Share

Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian
Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian
Author: Machika

Bab 1

Author: Machika
Mendengar jawabanku yang tegas, Emma menangis tersedu-sedu di ranjang ruang bersalin.

Kedua orang tua kami juga seketika menarik diri dari kebahagiaan menyambut cucu.

Asisten istriku, Frandy, tiba-tiba maju dan berteriak keras, "Jacob! Kamu ini masih punya hati atau nggak?! Demi kamu dan keluarga ini, Kak Emma sudah berkorban sebanyak apa? Kamu buta ya?!"

"Cuma karena Kak Emma beli sofa, lalu tidur di ruang tamu dan nggak tidur denganmu, kamu jadi sengaja cari gara-gara?"

Ayah Emma, Haris, yang mendengar alasan tak masuk akal itu pun semakin murka. "Oh, jadi gara-gara ini? Emma hamil, dia nggak punya mood melakukan hal-hal begitu denganmu, terus kamu mau cerai? Kamu masih pantas disebut laki-laki?!"

Semua orang menatapku dengan marah. Kobaran amarah di mata mereka seolah-olah ingin membakarku hidup-hidup.

Melihat situasi itu, ayahku buru-buru maju untuk menenangkan suasana. "Jangan marah dulu. Anak ini mungkin terlalu lama nunggu di luar ruang bersalin sampai otaknya kacau dan bicara ngawur! Kita baru saja dikaruniai cucu laki-laki yang sehat, ini kebahagiaan besar. Mana bisa bicara soal cerai di saat seperti ini."

Ibuku juga segera mendekat, mengeluarkan tisu untuk menghapus air mata Emma. "Emma, jangan dimasukkan ke hati. Jacob cuma khilaf."

"Kamu baru melahirkan dan tubuhmu masih lemah. Jangan sampai menangis berlebihan dan merusak kesehatan sendiri. Yang paling penting sekarang adalah menjalani masa nifas dengan baik."

Perawat dan para pasien di ranjang sebelah pun tercengang melihat kejadian itu.

Namun, nada bicaraku tidak melunak sedikit pun. "Ayah, pikiranku sangat jernih. Aku serius dengan ucapanku, pernikahan ini harus berakhir."

Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan surat perjanjian cerai dan menyerahkannya kepada Emma. "Tanda tangani."

Melihat aku bersikeras seperti ini, ayah mertuaku akhirnya tak bisa menahan diri lagi dan membentakku dengan murka, "Jacob, dasar bajingan nggak tahu balas budi! Emma susah payah mengandung selama sembilan bulan demi kamu. Hari ini dia bahkan kesakitan setengah mati di ruang bersalin demi melahirkan anakmu dan kamu malah langsung minta cerai?"

"Apa kamu masih punya hati nurani terhadap dia? Terhadap kami para orang tua?"

Ayahku sampai pucat karena sikap keras kepalaku. Dia mengangkat tangan hendak memukulku, tetapi ditahan mati-matian oleh ibuku.

Sambil terengah-engah, dia menatapku dengan tajam. "Kamu harus menghancurkan keluarga ini dulu baru puas? Kalau ada masalah kenapa nggak dibicarakan baik-baik? Kenapa harus bicara cerai di saat seperti ini?"

"Nggak ada yang perlu dibicarakan." Aku menatap Emma di ranjang rumah sakit. Tangisannya perlahan berhenti, tetapi bahunya masih bergetar pelan.

Emma membuka mulut dengan suara serak dan sengau karena menangis. "Jacob, katakan padaku, kenapa?"

"Nggak ada alasan," jawabku dengan dingin. "Hubungan kita sudah selesai."

Setelah mengatakan itu, aku malas tinggal lebih lama lagi dan langsung berbalik hendak pergi.

Frandy tiba-tiba menarik tanganku dan membentakku dengan marah, "Jangan pergi! Kak Emma masih lemah, masa kamu pergi begitu saja?"

Aku melepaskan tangan Frandy. "Kamu cuma asisten, apa urusannya denganmu?"

