Home / Fantasi / Snowborn Sword God / Bab 5: Harga Sebuah Daging

Share

Bab 5: Harga Sebuah Daging

Author: GSilva
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-13 11:58:40

[Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Gerbang Desa Frosheim]

"Wah, lihat," kata Denten, menendang perut babi hutan hasil buruan Rowan. "Si Anak Pungut bawa makan siang buat kita."

Denten adalah anak Kepala Desa. Usianya 10 tahun, tubuhnya bongsor karena gizi yang cukup, dan dia punya hobi menyiksa anak-anak yang lebih lemah.

Rowan menatap mereka datar. Tangannya masih mencengkeram kaki babi hutan itu erat-erat. "Minggir," katanya pelan.

"Hah? Kau bicara apa?" Denten mendekatkan telinganya dengan gaya mengejek. "Minggir? Kau menyuruhku minggir di tanah ayahku?"

"Itu milikku," kata Rowan, suaranya mulai menajam. "Aku memburunya di hutan. Minggir atau..."

"Atau apa?" potong Denten. Dia maju selangkah, lalu mendorong dada Rowan keras-keras.

BRUK!

Rowan jatuh terduduk. Biasanya, dia bisa menahan dorongan itu. Dia bisa mematahkan jari Denten dalam sekejap. Tapi sekarang...

[Stamina: 0/15] [Status: Kelelahan Ekstrem]

Tubuhnya tidak mau bergerak. Otot-ototnya mati rasa setelah menyeret beban 50kg selama dua jam. Dia seperti HP yang baterainya tinggal 1%, layarnya masih nyala tapi fungsinya mati.

"Lihat ini, teman-teman," tawa Denten. "Dia bahkan tidak bisa berdiri. Lemah."

"Babi ini..." Denten menginjak kepala babi hutan itu. "Adalah pajak jalan. Kau lewat gerbang desa, kau bayar pajak. Bawa ini ke rumahku, Leyus, Alen!"

"Jangan sentuh!" teriak Rowan. Dia mencoba bangkit, mencoba meraih kaki Denten.

BUGH!

Denten menendang wajah Rowan. Darah segar mengalir dari hidung Rowan, menetes ke salju putih. Pandangannya berkunang-kunang.

"Dasar Anak Pungut," ludah Denten tepat di wajah Rowan. "Kau pikir kau siapa? Pahlawan? Kau itu cuma parasit. Ayahku bilang Hans itu hanya penebang kayu yang tidak berguna, dan kau adalah anak yang dia pungut. Kalian berdua cocok mati kelaparan."

Rowan terdiam. Bukan karena takut. Tapi karena amarah yang begitu besar hingga mencekik lehernya. Dia melihat Leyus dan Alen menyeret babi hutan itu pergi sambil tertawa-tawa. Babi itu... harapan makan malam orang tuanya... diseret begitu saja.

Dan Rowan, sang dewa pedang, hanya bisa terbaring di lumpur dengan hidung patah karena tubuh sialan ini kehabisan tenaga.

Malamnya, di gubuk reot.

Suasana hening. Tidak ada pesta daging panggang. Tidak ada sup hangat. Hanya ada Hans yang sedang membersihkan luka lebam di wajah Rowan dengan air hangat dan kain perca.

Pria tua itu menangis tanpa suara. Air matanya jatuh ke pipi Rowan, terasa panas.

"Maafkan Ayah, Rowan..." suara Hans pecah, penuh penyesalan. "Maafkan Ayah yang tidak berguna ini."

Rowan mendesis perih saat lukanya ditekan. "Ini bukan salah Ayah. Denten yang..."

"Kalau saja Ayah orang kaya..." potong Hans, tangannya gemetar. "Kalau saja Ayah punya kuasa... mereka tidak akan berani menyentuhmu. Kau dipukuli, dan Ayah bahkan tidak bisa membalas mereka karena takut diusir dari desa."

Rowan menatap mata ayahnya. Dia melihat ketidakberdayaan seorang pria yang mencintai anaknya tapi dihancurkan oleh kemiskinan.

Rasa sakit di wajahnya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit melihat air mata Hans. Di kehidupan sebelumnya, Rowan tidak pernah peduli pada orang lain. Tapi malam ini, melihat pria tua ini menangis karena merasa gagal melindunginya, sesuatu di dalam hati Rowan berubah.

Tangan kecil Rowan menggenggam jari kasar Hans.

