تسجيل الدخولTangan besar Bian terangkat, ibu jarinya yang kasar mengusap pelan jejak air mata di sudut mata Sylvia. Sentuhan lembut yang begitu kontras dengan wajah dinginnya itu membuat sekujur tubuh Sylvia meremang.
"Kalau begitu bersikaplah dewasa, Sylvia," ucap Bian dingin, rahangnya mengeras. "Hapus air matamu. Berhenti meratapi kandasnya hubunganmu dengan pria murahan itu."
Sylvia tertegun, terpaku pada kedalaman mata Bian yang entah mengapa terasa begitu melindungi di balik tembok esnya.
Hanya dengan beberapa kata tajam itu, Bian berhasil menampar kesadaran Sylvia.
Ting tong! Ting tong!
Suara bel pintu depan yang dibunyikan secara brutal merusak momen menegangkan itu.
Bian menarik tubuhnya kembali, melepaskan kungkungannya seolah tidak terjadi apa-apa, membiarkan Sylvia meraup oksigen yang sedari tadi terasa sulit ia hirup.
"Berisik," dengus Bian kesal, merapikan gulungan lengan kemejanya. "Habiskan makananmu, aku akan membukakan pintu."
Tanpa menunggu jawaban, pria bertubuh tegap itu melangkah pergi, meninggalkan Sylvia yang masih memegangi dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang seakan mau melompat keluar.
Benar saja, tak lama kemudian suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar. Rina, sahabat karib Sylvia, berlari masuk ke dapur dan langsung memeluk Sylvia erat-erat.
"Sylvia! Ya ampun, Tuhanku! Kamu nggak apa-apa kan?!" teriak Rina heboh, wajahnya pias campur aduk antara khawatir dan marah.
"Demi Tuhan, aku mau jantungan pas lihat pintu dibuka sama Kak Bian yang auranya kayak malaikat pencabut nyawa! Tapi lupakan soal cowok es batu super tampan itu! Ceritain ke aku sekarang, apa yang terjadi sama si brengsek Bayu?!"
Malam itu, setelah menghabiskan makanannya, Sylvia menceritakan semuanya pada Rina di dalam kamar. Rina mengumpat habis-habisan, mengutuk Bayu dan selingkuhan tuanya dengan segala kosakata binatang yang ia tahu.
"Pria bajingan! Nggak tahu diri! Udah miskin, dikasih cinta tulus malah milih tante-tante girang!" maki Rina sambil mondar-mandir di kamar Sylvia.
Tiba-tiba, langkah Rina berhenti, matanya berkilat penuh tekad. Ia melompat ke atas ranjang dan mengeluarkan ponselnya dengan kasar. "Dia pikir kamu nggak laku?! Dia pikir cuma dia yang bisa main gila?!"
"Kamu mau apa, Rin?" tanya Sylvia bingung melihat sahabatnya sibuk mengotak-atik layar ponsel.
"Kita akan balas dendam! Kamu harus tunjukin ke si sopir gembel itu kalau kamu bisa dapet pria yang seribu kali lipat lebih berkelas, mapan, dan *hot* dari dia!" Rina menyodorkan layar ponselnya ke wajah Sylvia.
Mata Sylvia menyipit, membaca logo sebuah aplikasi berwarna gelap yang elegan. "Ini apa?"
"Ini aplikasi kencan eksklusif untuk kalangan atas," jawab Rina dengan senyum licik.
"Bukan aplikasi abal-abal, Syl. Isinya eksekutif muda, pengusaha, dan pria-pria dewasa yang tahu cara memperlakukan wanita. Kamu bakal d******d ini, dan kita akan cari pacar online yang bisa bikin si Bayu sialan itu menyesal sampai nangis darah!"
"A-apa?! Aplikasi kencan dewasa?!" Sylvia membelalak ngeri. "Rin, kamu gila?! Aku nggak mau!"
"Harus mau!" paksa Rina mutlak.
"Kak Bian benar, kamu harus bangkit, Syl! Dan cara terbaik untuk melupakan pria brengsek adalah dengan mendapatkan pria yang jauh lebih dominan dan kaya raya!”
Tiba-tiba Rina meraih ponsel Sylvia di atas tempat tidur dan mengutak-atiknya.
"Ini namanya Tider. Aplikasi dating khusus VVIP. Pria-pria di sini sudah terverifikasi kekayaannya. Nggak ada ceritanya kamu nemu sopir benalu macam si Bayu brengsek itu di sini!"
