分享

Bab 7

作者: Wind
Harjuna sedikit mengernyit. Tatapannya menyapu Manika yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang, lalu dia berkata dengan nada tak sabar, "Baik."

Tabib tua itu segera menyerahkan sebilah pisau perak. Keswari menerimanya. Dia menarik napas panjang, lalu mengarahkan ujung pisau ke dadanya.

Saat mata pisau yang tajam menembus kulitnya, rasa sakit yang luar biasa membuat pandangannya menggelap.

Dia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga, memaksa diri menelan jeritan kesakitan yang hampir keluar.

Darah segar mengalir dari pisau perak ke dalam mangkuk giok. Setetes, dua tetes .... Kesadarannya makin lama makin kabur.

Entah berapa lama kemudian, dalam keadaan setengah sadar, dia mendengar suara tabib yang penuh kegembiraan. "Nona Manika sudah sadar!"

Harjuna langsung bergegas ke sisi ranjang dan memeluk Manika erat-erat. Suaranya begitu lembut. "Manika ... akhirnya kamu sadar ...."

Di saat yang sama, Keswari juga bangkit dengan langkah sempoyongan. Menggunakan sisa tenaganya, dia menggigit ujung jarinya hingga berdarah, lalu menulis di atas sehelai saputangan sutra putih.

[ Harjuna berjanji memberikan kebebasan kepada Keswari untuk menikah. Mulai hari ini dan seterusnya, dia tidak akan mengganggu ataupun mempersulit suami Keswari dengan cara apa pun. ]

Setiap huruf seolah menghabiskan seluruh sisa tenaganya. Darah di atas kain sutra itu menyebar perlahan, bagaikan hatinya yang telah hancur berkeping-keping.

"Inilah permintaanku ...." Dengan tangan gemetar, dia menyerahkan surat yang ditulis dengan darah itu. "Mohon Pangeran ... bubuhkan stempel di sini ...."

Seluruh perhatian Harjuna tertuju pada Manika yang baru saja sadar. Tanpa membaca isinya sama sekali, dia langsung mengeluarkan stempelnya dan membubuhkannya di atas surat itu. "Sudah puas?"

Keswari menggenggam surat berdarah itu dengan lemah. Memandang cap merah terang di atasnya, tiba-tiba air matanya mengalir bersama senyuman tipis di bibirnya.

Ya. Dia puas. Akhirnya ... semuanya benar-benar telah berakhir.

....

Selama beberapa hari berikutnya, Keswari terus memulihkan lukanya dan tidak pernah keluar dari kamarnya.

Setiap hari, kediaman keluarga dipenuhi kesibukan. Semua orang sibuk mempersiapkan pernikahan Manika dengan Putra Mahkota.

Sementara itu, Keswari hanya duduk diam di dekat jendela, memandangi pohon pir di halaman yang kelopaknya sudah lama berguguran.

"Nona, sudah waktunya berdandan." Ratih masuk dengan mata yang memerah. Di tangannya tergenggam gaun pengantin merah menyala.

Barulah Keswari tersadar, hari ini adalah hari pernikahannya dan juga hari Manika memasuki Istana Timur.

Seluruh kediaman dipenuhi hiasan penuh sukacita. Namun, semua kemeriahan itu dipersiapkan untuk pesta pernikahan putri sah keluarga.

Sedangkan dirinya, seorang putri selir yang akan menikah jauh ke perbatasan, hanya akan diantar ke luar melalui pintu samping tanpa seorang pun memedulikannya.

"Dengar-dengar, Pangeran datang sendiri menjemput pengantin dengan iring-iringan mahar yang sangat panjang." Sambil menyisir rambut Keswari, Ratih berbisik, "Semua gadis di kota sedang iri kepada Nona Manika ...."

Keswari hanya mendengarkan dengan tenang. Di dalam hatinya sudah tidak ada riak sedikit pun. Dia tahu, dirinya benar-benar telah melepaskan Harjuna.

Baru saja dia hendak mengenakan gaun pengantinnya, tiba-tiba dari luar terdengar tabuhan genderang, alunan musik, dan suara petasan yang bergemuruh.

"Yang Mulia sudah datang menjemput pengantin!" Seorang pelayan kecil berlari masuk dengan penuh semangat. "Nona, sesuai kebiasaan, Yang Mulia akan memberikan hadiah kepada semua perempuan di kediaman ini. Cepat keluar!"

Keswari pun terpaksa berjalan perlahan ke luar. Baru tiba di depan gerbang, dia melihat Harjuna mengenakan jubah pengantin merah yang megah. Wajahnya setampan dewa yang turun ke dunia. Dia menunggang kuda tinggi sambil perlahan mendekat.

Di sudut bibirnya tersungging senyum. Sorot mata dan wajahnya dipenuhi kebahagiaan karena akhirnya bisa menikahi wanita yang dicintainya.

Dia memberikan hadiah kepada para saudari Manika. Saat mereka membuka kotaknya, semuanya mendapatkan perhiasan dan batu permata.

