ログイン
"Ahh, sempit banget!"
Sylvia mengerang pelan sambil memperbaiki bunny suit-nya yang melorot, sehingga membuat buah dadanya sedikit mencuat keluar. Tangannya kemudian membetulkan telinga kelinci di kepala yang miring karena gerakannya.
“Nggak apa deh, demi kasih kejutan,” gumam Sylvia, meneguhkan hatinya meski kakinya mulai kesemutan karena ia sedang berjongkok di dalam lemari baju sempit milik kekasihnya.
Hari ini adalah hari ulang tahun kekasih Sylvia yang ke-26 dan di hari yang istimewa ini, Sylvia memutuskan untuk tampil beda.
Ia yang biasanya tampil sederhana dan polos dengan baju tertutup yang agak kebesaran kini berdandan dan memakai kostum bunny seksi, tak lupa dengan bando telinga kelinci dan stocking jaring-jaring yang membuat dia tampak seperti model sebuah majalah dewasa.
Oh, kekasihnya jelas akan terkejut!
Saat Sylvia sibuk membayangkan reaksi kekasihnya itu, ia samar-samar mendengar suara seseorang memasukkan sandi apartemen.
“Bagus, Gerald sudah pulang,” pikir Sylvia. “Aku tinggal menunggunya masuk, lalu–”
“Gerald Sayang~” Tiba-tiba Sylvia mendengar suara genit mengalun lembut dari luar lemari. “Pijat kakiku dulu dong. Pegal sekali rasanya habis jalan-jalan bareng kamu.”
Tubuh Sylvia membeku. Suara wanita? Siapa …?
"Jangankan memijat kaki,” sahut seorang pria yang ia kenali sebagai Gerald, sang kekasih. "Melihat badan Tante Nindy yang seksi dan menggoda begitu, memijat seluruh tubuh sampai pagi pun aku sanggup.”
Jantung Sylvia berdetak lebih cepat. Kenapa Gerald bicara bicara seperti? Sama sekali tidak sopan, seperti saat bersama Sylvia. Bahkan, pria itu kini terdengar menjijikkan dan murahan–
“Aduh, mulutmu memang manis,” kata si ‘tante’ setelah terkikik kecil. “Memang tidak sia-sia kamu jadi peliharaanku.”
Sepasang mata Sylvia membelalak. Kekasihnya itu … peliharaan tante-tante!?
Entah kekuatan dari mana, Sylvia menendang pintu lemari di hadapannya, membuat dua manusia yang baru saja melepas pakaian di atas ranjang itu terlonjak kaget.
"Sylvia!? Bukannya kamu sedang liburan–!"
Plak!
Tangan mungil Sylvia mendarat telak di pipi Gerald.
Sementara itu, Gerald tampak terkejut setengah mati sampai matanya melotot, entah karena keberadaan kekasih, karena tamparan yang ia dapatkan, atau karena penampilan Sylvia yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari biasanya.
Alasan mana pun, Sylvia tidak peduli.
“Pria rendahan,” desis Sylvia penuh penekanan. “Jadi selama ini kamu simpanan tante-tante?”
Pandangannya beralih ke arah tempat tidur, tampak seorang wanita paruh baya sedang duduk dengan anggun dengan kaki tersilang santai sembari bersandar di kepala tempat tidur.
Sosok yang dipanggil ‘Tante Nindy’ itu bahkan tidak repot-repot membetulkan pakaiannya yang tampak berantakan, menampakkan bra berenda warna hitam di balik gaun yang ia kenakan.
“Oh, siapa gadis berpakaian vulgar ini?” ucap Tante Nindy dengan nada geli. Bukannya kaget atau malu, wanita paruh baya itu justru tampak terhibur.
“Bicara soal vulgar, bukankah harusnya Tante introspeksi dulu?” tukas Sylvia. Ia menahan agar suaranya tidak bergetar karena marah. “Atau paling tidak, berkacalah!”
“Kenapa? Tubuhku bagus,” balas Tante Nindy sambil mengerling pada Gerald. “Bukankah begitu, Ger?” Pandangannya kembali ke arah Sylvia, lalu terkekeh pelan. “Sementara kamu….”
Wajah Sylvia memerah. “Kamu–”
Tiba-tiba tangan Sylvia dicengkeram oleh Gerald dan ditarik keluar. “Syl! Ayo keluar dulu!” bentak pria itu.
“Lepas!” Sylvia menarik tangannya. Matanya menatap Gerald tajam. “Katamu, hari ini kamu lembur. Tapi ternyata sibuk memuaskan wanita seumuran ibumu? Benar-benar menjijikkan!”
Di hadapan Sylvia, tampak rahang Gerald mengeras. Laki-laki itu melangkah maju, menjulang di hadapan Sylvia dengan aura intimidasi yang kasar.
