MasukSylvia terdiam, lalu membaca pesan itu berkali-kali.
Namun, mau berapa kali pun ia mengulang baca kalimat itu, dengan berbagai jenis nada dan ekspresi, Sylvia tetap tersinggung.
Apa? Jadi pria ini tidak tertarik pada foto-fotonya?
Kalau tidak suka, ya sudah! Tidak perlu komentar! Abaikan saja dan cari wanita lain yang sesuai dengan selera. Bukannya berhenti di Sylvia.
Sikapnya seperti Gerald, mantan Sylvia yang berengsek itu, saja!
Tergerak karena rasa kesal, Sylvia berniat membalas pesan itu.
Namun, sebelum Sylvia sempat melakukan itu, sebuah pesan kembali masuk ke ruang percakapan mereka.
[Tampil seksi tidak perlu pakai baju kurang bahan.]
[Lagi pula, tidak semua pria suka melihat wanitanya seperti itu.]
Sylvia merenung.
Ditatapnya nama pengguna orang asing itu: Tuan Finn.
Seorang pria?
Jemarinya menghapus ketikan makian yang tadi sempat ia ketik, lalu menggantinya.
[Vya: Kalau memang begitu, kenapa mantanku bilang aku nggak menarik dan sama sekali nggak bikin nafsu?]
[Vya: Dan malah selingkuh sama wanita yang lebih seksi?]
[Vya: Padahal selama ini, penampilanku juga tertutup.]
Balasan dari Tuan Finn muncul tak sampai satu menit kemudian. Sangat singkat, lugas, dan terkesan tanpa tedeng aling-aling.
[Tuan Finn: Itu pria sampah.]
[Vya: Sampah, ya? Haha.]
Mata Sylvia memanas. Mendapat pembelaan dari orang asing … terasa berbeda.
Tentu ia berterima kasih pada Katrina yang sudah membantu Sylvia meyakinkan dirinya, bahkan membuat Sylvia mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Namun, Katrina adalah sahabatnya, orang yang memang berdiri di sisinya.
Sementara pria ini sama sekali tidak mengenal Sylvia, tapi tetap membelanya. Tidak bias.
[Tuan Finn: Jelas. Tidak seharusnya kamu memikirkan pria seperti itu.]
[Vya: Lebih baik memikirkan ucapanmu?]
[Tuan Finn: Jika memang itu membantumu.]
[Vya: Temanku yang mengungah foto-fotoku tadi agar aku kembali percaya diri. Membuktikan kalau aku masih diinginkan.]
[Tuan Finn: Itu tujuanmu? Memancing pria-pria mesum di aplikasi ini?]
[Tuan Finn: Bodoh.]
Pipi Sylvia memerah. Malu. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memucat, tapi tidak menyangkal apa pun.
Setiap kalimat yang dikirimkan Tuan Finn terdengar begitu kaku dan datar, tapi Sylvia bisa merasakan bahwa pria ini bersimpati padanya. Selain itu, semua pesannya mencerminkan betapa dewasa pemikirannya, sekaligus merupakan sebuah tamparan yang membuat Sylvia sadar.
Ternyata … masih ada pria waras di dunia ini?
Setelah mendapatkan pesan dari Finn tersebut, puluhan pesan yang masuk sebelumnya terasa kosong, dengan rayuan murahan, tawaran tarif kencan semalam, hingga pujian vulgar dari para pria hidung belang yang memandangnya tak ubahnya sepotong daging segar.
Pesan dari sosok Tuan Finn ini sungguh berbeda. Pria itu tidak berusaha menggodanya, tidak pula memuji tubuhnya demi keuntungan pribadi. Caranya berbicara tajam, seperti sengaja menyodorkan fakta.
Sylvia menatap layar yang kini hanya menampilkan nama samaran mereka berdua: [Vya] dan [Tuan Finn].
Beban berat di rongga dadanya perlahan meluruh, berganti rasa aman yang asing namun begitu nyata.
[Vya: Ucapanmu cukup menohok.]
[Vya: Tapi terima kasih.]
Sylvia meletakkan ponselnya di atas nakas dan merebahkan dirinya di tempat tidur, menghadap langit-langit kamar, membiarkan ucapan dari “Tuan Finn” itu mengendap di kepalanya.
