MasukSetelah Julian dan Sisil pergi dari apartemennya, Kiara segera masuk ke kamar. Ia mengganti pakaiannya dengan busana kasual yang rapi. Tujuannya hari ini adalah menemui Tara Amalia.
Di kehidupan masa lalunya, Tara adalah manajer jenius. Karier Tara hancur berantakan karena fitnah jahat dari Julian. Kini, Kiara bertekad merekrutnya lebih awal.
'Aku tidak akan membiarkan Julian menghancurkan hidup Kak Tara lagi,' batin Kiara penuh tekad.
Gadis itu mengendarai mobil menuju sebuah kafe di pusat kota. Ia segera mengedarkan pandangan saat melangkah masuk. Udara di dalam kafe terasa hangat dan dipenuhi aroma kopi.
Matanya menangkap sosok yang sedang dicari di sudut ruangan. Tara Amalia sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berjas abu-abu. Terdapat tumpukan kertas kontrak kerja di atas meja mereka.
"Tunggu sebentar, Kak Tara!" panggil Kiara dengan suara keras.
Tara terkejut dan mendongak menatapnya. Gerakan tangan Tara yang hendak menandatangani kertas itu langsung terhenti di udara.
Memanfaatkan jeda singkat itu, Kiara langsung merebut pena dari jemari Tara. Ia juga menarik berkas kontrak yang terbuka di atas meja. Kertas itu langsung ia robek menjadi dua bagian.
"Apa yang kamu lakukan?! Siapa kamu?!" teriak Tara dengan raut wajah sangat terkejut dan marah.
Pria berjas abu-abu itu juga ikut berdiri. Wajahnya berubah merah karena merasa sangat terganggu dengan kedatangan tamu tak diundang ini.
"Hei! Anda siapa berani ikut campur urusan kami?" bentak pria itu menunjuk wajah Kiara. "Kenapa Anda merusak dokumen resmi perusahaan saya?"
Gadis berusia dua puluh enam tahun itu menepis tangan si pria. Ia membalas tatapan pria itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Pergi dari sini sekarang," ancam Kiara dingin. "Atau saya akan memanggil polisi untuk menangkap Anda atas kasus penipuan."
Pria itu sama sekali tidak terlihat ketakutan. Ia justru tertawa meremehkan dan membusungkan dadanya seolah merasa di atas angin.
"Penipuan apa maksud Anda? Nona bahkan tidak masuk bagian dari pembicaraan ini!" balas pria itu galak. "Silakan panggil polisi. Saya yang akan menuntut Anda!"
Tatapan Kiara tetap mantap mendapat perlawanan seperti itu. Ia menunjuk ke arah kop surat pada sisa kertas di meja.
"Bagus! Cepat panggil polisi sekarang. Kita bisa sekalian meminta mereka mengecek nomor izin usaha di kop surat Anda," tantang Kiara lugas. "Saya sudah memeriksa basis data kementerian, dan nomor itu palsu."
Pria berjas abu-abu itu seketika menelan ludah. Wajahnya perlahan memucat melihat keyakinan absolut di mata Kiara.
"Alamat kantor Anda juga hanya bangunan ruko kosong," tembak Kiara telak. "Anda mau saya menghubungi pengelola ruko itu sekarang juga?"
Menyadari kebohongannya terbongkar habis, pria itu segera mengambil tas miliknya. Ia berjalan pergi keluar dari kafe dengan langkah terburu-buru. Tidak ada satu pun kata bantahan yang keluar dari mulutnya lagi.
Suasana di meja menjadi sunyi setelah penipu itu menghilang. Tara masih berdiri dan bernapas dengan cepat. Ia menatap wanita asing di depannya dengan penuh kebingungan.
"Sekarang jelaskan padaku," tuntut Tara sambil melipat kedua tangan di dada. "Siapa kamu sebenarnya dan apa maksud semua keributan ini?"
Kiara menarik kursi dan duduk dengan tenang. Ia memberikan isyarat tangan agar lawan bicaranya ikut duduk.
"Duduklah dulu, Kak Tara. Namaku Kiara Larasati," ucapnya. "Kalau aku terlambat lima menit, kamu pasti sudah kehilangan uang lima puluh juta rupiah."
Tara mengerutkan dahi, namun akhirnya memilih menurut. Ia kembali mendaratkan tubuhnya ke atas kursi.
"Bagaimana kamu bisa tahu namaku?" tanya Tara penuh curiga. "Dan apa maksudmu dengan kehilangan uang?"
Kiara menyatukan potongan kertas kontrak yang tadi ia robek di atas meja. Jari telunjuknya menunjuk presisi pada sebuah pasal di halaman kedua.