"Memang kenapa? Aku bisa hidup enak berkat Tante Nindy."
Kedua mata Sylvia membelalak. “Gila,” desisnya. “Jadi kamu selingkuhi aku dengan alasan seperti itu?”
“Realistis saja, memangnya kamu bisa kasih aku apa?” balas Gerald. “Uang? Apartemen? Kepuasan? Aku bahkan malu jika harus mengakuimu sebagai pacar–maksudku, lihat penampilanmu!” Pria itu berdecak. “Satu-satunya alasan kenapa aku tahan denganmu adalah biar aku punya alibi sebagai pekerja Tante Nindy saja.”
“Tapi karena kamu sudah tahu begini, yah,” Gerald mengangkat bahu. “Apa boleh buat.”
Tante Nindy tertawa mengejek dari atas ranjang, memutar bola matanya malas. "Singkirkan saja badut itu, Sayang. Jangan biarkan dia merusak mood kita lebih jauh.”
“Waaah,” desah Sylvia, tepat ketika Gerald hendak menarik tangannya. Kali ini suaranya sudah bergetar karena marah. Wajahnya merah padam. “Baiklah kalau begitu. Memang pria berengsek cocok dengan wanita berengsek.”
“Sial! Jangan sok suci,” tukas Gerald. Matanya menatap penampilan Sylvia di hadapan. “Lihat dirimu sendiri. Seperti jalang kecil.”
Rahang Sylvia mengeras. Namun, sebelum ia sempat membalas, tubuhnya sudah ditarik paksa hingga depan pintu.
Gerald mendorong Sylvia keluar hingga gadis itu nyaris terjatuh.
Lalu pintu di hadapan Sylvia dibanting begitu saja.
Sylvia mengatur napasnya yang kacau. Sesak, sampai-sampai kepalanya terasa seperti melayang.
Dipaksakannya untuk berjalan menjauh dari tempat laknat itu.
Namun, makin jauh dari sana, ucapan Gerald, si mantan berengsek itu, justru makin terngiang keras di kepalanya.
Pria itu lebih memilih wanita yang usianya nyaris dua kali lipat dari usia mereka. Bahkan, tampaknya kaya raya, melihat dari dandanan dan ucapan sepintas kalau Gerald bisa hidup enak karena dibiayai oleh tante-tante itu.
Yang lebih membuatnya marah lagi, Sylvia tidak bisa membantah omongan kedua manusia itu!
“Aaahh!” Sylvia berteriak tertahan. Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat sementara tangannya mengepal kuat-kuat, meninggalkan bekas kuku di telapak tangannya.
Di saat yang sama, tanpa Sylvia sadari, beberapa tetes air mata menuruni pipinya.
Dirinya begitu bodoh! Bisa-bisanya ia mampu jatuh pada pesona pria berengsek kurang modal seperti itu!
Ditekannya tombol lift dengan tangan gemetar. Ia ingin segera pulang, lalu ia bisa–
Tunggu.
Beberapa saat setelah ia menekan tombol lift, Sylvia baru menyadari bahwa dirinya masih mengenakan kostum kelinci nakal yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Pakaian yang tadi ia kenakan sebelum berganti di apartemen Gerald masih di dalam sana, tersembunyi di rak paling bawah lemari pakaian.
Tiba-tiba, tanpa bisa ia tahan lagi tangisnya pecah.
Jelas ia tidak mungkin kembali ke sana untuk memunguti bajunya.
Tapi Sylvia juga tidak mungkin berjalan pulang dengan penampilan seperti ini! Semua orang akan mengatainya jalang jika sampai itu terjadi!
Ding!
Sebelum Sylvia sempat mengambil tindakan, pintu lift terbuka. Dan–
“Cil?” panggil suara itu, seketika membuat tubuh Sylvia mendadak kaku. Hanya ada satu orang yang memanggilnya begitu di dunia ini. “Apa yang–”
Sosok itu terdiam sejenak, sebelum kemudian melanjutkan pertanyaannya dengan nada lebih dingin dan berbahaya.
“Pakaian macam apa yang kamu kenakan itu, Sylvia?”
Sylvia membalas pandangan tajam pria di hadapannya tersebut. Garis rahang sosok itu tampak keras.
“K-Kak Max?” cicit Sylvia. “Kenapa Kakak ada di sini?”
Maxwell Alexander, sahabat kakak itu, adalah orang terakhir yang ingin ia temui saat ini.
