ホーム / Romansa / Sst, Kak, Ini Rahasia! / 3. Tengah Malam Itu....

共有

3. Tengah Malam Itu....

作者: Lil Seven
last update 公開日: 2026-08-11 21:16:23

Sepasang mata Sylvia yang sembab terkunci dalam tatap dalam Maxwell di hadapan selama beberapa saat sebelum gadis itu memaksakan untuk memutus kontak mata dan menarik tangannya dari genggaman pria itu.

“A-aku sudah jawab, kan?” gumam Sylvia. “Ayo pulang.”

***

Sejak malam kejadian memalukan sekaligus menyakitkan itu, Sylvia benar-benar mengurung diri. Ia tak sudi keluar dari kamar, mengabaikan perutnya yang keroncongan, dan memilih bolos kuliah berhari-hari.

Tok! Tok! Tok!

"Syl, buka pintunya!" Suara cemas Damien, kakak kandungnya, terdengar dari balik pintu untuk yang kesekian kalinya. "Sudah dua hari kamu nggak makan, Sylvia! Kamu mau mati kelaparan di dalam sana, Hah?! Kalau kamu nggak buka juga, aku dobrak pintu ini sekarang!"

"Sylvia nggak lapar, Kak! Tinggalin Sylvia sendiri!" teriak Sylvia dari balik selimut, suaranya parau dan serak.

"Biarin aja katamu! Kalau kamu mati, siapa yang repot? kamu ini beneran kayak anak kecil deh!" seru Damien lagi, tapi langkah kakinya terdengar menjauh, menyerah untuk hari itu.

"Terserah, aku nggak mau keluar. Malas."

Sylvia menggerutu sendiri dan tetap menolak untuk keluar. Sayangnya, pertahanan Sylvia itu tidak bertahan selamanya.

Tepat pukul 9 malam, perutnya berbunyi nyaring. Rasa lapar yang luar biasa akhirnya mengalahkan ego dan rasa patah hatinya.

Ditambah lagi, samar-samar hidungnya menangkap aroma masakan yang sangat menggugah selera menyusup dari celah bawah pintu kamarnya. Bau gurih daging panggang dan mentega lumer itu menyiksa kewarasannya.

'Hmm, kak Damien masak tengah malam? Tumben sekali,' batin Sylvia heran.

Dengan langkah gontai dan piyama kusut kebesarannya, gadis itu membuka pintu kamar pelan-pelan. Ia mengendap-endap menyusuri lorong yang remang, mengikuti arah bau harum yang berasal dari dapur.

Namun, langkah Sylvia terpaku di ambang pintu dapur. Matanya melebar sempurna.

Di sana, membelakanginya, bukan Damien yang sedang berdiri di depan kompor. Melainkan sosok pria dengan punggung bidang, bahu yang kokoh, dan postur menjulang tinggi.

Pria itu masih mengenakan kemeja kerja yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, sementara lengan kemejanya digulung rapi hingga memperlihatkan otot tangannya yang bergerak cekatan membalik potongan daging di atas teflon.

Tak lama, pria itu mematikan kompor dab berbalik. Tatapannya kemudian bertemu dengan manik mata Sylvia.

Maxwell bersedekap dada, sebelah bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang berbahaya.

"Sudah puas mogok makannya, Cil?”

"N-ngapain Kak Maxwell di rumahku?!" pekik Sylvia tertahan, matanya yang masih bengkak membulat sempurna melihat sosok superior itu berada di wilayah kekuasaan abangnya.

Maxwell hanya mendengus pelan, dia menarik sebuah kursi makan berbahan kayu oak dengan satu tangan, lalu menepuk sandarannya.

Tatapan mata elangnya yang sedingin es menembus pertahanan Sylvia, mutlak dan tak terbantahkan. Ketampanan pria itu di bawah cahaya lampu dapur benar-benar tidak masuk akal; rahangnya yang tegas, hidung mancungnya, dan sorot matanya yang tajam seolah mampu menundukkan siapa pun hanya dengan satu tatapan.

"Duduk," titah Maxwell dengan suara baritonnya yang berat. "Makan.”