Sementara itu, jauh dari kediaman Sylvia, seorang pria sedang duduk di tepi tempat tidur. Ekspresinya tampak datar saat ia menatap layar ponsel dalam genggaman.
Di sana, di layar ponsel yang masih menyala, terpampang ruang percakapan dirinya dengan pengguna bernama “Vya”, disertai foto tubuh tanpa wajah sesosok gadis yang tampak menggoda.
Tanda aktif di samping foto profil itu sudah hilang, tanda bahwa penggunanya tidak sedang di tempat. Meski begitu, foto seksi itu belum berubah.
Pria itu mendengus, lalu mengetikkan sebuah pesan.
[Paling tidak ganti fotomu kalau sudah sadar.]
Kirim.
Sebagai sosok yang bergelut di perusahaan teknologi, ia tahu bahwa aplikasi kencan eksklusif ini adalah salah satu proyek eksklusif akan digemari. Karenanya, ia bersedia mendanai dan mengembangkannya dengan maksimal.
Itu juga sebab kenapa ia turun langsung dan punya akun di aplikasi kencan ini, meski dirinya sama sekali tidak tertarik untuk berkencan. Paling tidak, ia harus merasakan pengalaman sebagai pengguna.
Meski begitu, sebenarnya di awal, ia tidak berniat mengirim pesan pada gadis tadi. Apalagi menceramahi pengguna bernama “Vya” itu.
Ah, entahlah. Mungkin otaknya sedang kacau.
Pria itu, Maxwell Alexander, meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu menegak sisa wine dalam gelasnya sebelum menutup matanya untuk tidur.
Friksi antara kain celana bahan santai Maxwell dengan tubuh bagian bawah Sylvia menghasilkan panas yang kian mendidih. Tekanan keras yang menumpu di area sensitifnya menghadirkan rasa ngilu yang cukup tajam, membuat Sylvia merintih tertahan. Sylvia meronta kecil, pinggulnya menggeliat tanpa kendali—setengah mencoba menghindar dari rasa sakit yang asing, setengah mencari jalan keluar dari desakan panas yang menghimpitnya—namun cengkeraman tangan Maxwell di pinggulnya bagai rantai baja yang mengunci gerakannya. "Kak... sakit... tolong..." rengek Sylvia dengan sudut mata yang mulai basah. Seluruh keberanian nakalnya tadi seketika lebur menjadi kepasrahan dan ketidakberdayaan mutlak. "Kak Max... pelan... jangan gantung aku kayak gini..." "Minta dengan benar, Sylvia," perintah Maxwell dengan suara bariton yang bergetar rendah di telinganya. Menyadari ketegangan dan getar takut pada tubuh gadis itu, sentuhannya di pinggul Sylvia sedikit melunak untuk memberi kenyamanan, namun tanganny
Perlahan, jemari lentik Sylvia terangkat dan mendarat di atas dada liat Maxwell. Kulit pria itu terasa begitu panas, seolah membakar langsung ke aliran darah Sylvia. Begitu sentuhan dingin jemarinya menyapu kulit tersebut, otot dada dan perut Maxwell seketika mengeras kaku. Sebuah desisan tajam lolos dari sela gigi pria itu, rahangnya terkatup begitu rapat hingga urat di pelipisnya berdenyut liar. Sylvia tidak berhenti. Mengikuti naluri yang menuntunnya, jemarinya perlahan meluncur turun menyusuri garis tengah perut Maxwell yang kencang bagai baja pahatan, berhenti tepat di batas celana panjang yang masih membungkus pinggang pria itu. Setiap gerakan lembut jemari Sylvia menghantarkan gelombang kejut yang membuat Maxwell mengepalkan tangannya di atas seprai hingga kain sutra itu berkerut kusut. Pria yang biasanya selalu berdiri dengan kendali mutlak dan kepalanya yang dingin kini berada di titik paling rapuh, menahan gejolak yang nyaris menghancurkan benteng pertahanannya. Tangan
