LOGINKiara menatap layar ponselnya selama beberapa detik.
“Bos besar ini benar-benar suka mengubah jadwal sesuka hati,” gumamnya.
Tara yang duduk di depannya mengangkat alis.
“Bos?”
Kiara mengangkat ponselnya dan menunjukkannya kepada Tara.
“Ini.”
Tara melihat layar ponsel itu dengan sedikit bingung. Namun, begitu membaca si pengirim menyuruh Kiara ke gedung Starlight, tatapan Tara membeku.
“Starlight Entertainment?” gumamnya.
Kiara mengangguk.
Tara kembali membaca pesan itu, lalu menatap Kiara dengan ekspresi berbeda.
Starlight Entertainment adalah agensi terbesar di negeri ini. Tidak sembarang artis bisa mendapatkan kesempatan untuk datang langsung ke gedung pusat mereka, apalagi tanpa melalui proses audisi biasa.
“Kamu mendapat undangan langsung dari Bos Starlight?”
“Um, itu…” Kiara menaruh kembali ponselnya ke dalam tas, ”hanya kesepakatan kecil.” Lalu ia mengalihkan pandang sembari tangannya mengelus leher.
Mata Tara menyipit tajam. Tentu siapapun tahu bahwa Bos Starlight bukan seorang yang mudah didekati.
“Namamu?”
“Kiara Larasati."
Tara tampak berpikir, lalu kemudian ia berdiri sambil mengambil tasnya.
“Baiklah. Mulai sekarang, aku adalah manajermu. Kita bicarakan masalah keuntungan nanti saja.” Tatapannya menjadi serius.
“Aku mulai penasaran dan ingin lihat sendiri, kenapa Bos Starlight sampai memanggilmu secara langsung.” Tara meraih tangan Kiara dan mereka pun berjalan beriringan.
Setengah jam kemudian, mobil Kiara berhenti di depan gedung perkantoran Starlight Entertainment. Bangunan bertingkat puluhan itu terlihat sangat megah.
Mereka turun lalu berjalan masuk ke dalam. Lobi utama gedung itu sangat luas dan dilapisi lantai marmer. Beberapa petugas keamanan berseragam hitam berjaga ketat di setiap sudut.
’Tempat ini benar-benar dijaga ketat,’ Kiara terus melangkah maju.
Mereka berdua akhirnya mendekati meja resepsionis. Seorang wanita berseragam rapi menatap mereka dari atas sampai bawah.
Kiara saat ini hanya mengenakan pakaian kasual. Ia tidak menggunakan riasan tebal dan tidak memakai perhiasan mahal.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu. Nada suaranya terdengar datar dan sangat formal.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Reyhan," jawab Kiara lugas.
Resepsionis itu mengerutkan dahi. "Maaf, Nona. Tanpa janji temu, kami tidak bisa mengizinkan siapa pun masuk menemuinya."
"Belum ada janji temu tertulis. Pak Reyhan sendiri yang mengirim pesan agar saya datang sekarang," jelas Kiara.
Resepsionis tersebut tertawa pelan mendengar jawaban itu.
"Setiap hari ada saja orang yang mengaku diundang langsung oleh beliau. Mohon maaf, Anda tetap tidak bisa masuk tanpa jadwal resmi," tolak resepsionis itu dengan sinis. "Tolong jangan membuat keributan di tempat ini."
Di area kursi tunggu lobi, beberapa selebritas tingkat bawah Starlight, mendengar percakapan itu dan mulai tersenyum merendahkan.
Kiara menoleh ke arah suara tawa tersebut. Ia mengenali wajah dua artis wanita yang sering mencari masalah di televisi di kehidupan sebelumnya.
"Sekarang semua orang berani mengaku kenal Pak Reyhan," sindir salah satu artis dengan suara keras.
Temannya ikut tertawa mengejek.
"Modal wajah cantik sedikit langsung merasa diundang Pak Presdir. Benar-benar tidak tahu diri."
Tara terlihat sangat tidak nyaman mendengar hinaan itu. Perempuan itu mengepalkan tangan dan hampir maju untuk membalas ucapan mereka.
"Kak Tara," bisik Kiara sambil menahan lengan manajernya. Ia sama sekali tidak merasa marah.
Kiara mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia mencari nomor yang tadi menghubunginya, lalu menekan tombol panggilan.
Panggilan itu tersambung pada dering kedua.
“Ya?"
Suara rendah dan berat langsung terdengar dari seberang.
Jantung Kiara berdegup sedikit lebih cepat.
“Saya sudah berada di lobi utama Starlight,” lapornya. “Tapi resepsionis tidak mengizinkan saya naik.”
Hening sejenak.
Kiara bisa membayangkan pria itu sedang duduk di balik meja kerjanya dengan wajah dingin seperti biasa.
“Bima akan menjemputmu.”
