Share

7. Syarat gila proyek besar

Penulis: Donat Mblondo
last update Tanggal publikasi: 2026-06-29 05:04:52

Kiara melangkah masuk ke ruangan.

Reyhan duduk di balik meja besar dengan beberapa dokumen terbuka di hadapannya.

“Duduk!”

Kiara menurut, lalu menatap pria itu penuh tanda tanya.

“Pak Reyhan, bukankah jadwal saya seharusnya datang besok pagi?”

Reyhan mengangkat pandangan dari dokumen.

“Ada proyek yang harus segera dimulai.”

Kiara mengerutkan kening.

“Lalu apa hubungannya dengan saya?”

Reyhan mendorong sebuah map ke arahnya.

Kiara mengambil map tersebut dan membukanya. Matanya langsung membeku. Judul proyek itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

STARLIGHT ENTERTAINMENT

PROJECT: LOVE AFTER MIDNIGHT

Genre: Romance — Melodrama

Format: 16 Episode

Budget: Rp80 Miliar

Target: National Primetime

Status: Pre-Production

Gadis itu langsung terdiam beberapa saat. Ia sangat mengenal proyek itu.

Di kehidupan sebelumnya, Love After Midnight adalah drama yang membuat pemeran utamanya melejit menjadi aktris papan atas. Bahkan rating finalnya menjadi salah satu yang tertinggi waktu itu.

Tapi Kiara juga tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun di ruangan tersebut. Ada sebuah insiden besar yang hampir menghancurkan proyek itu.

“Kenapa saya dipanggil?” tanya Kiara hati-hati.

Reyhan bersandar di kursinya.

“Pemeran utama wanita mendadak mengundurkan diri.”

Kiara terdiam. Persis seperti yang ia ingat.

“Kami membutuhkan penggantinya secepat mungkin.” Tatapan Reyhan mengunci wajahnya. “Aku ingin kau mengikuti audisi.”

Audisi?

Gadis itu pun menutup map di tangannya perlahan.

Tara yang sejak tadi duduk di samping Kiara hanya diam mendengarkan. Namun, ketika mendengar nama proyek tersebut, matanya langsung membesar. 

Sang manajer menggenggam lengan Kiara dan berbisik.

“Kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Kiara paham maksud Tara, ini jalan menuju sukses. Tapi Tara tidak tahu, kendala apa yang akan terjadi dalam proyek besar ini.

“Jika saya lulus audisi ini, saya ingin Anda yang menjadi pemeran utama prianya. Dan Anda juga yang mengawasi keamanan proyek ini secara langsung, Pak Presdir.”

Keheningan yang mematikan langsung menyelimuti ruangan besar tersebut.

Tara sampai hampir tersedak terkejut mendengar permintaan gila artisnya.

​"Kau menyuruhku menjadi badut di depan kamera?" suara Reyhan merendah, sarat akan aura bahaya.

Mendapat ancaman mematikan itu, Kiara sama sekali tidak gentar. Gadis itu justru berdiri dari kursinya dan melangkah maju mendekati meja kerja sang Presdir.

​Tangannya terulur dengan sangat cepat. Kiara mencengkeram simpul dasi sutra milik Reyhan dan menariknya dengan kuat hingga tubuh pria itu condong ke depan.

​Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter.

Hembusan napas Reyhan terasa hangat menerpa wajah Kiara.

​"Sepertinya kasus Haryo tidak cukup memberi pelajaran untuk Anda, Pak Presdir," bisik Kiara tepat di depan bibir pria itu.

​Reyhan tidak memberontak, tetapi manik matanya menatap Kiara dengan kilatan mematikan.

​Tara yang duduk di belakang mereka melotot menahan napas. Ia merasa nyawanya bisa melayang kapan saja karena kelancangan Kiara.

​Tapi, bukannya meledak marah, sudut bibir Reyhan perlahan terangkat membentuk sebuah seringai gelap.

Tangan besar pria itu tiba-tiba bergerak merangkum pinggang ramping Kiara dan menariknya semakin merapat ke ujung meja.

​"Kau benar-benar berani mencari mati," balas Reyhan dengan suara serak yang membius telinga. "Jika aku setuju menjadi lawan mainmu, apa kau sanggup melayaniku saat kamera sudah dimatikan?”

Jantung Kiara berdetak lebih keras. Namun, ia tidak membiarkan kegugupan itu terlihat. Ia justru mengangkat sudut bibirnya.

