MasukSylvia mencoba menajamkan pandangannya, dan memang benar, Maxwell Alexander berjalan tegap diapit tiga orang asisten berpakaian formal. Rahang tegas pria itu mengeras kaku, sepasang mata kelabunya menatap tajam ke depan dengan ponsel yang menempel rapat di telinga.
Pria itu melintas tepat di balik kaca pembatas, hanya berjarak beberapa meter dari tempat Sylvia duduk mematung.
Sylvia menahan napas seraya meremas gaunnya erat-erat, memandangi punggung tegap Maxwell yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu lift khusus eksekutif.
Semoga, pria itu tidak melihatnya di sana.
Kalau sampai Maxwell mengetahui Sylvia ada di sana, pria itu pasti akan menginterogasinya!
Belum lagi jika Sylvia mengaku kalau dia di sana untuk bertemu dengan pria yang dikenalnya lewat aplikasi kencan. Bisa-bisa Maxwell mengatainya bodoh lagi–atau bahkan mengadu ke kakaknya dan membuat Sylvia dikirim kembali ke desa!
Sylvia mengambil kembali ponselnya dan berniat mengganti tempat pertemuan dengan Tuan Finn.
Namun, sebelum ia sempat melakukan itu, pesan terbaru Tuan Finn masuk ke ponselnya.
[Tuan Finn: Maaf, aku tidak bisa datang di pertemuan hari ini.]
Napas Sylvia tercekat di kerongkongan. Rasa kecewa yang dingin menghantam ulu hatinya tanpa ampun, tapi dengan tegar dia menjawab.
[Vya: Oh... baiklah. Mungkin lain kali?]
Ditunggunya balasan dari sosok itu, tapi tak kunjung datang.
Sylvia meremas ponselnya kuat-kuat, menatap layar dengan senyum kecut. Betapa bodohnya ia, berdandan secantik ini untuk seseorang yang bahkan tidak nyata baginya.
Belum sempat ia beranjak dari kursi empuk itu, ponselnya mendadak berdering nyaring. Nama Damien terpampang jelas di layar.
Sylvia buru-buru menggeser tombol hijau dengan suara lesu. “Halo, Kak?”
“Syl! Syukurlah langsung kamu angkat." Suara Damien terdengar terburu-buru di seberang panggilan, diiringi deru klakson jalanan yang padat.
"Aku sedang jemput Max di Grand Hyatt, aku nggak tahu dia ada urusan apa di sana, tapi investor besar dari Singapura mendarat lebih cepat dan minta rapat diajukan sekarang. Kamu nanti pulang kuliah langsung pulang sendiri, ya!"
Darah Sylvia seketika membeku. “Grand … Hyatt?”
“Iya, aku juga bingung kenapa dia ada di sana jam segini,” gerutu Damien tanpa curiga sedikit pun. “Ingat, selesai kuliah kamu langsung pulang naik taksi saja ya, Syl. Hati-hati di jalan.”
“O-oh, oke, Kak. Aman.”
Ia harus segera pergi dari sini!
***
“Lemes banget, Syl.”
Mendengar namanya dipanggil oleh sang sahabat, Sylvia mendongak. Tangannya masih sibuk mengaduk makanan di hadapan tanpa berniat menghabiskan.
“Kenapa?” tanya Katrina. “Masih mikirin mantan?”
Sylvia mengernyit. “Nggak, lah.”
“Terus? Masih nggak percaya diri? Bukannya waktu itu udah kubantu ya?”
Sylvia menghela napas. Masalahnya memang mulai dari sana.
Berkat Katrina, ia bisa bertemu dengan Tuan Finn. Namun, setelah berhari-hari mengobrol dengan sosok asing itu, bahkan sampai nyaris bertemu, Sylvia mendapati dirinya bergantung pada pria tersebut.
Hal itu makin terasa karena selama beberapa hari setelah pertemuan mereka yang gagal, semua pesan Sylvia pada Tuan Finn banyak yang tidak berbalas.
Apakah Tuan Finn melihat Sylvia lalu memutuskan untuk tidak mau memperpanjang hubungan?
Seburuk itukah penampilan Sylvia?
Tapi, kata Tuan Finn, wanita tidak hanya soal penampilan. Dan Sylvia menolak percaya kalau pria itu berengsek seperti para pria lain pada umumnya.
