LOGINSylvia duduk merapatkan kedua lututnya di sofa ruang tengah. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, menatap ujung jemari kakinya sendiri dengan wajah yang masih terasa panas terbakar malu.
Baju kelinci yang ia kenakan tadi sudah berganti dengan sweter abu-abu kebesaran dan celana training panjang. Khas yang ia kenakan sehari-hari.
Di hadapannya, Maxwell duduk tegak tanpa jas. Dua kancing teratas kemeja hitamnya terbuka, lengannya tergulung rapi sampai ke siku. Sorot mata kelabunya menatap lurus ke arah Sylvia.
“Aku tadi cuma iseng, Kak. Terus karena–”
“Matamu merah,” potong Maxwell. Suaranya yang rendah terdengar dingin. “Menangis?”
“Nggak!”
“Berbohong lagi?”
Sylvia menggigit bibirnya, merutuki kebodohannya dalam hati. Bisa-bisanya ia tidak mendengar kedatangan Maxwell, ataupun mengunci pintu. Kalau sudah seperti ini, tinggal tunggu waktu sampai kakaknya tahu.
Dan jika kakaknya tahu….
“Oke. Aku akan cerita jujur.” Suara Sylvia terdengar pelan saat mengatakan itu. “Tapi Kakak harus janji buat nggak mengadu ke Kak Damien.”
“Sadari posisimu,” tukas Maxwell. “Kamu tidak berhak buat negosiasi saat ini.”
“Kak Max,” rengek Sylvia.
“Dari mana kamu dapat baju konyol itu?” tanya Maxwell lagi. “Dan apa yang kamu lakukan tadi?”
Sylvia tidak langsung menjawab. Ia masih menunduk saat kemudian mengatakan. “Aku … niatnya pakai itu buat kasih kejutan ke pacarku.”
Sylvia mengaku pada Maxwell. Ia ceritakan soal kejutan ulang tahun konyol itu, bagaimana ia menyimpan uang untuk memberikan yang terbaik, tapi kemudian disuguhi suara desahan menjijikkan antara Gerald dan seorang wanita paruh baya bernama Tante Nindy.
Sylvia meremas ujung sweternya kuat-kuat sembari menahan tangis saat sampai di bagian Gerald mencemooh bentuk badannya—mengatakan ia datar dan sama sekali tidak membangkitkan nafsu—lalu melemparnya keluar dari unit apartemen layaknya barang rongsokan.
Termasuk alasan memalukan kenapa ia sampai meraba-raba dadanya di depan cermin tadi, semata-mata karena ia merasa rendah diri dan ingin tahu bagian mana dari dirinya yang salah.
"Aku, aku ... aku hanya merasa nggak menarik, seperti yang dibilang Gerald," tutup Sylvia sambil menunduk.
Selama mendengarkan cerita, Maxwell tidak menunjukkan banyak ekspresi. Sorot matanya yang tajam memandang lurus ke arah Sylvia, membuat gadis itu tidak berani mendongakkan kepalanya.
“Bodoh.” Itulah kata pertama yang diucapkan Maxwell setelah Sylvia menyelesaikan ceritanya.
Sylvia mengerang pelan, tapi tidak menyanggah.
Dia sendiri pun sudah tahu betapa konyol dirinya saat ini dan itu membuatnya ingin menangis lagi.
Hening mengembang di antara mereka selama beberapa saat, sampai akhirnya Maxwell bangkit berdiri.
“Kembali ke kamarmu dan jangan lakukan hal bodoh lagi,” kata pria itu pada Sylvia. “Atau kakakmu akan tahu.”
"B-baik, Kak!"
Tanpa menunggu diusir untuk kedua kalinya, Sylvia langsung bangkit dan buru-buru masuk ke kamar. Pintu ia tutup rapat, lalu tubuhnya ia hempaskan ke kasur empuk.
Bodoh, bodoh, bodoh! Bisa-bisanya dia–
Bzzzt. Bzzzt.