Dia tetap tidak mau menyerah, mencengkeram kerah bajuku sambil berkata dengan sok benar, "Ya, aku cuma asisten Kak Emma, tapi kelakuanmu ini benar-benar nggak bisa ditoleransi oleh siapa pun yang masih punya hati nurani!"

"Laki-laki mana yang setega kamu, mengajukan cerai tepat setelah istrinya melahirkan anak untuknya? Jangankan disebut laki-laki, bahkan disebut manusia pun kamu nggak pantas!"

Aku langsung menghempaskan tangannya dan tinjuku menghantam wajahnya.

Terdengar bunyi gedebuk pelan. Frandy terhuyung mundur dua langkah, lalu jatuh ke lantai sambil menutupi pipinya dengan wajah penuh keterkejutan.

Emma berusaha keras bangkit dari ranjang rumah sakit. Selang infusnya sampai ikut tertarik dan bergoyang.

"Kalau ada masalah, lampiaskan padaku! Kenapa malah menyeret orang yang nggak bersalah?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 9

    Putusan pengadilan datang dengan sangat cepat.Emma dinyatakan bersalah karena berselingkuh selama pernikahan dan berniat mencelakai anak di bawah umur. Dia divonis cerai tanpa membawa harta apa pun.Ditambah lagi rekaman percakapan yang mengandung rencana mencelakai, meskipun belum sempat dilakukan, tetap dianggap sangat serius. Dia pun dijatuhi hukuman penjara satu tahun enam bulan.Frandy sebagai kaki tangan sekaligus pelaku yang merusak rumah tangga orang lain juga dijatuhi hukuman penjara satu tahun.Setelah putusan dibacakan, ayah dan ibu Emma langsung memutuskan hubungan dengan putri mereka di tempat.Dalam semalam, pasangan itu seolah-olah menua sepuluh tahun. Saat keluar dari pengadilan, bahkan punggung mereka sudah tidak bisa tegak lagi.Mereka tidak bisa menatap Emma lagi, hanya membungkuk dalam-dalam kepadaku sambil berkata dengan suara tercekat, "Maaf, kami gagal mendidik anak kami sampai membuatmu begitu menderita."Nasib Frandy sebenarnya lebih buruk. Dia bukan hanya keh

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 8

    Aku menatapnya dari atas, lalu mengeluarkan alat perekam yang sudah lama kusiapkan dari saku dan menekan tombol putar.Setelah suara dengung listrik yang dingin berlalu, terdengar suara Frandy yang bernada menggoda, "Emma, menurutmu nanti anak ini bakal jadi anakku atau anaknya?"Tawa Emma terdengar malas dan santai. "Mana aku tahu? Pokoknya setiap kali berbuat, kita nggak pernah pakai pengaman. Kita lihat saja nanti, sperma siapa yang lebih kuat."Frandy tertawa pelan. "Kalau nanti lahirnya mirip aku, apa Jacob si bodoh itu bakal marah sampai gila?""Bagus kalau dia sampai gila. Nanti aku tinggal nangis sedikit, lalu suruh dia besarin anak kita."Rekaman itu tiba-tiba hening beberapa detik, lalu terdengar Frandy kembali bertanya, "Kalau ternyata anak ini bukan anakku, gimana?"Suara Emma langsung melembut, seperti sedang membujuk Frandy. "Kalau nanti yang lahir bukan anakmu, ya aku nggak mau. Saat itu, aku tinggal buat sedikit 'kecelakaan' supaya anak ini mati. Setelah itu, kita pelan

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 7

    Aku memandang dua orang yang panik di ruang sidang itu, lalu berkata dengan dingin, "Kalau mereka nggak senekat itu sampai berani selingkuh terang-terangan di siang bolong, aku juga nggak akan punya bukti sejelas ini."Ruang sidang langsung gempar, suara perdebatan bergemuruh, seolah-olah akan merobohkan atap."Memang kita nggak bisa menilai hati seseorang dari wajahnya, pasangan berengsek ini benar-benar nggak tahu malu!""Jacob kasihan banget, sampai dijebak seperti ini oleh orang terdekatnya!""Pantas dia bersikeras mau cerai. Siapa yang tahan dikhianati seperti ini?"Aku mengangkat tangan memberi isyarat agar semua tenang, lalu memandang Emma yang wajahnya pucat pasi.Aku menunjuk gambar struktur sofa di layar. "Bagian bawah sofa ini sudah dikosongkan dan sengaja dibuat ruang rahasia, ukurannya pas untuk menyembunyikan seorang pria dewasa."Pengacara segera menyambungkan panggilan video, kamera diarahkan ke ruang tamu rumahku. Di layar, para pekerja sedang memperagakan mekanisme so