Panggilan langsung terputus.
Kiara berdiri diam di depan meja resepsionis.
Sang petugas wanita hanya membuang muka. Ia mengira Kiara berpura-pura menelepon untuk menutupi rasa malu.
Para artis di ruang tunggu juga masih menatap dengan senyum mengejek. Mereka sedang menunggu Kiara diusir oleh petugas keamanan.
Kurang dari lima menit kemudian, suara denting lift berbunyi. Pintu sebuah lift khusus bertuliskan huruf VVIP terbuka lebar di belakang meja resepsionis.
Pintu lift itu biasanya hanya digunakan oleh Reyhan dan tamu penting perusahaan.
Seorang pria berjas hitam melangkah keluar. Dia adalah Bima. Ia berjalan cepat melewati area lobi dan langsung menghampiri tempat Kiara.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Nona Kiara," ucap Bima dengan suara keras dan hormat menundukan badan. "Pak Presdir sudah menunggu Anda di lantai atas."
Suasana di lobi mendadak menjadi sangat sunyi. Tidak ada lagi suara tawa dari arah kursi tunggu.
Sebelum memandu jalan, Bima menoleh ke arah resepsionis. Wajah wanita penjaga meja itu kini berubah sangat pucat.
"Mulai hari ini, jika Nona Kiara datang, harus langsung diantar ke atas," tegur Bima dengan nada sedingin es.
Mulut wanita itu tertutup rapat dan hanya bisa mengangguk kaku. Di ruang tunggu, dua artis yang tadi mengejek kini menundukkan kepala dalam-dalam dengan tubuh gemetar ketakutan.
Kiara tidak mengatakan apa-apa kepada mereka. Ia menoleh ke arah manajernya yang masih berdiri mematung.
"Ayo, Kak Tara," ajaknya pelan.
Kiara dan Tara melangkah maju mengikuti Bima menuju lift khusus. Pintu lift tertutup dan membawa mereka naik dengan kecepatan tinggi.
Beberapa saat kemudian, lift berhenti dengan halus. Pintu terbuka, memperlihatkan koridor lantai atas yang sangat sunyi dan dijaga ketat.
Bima memimpin jalan hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Asisten itu mengetuk pintu tersebut sebanyak dua kali.
Dari dalam ruangan, terdengar suara Reyhan yang bernada rendah dan berat.
"Masuk!"
Kiara menarik napas pelan untuk menenangkan detak jantungnya. Tangannya perlahan menekan gagang dan mendorong pintu kayu itu hingga terbuka.
Reyhan terkekeh kecil. Tangannya di daun pintu kayu justru semakin erat.Tubuh tinggi pria itu kian merapat dari belakang, mengurung Kiara sepenuhnya."Banyak wartawan di luar?" ulang Reyhan lambat, menirukan nada panik Kiara.Ujung hidungnya menyapu halus garis leher Kiara. "Lalu kenapa kamu malah berlari masuk ke toilet pria? Mau mengintip?"Kiara yang panik berusaha keras mempertahankan martabatnya. Ia berbalik mendorong dada bidang Reyhan yang kokoh, lalu membalas dengan tatapan tajam."S-siapa yang mau mengintip?!" sergah Kiara berusaha keras menyembunyikan rona merah yang menjalar ke telinganya. "S-saya dikejar wartawan tadi!”Sudut bibir Reyhan terangkat, membentuk senyum miring yang penuh keangkuhan. Pria itu melangkah maju, membuat cengkraman tangan Kiara di dada bidangnya yang basah terasa semakin intim.Pria itu menunduk lebih dalam, menyisakan jarak tipis di antara bibir mereka.‘Ngapain sih? Deket banget. Masa dia mau cium aku lagi?’Darah Kiara seketika berdesir heba
"Akting dari mana?!" balas Tara berapi-api."Kameranya menyorot kalian dalam resolusi 4K, Kiara! Tidak ada ruang untuk alibi kamuflase. Para produser saling pandang dengan ngeri. Mereka mendadak sadar bahwa mereka baru saja memaki dan mengusir wanita yang bisa membuat seorang Reyhan Dirgantara menanggalkan akal sehatnya secara langsung."Tara mencondongkan tubuhnya, menatap mata Kiara dengan senyum miring kepuasan."Sutradara arogan itu sekarang sedang berkeringat dingin di ruang sebelah, menyadari dia baru saja mencoba menendang permaisuri dari istananya sendiri. Posisi pemeran utama itu sekarang mutlak milikmu."Kiara terdiam kaku. Ia menoleh perlahan menatap ambang pintu yang dibiarkan terbuka, ke arah lorong tempat Reyhan baru saja menghilang.Batinnya berkecamuk hebat.Presdir gila itu menggunakan metode yang paling modus untuk membungkam para juri.Namun, efeknya benar-benar tak terbantahkan.Suka atau tidak, Reyhan baru saja meletakkan mahkota perlindungan di atas kepala Kia