Sylvia menggigit bibir bawahnya, perasaannya campur aduk. "Tapi... aku harus pasang foto profil apa? Aku nggak punya foto seksi, Rin. Foto-fotoku semuanya pakai kemeja kebesaran atau kacamata tebal!"
Rina menghentikan jarinya, menatap Sylvia dari atas ke bawah, lalu tersenyum penuh kelicikan. Tatapannya jatuh pada kaki jenjang Sylvia yang terekspos karena piyama pendek yang ia kenakan.
"Kita nggak perlu menunjukkan wajahmu kalau kamu malu. Pria kelas atas suka sesuatu yang misterius tapi menggoda," ucap Rina seraya menarik selimut menutupi setengah tubuh Sylvia. "Julurkan kakimu sedikit. Ya, begitu! Biar paha putih mulusmu itu sedikit mengintip dari balik selimut."
Cekrek!
Lampu kilat ponsel menyala. Sebelum Sylvia sempat protes, Rina sudah mengunggah foto tersebut sebagai foto profil utama dengan nama samaran 'Vya'.
Foto itu tidak menampilkan wajah sama sekali, hanya sepasang kaki putih dan jenjang dengan kulit semulus pualam, berbalut cahaya temaram kamar yang memberikan kesan sensual dan misterius yang sangat kuat.
"Rina! Hapus nggak fotonya! Memalukan banget, ih!" pekik Sylvia dengan wajah semerah tomat.
"Sst! Lihat ini!" Rina menyodorkan layar ponsel ke depan wajah Sylvia.
Mata Sylvia membulat sempurna. Hanya dalam hitungan detik setelah akun itu aktif, notifikasi berdatangan bagai air bah.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Layar ponselnya dipenuhi oleh puluhan pesan masuk dari berbagai pria dengan foto profil berjas rapi, berpose di depan mobil sport, atau di restoran mewah.
"Wow, kaki yang sangat indah. Boleh aku tahu siapa pemiliknya?"— Richard, CEO, 32 thn.
"Malam yang dingin. Butuh teman mengobrol, Cantik?" — dr. Hans, 29 thn.
"Satu malam bersamaku, sebutkan hargamu." — Michael, Pengusaha, 35 thn.
"Gila..." gumam Sylvia tak percaya, matanya menelusuri pesan-pesan yang terus bermunculan.
"Lihat, kan?!" seru Rina penuh kemenangan, menepuk bahu Sylvia.
"Kamu itu cantik, Sylvia! Kaki kamu aja udah bikin puluhan CEO kaya raya antre memohon perhatianmu! Cuma pria buta dan bodoh macam Bayu yang berani bilang kamu nggak laku! Sekarang, balas beberapa dari mereka. Bersenang-senanglah! Aku mau ke bawah dulu ambil minum."
Setelah Rina keluar dari kamar, Sylvia terdiam menatap layar ponselnya. Di satu sisi, dia merasa jijik dengan rayuan gombal para pria hidung belang itu. Namun di sisi lain, egonya yang hancur lebur karena hinaan Bayu perlahan kembali utuh. Ia laris manis. Banyak pria yang menginginkannya.
Saat jemari mungil Sylvia hendak menggulir layar untuk menutup aplikasi tersebut, sebuah notifikasi pesan baru muncul di bagian paling atas.
Berbeda dengan pesan-pesan sebelumnya yang penuh rayuan menjijikkan, pesan dari akun bernama Tuan Vin ini sukses membuat jantung Sylvia berhenti berdetak sesaat.
Tuan Finn: Rupanya gadis sepertimu berani pasang foto profil seperti itu?