“Saya hanya meminta Anda menjadi pemeran utama, Pak Presdir. Jangan berpikir terlalu jauh.”

Reyhan tertawa pelan. Tawa rendah itu justru membuat tengkuk Kiara terasa meremang. Pria itu akhirnya melepaskan pinggang Kiara dan kembali menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Seorang aktris baru, bisa tahu ada masalah keamanan dalam proyek yang bahkan belum diumumkan kepada publik.”

Senyum Kiara seketika menghilang.

Sial.

Kiara memang sudah mempersiapkan banyak jawaban untuk menghadapi pertanyaan tentang proyek ini. Namun, ia tidak menyangka Reyhan akan menangkap kejanggalannya secepat itu.

Sebelum Kiara sempat mencari alasan, Reyhan bangkit dari kursinya.

Pria itu melangkah mendekat. Hingga jarak di antara mereka kembali menyempit.

Telapak tangan Reyhan terangkat dan menyentuh dagu Kiara. Sentuhannya tidak kasar, tetapi cukup untuk membuat wajah gadis itu terdongak.

Napas Kiara tercekat.

Ibu jari pria itu perlahan menyusuri garis rahangnya.

Kenapa sentuhan sederhana itu justru membuat seluruh tubuhnya menegang?

Kiara berusaha mempertahankan tatapan, meski jantungnya kini berdetak tidak beraturan.

“Seberapa banyak rahasia kotor yang kau ketahui, Nona Larasati?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   18.

    ​Kilat kamera menyambar brutal, tetapi Kiara menyadari satu hal yang ganjil. Tidak ada satu pun moncong lensa yang berani mengarah lurus ke wajah Reyhan di sebelahnya.Para wartawan itu tampak gemetar, sengaja memiringkan kamera hanya untuk menyorot wajah Kiara.​Nyali para pencari berita itu hancur berkeping-keping di bawah aura mematikan sang Presdir Starlight.Seorang jurnalis nekat melontarkan pertanyaan provokatif tadi dengan suara bergetar ketakutan.Rahang Reyhan langsung mengeras mendengar kelancangan tersebut.​Pria itu baru saja akan mengambil langkah maju untuk menghancurkan karier sang jurnalis. Namun, Kiara bertindak lebih cepat untuk menengahi.Jemarinya meremas lembut punggung tangan Reyhan, memberikan isyarat halus agar pria itu menahan diri.​Reyhan menoleh, menatap Kiara dengan kening berkerut.Alih-alih berlindung di balik punggung sang Presdir, Kiara justru mengangkat wajahnya. Tidak ada jejak kepanikan atau air mata kepalsuan di matanya.​Ia menatap puluhan kamera

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   17.

    "Siapa..." bisik Kiara dengan nada dingin menahan geram.​Terdengar hela napas berat dari seberang sana."Sisil Maharani. Dia sengaja memprovokasi beberapa aktris pendatang baru di ruang tunggu dan menyuruh asistennya membocorkan informasi ke forum gosip wartawan. Niatnya murni untuk menghancurkan citra Anda sebagai aktris jalur prestasi menjadi aktris jalur ranjang."​Kiara memejamkan mata. Nama itu tidak terlalu mengejutkannya, tetapi betapa rendahnya cara Sisil bermain benar-benar membuat Kiara muak. Hanya karena iri kalah audisi, perempuan itu memilih jalur fitnah.​Reyhan membuka pintu dari luar. Pria itu menatap Kiara yang masih menempelkan ponsel di telinga.​"Bima?" tebak Reyhan dengan suara beratnya, memecah keheningan.​Kiara mengangguk perlahan. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menyalakan mode loudspeker agar Reyhan bisa mendengar langsung.​"Pak Reyhan," suara Bima kembali terdengar begitu menyadari bosnya ada di sana. "Berita ini sudah mulai naik di beberapa porta