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 6

    Menghadapi semua tuduhan itu, hatiku sama sekali tidak bergejolak. Aku sudah menahan diri selama berhari-hari demi menunggu hari ini.Dengan tenang, tatapanku menyapu Emma dan Frandy yang tampak penuh kemenangan. "Yang Mulia Hakim, izinkan aku memutar video berikutnya."Setelah mendapat izin dari hakim, pengacara langsung mengoperasikan perangkat. Tampilan di layar besar berganti menjadi ruang tamu pada malam hari.Cahaya bulan menembus celah tirai, samar-samar memperlihatkan bentuk sofa. Tiba-tiba, sandaran sofa perlahan terangkat.Semua orang yang melihat adegan itu langsung kebingungan."Apa-apaan ini .... Kita malah dikasih lihat sofa canggih?""Sofa ini ada fungsi begitu juga? Kalau buat nyimpan selimut sih praktis, tapi sekarang gunanya buat apa?""Eh, sebentar, sudut bukanya terlalu lebar. Itu kayaknya bukan ruang penyimpanan biasa."Saat itu juga, ekspresi Frandy akhirnya menunjukkan sedikit kepanikan. Wajah Emma juga berubah pucat. Namun, aku tidak memberi kesempatan mundur un

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 5

    Mendengar perkataan Juan, seluruh ruang sidang langsung menjadi sunyi.Juan memasukkan flashdisk ke perangkat pemutar di ruang sidang, lalu membuka folder bernama "Bukti" yang berisi beberapa video.Saat salah satunya diputar, layar besar langsung menampilkan ruang tamu rumahku.Emma mengenakan pakaian rumah longgar sambil duduk di sofa. Tubuhnya naik turun perlahan mengikuti napasnya dan sudut kamera kebetulan memperlihatkan pipinya yang memerah.Awalnya gambar terlihat tenang tanpa sesuatu yang aneh. Namun beberapa menit kemudian, gerakannya perlahan mulai berubah. Bahunya bergetar, kedua tangannya tanpa sadar mencengkeram sandaran sofa.Ruang sidang langsung sunyi senyap, semua orang saling memandang."Ini ...." Hakim mengernyit.Para pengunjung sidang tak bisa menahan diri untuk berbisik-bisik, tatapan mereka dipenuhi kebingungan.Di layar, wajah Emma tampak memerah, butiran keringat muncul di pelipisnya, jelas menunjukkan bahwa dia sedang berada dalam keadaan yang sulit dijelaskan

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 4

    Melihat itu, ayahku gemetar karena marah. Dia langsung menampar wajahku dengan keras."Jacob! Sampai kapan kamu mau keras kepala begini? Emma sudah banyak menderita demi kamu, apa kamu buta? Hasil tes DNA sudah jelas di depan mata, tapi kamu masih mau menghancurkan keluarga ini?"Suara tamparan yang nyaring langsung terdengar. Ayahku mengerahkan seluruh tenaganya untuk menamparku. Wajahku segera memerah.Suara bisik-bisik di sekitar langsung meledak. Ada yang menunjukku sambil memaki, "Nggak punya hati nurani!"Ada juga yang mengarahkan kamera ponsel sambil mengeluh, "Kenapa laki-laki zaman sekarang bisa setega ini?"Mata Emma yang sebelumnya sudah merah kini benar-benar dipenuhi air mata. Dalam tatapannya kepadaku, secercah harapan terakhir perlahan padam."Kita bertemu di pengadilan." Aku menutupi pipiku yang terasa panas. Suaraku tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas.Tubuh Emma langsung gemetar hebat. Air matanya mengalir deras, lalu dia bertanya dengan suara serak, "Jacob, ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status