Compartir

Bab 3

Autor: Machika
Aku benar-benar tidak ingin merepotkan kakak kelasku, jadi aku memintanya mengantarku ke sebuah hotel untuk menginap.

Entah sudah dini hari pukul berapa ketika aku akhirnya tertidur dalam keadaan setengah sadar.

Siang keesokan harinya, suara ketukan pintu yang tergesa-gesa membangunkanku. Baru saja aku membuka pintu, sekelompok orang langsung menyerbu masuk.

"Pak Jacob, boleh tahu kenapa Anda mengajukan cerai tepat setelah istri Anda selesai melahirkan?"

"Ada rumor yang mengatakan Anda nggak bisa menjaga diri selama pernikahan dan bermain di luar, apakah itu benar?"

"Bu Emma telah melahirkan anak untuk Anda, tapi Anda malah begitu kejam. Apakah Anda nggak merasa bersalah terhadapnya?"

Kilat lampu kamera meledak-ledak di depan mataku. Alat perekam dan mikrofon hampir menempel di wajahku.

Rombongan orang itu memegang ponsel sambil melakukan siaran langsung dan merekam video ke arahku. Raut wajah mereka dipenuhi amarah, seolah-olah merekalah pihak yang berada di posisi benar, dan akulah yang pantas dibenci.

Keributan itu pun dengan cepat menarik lebih banyak orang untuk menonton. Setelah mengetahui apa yang terjadi, orang-orang yang menonton juga memandangku dengan tatapan penuh kebencian.

Seorang reporter wanita berusaha keras menyelinap ke barisan paling depan, lalu bertanya dengan tajam, "Pak Jacob, menurut sumber terpercaya, selama masa kehamilan istri Anda, kalian sudah tidur terpisah. Apakah ini berarti pernikahan kalian sebenarnya sudah retak sejak lama?"

"Dan apakah keputusan Anda mengajukan cerai tepat di hari persalinannya memang sudah direncanakan sejak awal?"

Reporter pria lain segera menyusul dengan pertanyaan lain. "Ada perawat yang membocorkan bahwa di ruang bersalin Anda bukan hanya menolak menggendong anak, tapi juga memaksa istri Anda yang baru melahirkan untuk menandatangani surat cerai di depan orang tua kalian. Apa penjelasan Anda mengenai hal ini?"

Mendengar perkataan mereka, barulah aku tahu bahwa semua tindakanku kemarin ternyata direkam sepenuhnya oleh perawat dan diunggah ke internet.

Dalam sekejap, internet dipenuhi hujatan dari para netizen. Hanya dalam satu malam, aku sudah menjadi pendosa yang dihina seluruh dunia maya.

Aku memandang kamera-kamera itu, lalu berkata dengan tenang, "Nggak ada hal yang perlu dijelaskan."

Jawabanku langsung memicu kemarahan semua orang.

"Gila, kalau nggak lihat sendiri, siapa yang percaya ada laki-laki seperti ini? Mengajukan cerai tepat di hari istrinya melahirkan."

"Masih perlu ditebak? Pasti sudah punya wanita lain di luar. Cowok berengsek cocoknya sama pelakor, biarkan mereka terjerat bersama seumur hidup."

"Cerai saja! Kasihan sekali istrinya. Kalau anaknya nanti tahu punya ayah seperti ini, pas sudah besar pasti malu."

Saat aku tenggelam dalam lautan cacian, kedua orang tuaku menopang Emma yang datang ke lokasi.

Efek setelah melahirkan masih belum hilang. Wajah Emma pucat pasi, seluruh tubuhnya terlihat sangat lemah.

Ayah dan ibuku membantunya berdiri di depanku. Dia langsung bertanya dengan khawatir, "Sayang, kamu nggak apa-apa?"

Seolah-olah tidak punya tenaga untuk berbicara, suara Emma terdengar sangat pelan. Meskipun begitu, dia tetap tidak lupa mengkhawatirkanku.

Melihat matanya yang penuh cinta, aku hanya menggeleng tanpa berkata apa-apa.

Melihat reaksiku, ayahku pun berkata dengan serius, "Jacob, aku dan ibumu sudah memikirkannya sepanjang malam, tapi tetap nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba memperlakukan Emma seperti ini."

"Kamu anak kandung kami. Bagaimanapun juga, aku nggak percaya kalau kamu adalah orang seperti ini."