“Halah, pria tetap pria, mau kamu bela seperti apa juga,” ucap Katrina setelah Sylvia bercerita.
“Dia beda, Rin.”
“Mau taruhan?” tukas Katrina. “Coba aja, kirimkan dia foto seksimu. Satu saja–dan lihat, apakah dia akan balas atau tidak.”
Sylvia merengut. “Yang benar saja, Rin, masa aku–”
Tiba-tiba ponsel Sylvia bergetar. Maxwell.
“Hah, kenapa manusia ini telepon…?” gumam Sylvia. Namun, gadis itu buru-buru mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Kak–”
“Aku di depan gedung kuliahmu,” kata Maxwell tanpa menunggu Sylvia menyelesaikan kalimatnya. “Damien memintaku menjemputmu.”
“Lah?” Sylvia langsung berdiri. “Kak Damien mana?”
“Tugas.”
“Eh, anu … aku sebenarnya bisa pulang sendiri … biasanya juga–”
“Kamu menyuruhku kembali setelah sudah sampai di sini?”
Sylvia menggigit bibir bawahnya. Ia jelas enggan bertemu dengan manusia dingin bermulut tajam itu.
Lagipula, kenapa Damien harus menyuruh si kulkas ini sih!? Biasanya juga Sylvia naik taksi kalau tidak bisa dijemput, Sylvia membatin.
“Aku ke sana, Kak.” Gadis itu akhirnya berucap kemudian.
Ia berpamitan pada Katrina yang dengan cueknya menghabiskan makanan Sylvia dan berjalan pada mobil mewah yang kini berhenti di depan gedung perkuliahannya. Sylvia mengetuk kaca mobil itu pelan, sebelum kemudian masuk ke dalam mobil.
Maxwell melirik gadis itu sepintas, lalu menjalankan mobilnya.
Duduk di kursi penumpang, Sylvia diam-diam mengirimkan pesan pada Tuan Finn.
[Vya: Tiba-tiba bertemu orang menyebalkan.]
[Vya: Finn? Rapatmu masih belum selesai?]
Dia akhirnya nekat mengirim pesan lagi, tapi pesannya tidak berbalas, sama seperti banyak pesan lain sebelumnya.
Sylvia mulai kesal, tidak lagi sedih.
Apa dia harus coba saran Katrina lagi? Toh, sahabatnya itu juga yang membuat Sylvia menemukan Tuan Finn.
Malam itu, Sylvia berdiri di depan cermin rias.
Ia mengenakan gaun tidur kamisol berbahan satin tipis warna hitam pekat berenda halus. Tali spageti tipisnya menahan kain yang jatuh pas di tubuhnya, menampakkan belahan dada yang tegas dan lekuk pinggang rampingnya dengan begitu nyata di bawah temaram lampu tidur berwarna kuning tembaga.
Cekrek.
Pencahayaan temaram itu menangkap kulit putihnya yang kontras dengan satin hitam, ekspresi wajahnya yang sedikit menantang, serta belahan dadanya yang terekspos jelas tanpa tedeng aling-aling. Foto itu terlihat sensual, nakal, dan sangat provokatif!
Tanpa berpikir dua kali, Sylvia memasukkannya ke ruang obrolan dan menekan tombol kirim.
[Mengirim Gambar]
Satu detik. Dua detik.
Begitu status pesan berubah menjadi 'terbaca', gelombang penyesalan tiba-tiba menghantam Sylvia. Darahnya berdesir ngeri.
'Ya ampun, apa yang baru saja kulakukan?!' rutuknya dalam hati, matanya membelalak menatap layar. Bagaimana kalau pria aneh itu menyimpan fotonya dan menyebarkannya?
Didera kepanikan luar biasa, jari Sylvia buru-buru menekan layar, berniat memilih opsi 'unsend' atau menghapus pesan tersebut untuk semua orang. Namun, tepat ketika jarinya menyentuh foto itu, aplikasi mendadak 'nge freeze'.
"Ayo, hapus! Hapus, sialan!" gumam Sylvia panik, mengetuk-ngetuk layarnya dengan brutal. Jarinya gemetar.
Bukannya memunculkan menu hapus, layar ponselnya justru berkedip aneh selama sedetik, lalu... ZAP!