Napas Reyhan yang memburu terasa begitu hangat, menyapu permukaan bibir Kiara.Gadis itu memejamkan mata.‘Mungkin dia cuma akan berbisik sesuatu,’ pikirnya.Namun, dugaannya meleset total.Alih-alih menghindar, jari-jari kokoh Reyhan yang menangkup rahangnya justru memberikan sedikit tekanan, mendongakkan wajah gadis itu lebih tinggi.Detik berikutnya, Reyhan menghapus sisa jarak di antara mereka dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Kiara.Mata Kiara seketika terbelalak lebar.‘Gila! Dia beneran—.’Waktu seolah berhenti berdetak di ruang audisi yang hening itu.Sentuhan Reyhan awalnya terasa menuntut, sejalan dengan emosi kelam karakter protagonis pria yang sedang ia perankan.Namun perlahan, ciuman itu berubah menjadi pagutan yang lembut yang memabukkan, seolah pria itu dengan sengaja menyalurkan hasrat tersembunyinya.Tubuh Kiara menegang kaku. Otaknya mendadak mati keping. Ia tidak bisa berpikir, tidak bisa meronta, dan tanpa sadar hanya bisa meremas lengan kemeja Reyh
Sutradara Haris yang baru saja mengamuk seketika pucat pasi. Matanya terbelalak menatap sosok yang baru saja melangkah masuk melewati ambang pintu.Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di ruangan tersebut.Seorang pria dengan setelan jas hitam bespoke melangkah masuk. Auranya begitu gelap, dingin, dan mendominasi, seolah menyedot seluruh udara di dalam ruangan."Sepertinya, ada yang lupa, siapa yang sebenarnya berkuasa di gedung ini,” ujar pria itu memecah keheningan.Kehadiran Reyhan Dirgantara di ruang audisi itu ibarat badai salju yang membekukan seisi ruangan dalam hitungan detik.Kelima juri yang duduk di balik meja panjang, termasuk Sutradara Haris yang tadinya mengamuk layaknya singa, seketika merinding berdiri dari kursi mereka.Wajah-wajah arogan itu kini tergantikan oleh pias ketakutan yang amat nyata.Langkah panjang Reyhan melewati Kiara begitu saja, menyapu bahu gadis itu dengan aroma musk dan mint yang dingin.Pria itu terus berjalan menuju meja juri tanpa
Bima dengan gerakan sangat efisien dan wajah yang tetap tanpa dosa, berjalan mendekat untuk menyodorkan selembar tisu."A-apa kamu bilang?" tanya Kiara dengan suara serak, buru-buru menyeka sudut bibirnya. Wajahnya yang semula sudah normal kini kembali memerah sempurna."Pak Presdir sangat peduli pada persiapan audisi ini, Nona," lanjut Bima dengan raut wajah datar tak terbaca.“Huh!”Kiara mendesah lepas.‘Yah, sudah pasti karena proyek ini. Apa sih yang aku harapkan?'Setelah berhasil menenangkan diri dari insiden 'teh penenang' Reyhan, Kiara turun dari penthouse, dan disambut oleh Tara yang sudah menunggunya di lobi lantai audisi dengan wajah tegang Lalu, mereka melangkah keluar dari lift khusus didampingi Bima.Begitu pintu lift terbuka, suasana lorong yang semula dipenuhi obrolan puluhan aktris papan atas dan pendatang baru mendadak senyap.Semua mata tertuju pada Kiara. Pagi itu, Kiara mengenakan midi dress berwarna navy dengan potongan asimetris yang memeluk tubuhnya denga
Sepersekian detik kemudian, Reyhan menarik tangannya dari dinding kaca.Pria itu mundur selangkah dengan cepat, memutus kontak mata mereka secara sepihak."Ehem."Reyhan berdeham pelan, terdengar canggung dan serak dari biasanya. Ia segera berbalik membelakangi Kiara.Dengan gerakan yang sangat kaku dan tidak natural, sang CEO yang terkenal kejam itu tiba-tiba sibuk menunduk untuk memungut lembaran naskah yang tadi ia jatuhkan ke lantai.Di bawah cahaya lampu temaram, Kiara bisa melihat dengan jelas ujung telinga pria itu perlahan memerah.Kiara yang telah menurunkan jinjitnya, seketika memalingkan wajah. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke dinding kaca, sementara tangan kanannya tanpa sadar naik meremas pakaian yang ia kenakan.Detak jantungnya semakin menggebu-gebu. Di balik wajahnya yang perlahan memanas, batin Kiara meronta hebat.'Masa sih, Pak Presdir beneran suka aku?’Kiara menggigit bibir bawahnya, matanya bergerak gelisah menatap ujung sepatunya sendiri.Sebuah bay







