Home / Romansa / Sst, Kak, Ini Rahasia! / 6. Pancingan Panas

Share

6. Pancingan Panas

Author: Lil Seven
last update publish date: 2026-08-20 01:24:42

Sylvia mencoba menajamkan pandangannya, dan memang benar,  Maxwell Alexander berjalan tegap diapit tiga orang asisten berpakaian formal. Rahang tegas pria itu mengeras kaku, sepasang mata kelabunya menatap tajam ke depan dengan ponsel yang menempel rapat di telinga.

Pria itu melintas tepat di balik kaca pembatas, hanya berjarak beberapa meter dari tempat Sylvia duduk mematung.

Sylvia menahan napas seraya meremas gaunnya erat-erat, memandangi punggung tegap Maxwell yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu lift khusus eksekutif.

Semoga, pria itu tidak melihatnya di sana.

Kalau sampai Maxwell mengetahui Sylvia ada di sana, pria itu pasti akan menginterogasinya!

Belum lagi jika Sylvia mengaku kalau dia di sana untuk bertemu dengan pria yang dikenalnya lewat aplikasi kencan. Bisa-bisa Maxwell mengatainya bodoh lagi–atau bahkan mengadu ke kakaknya dan membuat Sylvia dikirim kembali ke desa!

Sylvia mengambil kembali ponselnya dan berniat mengganti tempat pertemuan dengan Tuan Finn.

Namun, sebelum ia sempat melakukan itu, pesan terbaru Tuan Finn masuk ke ponselnya.

[Tuan Finn: Maaf, aku tidak bisa datang di pertemuan hari ini.]

Napas Sylvia tercekat di kerongkongan. Rasa kecewa yang dingin menghantam ulu hatinya tanpa ampun, tapi dengan tegar dia menjawab.

[Vya: Oh... baiklah. Mungkin lain kali?]

Ditunggunya balasan dari sosok itu, tapi tak kunjung datang.

Sylvia meremas ponselnya kuat-kuat, menatap layar dengan senyum kecut. Betapa bodohnya ia, berdandan secantik ini untuk seseorang yang bahkan tidak nyata baginya.

Belum sempat ia beranjak dari kursi empuk itu, ponselnya mendadak berdering nyaring. Nama Damien terpampang jelas di layar.

Sylvia buru-buru menggeser tombol hijau dengan suara lesu. “Halo, Kak?”

“Syl! Syukurlah langsung kamu angkat." Suara Damien terdengar terburu-buru di seberang panggilan, diiringi deru klakson jalanan yang padat. 

"Aku sedang jemput Max di Grand Hyatt, aku nggak tahu dia ada urusan apa di sana, tapi  investor besar dari Singapura mendarat lebih cepat dan minta rapat diajukan sekarang. Kamu nanti pulang kuliah langsung pulang sendiri, ya!"

Darah Sylvia seketika membeku. “Grand … Hyatt?”

“Iya, aku juga bingung kenapa dia ada di sana jam segini,” gerutu Damien tanpa curiga sedikit pun. “Ingat, selesai kuliah kamu langsung pulang naik taksi saja ya, Syl. Hati-hati di jalan.”

“O-oh, oke, Kak. Aman.”

Ia harus segera pergi dari sini!

***

“Lemes banget, Syl.”

Mendengar namanya dipanggil oleh sang sahabat, Sylvia mendongak. Tangannya masih sibuk mengaduk makanan di hadapan tanpa berniat menghabiskan.

“Kenapa?” tanya Katrina. “Masih mikirin mantan?”

Sylvia mengernyit. “Nggak, lah.”

“Terus? Masih nggak percaya diri? Bukannya waktu itu udah kubantu ya?”

Sylvia menghela napas. Masalahnya memang mulai dari sana.

Berkat Katrina, ia bisa bertemu dengan Tuan Finn. Namun, setelah berhari-hari mengobrol dengan sosok asing itu, bahkan sampai nyaris bertemu, Sylvia mendapati dirinya bergantung pada pria tersebut.

Hal itu makin terasa karena selama beberapa hari setelah pertemuan mereka yang gagal, semua pesan Sylvia pada Tuan Finn banyak yang tidak berbalas. 