Ponsel di samping bantal bergetar tanpa henti. Sylvia melirik malas. Layarnya penuh belasan panggilan tak terjawab dari sahabatnya, disusul satu pesan singkat.
“Gila! Gerald selingkuh sama tante-tante?! Sumpah?!”
Belum sempat Sylvia membalas pesan itu, ponselnya bergetar lagi. Sebuah panggilan masuk dari Katrina, si sahabat.
Sylvia menekan pilihan jawab. “Hal–”
“Habis dari mana sih!? Bisa-bisanya habis kirim pesan kalau Gerald selingkuh, terus langsung hilang gitu aja. Sengaja ya?”
“Enggak, tadi–”
“Coba cerita tadi awal! Bukannya tadinya kamu mau kasih kejutan buat dia?”
Sylvia menghela napas panjang ke arah langit-langit kamarnya yang putih. Kepalanya berdenyut nyeri. Energi terkuras habis, namun sekarang mau tidak mau ia tetap harus menceritakan kejadian itu sekali lagi hari ini.
***
Brak!
Maxwell meletakkan gelas di bar setelah menandaskan isinya. Ekspresinya tampak keras, rahangnya tegang sementara keningnya berkerut dalam.
Di sebelahnya, Damien menghela napas.
Keduanya kini berada di sebuah kelab malam yang biasa mereka kunjungi. Sebelumnya, Damien jelas sekali melihat kalau suasana hati Maxwell cukup baik. Karenanya, dia berani meminta tolong pada sahabat sekaligus bosnya itu untuk mengantarkan makanan pada adiknya, Sylvia, sementara Damien masih tertahan di kantor.
Berbeda dengan sekarang.
“Kenapa lagi?” tanya pria itu pada akhirnya setelah menyaksikan Maxwell menegak gelas kelimanya. Ia kemudian mengambil gelas Maxwell dan meletakkannya di luar jangkauan sahabatnya itu. “Intern barumu bikin kacau? Masalah perempuan?”
Maxwell menatap Damien. “Kurang lebih,” jawabnya setelah diam beberapa saat.
Mana mungkin Maxwell mengatakan pada sahabatnya itu kalau adiknya berdandan seksi dan berniat menciptakan momen dengan pacarnya yang berengsek sebelum kemudian dicampakkan secara mengenaskan?
Selain karena ia sudah berjanji pada Sylvia secara tidak langsung, Maxwell tahu kalau sampai Damien mendengar soal ulah sang adik, Damien pasti akan mengirim Sylvia kembali ke rumah orang tua mereka di desa. Dan dia tidak suka jika Sylvia berada di luar jangkauannya.
Rumah Damien akan terasa sepi dan dingin tanpa ocehan dan omelan gadis itu.
Sama seperti kediaman Maxwell yang ia benci.
Tapi perasaan marah yang membuncah di dadanya ini … sepertinya perlu ditangani lebih dulu.
Ck, kenapa jadi dia yang pusing karena masalah gadis itu!?
“Kalau tidak mau cerita, ya sudah,” ucap Damien kemudian. Pria itu memutar gelas martini di tangan. “Tapi perhatikan caramu minum. Aku tidak mau mengurusi dirimu yang mabuk.”
Maxwell diam sejenak, sebelum kemudian berkata, “Jadi. Ini cerita temanku.”
Pria itu akhirnya menceritakan apa yang dialami “temannya”. Tentu, tanpa nama dan identitas apa pun.
“Gila!” Damien menggelengkan kepala. Pria itu bahkan tanpa sadar berteriak. “Kalau aku jadi temanmu, aku akan bunuh si berengsek itu. Apalagi kalau memang gadis di ceritamu itu adalah seseorang yang berharga bagiku.”
“Ah. Jadi apa yang dirasakan olehnya masuk akal.”
“Jelas! Kamu–maksudku, temanmu itu peduli pada gadis itu, kan!?”
Maxwell mengangguk, tampak lebih santai. Ia memanggil si bartender dan memesan sesuatu yang lebih ringan setelahnya.