"Jadi kami curiga, mungkin kamu salah paham terhadap Emma. Semalam kami buru-buru melakukan tes DNA dan anak yang dilahirkan Emma memang darah dagingmu. Jadi, bisa-bisanya kamu tega mengajukan cerai?"

Sambil berkata begitu, ayahku melemparkan laporan tes DNA ke depanku.

Aku memungut hasil tes DNA itu dari lantai.

Ibuku terus membujuk, "Jacob, Emma melihat siaran langsung tentang kamu yang diwawancarai dan dihujat di internet. Dia khawatir kalau terjadi sesuatu padamu, jadi dia langsung datang tanpa memedulikan kondisi tubuhnya sendiri. Bahkan kedua orang tuanya nggak bisa menghentikannya."

"Dia selalu memikirkanmu setiap saat, kamu nggak boleh menyakitinya seperti ini."

"Dengar kata Ibu, cepat minta maaf padanya dan akui kesalahanmu."

Namun, menghadapi nasihat tulus dari kedua orang tuaku, aku sama sekali tidak tergerak. Di depan semua orang, aku merobek hasil tes DNA itu hingga berkeping-keping.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 9

    Putusan pengadilan datang dengan sangat cepat.Emma dinyatakan bersalah karena berselingkuh selama pernikahan dan berniat mencelakai anak di bawah umur. Dia divonis cerai tanpa membawa harta apa pun.Ditambah lagi rekaman percakapan yang mengandung rencana mencelakai, meskipun belum sempat dilakukan, tetap dianggap sangat serius. Dia pun dijatuhi hukuman penjara satu tahun enam bulan.Frandy sebagai kaki tangan sekaligus pelaku yang merusak rumah tangga orang lain juga dijatuhi hukuman penjara satu tahun.Setelah putusan dibacakan, ayah dan ibu Emma langsung memutuskan hubungan dengan putri mereka di tempat.Dalam semalam, pasangan itu seolah-olah menua sepuluh tahun. Saat keluar dari pengadilan, bahkan punggung mereka sudah tidak bisa tegak lagi.Mereka tidak bisa menatap Emma lagi, hanya membungkuk dalam-dalam kepadaku sambil berkata dengan suara tercekat, "Maaf, kami gagal mendidik anak kami sampai membuatmu begitu menderita."Nasib Frandy sebenarnya lebih buruk. Dia bukan hanya keh

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 8

    Aku menatapnya dari atas, lalu mengeluarkan alat perekam yang sudah lama kusiapkan dari saku dan menekan tombol putar.Setelah suara dengung listrik yang dingin berlalu, terdengar suara Frandy yang bernada menggoda, "Emma, menurutmu nanti anak ini bakal jadi anakku atau anaknya?"Tawa Emma terdengar malas dan santai. "Mana aku tahu? Pokoknya setiap kali berbuat, kita nggak pernah pakai pengaman. Kita lihat saja nanti, sperma siapa yang lebih kuat."Frandy tertawa pelan. "Kalau nanti lahirnya mirip aku, apa Jacob si bodoh itu bakal marah sampai gila?""Bagus kalau dia sampai gila. Nanti aku tinggal nangis sedikit, lalu suruh dia besarin anak kita."Rekaman itu tiba-tiba hening beberapa detik, lalu terdengar Frandy kembali bertanya, "Kalau ternyata anak ini bukan anakku, gimana?"Suara Emma langsung melembut, seperti sedang membujuk Frandy. "Kalau nanti yang lahir bukan anakmu, ya aku nggak mau. Saat itu, aku tinggal buat sedikit 'kecelakaan' supaya anak ini mati. Setelah itu, kita pelan

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 7

    Aku memandang dua orang yang panik di ruang sidang itu, lalu berkata dengan dingin, "Kalau mereka nggak senekat itu sampai berani selingkuh terang-terangan di siang bolong, aku juga nggak akan punya bukti sejelas ini."Ruang sidang langsung gempar, suara perdebatan bergemuruh, seolah-olah akan merobohkan atap."Memang kita nggak bisa menilai hati seseorang dari wajahnya, pasangan berengsek ini benar-benar nggak tahu malu!""Jacob kasihan banget, sampai dijebak seperti ini oleh orang terdekatnya!""Pantas dia bersikeras mau cerai. Siapa yang tahan dikhianati seperti ini?"Aku mengangkat tangan memberi isyarat agar semua tenang, lalu memandang Emma yang wajahnya pucat pasi.Aku menunjuk gambar struktur sofa di layar. "Bagian bawah sofa ini sudah dikosongkan dan sengaja dibuat ruang rahasia, ukurannya pas untuk menyembunyikan seorang pria dewasa."Pengacara segera menyambungkan panggilan video, kamera diarahkan ke ruang tamu rumahku. Di layar, para pekerja sedang memperagakan mekanisme so