Tangan besar Bian terangkat, ibu jarinya yang kasar mengusap pelan jejak air mata di sudut mata Sylvia. Sentuhan lembut yang begitu kontras dengan wajah dinginnya itu membuat sekujur tubuh Sylvia meremang."Kalau begitu bersikaplah dewasa, Sylvia," ucap Bian dingin, rahangnya mengeras. "Hapus air matamu. Berhenti meratapi kandasnya hubunganmu dengan pria murahan itu."Sylvia tertegun, terpaku pada kedalaman mata Bian yang entah mengapa terasa begitu melindungi di balik tembok esnya.Hanya dengan beberapa kata tajam itu, Bian berhasil menampar kesadaran Sylvia. Ting tong! Ting tong!Suara bel pintu depan yang dibunyikan secara brutal merusak momen menegangkan itu. Bian menarik tubuhnya kembali, melepaskan kungkungannya seolah tidak terjadi apa-apa, membiarkan Sylvia meraup oksigen yang sedari tadi terasa sulit ia hirup."Berisik," dengus Bian kesal, merapikan gulungan lengan kemejanya. "Habiskan makananmu, aku akan membukakan pintu."Tanpa menunggu jawaban, pria bertubuh tegap itu me
Sepasang mata Sylvia yang sembab terkunci dalam tatap dalam Maxwell di hadapan selama beberapa saat sebelum gadis itu memaksakan untuk memutus kontak mata dan menarik tangannya dari genggaman pria itu.“A-aku sudah jawab, kan?” gumam Sylvia. “Ayo pulang.”*** Sejak malam kejadian memalukan sekaligus menyakitkan itu, Sylvia benar-benar mengurung diri. Ia tak sudi keluar dari kamar, mengabaikan perutnya yang keroncongan, dan memilih bolos kuliah berhari-hari.Tok! Tok! Tok!"Syl, buka pintunya!" Suara cemas Damien, kakak kandungnya, terdengar dari balik pintu untuk yang kesekian kalinya. "Sudah dua hari kamu nggak makan, Sylvia! Kamu mau mati kelaparan di dalam sana, Hah?! Kalau kamu nggak buka juga, aku dobrak pintu ini sekarang!""Sylvia nggak lapar, Kak! Tinggalin Sylvia sendiri!" teriak Sylvia dari balik selimut, suaranya parau dan serak. "Biarin aja katamu! Kalau kamu mati, siapa yang repot? kamu ini beneran kayak anak kecil deh!" seru Damien lagi, tapi langkah kakinya terdengar
Bukannya menjawab, pria itu justru memangkas jarak.Hanya dalam dua langkah lebar, pria itu kini sudah ada tepat di hadapan Sylvia. Tanpa permisi, Maxwell melepas jas luar yang ia kenakan dan langsung membungkus tubuh mungil Sylvia di hadapannya.Sylvia menggigit bibir bawahnya ketika indra penciumannya dimanjakan aroma khas maskulin dari jas kebesaran yang tengah memeluknya tersebut. "Kenapa menangis?”Suara Maxwell terdengar lebih rendah, berat, tapi cenderung lebih lembut itu membuat Sylvia mendongak. “Nggak menangis, Kak. Ini–”“Jangan bohong padaku, Sylvia.”Gadis itu menggigit bibirnya, menahan agar isakannya tidak lolos dari dari bibir.Dunia benar-benar sedang mempermainkannya! Seakan kesialannya dengan Gerald tadi tidak cukup, dunia tega sekali menggiringnya pada pria otoriter ini.“Maaf,” ucap Sylvia pada akhirnya. Ia menekan isakannya kuat-kuat sembari memeluk dirinya sendiri. “Nggak mau dimarahi.”Tampaknya pria itu akhirnya menaruh kasihan padanya karena setelahnya, Max
"Ahh, sempit banget!"Sylvia mengerang pelan sambil memperbaiki bunny suit-nya yang melorot, sehingga membuat buah dadanya sedikit mencuat keluar. Tangannya kemudian membetulkan telinga kelinci di kepala yang miring karena gerakannya.“Nggak apa deh, demi kasih kejutan,” gumam Sylvia, meneguhkan hatinya meski kakinya mulai kesemutan karena ia sedang berjongkok di dalam lemari baju sempit milik kekasihnya.Hari ini adalah hari ulang tahun kekasih Sylvia yang ke-26 dan di hari yang istimewa ini, Sylvia memutuskan untuk tampil beda. Ia yang biasanya tampil sederhana dan polos dengan baju tertutup yang agak kebesaran kini berdandan dan memakai kostum bunny seksi, tak lupa dengan bando telinga kelinci dan stocking jaring-jaring yang membuat dia tampak seperti model sebuah majalah dewasa.Oh, kekasihnya jelas akan terkejut! Saat Sylvia sibuk membayangkan reaksi kekasihnya itu, ia samar-samar mendengar suara seseorang memasukkan sandi apartemen.“Bagus, Gerald sudah pulang,” pikir Sylvia.