Tangan besar Bian terangkat, ibu jarinya yang kasar mengusap pelan jejak air mata di sudut mata Sylvia. Sentuhan lembut yang begitu kontras dengan wajah dinginnya itu membuat sekujur tubuh Sylvia meremang."Kalau begitu bersikaplah dewasa, Sylvia," ucap Bian dingin, rahangnya mengeras. "Hapus air matamu. Berhenti meratapi kandasnya hubunganmu dengan pria murahan itu."Sylvia tertegun, terpaku pada kedalaman mata Bian yang entah mengapa terasa begitu melindungi di balik tembok esnya.Hanya dengan beberapa kata tajam itu, Bian berhasil menampar kesadaran Sylvia. Ting tong! Ting tong!Suara bel pintu depan yang dibunyikan secara brutal merusak momen menegangkan itu. Bian menarik tubuhnya kembali, melepaskan kungkungannya seolah tidak terjadi apa-apa, membiarkan Sylvia meraup oksigen yang sedari tadi terasa sulit ia hirup."Berisik," dengus Bian kesal, merapikan gulungan lengan kemejanya. "Habiskan makananmu, aku akan membukakan pintu."Tanpa menunggu jawaban, pria bertubuh tegap itu me
Sepasang mata Sylvia yang sembab terkunci dalam tatap dalam Maxwell di hadapan selama beberapa saat sebelum gadis itu memaksakan untuk memutus kontak mata dan menarik tangannya dari genggaman pria itu.“A-aku sudah jawab, kan?” gumam Sylvia. “Ayo pulang.”*** Sejak malam kejadian memalukan sekaligus menyakitkan itu, Sylvia benar-benar mengurung diri. Ia tak sudi keluar dari kamar, mengabaikan perutnya yang keroncongan, dan memilih bolos kuliah berhari-hari.Tok! Tok! Tok!"Syl, buka pintunya!" Suara cemas Damien, kakak kandungnya, terdengar dari balik pintu untuk yang kesekian kalinya. "Sudah dua hari kamu nggak makan, Sylvia! Kamu mau mati kelaparan di dalam sana, Hah?! Kalau kamu nggak buka juga, aku dobrak pintu ini sekarang!""Sylvia nggak lapar, Kak! Tinggalin Sylvia sendiri!" teriak Sylvia dari balik selimut, suaranya parau dan serak. "Biarin aja katamu! Kalau kamu mati, siapa yang repot? kamu ini beneran kayak anak kecil deh!" seru Damien lagi, tapi langkah kakinya terdengar
Bukannya menjawab, pria itu justru memangkas jarak.Hanya dalam dua langkah lebar, pria itu kini sudah ada tepat di hadapan Sylvia. Tanpa permisi, Maxwell melepas jas luar yang ia kenakan dan langsung membungkus tubuh mungil Sylvia di hadapannya.Sylvia menggigit bibir bawahnya ketika indra penciumannya dimanjakan aroma khas maskulin dari jas kebesaran yang tengah memeluknya tersebut. "Kenapa menangis?”Suara Maxwell terdengar lebih rendah, berat, tapi cenderung lebih lembut itu membuat Sylvia mendongak. “Nggak menangis, Kak. Ini–”“Jangan bohong padaku, Sylvia.”Gadis itu menggigit bibirnya, menahan agar isakannya tidak lolos dari dari bibir.Dunia benar-benar sedang mempermainkannya! Seakan kesialannya dengan Gerald tadi tidak cukup, dunia tega sekali menggiringnya pada pria otoriter ini.“Maaf,” ucap Sylvia pada akhirnya. Ia menekan isakannya kuat-kuat sembari memeluk dirinya sendiri. “Nggak mau dimarahi.”Tampaknya pria itu akhirnya menaruh kasihan padanya karena setelahnya, Max
"Ahh, sempit banget!"Sylvia mengerang pelan sambil memperbaiki bunny suit-nya yang melorot, sehingga membuat buah dadanya sedikit mencuat keluar. Tangannya kemudian membetulkan telinga kelinci di kepala yang miring karena gerakannya.“Nggak apa deh, demi kasih kejutan,” gumam Sylvia, meneguhkan hatinya meski kakinya mulai kesemutan karena ia sedang berjongkok di dalam lemari baju sempit milik kekasihnya.Hari ini adalah hari ulang tahun kekasih Sylvia yang ke-26 dan di hari yang istimewa ini, Sylvia memutuskan untuk tampil beda. Ia yang biasanya tampil sederhana dan polos dengan baju tertutup yang agak kebesaran kini berdandan dan memakai kostum bunny seksi, tak lupa dengan bando telinga kelinci dan stocking jaring-jaring yang membuat dia tampak seperti model sebuah majalah dewasa.Oh, kekasihnya jelas akan terkejut! Saat Sylvia sibuk membayangkan reaksi kekasihnya itu, ia samar-samar mendengar suara seseorang memasukkan sandi apartemen.“Bagus, Gerald sudah pulang,” pikir Sylvia.