Layar berubah hitam pekat. Ponselnya mati total.
"Hah?!" Sylvia memekik tertahan. Ia menekan tombol 'power' berkali-kali, menahan napas saat menyadari ponselnya benar-benar mati seperti baru saja diserang virus mematikan.
"K-kok ponselku–"
Di tengah rasa panik yang meremas dadanya, suara gedoran keras tiba-tiba terdengar dari arah pintunya, memecah keheningan malam.
Tok, tok, tok!
Sylvia melonjak kaget hingga nyaris menjatuhkan ponselnya yang mati. Tubuhnya menegang.
"Buka pintunya, Sylvia."
Itu suara Maxwell!
Kenapa pria itu tiba-tiba mengetuk pintunya? Dan … kenapa suara Maxwell terdengar lebih rendah?
Apa pria itu sedang marah?
Belum sempat Sylvia bereaksi, ia kembali mendengar ucapan sahabat kakaknya itu, “Bukankah sudah kukatakan agar jangan melakukan hal bodoh lagi, Cil?”
Maxwell langsung mendobrak pintu kamar mandi itu tanpa berpikir dua kali. Di lantai yang basah, Sylvia terduduk meringkuk memegangi pergelangan kaki kanannya yang sudah mulai memerah dan membengkak. Gadis itu menangis menahan nyeri yang menusuk, tubuh polosnya gemetar kedinginan tersiram sisa air. Melihat air mata dan cedera gadis itu, otak rasional Maxwell mendadak mati total. Ia sama sekali tidak sempat memikirkan handuk, baju, atau apa pun. Yang ada di kepalanya hanyalah membawa Sylvia keluar dari lantai dingin itu secepatnya. "Jangan banyak gerak!" bentak Maxwell dengan suara serak bercampur panik. Ia berlutut di lantai basah—mengabaikan celana kainnya yang langsung basah kuyup terkena air sabun—lalu dengan sigap menyusupkan satu lengan kekarnya ke bawah punggung dan satu lagi ke bawah lekukan paha Sylvia. Dengan satu hentakan mantap, Maxwell mengangkat tubuh mungil yang basah dan licin itu ke dalam dekapannya. "A-aww... pelan-pelan, Kak..." rintih Sylvia lirih. Seca
“Yakin seratus persen!” jawab Sylvia tanpa ragu. “Di foto profilnya, dia pasang foto dari samping belakang dan ada tato kecil di belakang lehernya. Tadi siang di kafe kampus, ada cowok yang tatonya persis kayak gitu! Kita bahkan udah tukeran kontak pribadi, dan dia manis banget. Jadi, bayangan mimpiku kemarin soal Kak Max udah nggak ada artinya lagi.” Maxwell tercekat. Otaknya langsung memutar memori saat ia membuat akun palsu dengan nama Tuan Finn beberapa waktu lalu. Demi menjaga kerahasiaan identitasnya dari Sylvia, Maxwell memang sengaja mengunggah foto acak dari arsip lama—foto siluet tubuhnya sendiri saat liburan di Bali beberapa tahun lalu, ketika seorang teman iseng melukis tato temporer di tengkuknya! Dan sekarang, gadis ceroboh dan polos ini mengira mahasiswa asing mana pun yang kebetulan punya tato serupa adalah dirinya?! Gadisnya... Sylvia-nya... berniat mendekati pria asing itu karena mengira pria itulah yang selama ini bertukar pesan panas dengannya?! Mata Maxwell
Detik berikutnya, Maxwell memiringkan ponselnya sedikit untuk membalas email kerja, lalu mengunci layar sebelum Sylvia sempat memastikan apa yang baru saja ia lihat.Sylvia langsung menarik kepalanya ke belakang dinding koridor, mendekap dadanya yang berdegup kencang seperti genderang perang.'Nggak... nggak mungkin!'Sylvia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merutuki kebodohannya sendiri.Mata minusku pasti sudah parah banget! Mana mungkin Kak Max main aplikasi kencan esek-esek kayak gitu?! Dia itu manusia es batu, workaholic gila kerja yang bahkan alergi senyum sama cewek!Sylvia memijat pelipisnya yang berdenyut.Tadi itu pasti grafik presentasi saham atau iklan pop-up warna merah muda yang kebetulan lewat. Sylvia, kamu ini saking merasa bersalahnya sampai halusinasi akut! Masa iya Kak Max yang kaku itu adalah Tuan Finn yang barusan nyuruh kamu nyentuh diri sendiri di toilet?! Mustahil!Dengan langkah berjingkat dan rasa malu yang kian menumpuk akibat prasangka liarnya, Sylvia ber
