LOGIN“I-ini lebih terbuka dari baju yang kemarin, Rin.”
“Sst, nggak boleh protes! Ini aku lagi bantu kamu balas dendam.”
Sylvia menahan napas seraya berdiri canggung di hadapan lampu sorot mini yang dipasang Katrina di sudut kamarnya.
Saat ini, sesuai perintah sahabatnya itu, Sylvia tengah mengenakan gaun tidur sutra merah marun bermodel slip dress dengan belahan paha tinggi dan punggung terbuka total, sementara bentuk gaun itu mengekspos lekuk tubuhnya jauh lebih gamblang daripada kostum kelinci lateks kemarin.
“Sebenarnya, rencanamu itu bagaimana, Rin?”
Katrina menghampiri Sylvia sembari membawa ponselnya. “Lihat ini,” katanya.
Mata Sylvia menyipit, membaca logo sebuah aplikasi berwarna gelap elegan yang terpampang di layar ponsel Katrina. "Ini apa?"
"Ini aplikasi kencan eksklusif untuk kalangan atas," jawab Katrina, ada sedikit ekspresi bangga di wajahnya saat menyebut aplikasi itu.
"Bukan aplikasi abal-abal, Syl. Isinya eksekutif muda, pengusaha, dan pria-pria dewasa–”
"A-apa?! Aplikasi kencan dewasa?!" Sylvia membelalak ngeri. "Kat, kamu gila?! Aku nggak mau! Gimana kalau aku justru menarik pria-pria cabul?"
“Itu memang niatku.”
“Rin!” Sepasang mata Sylvia membeliak. Gadis itu tampak panik, sedangkan Katrina menghela napas panjang.
"Dengarkan aku dulu!” tukas Katrina. “Ini namanya Tider. Aplikasi kencan eksklusif, bukan sembarang forum media sosial. Cowok-cowok di sini rata-rata haus visual. Kamu mau bukti, kan, kalau kamu ini pantas? Kalau laki-laki menginginkan kamu, dalam pakaian seksi itu? Ya sudah, nurut sama aku.”
“Tapi—”
“Kita cuma perlu bukti, Sylvia. Kalau ada pria mesum yang mengirim pesan, tapi kamu nggak mau jawab, ya sudah. Abaikan saja.” Katrina melambaikan tangannya enteng. “Toh jadinya kita tetap tahu, kalau mereka tertarik, kan?”
Sylvia terdiam. Kata-kata itu menghantam tepat di ulu hatinya.
“Benar,” cicit Sylvia lirih.
Ingatannya seketika melayang ke malam sebelumnya di lorong apartemen dingin itu. Ucapan Gerald yang menusuk telinga terngiang kembali bagai kaset rusak. Pria itu mengatakan kalau dirinya tidak tertarik pada Sylvia, bahwa tubuhnya sama sekali tidak menggiurkan meski Sylvia sudah berdandan cantik dan seksi seperti waktu itu.
Katrina tersenyum puas. “Percaya deh sama aku.”
Sahabat Sylvia itu kembali bergerak cepat. Jarinya menari lincah di atas layar, menyunting pencahayaan sekilas, lalu mengunggah rangkaian foto Sylvia yang tadi ia ambil ke profil anonim akun tersebut.
Tak lama kemudian, ponsel Sylvia berdenting.
Ting!
Sekali, lalu disusul lentingan berikutnya secara beruntun. Dalam hitungan detik, suara notifikasi saling bersahut-sahutan memenuhi kamar hingga ponsel itu bergetar hebat di atas kasur.
“Duh, duh. Klise banget,” gumam Katrina sambil membaca pesan-pesan yang meluncur deras masuk.
“Seksi banget, beneran ini akun asli?”
“Cantik, semalam berapa rate-nya?”
“Body sebagus ini sayang banget kalau cuma dipajang di foto.”
“Boleh minta nomor W******p-nya? Mau traktir dinner malam ini.”
Wajah Sylvia seketika memerah panas. Rasa malu dan sedikit risih menyergap, tapi ada debar aneh yang perlahan meletup di dadanya—sebuah pembenaran tak kasat mata bahwa dirinya tidak sehancur dan se-tidak bernafsu yang dikatakan sang mantan.
“Lihat, kan, Syl? Persetan lah sama apa yang dibilang sama mantan berengsekmu itu. Emang selera dia aja yang aneh, tahu. Kamu seksi dan menarik!” seru Katrina dengan nada bangga.
