Share

6. Sandiwara

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-06-29 04:42:37

​Taksi akhirnya berhenti di pelataran gedung apartemen mewah itu. Kiara membayar ongkos taksi dan melangkah turun. Ia melihat Julian berdiri di lobi dengan sebuket bunga.

"Cih!" gumam Kiara berdecak muak. Ia memilih masuk lewat pintu samping untuk menghindari Julian.

Gadis itu berjalan menuju lift dan langsung menekan tombol lantai lima belas. ​Saat membuka pintu apartemen, matanya langsung melihat perabotan mahal di dalam.

Tempat tinggal ini dibeli dari setiap tetes keringatnya selama bertahun-tahun syuting.​Namun, nama yang tertera pada sertifikat kepemilikannya justru milik Julian.

"Rumah yang ku banggakan, bahkan bukan lagi milikku secara hukum. Ck ck. Aku benar-benar buta!"

​Gadis itu berjalan perlahan dan duduk di sofa ruang tamu. Tidak lama setelah ia duduk, bunyi bel apartemen terdengar berulang kali dengan nyaring.

​"Buka pintunya, Kiara!" seru Julian dari arah luar.

​Kiara berdiri dan melangkah menuju pintu. Lewat layar kamera kecil di dinding, ia melihat wajah Julian dan Sisil berdiri di depan lorong. Kedua orang itu memasang raut wajah cemas.

​Gadis itu menarik napas panjang untuk bersiap. Ia mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat lelah, bingung, dan lemah.

​Setelah siap berhadapan dengan mereka, ia memutar kunci. Pintu apartemen akhirnya terbuka.

​"Kak Kiara! Astaga, kamu dari mana saja?!" teriak Sisil dengan suara melengking.

​Perempuan pendatang baru itu menerobos masuk ke dalam apartemen. Ia langsung memeluk tubuh Kiara erat-erat.

​"Kami mencarimu semalaman! Kamu tidak terluka, kan, Kak?" tanya Sisil bertubi-tubi dengan mata yang dibuat berair. "Semalam Kakak tidur di mana?"

​Kiara tahu persis Sisil hanya sedang memancing informasi. Sisil ingin tahu apakah jebakan di hotel semalam berhasil atau tidak.

​Ia tersenyum tipis dan membalas pelukan Sisil. Namun, Kiara sengaja menepuk punggung perempuan itu dengan dorongan tenaga yang sangat kuat.

​"Aduh! Sakit, Kak!" Sisil meringis kesakitan.

​Perempuan itu langsung melepaskan pelukannya. Ia mundur selangkah sambil mengusap punggungnya.

​"Maaf, Sisil. Tanganku masih kaku dan gemetar karena kejadian semalam," jawab Kiara dengan suara pelan dan wajah polos.

​Julian kemudian melangkah masuk dan berdiri di depan pintu.

Mata pria itu bergerak sangat cepat mengamati penampilan Kiara dari atas sampai bawah. Ia jelas sedang mencari tanda-tanda kerusakan pada diri Kiara. Ia butuh bukti bahwa tunangannya itu sudah menghabiskan malam dengan pria bayaran.

​"Kamu membuat kami berdua sangat panik, Kiara. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Julian dengan nada menuntut dan penuh curiga.

​Kiara menatap Julian secara langsung tanpa berkedip. "Aku merasa sangat pusing setelah minum di lobi hotel semalam."

​"Kepalaku berputar hebat. Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu," lanjut Kiara dengan suara lemah.

​Julian mengerutkan dahi, terlihat sama sekali tidak puas dengan jawaban tersebut.

​"Lalu bagaimana kamu bisa pulang ke sini? Siapa yang membawamu pergi dari sana?" tanya Julian lagi. "Di kamar nomor berapa kamu menginap semalam?"

​Napas Kiara tertahan selama sepersekian detik. Otot tubuhnya menegang karena pertanyaan yang sangat mendetail dan mendadak itu.

​Ia menelan ludah dengan cepat. Kiara berusaha keras menyembunyikan kepanikannya agar tidak terlihat.

​"Aku... aku tidak ingat nomor kamarnya, Julian. Kepalaku terlalu sakit untuk mengingat hal itu," jawab Kiara dengan suara bergetar.

​"Untung saja, ada seorang pria baik yang menolongku. Dia membawaku pergi dari lobi dan memberiku tempat istirahat yang aman."

​Mendengar kata 'pria', pandangan Julian langsung terkunci pada pakaian Kiara. Matanya membulat melihat pakaian mewah tersebut.

​"Pria siapa? Dan jas siapa yang sedang kamu pakai ini?" suara Julian mendadak meninggi.

​Pria itu melangkah maju dan mengulurkan tangannya. Julian hampir menyentuh kerah jas yang dipakai Kiara.

​Wanita itu dengan cepat mundur satu langkah untuk menghindar. Ia menutupi kegugupannya dengan sengaja mengibaskan sedikit kerah jas hitam itu ke depan.