“Aku–”

“Mau kupaksa?"

Mendengar nada ancaman yang tenang namun berbahaya itu, kaki Sylvia bergerak otomatis. Ia duduk di kursi dengan patuh.

"kak Damien mana?" cicit Sylvia pelan, menunduk tak berani menatap mata kelam pria di hadapannya.

"Ke bandara. Ada dinas mendadak ke luar kota," jawab Maxxwel singkat. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja dapur, melipat kedua tangannya di depan dada yang bidang.

“Terus kenapa Kak Max di sini?”

Lagi lagi Maxwell mendengus, sebelum kemudian menjawab. “Kakakmu memohon padaku. Katanya adiknya nyaris mati.”

Mendengar itu, Sylvia langsung cemberut. Ia mengambil garpu di hadapannya dan mencoba fokus pada daging panggang di atas meja.

Bukan apa-apa, Sylvia merasa sangat malu!

Kenapa Maxwell selalu ada dan menyaksikan momen memalukan dalam hidupnya?

"Sejak ... kapan?"

Suara dingin Maxwell memecah keheningan, membuat Sylvia nyaris tersedak.

Gadis itu mengangkat wajahnya dan bertatapan dengan pria dominan itu. "Uhuk! A-apa, Kak?" tanyanya.

"Sejak kapan anak kecil kayak kamu pandai menyembunyikan sesuatu, hm?" Maxwell memiringkan kepalanya sedikit, senyum sinis yang sangat tipis tercetak di bibir tegasnya. "Aku baru tahu, anak kecil yang biasanya hanya sibuk kuliah, tiba-tiba sudah mengerti cinta-cintaan."

"Aku–"

"Dan lihat akhirnya," potong Maxwell dengan nada judes yang menusuk. "Berlagak pacaran, lalu apa? Diselingkuhi sama supir rendahan. Bodoh sekali."

Tangan Sylvia meremas garpunya kuat-kuat. Harga dirinya tersentil. Darahnya mendidih mendengar ejekan itu. Ia membanting garpunya ke piring hingga menimbulkan suara denting yang nyaring.

"Aku bukan anak kecil, ya, Kak!" bantah Sylvia sewot, menatap Maxwell dengan dada kembang kempis. "Umurku sudah di atas dua puluh tahun! Wajar kalau aku pacaran!"

Rahang Maxwell mengeras. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan mengikis jarak di antara mereka. Setiap langkahnya terasa mengintimidasi, membuat nyali Sylvia kembali menciut.

Maxwell menunduk, mengurung tubuh mungil Sylvia dengan meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi gadis itu. Wajah tampan nan mematikan itu kini hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Sylvia. Hawa panas dari napas Bian menerpa kulit wajahnya, membuat dada Sylvia sesak karena ritme jantungnya yang mengamuk hebat.

"Dewasa?" bisik Maxwell tepat di depan wajahnya, suaranya serak, rendah, dan sangat mematikan. Matanya menatap tepat ke dalam manik mata Sylvia, seolah menguliti jiwanya.

"K-Kak..." napas Sylvia tercekat.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   4. Aplikasi Eksklusif

    Tangan besar Bian terangkat, ibu jarinya yang kasar mengusap pelan jejak air mata di sudut mata Sylvia. Sentuhan lembut yang begitu kontras dengan wajah dinginnya itu membuat sekujur tubuh Sylvia meremang."Kalau begitu bersikaplah dewasa, Sylvia," ucap Bian dingin, rahangnya mengeras. "Hapus air matamu. Berhenti meratapi kandasnya hubunganmu dengan pria murahan itu."Sylvia tertegun, terpaku pada kedalaman mata Bian yang entah mengapa terasa begitu melindungi di balik tembok esnya.Hanya dengan beberapa kata tajam itu, Bian berhasil menampar kesadaran Sylvia. Ting tong! Ting tong!Suara bel pintu depan yang dibunyikan secara brutal merusak momen menegangkan itu. Bian menarik tubuhnya kembali, melepaskan kungkungannya seolah tidak terjadi apa-apa, membiarkan Sylvia meraup oksigen yang sedari tadi terasa sulit ia hirup."Berisik," dengus Bian kesal, merapikan gulungan lengan kemejanya. "Habiskan makananmu, aku akan membukakan pintu."Tanpa menunggu jawaban, pria bertubuh tegap itu me

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   3. Tengah Malam Itu....