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   16. Desas-desus fitnah

    Reyhan terkekeh kecil. Tangannya di daun pintu kayu justru semakin erat.Tubuh tinggi pria itu kian merapat dari belakang, mengurung Kiara sepenuhnya.​"Banyak wartawan di luar?" ulang Reyhan lambat, menirukan nada panik Kiara.Ujung hidungnya menyapu halus garis leher Kiara. "Lalu kenapa kamu malah berlari masuk ke toilet pria? Mau mengintip?"Kiara yang panik berusaha keras mempertahankan martabatnya. Ia berbalik mendorong dada bidang Reyhan yang kokoh, lalu membalas dengan tatapan tajam.​"S-siapa yang mau mengintip?!" sergah Kiara berusaha keras menyembunyikan rona merah yang menjalar ke telinganya. "S-saya dikejar wartawan tadi!”Sudut bibir Reyhan terangkat, membentuk senyum miring yang penuh keangkuhan. Pria itu melangkah maju, membuat cengkraman tangan Kiara di dada bidangnya yang basah terasa semakin intim.​Pria itu menunduk lebih dalam, menyisakan jarak tipis di antara bibir mereka.‘Ngapain sih? Deket banget. Masa dia mau cium aku lagi?’​Darah Kiara seketika berdesir heba

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   15. Toilet pria

    "Akting dari mana?!" balas Tara berapi-api."Kameranya menyorot kalian dalam resolusi 4K, Kiara! Tidak ada ruang untuk alibi kamuflase. Para produser saling pandang dengan ngeri. Mereka mendadak sadar bahwa mereka baru saja memaki dan mengusir wanita yang bisa membuat seorang Reyhan Dirgantara menanggalkan akal sehatnya secara langsung."​Tara mencondongkan tubuhnya, menatap mata Kiara dengan senyum miring kepuasan."Sutradara arogan itu sekarang sedang berkeringat dingin di ruang sebelah, menyadari dia baru saja mencoba menendang permaisuri dari istananya sendiri. Posisi pemeran utama itu sekarang mutlak milikmu."​Kiara terdiam kaku. Ia menoleh perlahan menatap ambang pintu yang dibiarkan terbuka, ke arah lorong tempat Reyhan baru saja menghilang.​Batinnya berkecamuk hebat.Presdir gila itu menggunakan metode yang paling modus untuk membungkam para juri.Namun, efeknya benar-benar tak terbantahkan.Suka atau tidak, Reyhan baru saja meletakkan mahkota perlindungan di atas kepala Kia

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   14. Totalitas akting

    Napas Reyhan yang memburu terasa begitu hangat, menyapu permukaan bibir Kiara.Gadis itu memejamkan mata.‘Mungkin dia cuma akan berbisik sesuatu,’ pikirnya.​Namun, dugaannya meleset total.​Alih-alih menghindar, jari-jari kokoh Reyhan yang menangkup rahangnya justru memberikan sedikit tekanan, mendongakkan wajah gadis itu lebih tinggi.Detik berikutnya, Reyhan menghapus sisa jarak di antara mereka dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Kiara.​Mata Kiara seketika terbelalak lebar.‘Gila! Dia beneran—.’Waktu seolah berhenti berdetak di ruang audisi yang hening itu.​Sentuhan Reyhan awalnya terasa menuntut, sejalan dengan emosi kelam karakter protagonis pria yang sedang ia perankan.Namun perlahan, ciuman itu berubah menjadi pagutan yang lembut yang memabukkan, seolah pria itu dengan sengaja menyalurkan hasrat tersembunyinya.Tubuh Kiara menegang kaku. Otaknya mendadak mati keping. Ia tidak bisa berpikir, tidak bisa meronta, dan tanpa sadar hanya bisa meremas lengan kemeja Reyh

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   13. Kejutan mematikan di ruang audisi

    Sutradara Haris yang baru saja mengamuk seketika pucat pasi. Matanya terbelalak menatap sosok yang baru saja melangkah masuk melewati ambang pintu.​Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di ruangan tersebut.​Seorang pria dengan setelan jas hitam bespoke melangkah masuk. Auranya begitu gelap, dingin, dan mendominasi, seolah menyedot seluruh udara di dalam ruangan.​"Sepertinya, ada yang lupa, siapa yang sebenarnya berkuasa di gedung ini,” ujar pria itu memecah keheningan.Kehadiran Reyhan Dirgantara di ruang audisi itu ibarat badai salju yang membekukan seisi ruangan dalam hitungan detik.Kelima juri yang duduk di balik meja panjang, termasuk Sutradara Haris yang tadinya mengamuk layaknya singa, seketika merinding berdiri dari kursi mereka.Wajah-wajah arogan itu kini tergantikan oleh pias ketakutan yang amat nyata.​Langkah panjang Reyhan melewati Kiara begitu saja, menyapu bahu gadis itu dengan aroma musk dan mint yang dingin.Pria itu terus berjalan menuju meja juri tanpa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status