"Di sini tertulis Kak Tara harus menyetorkan uang jaminan lima puluh juta rupiah sebagai modal awal," jelas Kiara. "Namun, perhatikan baik-baik pasal nomor sembilan."
Tara segera membaca bagian kertas yang ditunjuk. Matanya menelusuri kalimat-kalimat hukum tersebut dengan saksama. Wajah Tara perlahan-lahan berubah menjadi pucat pasi.
"Di sana tertulis pihak agensi bisa membatalkan kerja sama sepihak tanpa mengembalikan uang jaminan," lanjut Kiara membedah kontrak itu. "Mereka sengaja membuat kalimat jebakan untuk merampok uangmu secara sah."
Tara menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Ia menyadari dirinya hampir saja kehilangan seluruh tabungannya siang ini.
"Astaga... aku benar-benar tidak memperhatikan bagian itu," ucap Tara dengan suara melemah. "Kamu benar-benar menyelamatkanku hari ini, Kiara."
Kiara menyunggingkan senyum tipis. "Aku hanya ingin membalas budi."
"Maksudmu?" Dahi Tara berkerut bingung.
"Mari kita buat kesepakatan. Jadilah manajerku, Kak Tara."
Namun, reaksi Tara jauh dari perkiraan. Ekspresi wajah Tara justru berubah menjadi sangat waspada dan defensif. Ia menatap mata Kiara dengan sorot penuh kecurigaan tingkat tinggi.
"Aku memang berutang budi padamu. Tapi aku tidak mungkin bekerja dengan orang asing," tolak Tara dengan nada mendadak dingin.
Tara mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menatap Kiara seolah sedang menginterogasi seorang kriminal berbahaya.
"Kamu tahu jadwal pertemuanku, hafal isi kontrakku, bahkan melacak izin usaha agensi itu sebelum menemuiku," bisik Tara tajam dan mengancam. "Katakan yang sebenarnya kepadaku, Kiara... siapa bajingan yang menyewamu untuk menjebakku?"
Kiara menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia menatap Tara yang masih kebingungan. Perubahan mendadak pada raut wajah Kiara membuat manajernya itu cemas."Ada apa, Kiara?" tanya Tara."Kita harus pergi sekarang, Kak Tara," jawab Kiara tenang. "Reyhan Dirgantara baru saja menyuruhku datang ke kantor pusatnya."Tara membuka matanya lebar-lebar. "Sekarang? Tapi kita tidak punya jadwal pertemuan resmi dengan perusahaannya!""Kita tidak membutuhkannya," balas sang aktris singkat.Mereka berdua lalu berjalan keluar dari kafe untuk mencari taksi. Tara menelan ludah karena merasa sangat gugup."Kiara... kamu yakin ini bukan jebakan?" tanya Tara lagi saat taksi mulai berjalan.Gadis itu tersenyum tipis untuk menenangkan. "Kalau ini jebakan, aku tidak akan mengajakmu ikut bersamaku."Setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan gedung perkantoran Dirgantara Group. Bangunan bertingkat puluhan itu terlihat sangat megah. Mereka turun lalu berjalan masuk ke dalam.Lobi utama gedung
"Katakan yang sebenarnya kepadaku, Kiara... siapa bajingan yang menyewamu untuk menjebakku?" tuntut Tara. Sorot matanya dipenuhi kecurigaan.Mendapat pertanyaan tajam itu, Kiara tidak langsung menjawab. Gadis itu justru mengambil gelas air putih di atas meja, lalu meminumnya dengan perlahan."Tidak ada yang mengirimku, Kak Tara," jawab Kiara dengan suara yang sangat tenang. "Aku bergerak murni untuk kepentinganku sendiri."Perempuan berambut pendek itu tidak langsung percaya. Tara menatap Kiara dari atas sampai bawah secara bergantian. Ia mencoba mencari kebohongan di mata gadis tersebut."Aku tahu Kak Tara adalah manajer artis yang berbakat," lanjut Kiara memecah keheningan. "Sayangnya, Kakak sedang kesulitan mencari pekerjaan tetap saat ini."Kiara menatap lurus mata lawan bicaranya. "Aku butuh orang yang jujur dan tegas sepertimu. Aku ingin kamu menjadi manajer pribadiku."Tara mengerutkan dahi kebingungan. "Kamu baru saja menyelamatkanku dari penipuan besar. Aku sangat berte