​"Pria yang menolongku meminjamkan jas ini karena gaunku kotor," jawab Kiara tenang.

​Sebagai sutradara, Julian sangat paham dengan barang bermerek. Pria itu langsung mengenali bentuk dan merek jas tersebut.

​Ia memperhatikan detail potongan kainnya dengan saksama. Harga jas yang dipakai Kiara setara dengan seluruh biaya produksi satu film utuh.

​Telapak tangan Julian mulai berkeringat. Ia pernah melihat jas dengan lambang emblem khusus seperti itu hanya sekali. Pakaian itu hanya ada di acara eksklusif kalangan miliarder.

​Bahkan produser papan atas tidak akan berani mengenakan jas dengan merek itu sembarangan.

​"Itu... jas itu buatan desainer khusus dari luar negeri," ucap Julian dengan suara bergetar.

​Wajah pria itu perlahan berubah pucat pasi. "Orang kaya seperti apa yang kamu temui semalam, Kiara?"

​Kiara menggelengkan kepala dengan pelan. "Aku tidak tahu siapa namanya."

​"Aku bahkan belum sempat melihat merek jas ini. Aku hanya meminjamnya," bohong Kiara meyakinkan.

​Julian kini terdiam kaku dan kehilangan kata-kata. Ia menyadari pria yang menolong Kiara semalam pasti memiliki kekayaan jauh di atasnya.

​Di samping Julian, Sisil terus menatap jas tersebut dengan mata terbuka lebar. Perempuan itu terlihat sangat iri melihat barang semewah itu.

​"Sebaiknya kalian berdua pulang sekarang. Aku sangat lelah dan butuh waktu untuk tidur," usir Kiara dengan halus.

​"Tapi, Kiara, kita masih perlu bicara lebih detail..." Julian mencoba menahan.

​"Tolong, Julian. Kepalaku sangat sakit," potong Kiara cepat sambil memegang dahinya sendiri.

​Melihat sikap Kiara yang terus menolak, Julian dan Sisil tidak bisa mendesak lebih jauh. Mereka berdua berbalik dan berjalan keluar dari apartemen dengan wajah kesal.

​Setelah pintu tertutup rapat, Kiara kembali berdiri tegap. Ia menatap pintu itu sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.

​"Baru satu langkah kecil," gumam Kiara pelan. "Sebentar lagi kalian berdua akan kehilangan semuanya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   9. Tikus Kecil Kembali ke Kandang Singa

    Kiara menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia menatap Tara yang masih kebingungan. Perubahan mendadak pada raut wajah Kiara membuat manajernya itu cemas.​"Ada apa, Kiara?" tanya Tara.​"Kita harus pergi sekarang, Kak Tara," jawab Kiara tenang. "Reyhan Dirgantara baru saja menyuruhku datang ke kantor pusatnya."​Tara membuka matanya lebar-lebar. "Sekarang? Tapi kita tidak punya jadwal pertemuan resmi dengan perusahaannya!"​"Kita tidak membutuhkannya," balas sang aktris singkat.​Mereka berdua lalu berjalan keluar dari kafe untuk mencari taksi. Tara menelan ludah karena merasa sangat gugup.​"Kiara... kamu yakin ini bukan jebakan?" tanya Tara lagi saat taksi mulai berjalan.​Gadis itu tersenyum tipis untuk menenangkan. "Kalau ini jebakan, aku tidak akan mengajakmu ikut bersamaku."​Setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan gedung perkantoran Dirgantara Group. Bangunan bertingkat puluhan itu terlihat sangat megah. Mereka turun lalu berjalan masuk ke dalam.​Lobi utama gedung

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   8. Kesepakatan Kerja Sama

    "Katakan yang sebenarnya kepadaku, Kiara... siapa bajingan yang menyewamu untuk menjebakku?" tuntut Tara. Sorot matanya dipenuhi kecurigaan.​Mendapat pertanyaan tajam itu, Kiara tidak langsung menjawab. Gadis itu justru mengambil gelas air putih di atas meja, lalu meminumnya dengan perlahan.​"Tidak ada yang mengirimku, Kak Tara," jawab Kiara dengan suara yang sangat tenang. "Aku bergerak murni untuk kepentinganku sendiri."​Perempuan berambut pendek itu tidak langsung percaya. Tara menatap Kiara dari atas sampai bawah secara bergantian. Ia mencoba mencari kebohongan di mata gadis tersebut.​"Aku tahu Kak Tara adalah manajer artis yang berbakat," lanjut Kiara memecah keheningan. "Sayangnya, Kakak sedang kesulitan mencari pekerjaan tetap saat ini."​Kiara menatap lurus mata lawan bicaranya. "Aku butuh orang yang jujur dan tegas sepertimu. Aku ingin kamu menjadi manajer pribadiku."​Tara mengerutkan dahi kebingungan. "Kamu baru saja menyelamatkanku dari penipuan besar. Aku sangat berte