Hanya kotak milik Keswari yang berbeda. Di dalamnya ada selembar surat kepemilikan tanah. Itu adalah surat kepemilikan sebuah rumah di bagian barat kota.

Ujung jari Keswari sedikit bergetar. Saat dia mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan tatapan tenang Harjuna. Tiba-tiba, dia teringat ucapan pria itu beberapa hari lalu.

"Setelah aku menikahi Manika, aku akan menyiapkan sebuah rumah untukmu."

Senyum pahit muncul di sudut bibirnya. Jadi ... pria ini benar-benar berniat menyembunyikannya seumur hidup.

Sayangnya, dia bukan lagi wanita bodoh yang rela dipermainkan sesuka hati. Dia juga tidak takut jika suatu hari nanti Harjuna mengetahui kebenarannya dan menyalahkannya.

Toh perjanjian yang telah dibubuhi stempel Putra Mahkota itu masih tersimpan di dalam lengan bajunya.

Di atas saputangan sutra putih itu tertulis jelas janji untuk memberikan kebebasan kepada Keswari untuk menikah. Surat itu ditandatangani sendiri oleh Harjuna. Kini pria itu tidak mungkin lagi menarik kembali ucapannya.

Melihat Keswari hanya menatap surat kepemilikan itu tanpa berkata apa-apa, Harjuna mulai merasa ada yang tidak beres. Dia sedikit mengernyit dan hendak melangkah mendekat.

Namun tepat pada saat itu, terdengar keramaian dari dalam kediaman. Manika yang mengenakan mahkota dan busana pengantin yang megah, berjalan ke luar perlahan diiringi kerumunan orang.

Perhatian Harjuna langsung teralihkan. Tak ada lagi orang lain di matanya. Seluruh hati dan pikirannya hanya tertuju kepada pengantinnya.

Keswari memandangi punggung mereka yang berjalan pergi berdampingan dengan tenang, lalu berbalik dan kembali ke kamarnya.

Api lilin bergoyang pelan. Dia membakar surat kepemilikan rumah itu dan menyaksikannya perlahan berubah menjadi abu.

"Nona, sudah waktunya berdandan." Dengan mata yang memerah, Ratih mengenakan mahkota di kepala Keswari.

Di dalam cermin perunggu, Keswari yang mengenakan gaun pengantin tampak begitu cantik dan memukau.

Untuk terakhir kalinya, dia menatap kediaman yang telah mengurungnya selama bertahun-tahun. Kemudian, tanpa menoleh lagi, dia melangkah menuju perjalanan jauh ke perbatasan.

Mulai saat itu, gunung dan sungai akan memisahkan mereka. Segala ikatan dengan masa lalu telah terputus. Biarlah Keswari yang dahulu, yang seluruh hati dan pikirannya hanya dipenuhi Harjuna, selamanya tertinggal di musim dingin itu.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 24

    "Keswari ... aku salah. Aku tahu aku salah. Maafkan aku. Kamu masih mencintaiku, 'kan?" gumam Harjuna, berusaha mengulurkan tangan untuk meraih bayangan semu itu.Namun, bagaimana mungkin Keswari menjawabnya?Meski hanya khayalannya sendiri, Keswari tetap berdiri di tempat yang tak akan pernah bisa dijangkaunya, menatapnya dengan sorot mata yang dingin."Jangan ... jangan menatapku seperti itu, Keswari ...."Dia tidak lagi mampu menahan tangisnya. Air mata mengalir deras. Sekali lagi dia teringat ... andai pada hari itu dia menyetujui permintaan Keswari.Bukan hanya menjadikannya selir, melainkan langsung berjanji menikahinya. Apakah akhir mereka akan berbeda?Harjuna menggigit bibirnya erat-erat. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Di tengah rasa sakit yang mencapai puncaknya, akhirnya dia memejamkan mata untuk selama-lamanya.Abimanyu hanya memandang semuanya tanpa ekspresi. Harjuna telah mati. Seluruh pasukannya menyerah.Bahkan pengawal pribadinya pun menyerahkan diri kepada pa

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 23

    Pada hari yang sama, Harjuna sedang menuliskan rencananya."Ayah pasti akan memanggil Abimanyu kembali ke ibu kota untuk melindunginya. Asalkan aku membunuhnya, nggak akan ada lagi yang bisa menghalangiku."Dia berbicara dengan tenang, tetapi di dalam matanya masih tersimpan obsesi yang mendalam.Pengawal yang mengikutinya berkata dengan ragu, "Jenderal Abimanyu sudah lama bertugas di perbatasan. Dalam waktu setengah bulan saja, beliau sudah bisa tiba di ibu kota.""Saat itu beliau akan membawa hampir 100 ribu prajurit pilihan. Kita akan sangat sulit menang.""Walaupun sulit, kita tetap harus menang!" Harjuna menghantam meja dengan keras.Pengawal itu langsung ketakutan dan berlutut. "Baik! Tapi ada satu hal yang belum hamba pahami. Kaisar sejak lama sudah berniat menyerahkan takhta kepada Yang Mulia.""Yang Mulia tinggal menunggu beberapa tahun lagi. Setelah Kaisar mangkat karena usia tua, Yang Mulia bisa naik takhta secara sah. Kenapa sekarang Yang Mulia justru mengambil risiko sebes

