공유

Bab 2

작가: Machika
Melihatku benar-benar sampai memukul orang, ayah mertuaku semakin murka. "Waktu itu aku benar-benar buta sampai mau menikahkan Emma denganmu!"

Setelah dibantu berdiri oleh ibu Emma, Frandy berkata dengan wajah penuh keluhan, "Om, Tante, jangan salahkan Kak Jacob. Semua ini salahku."

"Aku nggak seharusnya ikut menyela dengan emosi di saat seperti ini dan buat Kak Jacob marah. Dia juga pasti merasa nggak enak hati, makanya jadi seperti ini. Kak Emma baru saja melahirkan, jangan sampai kalian semua bertengkar gara-gara aku."

Melihat Frandy seperti itu, hati Emma semakin tidak nyaman. Dia pun menghiburnya, "Frandy, ini bukan salahmu. Jacob ...."

Belum selesai berbicara, dia kembali terisak-isak. Setelah beberapa saat, dia akhirnya bisa menenangkan diri.

"Jangan dimasukkan ke hati, mungkin belakangan ini suasana hati dia memang lagi buruk." Setelah menenangkan Frandy, Emma menoleh kepadaku. Tatapannya tampak sedikit memelas.

"Jacob, sekarang kita sudah punya anak. Dia begitu lucu, jadi kenapa kamu tetap bersikeras ingin cerai?"

Ayah mertuaku yang mendengar itu sudah tidak tahan lagi. Dia melangkah maju dan menatapku dengan marah.

"Jacob, jadi tekadmu benar-benar sudah bulat ingin cerai? Menurutku kamu pasti punya wanita lain di luar sana! Kalau nggak, mana mungkin kamu bisa setega ini, minta cerai tepat setelah Emma lahiran?!"

Frandy seperti baru tersadar dan langsung membentak dengan marah, "Pantas saja, padahal Kak Emma masih membelamu! Tapi kenapa harus mengajukan cerai tepat di hari Kak Emma lahiran? Bisa-bisanya kamu setega ini?"

Emma menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Sayang, kamu benar-benar punya wanita lain di luar?"

Mendengar Frandy terus memanggil "Kak Emma", ekspresiku tetap datar. "Ada atau nggak, itu nggak penting. Yang penting, aku dan Emma harus cerai."

Amarah ayah mertuaku benar-benar tersulut oleh sikapku. Dia menunjuk ke arah pintu dan berteriak kepadaku, "Oke! Oke! Dasar nggak tahu balas budi! Kami nggak menyambutmu di sini! Kalian juga, pergi!"

"Mau cerai, 'kan? Tunggu saja, lima hari lagi kita ketemu di pengadilan. Aku akan buat reputasi bajingan sepertimu hancur!"

Orang tuaku masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi tatapan galak ayah dan ibu Emma membuat mereka terdiam kembali.

Begitu keluar dari ruang rawat, ayahku langsung menarikku dengan wajah penuh kebingungan. "Jacob, sebenarnya ada apa denganmu? Dulu hubunganmu dengan Emma baik sekali, kenapa tiba-tiba mau cerai, apalagi di saat seperti ini?"

Dia menghela napas panjang, lalu tenggelam dalam kenangan. "Ayah masih ingat waktu kalian baru bersama dulu. Kamu setiap hari lengket dengan Emma, di mata dan hatimu cuma ada dia."

"Pernah suatu kali Emma masuk angin, tengah malam kamu keliling hampir setengah kota cuma demi beliin bubur yang ingin dia makan. Waktu pulang, seluruh tubuhmu basah kuyup, tapi kamu malah tersenyum bodoh sambil bilang akhirnya berhasil beli buburnya. Dulu kalian begitu mesra, kenapa sekarang jadi begini?"

Kata-kata ayah membuat sudut mataku tanpa sadar menitikkan dua garis air mata. Aku mengusap wajahku, lalu berkata dengan suara berat, "Ayah, itu semua sudah jadi masa lalu."