    Sepasang mata Sylvia yang sembab terkunci dalam tatap dalam Maxwell di hadapan selama beberapa saat sebelum gadis itu memaksakan untuk memutus kontak mata dan menarik tangannya dari genggaman pria itu.“A-aku sudah jawab, kan?” gumam Sylvia. “Ayo pulang.”*** Sejak malam kejadian memalukan sekaligus menyakitkan itu, Sylvia benar-benar mengurung diri. Ia tak sudi keluar dari kamar, mengabaikan perutnya yang keroncongan, dan memilih bolos kuliah berhari-hari.Tok! Tok! Tok!"Syl, buka pintunya!" Suara cemas Damien, kakak kandungnya, terdengar dari balik pintu untuk yang kesekian kalinya. "Sudah dua hari kamu nggak makan, Sylvia! Kamu mau mati kelaparan di dalam sana, Hah?! Kalau kamu nggak buka juga, aku dobrak pintu ini sekarang!""Sylvia nggak lapar, Kak! Tinggalin Sylvia sendiri!" teriak Sylvia dari balik selimut, suaranya parau dan serak. "Biarin aja katamu! Kalau kamu mati, siapa yang repot? kamu ini beneran kayak anak kecil deh!" seru Damien lagi, tapi langkah kakinya terdengar

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   2. Sudah Puas?

    Bukannya menjawab, pria itu justru memangkas jarak.Hanya dalam dua langkah lebar, pria itu kini sudah ada tepat di hadapan Sylvia. Tanpa permisi, Maxwell melepas jas luar yang ia kenakan dan langsung membungkus tubuh mungil Sylvia di hadapannya.Sylvia menggigit bibir bawahnya ketika indra penciumannya dimanjakan aroma khas maskulin dari jas kebesaran yang tengah memeluknya tersebut. "Kenapa menangis?”Suara Maxwell terdengar lebih rendah, berat, tapi cenderung lebih lembut itu membuat Sylvia mendongak. “Nggak menangis, Kak. Ini–”“Jangan bohong padaku, Sylvia.”Gadis itu menggigit bibirnya, menahan agar isakannya tidak lolos dari dari bibir.Dunia benar-benar sedang mempermainkannya! Seakan kesialannya dengan Gerald tadi tidak cukup, dunia tega sekali menggiringnya pada pria otoriter ini.“Maaf,” ucap Sylvia pada akhirnya. Ia menekan isakannya kuat-kuat sembari memeluk dirinya sendiri. “Nggak mau dimarahi.”Tampaknya pria itu akhirnya menaruh kasihan padanya karena setelahnya, Max

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   1. Kostum Seksi

    "Ahh, sempit banget!"Sylvia mengerang pelan sambil memperbaiki bunny suit-nya yang melorot, sehingga membuat buah dadanya sedikit mencuat keluar. Tangannya kemudian membetulkan telinga kelinci di kepala yang miring karena gerakannya.“Nggak apa deh, demi kasih kejutan,” gumam Sylvia, meneguhkan hatinya meski kakinya mulai kesemutan karena ia sedang berjongkok di dalam lemari baju sempit milik kekasihnya.Hari ini adalah hari ulang tahun kekasih Sylvia yang ke-26 dan di hari yang istimewa ini, Sylvia memutuskan untuk tampil beda. Ia yang biasanya tampil sederhana dan polos dengan baju tertutup yang agak kebesaran kini berdandan dan memakai kostum bunny seksi, tak lupa dengan bando telinga kelinci dan stocking jaring-jaring yang membuat dia tampak seperti model sebuah majalah dewasa.Oh, kekasihnya jelas akan terkejut! Saat Sylvia sibuk membayangkan reaksi kekasihnya itu, ia samar-samar mendengar suara seseorang memasukkan sandi apartemen.“Bagus, Gerald sudah pulang,” pikir Sylvia.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status