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 22

    Saat itu, banyak hal berkecamuk di benak Abimanyu. Tiba-tiba, dia mendengar suara seseorang."Jenderal! Jenderal! Jenderal Abimanyu!"Abimanyu langsung tersadar. Dia baru menyadari dirinya masih berada di perkemahan. "Maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Kita lanjutkan."Dia kembali mengangkat tombak panjangnya.Sekelompok prajurit langsung tertawa."Jarang sekali Jenderal melamun.""Jangan-jangan sedang memikirkan istri?""Kudengar hari ini Pangeran datang mencari Kakak Ipar. Jangan-jangan mau merebut istri Jenderal?""Dia putra mahkota, 'kan? Mana mungkin!""Tapi Kakak Ipar memang layak diperjuangkan. Kalau bukan karena itu, mana mungkin Pangeran datang sendiri ke sini? Kalau memang urusan resmi, bukankah cukup langsung menemui Jenderal?"Mereka terus menebak-nebak.Tanpa sadar, Abimanyu mengernyit. Bagaimana mereka bisa menjadikan putra mahkota sebagai bahan candaan? Itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan.Kalau sampai didengar orang lain, dalam kasus yang serius, mereka b

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 21

    Sungguh janji yang terdengar begitu indah. Putri mahkota, bahkan permaisuri. Kedudukan yang diimpikan oleh begitu banyak orang, kini dijanjikan Harjuna kepada Keswari.Kalau dulu, dia pasti akan sangat gembira. Bagaimanapun, dia pernah mencintai pria itu dengan begitu mendalam.Mendengar bahwa pria itu akan menikahinya, bagaimana mungkin dia tidak akan merasa bahagia?Namun sekarang ... selain kesedihan yang tak berujung dan kekecewaan, Keswari tak lagi memiliki perasaan lain.Dia mengeluarkan saputangan sutra putih yang selama ini selalu dibawanya ke mana pun. Saputangan itu digenggam erat di tangannya."Apa Yang Mulia masih ingat? Dulu ketika Yang Mulia mengambil darah dari jantungku, aku bilang aku menginginkan satu permintaan. Saat itu, Yang Mulia membubuhkan cap persetujuan."Harjuna mengangguk. Memang ada kejadian seperti itu.Keswari membentangkan saputangan itu. Di atasnya tertulis kalimat demi kalimat yang lahir dari darah dan air mata."Inilah permintaanku. Yang Mulia, mohon

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 20

    "Di mana Abimanyu?" teriak Harjuna.Abimanyu memasang wajah tenang, lalu keluar seorang diri."Ada keperluan apa, Yang Mulia?" tanyanya dengan sopan."Aku tanya padamu, apakah Keswari sudah menikah denganmu? Aku memerintahkan kalian bercerai sekarang juga!"Harjuna turun dari kudanya dan menatap Abimanyu. Namun, pria di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mundur."Maaf, saya nggak bisa menyetujuinya. Hubungan saya dan Keswari sangat baik. Hanya karena satu kalimat dari Yang Mulia, Yang Mulia ingin memisahkan kami? Apa itu nggak terlalu gegabah?"Wajah Abimanyu tampak masam. Dia tidak membungkuk, juga tidak menunduk. Dia hanya menatap lurus ke arah Harjuna."Aku adalah putra mahkota. Kelak aku akan menjadi kaisar. Aku hanya memintamu bercerai dengan Keswari. Bukankah kamu seorang jenderal? Kenapa kamu nggak mematuhi perintahku? Atau jangan-jangan kamu ingin membangkang?"Selain kaisar, semua orang harus menghormati putra mahkota. Siapa yang berani melampaui kedudukannya

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 19

    Bagaimana mungkin dia tidak mengenalnya? Putri mahkota saat ini adalah kakaknya sendiri. Sebelum mereka menikah, setiap hari dia diam-diam bertemu dengan sang putra mahkota.Pria yang di mata orang lain dikenal elegan dan berbudi luhur itu ... setiap kali bertemu dengannya justru selalu menindihnya dan melampiaskan hasrat tanpa kenal lelah. Seolah dia mencintainya hingga ke relung jiwa.Namun, setiap kali semuanya berakhir, sikapnya kembali begitu dingin dan menyakitkan. Dia membiarkan orang lain salah paham terhadapnya, membiarkan orang lain menyakitinya.Pria itu ingin dia selamanya hidup dalam bayang-bayang, menjadi mainannya yang tidak boleh diketahui siapa pun.Untuk melarikan diri darinya, Keswari memilih menikah dan pergi ke wilayah perbatasan ini. Namun, dia tidak menyangka Harjuna tetap datang mencarinya.Jari-jari Keswari mengepal erat. Meskipun sudah tak lagi mencintai pria itu, mengungkapkan semua ini kepada orang lain tetap membuat dadanya terasa sakit. Itu adalah masa lal

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status