalik.“Kita sele
[Lokasi: Alun-alun Desa Frosheim - Tengah Malam]Teng... Teng... Teng...Lonceng desa berbunyi. Suaranya berat, membangunkan seluruh penduduk Frosheim dari tidur lelap mereka.Di tengah badai salju yang mengamuk, obor-obor dinyalakan. Warga desa—tukang roti, pandai besi, petani—keluar dari rumah m
[Usia Rowan: 12 Tahun] [Lokasi: Gubuk Hans - Desa Frosheim] Musim dingin tahun ini datang membawa dendam . Biasanya, badai salju di Frosheim hanya berlangsung seminggu, memberi jeda bagi matahari untuk muncul sehari, lalu badai lagi. Tapi tahun ini berbeda. Langit tertutup awan hitam pekat selam
[Lokasi: Gerbang Desa Frosheim] "Wah, lihat," kata Denten, menendang perut babi hutan hasil buruan Rowan. "Si Anak Pungut bawa makan siang buat kita." Denten adalah anak Kepala Desa. Usianya 10 tahun, tubuhnya bongsor karena gizi yang cukup, dan dia punya hobi menyiksa anak-anak yang lebih lemah.
[Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Pinggiran Hutan Frosheim - Zona Aman]Tiga tahun kemudian.Hutan Frosheim di pagi hari tertutup kabut tebal. Embun membeku di ujung dedaunan. Suasana sunyi, hanya ada suara derit salju yang dipijak.Rowan, kini berusia tujuh tahun, berdiri diam di balik batang pohon b