Apakah Tuan Finn melihat Sylvia lalu memutuskan untuk tidak mau memperpanjang hubungan?

Seburuk itukah penampilan Sylvia?

Tapi, kata Tuan Finn, wanita tidak hanya soal penampilan. Dan Sylvia menolak percaya kalau pria itu berengsek seperti para pria lain pada umumnya.

“Halah, pria tetap pria, mau kamu bela seperti apa juga,” ucap Katrina setelah Sylvia bercerita. 

“Dia beda, Rin.”

“Mau taruhan?” tukas Katrina. “Coba aja, kirimkan dia foto seksimu. Satu saja–dan lihat, apakah dia akan balas atau tidak.”

Sylvia merengut. “Yang benar saja, Rin, masa aku–”

Tiba-tiba ponsel Sylvia bergetar. Maxwell.

“Hah, kenapa manusia ini telepon…?” gumam Sylvia. Namun, gadis itu buru-buru mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Kak–”

“Aku di depan gedung kuliahmu,”  kata Maxwell tanpa menunggu Sylvia menyelesaikan kalimatnya. “Damien memintaku menjemputmu.”

“Lah?” Sylvia langsung berdiri. “Kak Damien mana?”

“Tugas.”

“Eh, anu … aku sebenarnya bisa pulang sendiri … biasanya juga–”

“Kamu menyuruhku kembali setelah sudah sampai di sini?”

Sylvia menggigit bibir bawahnya. Ia jelas enggan bertemu dengan manusia dingin bermulut tajam itu. 

Lagipula, kenapa Damien harus menyuruh si kulkas ini sih!? Biasanya juga Sylvia naik taksi kalau tidak bisa dijemput, Sylvia membatin.

“Aku ke sana, Kak.” Gadis itu akhirnya berucap kemudian.

Ia berpamitan pada Katrina yang dengan cueknya menghabiskan makanan Sylvia dan berjalan pada mobil mewah yang kini berhenti di depan gedung perkuliahannya. Sylvia mengetuk kaca mobil itu pelan, sebelum kemudian masuk ke dalam mobil.

Maxwell melirik gadis itu sepintas, lalu menjalankan mobilnya.

Duduk di kursi penumpang, Sylvia diam-diam mengirimkan pesan pada Tuan Finn.

[Vya: Tiba-tiba bertemu orang menyebalkan.]

[Vya: Finn? Rapatmu masih belum selesai?]

Dia akhirnya nekat mengirim pesan lagi, tapi pesannya tidak berbalas, sama seperti banyak pesan lain sebelumnya.

Sylvia mulai kesal, tidak lagi sedih. 

Apa dia harus coba saran Katrina lagi? Toh, sahabatnya itu juga yang membuat Sylvia menemukan Tuan Finn.

Malam itu, Sylvia berdiri di depan cermin rias.

Ia mengenakan gaun tidur kamisol berbahan satin tipis warna hitam pekat berenda halus. Tali spageti tipisnya menahan kain yang jatuh pas di tubuhnya, menampakkan belahan dada yang tegas dan lekuk pinggang rampingnya dengan begitu nyata di bawah temaram lampu tidur berwarna kuning tembaga.

Cekrek.

Pencahayaan temaram itu menangkap kulit putihnya yang kontras dengan satin hitam, ekspresi wajahnya yang sedikit menantang, serta belahan dadanya yang terekspos jelas tanpa tedeng aling-aling. Foto itu terlihat sensual, nakal, dan sangat provokatif!

Tanpa berpikir dua kali, Sylvia memasukkannya ke ruang obrolan dan menekan tombol kirim.

[Mengirim Gambar]

Satu detik. Dua detik.

Begitu status pesan berubah menjadi 'terbaca', gelombang penyesalan tiba-tiba menghantam Sylvia. Darahnya berdesir ngeri.

'Ya ampun, apa yang baru saja kulakukan?!' rutuknya dalam hati, matanya membelalak menatap layar. Bagaimana kalau pria aneh itu menyimpan fotonya dan menyebarkannya?

Didera kepanikan luar biasa, jari Sylvia buru-buru menekan layar, berniat memilih opsi 'unsend' atau menghapus pesan tersebut untuk semua orang. Namun, tepat ketika jarinya menyentuh foto itu, aplikasi mendadak 'nge freeze'.