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 6

    Menghadapi semua tuduhan itu, hatiku sama sekali tidak bergejolak. Aku sudah menahan diri selama berhari-hari demi menunggu hari ini.Dengan tenang, tatapanku menyapu Emma dan Frandy yang tampak penuh kemenangan. "Yang Mulia Hakim, izinkan aku memutar video berikutnya."Setelah mendapat izin dari hakim, pengacara langsung mengoperasikan perangkat. Tampilan di layar besar berganti menjadi ruang tamu pada malam hari.Cahaya bulan menembus celah tirai, samar-samar memperlihatkan bentuk sofa. Tiba-tiba, sandaran sofa perlahan terangkat.Semua orang yang melihat adegan itu langsung kebingungan."Apa-apaan ini .... Kita malah dikasih lihat sofa canggih?""Sofa ini ada fungsi begitu juga? Kalau buat nyimpan selimut sih praktis, tapi sekarang gunanya buat apa?""Eh, sebentar, sudut bukanya terlalu lebar. Itu kayaknya bukan ruang penyimpanan biasa."Saat itu juga, ekspresi Frandy akhirnya menunjukkan sedikit kepanikan. Wajah Emma juga berubah pucat. Namun, aku tidak memberi kesempatan mundur un

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 5

    Mendengar perkataan Juan, seluruh ruang sidang langsung menjadi sunyi.Juan memasukkan flashdisk ke perangkat pemutar di ruang sidang, lalu membuka folder bernama "Bukti" yang berisi beberapa video.Saat salah satunya diputar, layar besar langsung menampilkan ruang tamu rumahku.Emma mengenakan pakaian rumah longgar sambil duduk di sofa. Tubuhnya naik turun perlahan mengikuti napasnya dan sudut kamera kebetulan memperlihatkan pipinya yang memerah.Awalnya gambar terlihat tenang tanpa sesuatu yang aneh. Namun beberapa menit kemudian, gerakannya perlahan mulai berubah. Bahunya bergetar, kedua tangannya tanpa sadar mencengkeram sandaran sofa.Ruang sidang langsung sunyi senyap, semua orang saling memandang."Ini ...." Hakim mengernyit.Para pengunjung sidang tak bisa menahan diri untuk berbisik-bisik, tatapan mereka dipenuhi kebingungan.Di layar, wajah Emma tampak memerah, butiran keringat muncul di pelipisnya, jelas menunjukkan bahwa dia sedang berada dalam keadaan yang sulit dijelaskan

  • Sofa Baru Membawa Petaka Perceraian   Bab 4

    Melihat itu, ayahku gemetar karena marah. Dia langsung menampar wajahku dengan keras."Jacob! Sampai kapan kamu mau keras kepala begini? Emma sudah banyak menderita demi kamu, apa kamu buta? Hasil tes DNA sudah jelas di depan mata, tapi kamu masih mau menghancurkan keluarga ini?"Suara tamparan yang nyaring langsung terdengar. Ayahku mengerahkan seluruh tenaganya untuk menamparku. Wajahku segera memerah.Suara bisik-bisik di sekitar langsung meledak. Ada yang menunjukku sambil memaki, "Nggak punya hati nurani!"Ada juga yang mengarahkan kamera ponsel sambil mengeluh, "Kenapa laki-laki zaman sekarang bisa setega ini?"Mata Emma yang sebelumnya sudah merah kini benar-benar dipenuhi air mata. Dalam tatapannya kepadaku, secercah harapan terakhir perlahan padam."Kita bertemu di pengadilan." Aku menutupi pipiku yang terasa panas. Suaraku tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas.Tubuh Emma langsung gemetar hebat. Air matanya mengalir deras, lalu dia bertanya dengan suara serak, "Jacob, ka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status