Setelah berkata begitu, aku melepaskan tangan ayahku dan langsung berjalan menuju lift.

Sesampainya di bawah, kakak kelasku, Juan, sedang menungguku di samping mobil.

Setelah masuk mobil, melihat wajahku yang masam, dia menggoda, "Nggak mau tes DNA saja? Toh masih ada 50% kemungkinan itu anakmu."

Aku tertawa pahit. "Jangan bercanda lagi. Lima hari lagi, tolong bantu aku selesaikan urusan pengadilan."

Aku memakai earphone, mencari rekaman suara itu, lalu kembali mendengarkannya sambil mentertawakan diriku sendiri.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 9

    Putusan pengadilan datang dengan sangat cepat.Emma dinyatakan bersalah karena berselingkuh selama pernikahan dan berniat mencelakai anak di bawah umur. Dia divonis cerai tanpa membawa harta apa pun.Ditambah lagi rekaman percakapan yang mengandung rencana mencelakai, meskipun belum sempat dilakukan, tetap dianggap sangat serius. Dia pun dijatuhi hukuman penjara satu tahun enam bulan.Frandy sebagai kaki tangan sekaligus pelaku yang merusak rumah tangga orang lain juga dijatuhi hukuman penjara satu tahun.Setelah putusan dibacakan, ayah dan ibu Emma langsung memutuskan hubungan dengan putri mereka di tempat.Dalam semalam, pasangan itu seolah-olah menua sepuluh tahun. Saat keluar dari pengadilan, bahkan punggung mereka sudah tidak bisa tegak lagi.Mereka tidak bisa menatap Emma lagi, hanya membungkuk dalam-dalam kepadaku sambil berkata dengan suara tercekat, "Maaf, kami gagal mendidik anak kami sampai membuatmu begitu menderita."Nasib Frandy sebenarnya lebih buruk. Dia bukan hanya keh

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 8

    Aku menatapnya dari atas, lalu mengeluarkan alat perekam yang sudah lama kusiapkan dari saku dan menekan tombol putar.Setelah suara dengung listrik yang dingin berlalu, terdengar suara Frandy yang bernada menggoda, "Emma, menurutmu nanti anak ini bakal jadi anakku atau anaknya?"Tawa Emma terdengar malas dan santai. "Mana aku tahu? Pokoknya setiap kali berbuat, kita nggak pernah pakai pengaman. Kita lihat saja nanti, sperma siapa yang lebih kuat."Frandy tertawa pelan. "Kalau nanti lahirnya mirip aku, apa Jacob si bodoh itu bakal marah sampai gila?""Bagus kalau dia sampai gila. Nanti aku tinggal nangis sedikit, lalu suruh dia besarin anak kita."Rekaman itu tiba-tiba hening beberapa detik, lalu terdengar Frandy kembali bertanya, "Kalau ternyata anak ini bukan anakku, gimana?"Suara Emma langsung melembut, seperti sedang membujuk Frandy. "Kalau nanti yang lahir bukan anakmu, ya aku nggak mau. Saat itu, aku tinggal buat sedikit 'kecelakaan' supaya anak ini mati. Setelah itu, kita pelan

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 7

    Aku memandang dua orang yang panik di ruang sidang itu, lalu berkata dengan dingin, "Kalau mereka nggak senekat itu sampai berani selingkuh terang-terangan di siang bolong, aku juga nggak akan punya bukti sejelas ini."Ruang sidang langsung gempar, suara perdebatan bergemuruh, seolah-olah akan merobohkan atap."Memang kita nggak bisa menilai hati seseorang dari wajahnya, pasangan berengsek ini benar-benar nggak tahu malu!""Jacob kasihan banget, sampai dijebak seperti ini oleh orang terdekatnya!""Pantas dia bersikeras mau cerai. Siapa yang tahan dikhianati seperti ini?"Aku mengangkat tangan memberi isyarat agar semua tenang, lalu memandang Emma yang wajahnya pucat pasi.Aku menunjuk gambar struktur sofa di layar. "Bagian bawah sofa ini sudah dikosongkan dan sengaja dibuat ruang rahasia, ukurannya pas untuk menyembunyikan seorang pria dewasa."Pengacara segera menyambungkan panggilan video, kamera diarahkan ke ruang tamu rumahku. Di layar, para pekerja sedang memperagakan mekanisme so