Sylvia mengangguk pelan, beban sesak di rongga dadanya terasa sedikit terangkat. “Makasih, Rin. Paham maksudmu.”
“Pintar.” Katrina mengembalikan ponsel Sylvia pada pemiliknya dan menyambar tas di atas tempat tidur. “Oke, jangan sedih lagi ya kalau begitu. Aku ada acara habis ini, jadi harus pergi.”
Sylvia mengantar sahabatnya sampai ke pintu depan, membiarkan Katrina pamit dengan senyum lebar, lalu berbalik menutup pintu rapat-rapat.
Ia melangkah gontai kembali ke ruang tengah seraya menatap layar ponselnya. Notifikasi masih terus bermunculan tanpa henti. Sylvia menarik napas dalam-dalam. Meskipun cara Katrina cukup aneh dan nekat, tapi itu terbukti mengembalikan rasa percaya diri Sylvia yang sempat hancur lebur.
Cukup. Pembuktian ini sudah lebih dari cukup. Ia sama sekali tidak berniat meladeni pria-pria mesum itu.
Jemari Sylvia gegas menutup aplikasi obrolan tersebut dan berniat meng-uninstall aplikasinya dari ponsel. Namun, sebelum jarinya sempat menghapus aplikasi itu, satu pesan langsung berprioritas tinggi mendadak masuk ke bilah notifikasinya.
Pesan itu datang dari akun tanpa foto profil, dengan satu baris kalimat pendek yang seketika membekukan darahnya:
[Kamu mau membuktikan apa dengan mengunggah foto seperti itu?]
Friksi antara kain celana bahan santai Maxwell dengan tubuh bagian bawah Sylvia menghasilkan panas yang kian mendidih. Tekanan keras yang menumpu di area sensitifnya menghadirkan rasa ngilu yang cukup tajam, membuat Sylvia merintih tertahan. Sylvia meronta kecil, pinggulnya menggeliat tanpa kendali—setengah mencoba menghindar dari rasa sakit yang asing, setengah mencari jalan keluar dari desakan panas yang menghimpitnya—namun cengkeraman tangan Maxwell di pinggulnya bagai rantai baja yang mengunci gerakannya. "Kak... sakit... tolong..." rengek Sylvia dengan sudut mata yang mulai basah. Seluruh keberanian nakalnya tadi seketika lebur menjadi kepasrahan dan ketidakberdayaan mutlak. "Kak Max... pelan... jangan gantung aku kayak gini..." "Minta dengan benar, Sylvia," perintah Maxwell dengan suara bariton yang bergetar rendah di telinganya. Menyadari ketegangan dan getar takut pada tubuh gadis itu, sentuhannya di pinggul Sylvia sedikit melunak untuk memberi kenyamanan, namun tanganny
Perlahan, jemari lentik Sylvia terangkat dan mendarat di atas dada liat Maxwell. Kulit pria itu terasa begitu panas, seolah membakar langsung ke aliran darah Sylvia. Begitu sentuhan dingin jemarinya menyapu kulit tersebut, otot dada dan perut Maxwell seketika mengeras kaku. Sebuah desisan tajam lolos dari sela gigi pria itu, rahangnya terkatup begitu rapat hingga urat di pelipisnya berdenyut liar. Sylvia tidak berhenti. Mengikuti naluri yang menuntunnya, jemarinya perlahan meluncur turun menyusuri garis tengah perut Maxwell yang kencang bagai baja pahatan, berhenti tepat di batas celana panjang yang masih membungkus pinggang pria itu. Setiap gerakan lembut jemari Sylvia menghantarkan gelombang kejut yang membuat Maxwell mengepalkan tangannya di atas seprai hingga kain sutra itu berkerut kusut. Pria yang biasanya selalu berdiri dengan kendali mutlak dan kepalanya yang dingin kini berada di titik paling rapuh, menahan gejolak yang nyaris menghancurkan benteng pertahanannya. Tangan