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   7. Menyelamatkan Manajer

    Setelah Julian dan Sisil pergi dari apartemennya, Kiara segera masuk ke kamar. Ia mengganti pakaiannya dengan busana kasual yang rapi. Tujuannya hari ini adalah menemui Tara Amalia.​Di kehidupan masa lalunya, Tara adalah manajer jenius. Karier Tara hancur berantakan karena fitnah jahat dari Julian. Kini, Kiara bertekad merekrutnya lebih awal.​'Aku tidak akan membiarkan Julian menghancurkan hidup Kak Tara lagi,' batin Kiara penuh tekad.​Gadis itu mengendarai mobil menuju sebuah kafe di pusat kota. Ia segera mengedarkan pandangan saat melangkah masuk. Udara di dalam kafe terasa hangat dan dipenuhi aroma kopi.​Matanya menangkap sosok yang sedang dicari di sudut ruangan. Tara Amalia sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berjas abu-abu. Terdapat tumpukan kertas kontrak kerja di atas meja mereka.​"Tunggu sebentar, Kak Tara!" panggil Kiara dengan suara keras.​Tara terkejut dan mendongak menatapnya. Gerakan tangan Tara yang hendak menandatangani kertas itu langsung terhenti di uda

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   6. Sandiwara

    ​Taksi akhirnya berhenti di pelataran gedung apartemen mewah itu. Kiara membayar ongkos taksi dan melangkah turun. Ia melihat Julian berdiri di lobi dengan sebuket bunga."Cih!" gumam Kiara berdecak muak. Ia memilih masuk lewat pintu samping untuk menghindari Julian.Gadis itu berjalan menuju lift dan langsung menekan tombol lantai lima belas. ​Saat membuka pintu apartemen, matanya langsung melihat perabotan mahal di dalam.Tempat tinggal ini dibeli dari setiap tetes keringatnya selama bertahun-tahun syuting.​Namun, nama yang tertera pada sertifikat kepemilikannya justru milik Julian."Rumah yang ku banggakan, bahkan bukan lagi milikku secara hukum. Ck ck. Aku benar-benar buta!"​Gadis itu berjalan perlahan dan duduk di sofa ruang tamu. Tidak lama setelah ia duduk, bunyi bel apartemen terdengar berulang kali dengan nyaring.​"Buka pintunya, Kiara!" seru Julian dari arah luar.​Kiara berdiri dan melangkah menuju pintu. Lewat layar kamera kecil di dinding, ia melihat wajah Julian dan Si

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   5. Pulang Membawa Jas Sang Bos

    Debaran jantung Kiara masih kacau akibat ulah absurd Reyhan yang sulit ditebak. Udara dinginnya pagi, kini mulai merayap di seluruh tubuhnya.Ia seketika memeluk diri untuk menghangatkan tubuh. ​Matanya melirik ke arah gaun malam yang ia kenakan. Pakaian itu sudah tidak layak pakai."Aku harus segera pergi, tapi bagaimana aku harus mengatasi pakaian ini!" gumamnya berpikir keras.Reyhan tiba-tiba muncul kembali dari balik pintu.​Melihat tamunya yang sedang menatap gaun rusak, ia berdiri dari tepi meja, lalu mengambil sebuah jas hitam miliknya, dan melemparkannya.Kiara menangkap kain yang terasa sangat tebal dan berat itu. Ia mengenali merek serta bahannya.Itu adalah setelan pesanan khusus milik sang Presdir yang harganya mencapai ratusan juta rupiah.​"Pakai itu!" perintah Reyhan dengan nada suara datar. "Aku tidak ingin karyawan hotel melihat ada wanita keluar dari kamarku dengan pakaian tidak pantas."​"Terima kasih atas pinjamannya, Tuan Presdir," jawab gadis itu. Ia lantas berdi

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   4. Pagi Pembuktian dan Telepon Masuk

    ​Cahaya matahari pagi yang terang menembus jendela kaca kamar penthouse hotel dan mengenai wajah Kiara. Gadis itu membuka mata perlahan.Ia merasakan lehernya sedikit kaku karena tidur di atas sofa semalaman. Matanya melihat ke sekeliling ruangan yang luas dan mewah itu. Ingatan tentang kejadian semalam langsung kembali.​Gadis itu melirik jam dinding. Waktu menunjukkan tepat pukul tujuh pagi.​Tiba-tiba, telinganya menangkap suara pria bersuara pelan dari arah tempat tidur. Ia menajamkan pendengaran dengan saksama.​"Ya, periksa lagi pembukuannya," ucap Reyhan dengan nada suara tegas. "Pastikan semua aliran dana dihentikan hari ini juga. Kumpulkan semua buktinya."​Mendengar percakapan itu, sudut bibirnya sedikit terangkat. Informasi yang ia berikan semalam terbukti benar.​Belum sempat ia bangun dari sofa, suara getar telepon terdengar nyaring memecah keheningan. Layar ponsel miliknya yang tergeletak di meja kaca menyala terang. Ia melihat ke arah layar tersebut, dan di sana tertera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status