Vya: [Finn?! Ihh, nakal! aku masih di toilet kampus!] Tuan Finn: [ Pintu bilikmu terkunci, tidak ada yang melihat. Masukkan tanganmu ke dalam celana sekarang. Raba bagianmu yang basah itu, dan bayangkan itu bukan jarimu... tapi jemari pria yang membuatmu bermimpi semalam.] Sylvia menahan napas. Perintah dingin Tuan Finn terdengar begitu mendominasi, meruntuhkan sisa-sisa akal sehatnya. Dengan tangan kiri yang gemetar hebat, Sylvia menurunkan resleting celananya sedikit. Jemarinya menyelinap ke balik kain pakaian dalamnya yang sudah basah dan hangat. Saat ujung jarinya menyentuh titik paling sensitif di sana, desahan pelan lolos dari bibirnya. Vya: [A-aku udah sentuh...] Vya:[ Finn, rasanya basah banget. Berdenyut-denyut , emm, parah.] Tuan Finn: [Nikmati, usap perlahan. Putar jarimu di titik itu, Vya. Bayangkan pria itu sedang menatap matamu sambil memilin putingmu dengan tangan yang lain. Apa yang tubuhmu rasakan sekarang?] Sylvia memejamkan mata rapat-rapat. Jarinya be
Vya: [Masa iya pas tidur aku nggak sadar nyubit diriku sendiri saking penginnya disentuh Kak Max?! Tapi mana mungkin cubitan bisa jadi lebam ungu kayak gitu?!] Maxwell tersenyum miring. Alasan konyol gadis itu benar-benar menggemaskan. Tuan Finn: [Cubitan tanganmu sendiri tidak akan pernah meninggalkan tanda ungu pekat seperti itu, Vya. Mungkin kamu hanya digigit serangga atau ada alergi kulit.] Vya: [Ihhh, aku yakin bukan serangga deh! Bentuknya oval dan jelas banget bekas bibir!] Tuan Finn: [Aku tidak percaya sebelum melihat buktinya. Kirimkan fotonya padaku. Biar aku yang menilai itu bekas cubitan, alergi, atau tanda lain.] Tuan Finn: [Kamu kan sudah sering mengirim foto yang jauh lebih terbuka padaku. Kenapa sekarang harus ragu?] Membaca balasan itu, Sylvia tersentak. Benar juga. Ia sudah sering mengirim foto pundak atau belahan dada berbalut singlet tipis hanya untuk menggoda kekakuan Tuan Finn. Kenapa sekarang ia harus bersikap sok suci? Sylvia segera menatap cermin
Brak!Sylvia membanting pintu bilik toilet kampus dan memutar kuncinya kasar. Napasnya memburu, dadanya naik-turun di balik cardigan abu-abu. Dengan jemari gemetar, ia merogoh ponsel dari saku dan langsung membuka aplikasi kencan privat itu. Vya: [Finn! Kamu harus balas sekarang juga! Kepalaku mau pecah!] Vya: [Please, tolongin aku!]Di lantai teratas gedung perkantoran megah di pusat kota, ponsel hitam di sudut meja kerja Maxwell bergetar keras. Maxwell yang sedang mendengarkan laporan manajer keuangannya langsung mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar bawahannya itu diam.Ia meraih ponsel rahasia itu, membuka pesan yang baru masuk, dan seringai tipis terbit di bibirnya.Tuan Finn: [Ada apa, Vya? Kenapa kamu heboh sekali di jam kuliah seperti ini?]Melihat balasan itu muncul dalam hitungan detik, Sylvia nyaris menjerit lega di dalam bilik toilet.Vya: [Semalam aku mimpi basah, Finn! Mimpi mesum yang bener-bener parah!]Vya: [Dan cowok di mimpiku itu... Kak Max! Teman kakakku