Ledakan emosi yang ia rasakan itu adalah hasil kepeduliannya terhadap Sylvia. Dan itu normal, bukan hal aneh yang perlu dipertanyakan. Apalagi, ia sudah lama bersama gadis itu, bahkan menganggapnya sebagai adiknya sendiri.
Sementara itu, di sebelahnya, Damien diam-diam menyeringai. Hanya orang bodoh yang tidak tahu siapa sebenarnya tokoh utama dalam cerita Maxwell. “Teman” yang pria itu maksud tentu saja Maxwell sendiri. Damien sudah mengenal Maxwell cukup lama untuk tahu.
Meski ia tidak mengenal siapa gadis dalam cerita itu, Damien jelas mengerti satu hal.
“Selamat, Sobat,” batin kakak Sylvia tersebut. “Kamu sangat menyukai gadis itu, huh? Sampai uring-uringan begini?”
Friksi antara kain celana bahan santai Maxwell dengan tubuh bagian bawah Sylvia menghasilkan panas yang kian mendidih. Tekanan keras yang menumpu di area sensitifnya menghadirkan rasa ngilu yang cukup tajam, membuat Sylvia merintih tertahan. Sylvia meronta kecil, pinggulnya menggeliat tanpa kendali—setengah mencoba menghindar dari rasa sakit yang asing, setengah mencari jalan keluar dari desakan panas yang menghimpitnya—namun cengkeraman tangan Maxwell di pinggulnya bagai rantai baja yang mengunci gerakannya. "Kak... sakit... tolong..." rengek Sylvia dengan sudut mata yang mulai basah. Seluruh keberanian nakalnya tadi seketika lebur menjadi kepasrahan dan ketidakberdayaan mutlak. "Kak Max... pelan... jangan gantung aku kayak gini..." "Minta dengan benar, Sylvia," perintah Maxwell dengan suara bariton yang bergetar rendah di telinganya. Menyadari ketegangan dan getar takut pada tubuh gadis itu, sentuhannya di pinggul Sylvia sedikit melunak untuk memberi kenyamanan, namun tanganny
Perlahan, jemari lentik Sylvia terangkat dan mendarat di atas dada liat Maxwell. Kulit pria itu terasa begitu panas, seolah membakar langsung ke aliran darah Sylvia. Begitu sentuhan dingin jemarinya menyapu kulit tersebut, otot dada dan perut Maxwell seketika mengeras kaku. Sebuah desisan tajam lolos dari sela gigi pria itu, rahangnya terkatup begitu rapat hingga urat di pelipisnya berdenyut liar. Sylvia tidak berhenti. Mengikuti naluri yang menuntunnya, jemarinya perlahan meluncur turun menyusuri garis tengah perut Maxwell yang kencang bagai baja pahatan, berhenti tepat di batas celana panjang yang masih membungkus pinggang pria itu. Setiap gerakan lembut jemari Sylvia menghantarkan gelombang kejut yang membuat Maxwell mengepalkan tangannya di atas seprai hingga kain sutra itu berkerut kusut. Pria yang biasanya selalu berdiri dengan kendali mutlak dan kepalanya yang dingin kini berada di titik paling rapuh, menahan gejolak yang nyaris menghancurkan benteng pertahanannya. Tangan
"Kak Max... aku pengen jilat dan emut milikmu." Ucapan berani yang meluncur tanpa filter dari bibir Sylvia seketika membakar habis sisa kesabaran Maxwell. Rahang pria itu mengeras kaku. Urat-urat halus di lehernya menonjol tegang, dan untuk sepersekian detik, napasnya tercekat di tenggorokan. Mata elang Maxwell yang pekat menghunus lurus ke dalam manik mata Sylvia yang berkilat menantang, meski rona merah padam kini mulai merambat liar di kedua pipi gadis itu. "Sylvia..." bisik Maxwell dengan suara bariton yang luar biasa rendah, begitu parau hingga terasa menggetarkan rongga dada gadis di bawahnya. "Kamu benar-benar tidak takut bermain api denganku, hm?" Sylvia menelan ludah pelan. Keberaniannya sempat bergetar melihat tatapan sang predator yang begitu pekat, namun rasa ingin mendominasi dan memanjakan pria itu membuatnya enggan menarik kembali kata-katanya. "Aku nggak takut..." bisik Sylvia dengan suara bergetar halus, jemarinya perlahan menyusup ke tengkuk pria itu, menarik he
