Home / Romansa / Sst, Kak, Ini Rahasia! / 5. Sahabat Kakakku

Share

5. Sahabat Kakakku

Author: Lil Seven
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-19 23:08:08

“Otakmu masih belum benar?”

Sylvia mendongak, menatap Maxwell yang berdiri menjulang tepat di sisi meja makan. Jas abu-abu gelapnya belum terpasang, tetapi kemeja hitam yang membungkus tubuh kekarnya sudah memancarkan aura intimidasi yang pekat. 

“Hah? Maksudnya, Kak?” balas Sylvia. Ia mengurungkan niatnya menyendok sereal, menatap Maxwell yang baru datang dengan bibir cemberut. “Tolong tanya yang benar.”

Mata tajam Maxwell mengamati wajah Sylvia yang tampak bengkak dan berkomentar, “Matamu merah.”

“Eh, iyakah?” balas Sylvia. “Oh, mungkin karena semalam aku–”

“Menangisi mantan pacarmu lagi?”

“Hah?”

“Wajah kusut, mata bengkak. Sudah jelas. Tingkah bodoh apa lagi yang kamu lakukan?”

Sylvia yang tertegun karena tuduhan itu langsung berdiri. “Kenapa Kakak jadi asal tuduh begitu!?” balasnya. “Ini karena begadang.”

Maxwell menatap Sylvia datar, tidak terpengaruh dengan ledakan Sylvia.

“Bohong lagi?” komentarnya.

“Ih!”

Sylvia meninggalkan meja makan, malas berdebat.

Ia langsung pergi ke kamarnya. Dengan tangan yang masih gemetar karena emosi, ia menyambar ponsel pintarnya di atas meja dan langsung membuka aplikasi kencan yang sudah menemaninya selama satu minggu itu.

Tentu saja yang dia tuju adalah Tuan Finn. 

[Vya: Pria itu memang sering asal tuduh begitu ya?]

[Vya: Ada manusia arogan di rumahku. Rasanya ingin kucakar wajah sok tampannya sampai hancur!]

[Vya: Benar-benar pria menyebalkan!]

Sylvia melihat tanda aktif di sisi nama Tuan Finn menyala begitu ia selesai mengirim pesan.

Pria itu tampak mengetik selama beberapa saat, tapi tak kunjung mengirimkan pesannya.

Sylvia mengernyit. “Kenapa dia–”

Ting! Balasan pesan Tuan Finn datang.

[Tuan Finn: Siapa yang kamu maksud?]

[Vya: Ada, lah! Poin ceritanya bukan di sana.]

Sylvia melempar ponselnya ke sofa dengan napas memburu. Namun, belum genap dua menit berlalu, getaran pendek terasa di bantalan sofa.

[Tuan Finn: Kenapa marah? Memang ucapannya benar?]

Sylvia mendengus kencang, menatap layar dengan mata menyipit tajam.

[Vya: Tentu tidak! Kenapa kamu malah seperti membela dia, sih?! Kalian berdua sama saja! Dingin, kaku, dan sok tahu.]

[Tuan Finn: Aku tidak sedang membela siapa pun.]

Sylvia menatap layar ponselnya dengan perasaan dongkol, menunggu Tuan Finn mengetikkan balasan.

[Tuan Finn: Kalau memang tidak benar, bela dirimu. Jelaskan. Manusia diciptakan dengan mulut untuk bicara.]

[Vya: Malas. Dia bukan pria yang mudah diubah pemikirannya.]

[Tuan Finn: Tidak keberatan dia salah paham?]

[Vya: Dia bukan siapa-siapa. Cuma pria aneh.]

[Tuan Finn: Hidupmu dikelilingi pria-pria aneh.]

[Vya: Cemburu?]

[Tuan Finn: Apa itu membuat perasaanmu lebih baik?]

[Vya: Lumayan.]

[Tuan Finn: Oke.]

Sylvia tertawa pelan membaca deretan pesan itu. Perasaan kesal yang ada di hatinya tadi sudah hampir surut sempurna, berganti menjadi perasaan ringan yang menenangkan.

Tanpa Sylvia sadari, hari-hari berikutnya bergulir dengan percakapan singkat yang kian ia nantikan. 