"Jangan minta maaf, Yah," bisik Rowan. Matanya, yang biasanya tenang, kini membara dengan tekad dingin yang menakutkan untuk ukuran anak tujuh tahun.

"Luka ini akan sembuh”

Rowan menatap kegelapan di luar jendela, ke arah rumah Kepala Desa yang terang benderang.

Aku akan membakar 'kemiskinan' ini sampai tak tersisa abu untuk dikenang. Aku akan menjadi begitu kuat sampai Dewa pun harus menunduk padaku.

Malam itu, [Rowan - Level 2] bersumpah. Masa bermainnya sudah selesai. Dia akan mengejar kekuatan dengan cara apapun. Bahkan jika itu artinya dia harus menghancurkan tubuhnya sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Snowborn Sword God   Bab 9: Kepulangan yang Hampa dan Lahirnya Sang Iblis

    [Usia Rowan: 8 Tahun] [Lokasi: Jalan Menuju Gubuk Hans - Dini Hari]Badai salju masih mengamuk, seolah alam ingin menghapus jejak darah dan dosa yang baru saja tumpah di alun-alun desa.Di tengah putihnya salju, sesosok tubuh kecil berjalan tertatih-tatih melawan angin. Setiap langkah adalah siksaan neraka.Seret... Pincang... Seret...Kaki kanan Rowan yang baru disambung terasa kaku dan asing. Bekas luka kasar berwarna cokelat tua di pergelangan kakinya bergesekan panas dengan kulit sepatu bot yang bolong. Tulang-tulangnya menjerit setiap kali menapak tanah, tapi dia memaksanya bergerak.Dia merogoh saku jubahnya yang compang-camping. Kosong.Dia meraba balik bajunya. Kosong.Tidak ada botol obat. Tidak ada daging. Tidak ada roti hangat. Semuanya sudah dirampas kembali oleh Denten dan para penjaga sialan itu.Rowan menunduk, menatap kedua tangannya yang gemetar karena kedinginan. Tangan kanannya kini memiliki pola jahitan luka yang mengerikan di tiga jarinya.Air mata Rowan sudah mem

  • Snowborn Sword God   Bab 8: Eksekusi Anak Pungut

    [Lokasi: Alun-alun Desa Frosheim - Tengah Malam]Teng... Teng... Teng...Lonceng desa berbunyi. Suaranya berat, membangunkan seluruh penduduk Frosheim dari tidur lelap mereka.Di tengah badai salju yang mengamuk, obor-obor dinyalakan. Warga desa—tukang roti, pandai besi, petani—keluar dari rumah mereka dengan wajah ketakutan. Mereka tahu arti lonceng tengah malam: Eksekusi.Di tengah alun-alun, sebuah panggung kayu.Rowan diseret paksa oleh dua penjaga. Tubuhnya dilempar ke atas panggung yang lantainya tertutup es licin. Kedua tangannya diikat rantai besi ke sebuah balok kayu yang berlumuran darah beku lama."Lepaskan!" teriak Rowan, suaranya serak. Dia meronta, tapi tubuh kecilnya kalah kuat melawan rantai itu."Lihatlah!"Suara menggelegar Kepala Desa (Baron Frosheim) memecah keheningan. Dia berdiri di atas panggung, mengenakan jubah bulu putih yang mewah—kontras dengan baju Rowan yang compang-camping."Warga Frosheim! Malam ini kita menangkap seekor tikus!" Kepala Desa menunjuk Ro

  • Snowborn Sword God   Bab 7: Tikus di Gudang Singa

    [Lokasi: Gudang Penyimpanan Kepala Desa]Rumah Kepala Desa adalah satu-satunya bangunan batu dua lantai di Frosheim. Dindingnya licin, dan pagar besi setinggi tiga meter.Bagi orang biasa, ini benteng. Bagi Rowan, ini cuma taman bermain.Wush!Rowan melompati pagar besi tanpa suara. Kakinya mendarat di salju selembut kucing. Kecepatan Rowan sudah di luar nalar.Dia merayap di dinding, mencari ventilasi udara di lantai dua. "Mudah," batin Rowan. "Terlalu mudah."Dia masuk lewat celah ventilasi, mendarat di atas tumpukan karung gandum. Hawa hangat langsung menyapa kulitnya yang beku. Aroma surga menusuk hidungnya—daging asap, keju tua, dan roti gandum yang baru dipanggang.Perut Rowan berbunyi keras, melilit nyeri. Dia ingin memakan semuanya. Tapi dia menahan diri. Fokus. Obat dulu. Makanan nanti.Matanya yang tajam (berkat Mata Dewa Pedang) memindai ruangan gelap itu. Di rak paling atas, ada botol kaca berisi cairan merah.. [Item: Minor Healing Potion] Efek: Menyembuhkan penyakit par