"Ayo, hapus! Hapus, sialan!" gumam Sylvia panik, mengetuk-ngetuk layarnya dengan brutal. Jarinya gemetar.

Bukannya memunculkan menu hapus, layar ponselnya justru berkedip aneh selama sedetik, lalu... ZAP!

Layar berubah hitam pekat. Ponselnya mati total.

"Hah?!" Sylvia memekik tertahan. Ia menekan tombol 'power' berkali-kali, menahan napas saat menyadari ponselnya benar-benar mati seperti baru saja diserang virus mematikan.

"K-kok ponselku–"

Di tengah rasa panik yang meremas dadanya, suara gedoran keras tiba-tiba terdengar dari arah pintunya, memecah keheningan malam. 

Tok, tok, tok!

Sylvia melonjak kaget hingga nyaris menjatuhkan ponselnya yang mati. Tubuhnya menegang.

"Buka pintunya, Sylvia."

Itu suara Maxwell! 

Kenapa pria itu tiba-tiba mengetuk pintunya? Dan … kenapa suara Maxwell terdengar lebih rendah?

Apa pria itu sedang marah?

Belum sempat Sylvia bereaksi, ia kembali mendengar ucapan sahabat kakaknya itu, “Bukankah sudah kukatakan agar jangan melakukan hal bodoh lagi, Cil?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Lil Seven
Heheeee maaf ya sayangku, ini novel masih uji cobaaa, makasiii banyak udah mampir yaaaa, aku perbaiki hari ini dan aku jamin mulai hari ini bakal nyaman bacanyaaa
goodnovel comment avatar
Hydragea
Kak bab 5 sama bab 6 sama
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   247.

    Pintu studio apartemen berderit menutup rapat, mengunci desau angin dingin dan gemuruh sisa badai di luar. Ruangan berukuran tiga puluh meter persegi itu seketika dipenuhi aroma lembap kain basah dan wangi kayu cendana dari tubuh Maxwell yang kian pekat terbakar demam.Lampu tidur di sudut ruangan memancarkan temaram hangat berwarna kuning gading. Begitu kunci pintu berputar, tubuh Maxwell yang semula ditopang Sylvia perlahan mendorong gadis itu mundur hingga punggungnya merapat ke daun pintu kayu.Kedua telapak tangan Maxwell yang besar menempel di sisi kepala Sylvia. Pria itu menundukkan wajahnya, napasnya memburu pendek dan panas, menyapu kening serta pipi Sylvia yang masih basah oleh air mata dan hujan."Maxwell, bajumu basah kuyup..." bisik Sylvia dengan suara bergetar pelan. Kedua tangannya terangkat ke dada bidang pria itu, berniat mendorongnya menjauh agar bisa mengambil handuk kering di kamar mandi. "Kamu harus segera berganti pakaian atau demammu akan makin tinggi."Bukannya

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   235.

    Pintu ganda griya tawang di lantai puncak Salvador Tower terbanting menutup dengan suara dentuman memekakkan telinga. Sylvia terdorong masuk ke ruang tamu yang temaram, mantelnya basah oleh sisa gerimis sore. Dua pengawal bertubuh kekar langsung mundur dan mengunci akses lift privat dari luar atas perintah mutlak sang pimpinan. Sylvia berbalik cepat dengan dada naik-turun menahan luapan amarah, rasa takut, dan harga dirinya yang diinjak-injak setelah dijemput paksa dari kafe tempat Adrian mengantarkannya berteduh. Di depannya, Maxwell berdiri bagai monster yang baru saja lepas dari rantai neraka. Kemeja putih pria itu basah menempel di tubuh tegapnya, dasinya sudah terlempar entah ke mana, dan rahangnya bergemeletuk kaku dengan urat-urat leher yang menonjol tegang. "Kamu menyuruh anak buahmu menyeretku seperti kriminal, Maxwell?!" suara Sylvia pecah, bergetar hebat di tengah luasnya ruangan mewah yang mendadak terasa mencekik. "Siapa kamu sebenarnya?! K

