로그인Bukannya menjawab, pria itu justru memangkas jarak.
Hanya dalam dua langkah lebar, pria itu kini sudah ada tepat di hadapan Sylvia. Tanpa permisi, Maxwell melepas jas luar yang ia kenakan dan langsung membungkus tubuh mungil Sylvia di hadapannya.
Sylvia menggigit bibir bawahnya ketika indra penciumannya dimanjakan aroma khas maskulin dari jas kebesaran yang tengah memeluknya tersebut.
"Kenapa menangis?”
Suara Maxwell terdengar lebih rendah, berat, tapi cenderung lebih lembut itu membuat Sylvia mendongak.
“Nggak menangis, Kak. Ini–”
“Jangan bohong padaku, Sylvia.”
Gadis itu menggigit bibirnya, menahan agar isakannya tidak lolos dari dari bibir.
Dunia benar-benar sedang mempermainkannya! Seakan kesialannya dengan Gerald tadi tidak cukup, dunia tega sekali menggiringnya pada pria otoriter ini.
“Maaf,” ucap Sylvia pada akhirnya. Ia menekan isakannya kuat-kuat sembari memeluk dirinya sendiri. “Nggak mau dimarahi.”
Tampaknya pria itu akhirnya menaruh kasihan padanya karena setelahnya, Maxwell menghela napas dan berkata, “Kuantar pulang.”
Tangan Maxwell yang besar dan kokoh membimbing Sylvia ke lobi, lalu membawanya menuju mobilnya.
Di dalam mobil, keheningan terasa mencekik. Hawa dingin dari AC tak sebanding dengan aura membeku yang memancar dari pengemudi di sebelahnya.
“Kak,” ucap Sylvia pelan pada akhirnya. “Soal ini … tolong jangan bilang kakakku ya?”
Sebenarnya, pergaulannya tidak dibatasi. Namun, keluarganya–termasuk Damien, kakak kandung Sylvia sekaligus sahabat Maxwell–tidak tahu kalau selama ini Sylvia tengah menjalin kasih dengan seseorang.
Selain karena Damien pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggoda Sylvia, si Gerald sendiri selalu punya alasan jika Sylvia mengajaknya sekadar berkunjung di arena sekitar rumah Sylvia.
Kalau sampai Damien akhirnya, dan mendengar soal kebodohan yang telah Sylvia lakukan hari ini, riwayat Sylvia bisa tamat.
"Kalau begitu, katakan padaku," balas Maxwell akhirnya setelah diam selama beberapa saat. Fokusnya masih ada di jalanan di depannya. Meski begitu, ekspresi wajah tampannya yang bak pahatan dewa Yunani itu tampak gelap, "siapa yang membuatmu kacau seperti ini."
“Bukan siapa-siapa kok,” bisik Sylvia. “Tadi cuma ada–”
“Aku akan langsung hubungi kakakmu jika kamu bohong padaku lagi, Cil.”
Tanpa sadar, Sylvia merapatkan jas kebesaran yang tengah membungkus tubuhnya.
“Bukan masalah besar kok.”
“Pria?”
Sylvia diam lagi. Dialihkannya pandangan ke luar jendela, enggan menjawab ataupun menatap sahabat kakaknya yang sedang mengemudi.
Namun, tak berapa lama, gadis itu menegakkan punggungnya.
Lho, kenapa mobil yang ditumpanginya mau putar arah?
“Kak Max,” ucap Sylvia pada akhirnya. “Kenapa belok? Kakak lupa arah rumahku?”
“Balik ke apartemen tadi,” balas Maxwell. Suaranya yang dalam terdengar tenang, tapi justru itu yang membuat Sylvia waspada. Jika dilihat lebih saksama, lengan pria itu yang tengah mencengkeram kemudi juga tampak kaku. “Kalau kamu tidak mau jawab, akan kucari tahu sendiri.”
“Kak!” sergah Sylvia. “Apa-apaan? Memangnya Kakak mau apa? Gedor semua pintu apartemen di bangunan itu?”