"Kak Max... aku pengen jilat dan emut milikmu." Ucapan berani yang meluncur tanpa filter dari bibir Sylvia seketika membakar habis sisa kesabaran Maxwell. Rahang pria itu mengeras kaku. Urat-urat halus di lehernya menonjol tegang, dan untuk sepersekian detik, napasnya tercekat di tenggorokan. Mata elang Maxwell yang pekat menghunus lurus ke dalam manik mata Sylvia yang berkilat menantang, meski rona merah padam kini mulai merambat liar di kedua pipi gadis itu. "Sylvia..." bisik Maxwell dengan suara bariton yang luar biasa rendah, begitu parau hingga terasa menggetarkan rongga dada gadis di bawahnya. "Kamu benar-benar tidak takut bermain api denganku, hm?" Sylvia menelan ludah pelan. Keberaniannya sempat bergetar melihat tatapan sang predator yang begitu pekat, namun rasa ingin mendominasi dan memanjakan pria itu membuatnya enggan menarik kembali kata-katanya. "Aku nggak takut..." bisik Sylvia dengan suara bergetar halus, jemarinya perlahan menyusup ke tengkuk pria itu, menarik he
Di balik selimut sutra tebal yang memerangkap udara hangat, ketegangan di antara mereka seketika berubah menjadi bara api yang membakar perlahan.Maxwell tidak bergeser satu inci pun dari atas tubuh Sylvia. Bobot tubuh tegapnya menekan kasur di kedua sisi pinggang ramping gadis itu, mengurung Sylvia seutuhnya dalam sangkar otot liat dan wibawa mutlak. Kemeja putih Maxwell yang tadi basah kini sudah tanggal, menyisakan dada bidangnya yang telanjang dan berkilau halus oleh sisa peluh perjuangan semalam. Setiap kali pria itu menarik napas, otot-otot perutnya yang padat bergesekan langsung dengan kain gaun tidur sutra tipis yang membungkus tubuh Sylvia."Kak Max..." bisik Sylvia dengan suara bergetar, menatap lurus ke dalam manik mata elang yang menggelap pekat di atasnya."Masih mau mengujiku lagi, hm?" suara bariton Maxwell meluncur sangat rendah, begitu serak dan sarat akan getaran yang meremangkan bulu kuduk.Tanpa menunggu jawaban, satu tangan besar Maxwell bergerak ke atas. Jemari p
"Jangan bergerak," bisik Maxwell parau, suaranya teredam di helai rambut Sylvia. Pelukannya semakin mengencang, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, gadis ini akan lenyap dari genggamannya. "Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja, Sylvia." Sylvia tersenyum tipis di dalam dekapan itu. Hatinya berdenyut hangat melihat sisi rapuh dari seorang pria yang selalu tampak tak terkalahkan di mata dunia. Gadis itu berjinjit sedikit, menempelkan bibirnya di rahang kokoh Maxwell, mengecupnya lembut berkali-kali seraya berbisik manis: "Aku di sini, Kak. Aku aman. Nggak ada yang menyakitiku..." Kecupan kecil itu bagai embun sejuk yang menyiram kobaran api di kepala Maxwell. Perlahan, Maxwell mengangkat wajahnya. Sorot mata elangnya yang tadi kelam kini berubah jernih, dipenuhi oleh kehangatan dan rasa cinta yang begitu pekat. Jemari besarnya yang hangat menangkup kedua pipi Sylvia, menuntun wajah mungil itu agar mendongak menatapnya. Ibu jari Maxwell membelai lembut bibir
Nama itu bagai percikan api di atas genangan bensin. Gerald. Hening yang menyusul di aula megah itu begitu pekat hingga suara tarikan napas tertahan dari Alex terdengar jelas. Tante Nindy masih tertawa terbahak-bahak di lantai marmer, wajahnya yang penuh air mata menyeringai buas, puas melihat punggung tegap Maxwell yang membeku kaku di ambang pintu. Nyonya Agatha menutup mulutnya dengan tangan gemetar. "Nindy... kamu... kamu sampai membebaskan bajingan itu?!" "Kenapa tidak?!" jerit Tante Nindy histeris. "Biar dia mengambil kembali apa yang memang miliknya! Biar Maxwell melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana gadis kesayangannya—" Drap! Drap! Drap! Maxwell membalikkan tubuhnya. Bukan kepanikan yang terpancar dari wajah pria itu, melainkan kegelapan purba yang begitu pekat dan dingin. Langkah kakinya mendekati Tante Nindy begitu tenang, namun aura membunuh yang meledak dari tubuhnya membuat udara di ruangan itu serasa lenyap terbakar. Maxwell berhenti tepat di depan Tan