Di balik selimut sutra tebal yang memerangkap udara hangat, ketegangan di antara mereka seketika berubah menjadi bara api yang membakar perlahan.Maxwell tidak bergeser satu inci pun dari atas tubuh Sylvia. Bobot tubuh tegapnya menekan kasur di kedua sisi pinggang ramping gadis itu, mengurung Sylvia seutuhnya dalam sangkar otot liat dan wibawa mutlak. Kemeja putih Maxwell yang tadi basah kini sudah tanggal, menyisakan dada bidangnya yang telanjang dan berkilau halus oleh sisa peluh perjuangan semalam. Setiap kali pria itu menarik napas, otot-otot perutnya yang padat bergesekan langsung dengan kain gaun tidur sutra tipis yang membungkus tubuh Sylvia."Kak Max..." bisik Sylvia dengan suara bergetar, menatap lurus ke dalam manik mata elang yang menggelap pekat di atasnya."Masih mau mengujiku lagi, hm?" suara bariton Maxwell meluncur sangat rendah, begitu serak dan sarat akan getaran yang meremangkan bulu kuduk.Tanpa menunggu jawaban, satu tangan besar Maxwell bergerak ke atas. Jemari p
"Jangan bergerak," bisik Maxwell parau, suaranya teredam di helai rambut Sylvia. Pelukannya semakin mengencang, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, gadis ini akan lenyap dari genggamannya. "Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja, Sylvia." Sylvia tersenyum tipis di dalam dekapan itu. Hatinya berdenyut hangat melihat sisi rapuh dari seorang pria yang selalu tampak tak terkalahkan di mata dunia. Gadis itu berjinjit sedikit, menempelkan bibirnya di rahang kokoh Maxwell, mengecupnya lembut berkali-kali seraya berbisik manis: "Aku di sini, Kak. Aku aman. Nggak ada yang menyakitiku..." Kecupan kecil itu bagai embun sejuk yang menyiram kobaran api di kepala Maxwell. Perlahan, Maxwell mengangkat wajahnya. Sorot mata elangnya yang tadi kelam kini berubah jernih, dipenuhi oleh kehangatan dan rasa cinta yang begitu pekat. Jemari besarnya yang hangat menangkup kedua pipi Sylvia, menuntun wajah mungil itu agar mendongak menatapnya. Ibu jari Maxwell membelai lembut bibir
Nama itu bagai percikan api di atas genangan bensin. Gerald. Hening yang menyusul di aula megah itu begitu pekat hingga suara tarikan napas tertahan dari Alex terdengar jelas. Tante Nindy masih tertawa terbahak-bahak di lantai marmer, wajahnya yang penuh air mata menyeringai buas, puas melihat punggung tegap Maxwell yang membeku kaku di ambang pintu. Nyonya Agatha menutup mulutnya dengan tangan gemetar. "Nindy... kamu... kamu sampai membebaskan bajingan itu?!" "Kenapa tidak?!" jerit Tante Nindy histeris. "Biar dia mengambil kembali apa yang memang miliknya! Biar Maxwell melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana gadis kesayangannya—" Drap! Drap! Drap! Maxwell membalikkan tubuhnya. Bukan kepanikan yang terpancar dari wajah pria itu, melainkan kegelapan purba yang begitu pekat dan dingin. Langkah kakinya mendekati Tante Nindy begitu tenang, namun aura membunuh yang meledak dari tubuhnya membuat udara di ruangan itu serasa lenyap terbakar. Maxwell berhenti tepat di depan Tan