“Ide bagus.”
Tanpa sadar, mulut Sylvia terbuka. Ditatapnya pria itu dengan pandangan tak percaya.
Sementara itu, Maxwell melirik ke arah Sylvia. “Jadi?” ucapnya.
Argh, dia benar-benar tidak bisa menang dari pria ini!
“Aku cuma,” kata Sylvia pada akhirnya, menyerah. “Lihat pacarku … dengan wanita lain.”
CIIITTT!!!
Mobil direm mendadak hingga ban berdecit nyaring bergesekan dengan aspal. Tubuh Sylvia terdorong ke depan jika saja sabuk pengamannya tidak menahan. Maxwell menoleh menatap Sylvia, aura pembunuh yang gelap dan mengerikan menguar pekat dari sorot matanya.
"Apartemen nomor berapa bajingan itu tinggal?"
"Kak–"
"Akan kuhancurkan rahangnya sampai dia nggak bisa membuka mulut kotornya lagi seumur hidup.” Suara Maxwell yang tenang itu justru makin membuat Sylvia merinding. “Nomor. Berapa. Sylvia."
Sylvia menggeleng panik. Ia segera menahan lengan kokoh Maxwell. "Jangan! Jangan ke sana, Kak! Aku nggak mau Kakak terlibat masalah karena pria murahan kayak dia!"
Maxwell menepis tangan Sylvia perlahan, mendengus sinis dengan senyum miring yang merendahkan.
"Kamu sudah disakiti, tapi kamu masih membelanya?"
"Aku nggak membelanya!" bantah Sylvia tak terima, matanya yang memerah menatap Maxwell penuh kilat amarah. "Aku juga udah balas dendam kok! Aku nggak diam aja!"
"Oh ya?" Maxwell mengangkat sebelah alisnya, meremehkan. "Apa yang bisa dilakukan anak kecil kayak kamu?"
"Aku ... aku menamparnya! Tadi aku tampar pipi si brengsek itu sekuat tenaga sampai tanganku kebas!" seru Sylvia berapi-api, berusaha membuktikan bahwa ia tidak selemah itu.
Pergerakan Maxwell terhenti. Sorot mata yang tadinya dipenuhi aura membunuh itu tiba-tiba melembut dalam sekejap.
Maxwell tiba-tiba mencondongkan tubuh besarnya ke arah Sylvia, membuat gadis itu refleks menahan napas. Jantung Sylvia kembali berdegup kencang bak genderang perang.
Dengan gerakan yang sangat kontras dari amarahnya tadi, tangan besar Maxwell meraih tangan kanan mungil Sylvia. Jemari panjang pria itu mengusap telapak tangan Sylvia dengan hati-hati.
"Tanganmu ... sakit?"
Pertanyaan Maxwell membuat Sylvia tertegun.