"Kak Max... aku pengen jilat dan emut milikmu." Ucapan berani yang meluncur tanpa filter dari bibir Sylvia seketika membakar habis sisa kesabaran Maxwell. Rahang pria itu mengeras kaku. Urat-urat halus di lehernya menonjol tegang, dan untuk sepersekian detik, napasnya tercekat di tenggorokan. Mata elang Maxwell yang pekat menghunus lurus ke dalam manik mata Sylvia yang berkilat menantang, meski rona merah padam kini mulai merambat liar di kedua pipi gadis itu. "Sylvia..." bisik Maxwell dengan suara bariton yang luar biasa rendah, begitu parau hingga terasa menggetarkan rongga dada gadis di bawahnya. "Kamu benar-benar tidak takut bermain api denganku, hm?" Sylvia menelan ludah pelan. Keberaniannya sempat bergetar melihat tatapan sang predator yang begitu pekat, namun rasa ingin mendominasi dan memanjakan pria itu membuatnya enggan menarik kembali kata-katanya. "Aku nggak takut..." bisik Sylvia dengan suara bergetar halus, jemarinya perlahan menyusup ke tengkuk pria itu, menarik he
Di balik selimut sutra tebal yang memerangkap udara hangat, ketegangan di antara mereka seketika berubah menjadi bara api yang membakar perlahan.Maxwell tidak bergeser satu inci pun dari atas tubuh Sylvia. Bobot tubuh tegapnya menekan kasur di kedua sisi pinggang ramping gadis itu, mengurung Sylvia seutuhnya dalam sangkar otot liat dan wibawa mutlak. Kemeja putih Maxwell yang tadi basah kini sudah tanggal, menyisakan dada bidangnya yang telanjang dan berkilau halus oleh sisa peluh perjuangan semalam. Setiap kali pria itu menarik napas, otot-otot perutnya yang padat bergesekan langsung dengan kain gaun tidur sutra tipis yang membungkus tubuh Sylvia."Kak Max..." bisik Sylvia dengan suara bergetar, menatap lurus ke dalam manik mata elang yang menggelap pekat di atasnya."Masih mau mengujiku lagi, hm?" suara bariton Maxwell meluncur sangat rendah, begitu serak dan sarat akan getaran yang meremangkan bulu kuduk.Tanpa menunggu jawaban, satu tangan besar Maxwell bergerak ke atas. Jemari p
"Jangan bergerak," bisik Maxwell parau, suaranya teredam di helai rambut Sylvia. Pelukannya semakin mengencang, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, gadis ini akan lenyap dari genggamannya. "Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja, Sylvia." Sylvia tersenyum tipis di dalam dekapan itu. Hatinya berdenyut hangat melihat sisi rapuh dari seorang pria yang selalu tampak tak terkalahkan di mata dunia. Gadis itu berjinjit sedikit, menempelkan bibirnya di rahang kokoh Maxwell, mengecupnya lembut berkali-kali seraya berbisik manis: "Aku di sini, Kak. Aku aman. Nggak ada yang menyakitiku..." Kecupan kecil itu bagai embun sejuk yang menyiram kobaran api di kepala Maxwell. Perlahan, Maxwell mengangkat wajahnya. Sorot mata elangnya yang tadi kelam kini berubah jernih, dipenuhi oleh kehangatan dan rasa cinta yang begitu pekat. Jemari besarnya yang hangat menangkup kedua pipi Sylvia, menuntun wajah mungil itu agar mendongak menatapnya. Ibu jari Maxwell membelai lembut bibir
Nama itu bagai percikan api di atas genangan bensin. Gerald. Hening yang menyusul di aula megah itu begitu pekat hingga suara tarikan napas tertahan dari Alex terdengar jelas. Tante Nindy masih tertawa terbahak-bahak di lantai marmer, wajahnya yang penuh air mata menyeringai buas, puas melihat punggung tegap Maxwell yang membeku kaku di ambang pintu. Nyonya Agatha menutup mulutnya dengan tangan gemetar. "Nindy... kamu... kamu sampai membebaskan bajingan itu?!" "Kenapa tidak?!" jerit Tante Nindy histeris. "Biar dia mengambil kembali apa yang memang miliknya! Biar Maxwell melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana gadis kesayangannya—" Drap! Drap! Drap! Maxwell membalikkan tubuhnya. Bukan kepanikan yang terpancar dari wajah pria itu, melainkan kegelapan purba yang begitu pekat dan dingin. Langkah kakinya mendekati Tante Nindy begitu tenang, namun aura membunuh yang meledak dari tubuhnya membuat udara di ruangan itu serasa lenyap terbakar. Maxwell berhenti tepat di depan Tan