  • Snowborn Sword God   Bab 6: Musim Dingin Neraka

    [Usia Rowan: 8 Tahun] [Lokasi: Gubuk Hans - Desa Frosheim]Musim dingin tahun ini datang membawa dendam. Biasanya, badai salju di Frosheim hanya berlangsung seminggu, memberi jeda bagi matahari untuk muncul sehari, lalu badai lagi. Tapi tahun ini berbeda. Langit tertutup awan hitam pekat selama dua bulan tanpa henti.Di dalam gubuk reot itu, uap napas mereka membeku menjadi kristal es di udara sebelum menyentuh tanah. Kayu bakar sudah habis seminggu yang lalu. Perabot kayu—kursi makan, meja tua, bahkan rak sepatu—sudah mereka bakar demi mendapatkan sedikit kehangatan.Tapi itu tidak cukup."Uhuk... uhuk...!"Suara batuk Hans terdengar basah dan berat, seolah paru-parunya penuh air. Pria tua itu duduk meringkuk di dekat tungku yang hanya menyisakan bara merah redup. Wajahnya abu-abu, matanya cekung."Maafkan Ayah, Rowan..." bisik Hans, suaranya gemetar. "Ayah... tidak bisa pergi ke hutan. Kaki Ayah... tidak bisa digerakkan."Rowan menatap kaki Hans. Kulitnya menghitam karena frostbit

  • Snowborn Sword God   Bab 5: Harga Sebuah Daging

    [Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Gerbang Desa Frosheim]"Wah, lihat," kata Denten, menendang perut babi hutan hasil buruan Rowan. "Si Anak Pungut bawa makan siang buat kita."Denten adalah anak Kepala Desa. Usianya 10 tahun, tubuhnya bongsor karena gizi yang cukup, dan dia punya hobi menyiksa anak-anak yang lebih lemah.Rowan menatap mereka datar. Tangannya masih mencengkeram kaki babi hutan itu erat-erat. "Minggir," katanya pelan."Hah? Kau bicara apa?" Denten mendekatkan telinganya dengan gaya mengejek. "Minggir? Kau menyuruhku minggir di tanah ayahku?""Itu milikku," kata Rowan, suaranya mulai menajam. "Aku memburunya di hutan. Minggir atau...""Atau apa?" potong Denten. Dia maju selangkah, lalu mendorong dada Rowan keras-keras.BRUK!Rowan jatuh terduduk. Biasanya, dia bisa menahan dorongan itu. Dia bisa mematahkan jari Denten dalam sekejap. Tapi sekarang...[Stamina: 0/15] [Status: Kelelahan Ekstrem]Tubuhnya tidak mau bergerak. Otot-ototnya mati rasa setelah menyeret beban 50kg se

  • Snowborn Sword God   Bab 4: Perburuan Pertama

    [Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Pinggiran Hutan Frosheim - Zona Aman]Tiga tahun kemudian.Hutan Frosheim di pagi hari tertutup kabut tebal. Embun membeku di ujung dedaunan. Suasana sunyi, hanya ada suara derit salju yang dipijak.Rowan, kini berusia tujuh tahun, berdiri diam di balik batang pohon besar. Tubuhnya tidak lagi seringkih dulu. Meski masih kurus karena kurang gizi, matanya tajam dan fokus.Di tangannya, bukan lagi ranting rapuh, melainkan Tongkat Kayu Ulin yang sudah dia runcingkan ujungnya dan dibakar di atas api agar keras seperti besi.Di depannya, sekitar sepuluh meter, target pertamanya sedang mengais akar di bawah salju.[Status Window] Target: Babi Hutan Salju (Snow Boar) Level: 2 Berat: 80 kg Status: Lapar / Agresif Kelemahan: Telinga bagian dalam, Mata. "Daging..." gumam Rowan pelan. Air liurnya terbit. Sudah seminggu Hans tidak mendapatkan buruan. Maria mulai batuk-batuk karena kedinginan dan kurang asupan lemak. Babi hutan ini bukan sekadar monster bagi Ro

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status