Tangan besar Bian terangkat, ibu jarinya yang kasar mengusap pelan jejak air mata di sudut mata Sylvia. Sentuhan lembut yang begitu kontras dengan wajah dinginnya itu membuat sekujur tubuh Sylvia meremang."Kalau begitu bersikaplah dewasa, Sylvia," ucap Bian dingin, rahangnya mengeras. "Hapus air matamu. Berhenti meratapi kandasnya hubunganmu dengan pria murahan itu."Sylvia tertegun, terpaku pada kedalaman mata Bian yang entah mengapa terasa begitu melindungi di balik tembok esnya.Hanya dengan beberapa kata tajam itu, Bian berhasil menampar kesadaran Sylvia. Ting tong! Ting tong!Suara bel pintu depan yang dibunyikan secara brutal merusak momen menegangkan itu. Bian menarik tubuhnya kembali, melepaskan kungkungannya seolah tidak terjadi apa-apa, membiarkan Sylvia meraup oksigen yang sedari tadi terasa sulit ia hirup."Berisik," dengus Bian kesal, merapikan gulungan lengan kemejanya. "Habiskan makananmu, aku akan membukakan pintu."Tanpa menunggu jawaban, pria bertubuh tegap itu me
Sepasang mata Sylvia yang sembab terkunci dalam tatap dalam Maxwell di hadapan selama beberapa saat sebelum gadis itu memaksakan untuk memutus kontak mata dan menarik tangannya dari genggaman pria itu.“A-aku sudah jawab, kan?” gumam Sylvia. “Ayo pulang.”*** Sejak malam kejadian memalukan sekaligus menyakitkan itu, Sylvia benar-benar mengurung diri. Ia tak sudi keluar dari kamar, mengabaikan perutnya yang keroncongan, dan memilih bolos kuliah berhari-hari.Tok! Tok! Tok!"Syl, buka pintunya!" Suara cemas Damien, kakak kandungnya, terdengar dari balik pintu untuk yang kesekian kalinya. "Sudah dua hari kamu nggak makan, Sylvia! Kamu mau mati kelaparan di dalam sana, Hah?! Kalau kamu nggak buka juga, aku dobrak pintu ini sekarang!""Sylvia nggak lapar, Kak! Tinggalin Sylvia sendiri!" teriak Sylvia dari balik selimut, suaranya parau dan serak. "Biarin aja katamu! Kalau kamu mati, siapa yang repot? kamu ini beneran kayak anak kecil deh!" seru Damien lagi, tapi langkah kakinya terdengar
Bukannya menjawab, pria itu justru memangkas jarak.Hanya dalam dua langkah lebar, pria itu kini sudah ada tepat di hadapan Sylvia. Tanpa permisi, Maxwell melepas jas luar yang ia kenakan dan langsung membungkus tubuh mungil Sylvia di hadapannya.Sylvia menggigit bibir bawahnya ketika indra penciumannya dimanjakan aroma khas maskulin dari jas kebesaran yang tengah memeluknya tersebut. "Kenapa menangis?”Suara Maxwell terdengar lebih rendah, berat, tapi cenderung lebih lembut itu membuat Sylvia mendongak. “Nggak menangis, Kak. Ini–”“Jangan bohong padaku, Sylvia.”Gadis itu menggigit bibirnya, menahan agar isakannya tidak lolos dari dari bibir.Dunia benar-benar sedang mempermainkannya! Seakan kesialannya dengan Gerald tadi tidak cukup, dunia tega sekali menggiringnya pada pria otoriter ini.“Maaf,” ucap Sylvia pada akhirnya. Ia menekan isakannya kuat-kuat sembari memeluk dirinya sendiri. “Nggak mau dimarahi.”Tampaknya pria itu akhirnya menaruh kasihan padanya karena setelahnya, Max
"Ahh, sempit banget!"Sylvia mengerang pelan sambil memperbaiki bunny suit-nya yang melorot, sehingga membuat buah dadanya sedikit mencuat keluar. Tangannya kemudian membetulkan telinga kelinci di kepala yang miring karena gerakannya.“Nggak apa deh, demi kasih kejutan,” gumam Sylvia, meneguhkan hatinya meski kakinya mulai kesemutan karena ia sedang berjongkok di dalam lemari baju sempit milik kekasihnya.Hari ini adalah hari ulang tahun kekasih Sylvia yang ke-26 dan di hari yang istimewa ini, Sylvia memutuskan untuk tampil beda. Ia yang biasanya tampil sederhana dan polos dengan baju tertutup yang agak kebesaran kini berdandan dan memakai kostum bunny seksi, tak lupa dengan bando telinga kelinci dan stocking jaring-jaring yang membuat dia tampak seperti model sebuah majalah dewasa.Oh, kekasihnya jelas akan terkejut! Saat Sylvia sibuk membayangkan reaksi kekasihnya itu, ia samar-samar mendengar suara seseorang memasukkan sandi apartemen.“Bagus, Gerald sudah pulang,” pikir Sylvia.