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 6

    Menghadapi semua tuduhan itu, hatiku sama sekali tidak bergejolak. Aku sudah menahan diri selama berhari-hari demi menunggu hari ini.Dengan tenang, tatapanku menyapu Emma dan Frandy yang tampak penuh kemenangan. "Yang Mulia Hakim, izinkan aku memutar video berikutnya."Setelah mendapat izin dari hakim, pengacara langsung mengoperasikan perangkat. Tampilan di layar besar berganti menjadi ruang tamu pada malam hari.Cahaya bulan menembus celah tirai, samar-samar memperlihatkan bentuk sofa. Tiba-tiba, sandaran sofa perlahan terangkat.Semua orang yang melihat adegan itu langsung kebingungan."Apa-apaan ini .... Kita malah dikasih lihat sofa canggih?""Sofa ini ada fungsi begitu juga? Kalau buat nyimpan selimut sih praktis, tapi sekarang gunanya buat apa?""Eh, sebentar, sudut bukanya terlalu lebar. Itu kayaknya bukan ruang penyimpanan biasa."Saat itu juga, ekspresi Frandy akhirnya menunjukkan sedikit kepanikan. Wajah Emma juga berubah pucat. Namun, aku tidak memberi kesempatan mundur un

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 5

    Mendengar perkataan Juan, seluruh ruang sidang langsung menjadi sunyi.Juan memasukkan flashdisk ke perangkat pemutar di ruang sidang, lalu membuka folder bernama "Bukti" yang berisi beberapa video.Saat salah satunya diputar, layar besar langsung menampilkan ruang tamu rumahku.Emma mengenakan pakaian rumah longgar sambil duduk di sofa. Tubuhnya naik turun perlahan mengikuti napasnya dan sudut kamera kebetulan memperlihatkan pipinya yang memerah.Awalnya gambar terlihat tenang tanpa sesuatu yang aneh. Namun beberapa menit kemudian, gerakannya perlahan mulai berubah. Bahunya bergetar, kedua tangannya tanpa sadar mencengkeram sandaran sofa.Ruang sidang langsung sunyi senyap, semua orang saling memandang."Ini ...." Hakim mengernyit.Para pengunjung sidang tak bisa menahan diri untuk berbisik-bisik, tatapan mereka dipenuhi kebingungan.Di layar, wajah Emma tampak memerah, butiran keringat muncul di pelipisnya, jelas menunjukkan bahwa dia sedang berada dalam keadaan yang sulit dijelaskan

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 4

    Melihat itu, ayahku gemetar karena marah. Dia langsung menampar wajahku dengan keras."Jacob! Sampai kapan kamu mau keras kepala begini? Emma sudah banyak menderita demi kamu, apa kamu buta? Hasil tes DNA sudah jelas di depan mata, tapi kamu masih mau menghancurkan keluarga ini?"Suara tamparan yang nyaring langsung terdengar. Ayahku mengerahkan seluruh tenaganya untuk menamparku. Wajahku segera memerah.Suara bisik-bisik di sekitar langsung meledak. Ada yang menunjukku sambil memaki, "Nggak punya hati nurani!"Ada juga yang mengarahkan kamera ponsel sambil mengeluh, "Kenapa laki-laki zaman sekarang bisa setega ini?"Mata Emma yang sebelumnya sudah merah kini benar-benar dipenuhi air mata. Dalam tatapannya kepadaku, secercah harapan terakhir perlahan padam."Kita bertemu di pengadilan." Aku menutupi pipiku yang terasa panas. Suaraku tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas.Tubuh Emma langsung gemetar hebat. Air matanya mengalir deras, lalu dia bertanya dengan suara serak, "Jacob, ka

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status