Setelah Julian dan Sisil pergi dari apartemennya, Kiara segera masuk ke kamar. Ia mengganti pakaiannya dengan busana kasual yang rapi. Tujuannya hari ini adalah menemui Tara Amalia.Di kehidupan masa lalunya, Tara adalah manajer jenius. Karier Tara hancur berantakan karena fitnah jahat dari Julian. Kini, Kiara bertekad merekrutnya lebih awal.'Aku tidak akan membiarkan Julian menghancurkan hidup Kak Tara lagi,' batin Kiara penuh tekad.Gadis itu mengendarai mobil menuju sebuah kafe di pusat kota. Ia segera mengedarkan pandangan saat melangkah masuk. Udara di dalam kafe terasa hangat dan dipenuhi aroma kopi.Matanya menangkap sosok yang sedang dicari di sudut ruangan. Tara Amalia sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berjas abu-abu. Terdapat tumpukan kertas kontrak kerja di atas meja mereka."Tunggu sebentar, Kak Tara!" panggil Kiara dengan suara keras.Tara terkejut dan mendongak menatapnya. Gerakan tangan Tara yang hendak menandatangani kertas itu langsung terhenti di uda
Taksi akhirnya berhenti di pelataran gedung apartemen mewah itu. Kiara membayar ongkos taksi dan melangkah turun. Ia melihat Julian berdiri di lobi dengan sebuket bunga."Cih!" gumam Kiara berdecak muak. Ia memilih masuk lewat pintu samping untuk menghindari Julian.Gadis itu berjalan menuju lift dan langsung menekan tombol lantai lima belas. Saat membuka pintu apartemen, matanya langsung melihat perabotan mahal di dalam.Tempat tinggal ini dibeli dari setiap tetes keringatnya selama bertahun-tahun syuting.Namun, nama yang tertera pada sertifikat kepemilikannya justru milik Julian."Rumah yang ku banggakan, bahkan bukan lagi milikku secara hukum. Ck ck. Aku benar-benar buta!"Gadis itu berjalan perlahan dan duduk di sofa ruang tamu. Tidak lama setelah ia duduk, bunyi bel apartemen terdengar berulang kali dengan nyaring."Buka pintunya, Kiara!" seru Julian dari arah luar.Kiara berdiri dan melangkah menuju pintu. Lewat layar kamera kecil di dinding, ia melihat wajah Julian dan Si
Debaran jantung Kiara masih kacau akibat ulah absurd Reyhan yang sulit ditebak. Udara dinginnya pagi, kini mulai merayap di seluruh tubuhnya.Ia seketika memeluk diri untuk menghangatkan tubuh. Matanya melirik ke arah gaun malam yang ia kenakan. Pakaian itu sudah tidak layak pakai."Aku harus segera pergi, tapi bagaimana aku harus mengatasi pakaian ini!" gumamnya berpikir keras.Reyhan tiba-tiba muncul kembali dari balik pintu.Melihat tamunya yang sedang menatap gaun rusak, ia berdiri dari tepi meja, lalu mengambil sebuah jas hitam miliknya, dan melemparkannya.Kiara menangkap kain yang terasa sangat tebal dan berat itu. Ia mengenali merek serta bahannya.Itu adalah setelan pesanan khusus milik sang Presdir yang harganya mencapai ratusan juta rupiah."Pakai itu!" perintah Reyhan dengan nada suara datar. "Aku tidak ingin karyawan hotel melihat ada wanita keluar dari kamarku dengan pakaian tidak pantas.""Terima kasih atas pinjamannya, Tuan Presdir," jawab gadis itu. Ia lantas berdi
Kiara mengembuskan napas panjang. Akhirnya, ia bisa pulang dengan selamat.Tangannya baru saja hendak meraih gagang pintu, seketika suara Reyhan terdengar dari sampingnya.“Tunggu!”Kiara menoleh.Tatapan pria itu turun ke gaun yang dikenakannya, tertahan di bagian punggung gaun Kiara yang robek.“Kau mau keluar dengan pakaian seperti itu?”Kiara menunduk melihat dirinya sendiri, lalu mengangkat bahu.“Tidak masalah,” katanya santai. “Saya hanya perlu berjalan beberapa langkah menuju lift.”Mata Reyhan beralih melihat beberapa penghuni gedung baru saja masuk dari pintu utama. Seorang petugas keamanan berdiri tidak jauh dari sana. Ada pula beberapa orang yang sedang menunggu kendaraan di area depan.Kemudian pria itu melepaskan jas hitam yang dikenakannya.Kiara menatap gerakannya dengan bingung.Reyhan lalu mengulurkan jas tersebut kepadanya.“Pakai!”“Ini? Saya benar-benar tidak perlu,” ujar Kiara menggeleng dengan mata berkedip. “Lagipula, hanya beberapa langkah.”Reyhan tidak menjaw