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   234

    Dentingan lift yang meluncur turun ke lantai dasar terasa bagai peti mati yang menyesakkan bagi Sylvia. Air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah membasahi pipinya, mengaburkan pemandangan lorong lobi marmer saat pintu baja terbuka. Setiap jengkal harga dirinya terasa hancur berkeping-keping; pemandangan Clarissa di pangkuan Maxwell seolah menjadi stempel pengesahan atas setiap kata hinaan yang dilontarkan Helena. Sylvia melangkah setengah berlari menembus pintu putar kaca gedung Salvador Group, sama sekali tidak memedulikan gerimis siang yang mulai membasahi aspal pelataran lobi. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari pria itu. Namun, derit ban mobil memecah lamunannya. Sebuah sedan Maybach hitam berhenti mendadak tepat di tepi trotoar, menghalangi langkah Sylvia. Pintu penumpang belakang terbuka cepat, dan sosok Adrian Pratama melangkah keluar. Mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, wajah pemuda itu tampak tegang, namun matanya memancarkan keleg

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   232.

    Keesokan paginya, suasana di lantai empat puluh terasa berbeda. Ketegangan dingin yang menggantung di antara Sylvia dan Maxwell sejak malam sebelumnya belum sempat mencair, namun ritme kerja korporat memaksanya tetap melangkah profesional. Sylvia baru saja selesai merapikan berkas analisis pasar di meja kerjanya saat pintu lift eksekutif berdenting terbuka. Langkah kaki dengan ketukan stiletto yang tegas memecah keheningan koridor. Seorang wanita melangkah keluar dengan percaya diri. Rambut cokelat bergelombang jatuh sempurna di atas bahu gaun terusan merah marun berpotongan pas badan yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Clarissa Wijaya. Putri salah satu mantan diplomat rekanan dekat keluarga Salvador, lulusan luar negeri yang baru saja ditempatkan langsung di kantor eksekutif melalui memo pribadi Helena Salvador—tanpa melalui persetujuan Maxwell, dengan dalih "asisten protokoler khusus urusan konsorsium internasional". Claris

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   231.

    Malam itu, griya tawang di puncak Salvador Tower tenggelam dalam temaram lampu gantung tembaga. Dari dinding kaca raksasa, kerlip lampu kota membentang bagai hamparan bintang mati. Sylvia berdiri mematung di dekat balkon kaca, jemarinya yang dingin memilin ujung lengan rajut putihnya. Di dalam kepalanya, suara Helena Salvador terus berdengung bagai racun yang mengendap, mengulang-ulang kalimat terkutuk itu tanpa henti: Pernahkah dia membicarakan pernikahan denganmu? Kamu tidak lebih dari pelacur simpanan yang kebetulan pandai bekerja. Denting pintu kamar utama terbuka perlahan. Aroma segar air sabun bercampur wangi maskulin kayu cendana langsung menyusup ke udara, mengumumkan kehadiran sang penguasa menara. Maxwell melangkah keluar hanya mengenakan celana tidur panjang berwarna abu-abu gelap. Dada bidangnya yang kokoh dan berotot masih basah oleh sisa bulir air, sementara handuk putih kecil melingkar longgar di lehernya. Melihat Sylvia masih berdiri kak

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   230.

    Helena sama sekali tidak gentar melihat serpihan kertas cek yang berhamburan di atas meja marmer. Sebaliknya, senyum di bibir wanita bergaun sutra gading itu justru semakin melebar—sebuah senyum dingin, penuh bisa, dan sarat kepuasan melihat mangsanya mulai menunjukkan riak emosi. "Robek sesukamu, Sylvia," suara Helena mengalun begitu tenang, bahkan nyaris lembut, namun setiap suku katanya bagai jarum beracun yang ditusukkan perlahan ke ulu hati gadis itu. "Sikap defensifmu itu membuktikan satu hal: kata-kataku tepat mengenai sasaran terlemahmu." Sylvia menahan napasnya di tenggorokan, berdiri mematung di seberang meja. Jemarinya yang terkepal di samping rok span bergetar samar. Ia berniat melangkah pergi meninggalkan ruangan VIP beraroma melati itu, namun tatapan tajam sang nyonya besar seolah memaku kedua kakinya di lantai karpet tebal. "Duduk kembali," desis Helena tanpa nada tinggi, namun sarat gravitasi kekuasaan yang menekan. "Aku belum selesai me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status