Tuan Finn membuat Sylvia betah chat seharian dengannya, hari-hari hanya berisi ngobrol dengan Tuan Finn sampai malam. 

Hingga suatu sore, dorongan impulsif Sylvia kembali mengambil alih jemarinya.

[Vya: Finn, bagaimana kalau kita bertemu?]

[Vya: Finn, kamu sudah banyak menyelamatkan kewarasanku akhir-akhir ini. Boleh aku mentraktir secangkir kopi sebagai tanda terima kasih? Tiga puluh menit saja, aku janji tidak akan merepotkan, kok.]

Layar sempat hening berjam-jam. Sylvia hampir menyesali kenekatannya, menduga pria sedingin Tuan Finn pasti akan menolak. Namun, menjelang tengah malam, notifikasi balasan muncul.

[Tuan Finn: Lusa jam lima sore. Kafe The Lounge, lobi Grand Hyatt. Aku ada jeda waktu sebelum rapat malam. Jangan terlambat.]

Jantung Sylvia berdegup kencang seketika. "Dia benar-benar mau bertemu aku?" 

Dua hari kemudian, Sylvia mematut diri di depan cermin kamar. Kali ini bukan pakaian terbuka atau kostum konyol, melainkan sebuah dress rajut panjang berwarna abu-abu mutiara yang membungkus tubuhnya dengan pas. 

Potongannya anggun dengan kerah tinggi, menonjolkan lekuk pinggang rampingnya dengan sopan. Rambutnya disanggul modern dengan pulasan riasan natural yang manis.

Diam-diam Sylvia ingin membuktikan pada Tuan Finn bahwa ia adalah wanita yang berharga dan berkelas.

Pukul lima kurang lima belas menit, Sylvia sudah duduk manis di sudut kafe The Lounge.  

Sylvia melipat jemarinya di pangkuan, menatap pintu masuk kafe dengan debar dada yang kian memburu.

"Hmm. Siapa sebenarnya pria di balik nama Tuan Finn, ya? Aku penasaran, apakah dia pria muda atau sudah tua? Aku belum pernah dengar suaranya, tapi aku yakin dia orang baik."

Sylvia meremas ponselnya kuat-kuat, menatap layar dengan senyum, menunggu pesan dari teman kencannya itu.

Tepat pukul lima kurang dua menit, ponsel di samping cangkir tehnya bergetar pendek.

Sylvia menyambar benda itu dengan senyum tertahan. 

[Tuan Finn: Di mana?]

[Vya: Sudah di lokasi.]

[Vya: Aku pakai gaun panjang warna abu-abu. Pakai jepit rambut biru.]

Namun, tepat pada detik itu, ekor matanya menangkap gerakan tergesa-gesa dari balik dinding kaca kafe yang menghadap langsung ke arah lobi marmer hotel.

Di sana, Sylvia melihat siluet pria bertubuh jangkung dalam balutan kemeja hitam dan setelan jas abu-abu gelap yang tampak familier.

Gadis itu tertegun. 

"Kak ... Max?"

Untuk apa … pria itu ada di sana?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   72.

    Maxwell langsung mendobrak pintu kamar mandi itu tanpa berpikir dua kali. Di lantai yang basah, Sylvia terduduk meringkuk memegangi pergelangan kaki kanannya yang sudah mulai memerah dan membengkak. Gadis itu menangis menahan nyeri yang menusuk, tubuh polosnya gemetar kedinginan tersiram sisa air. Melihat air mata dan cedera gadis itu, otak rasional Maxwell mendadak mati total. Ia sama sekali tidak sempat memikirkan handuk, baju, atau apa pun. Yang ada di kepalanya hanyalah membawa Sylvia keluar dari lantai dingin itu secepatnya. "Jangan banyak gerak!" bentak Maxwell dengan suara serak bercampur panik. Ia berlutut di lantai basah—mengabaikan celana kainnya yang langsung basah kuyup terkena air sabun—lalu dengan sigap menyusupkan satu lengan kekarnya ke bawah punggung dan satu lagi ke bawah lekukan paha Sylvia. Dengan satu hentakan mantap, Maxwell mengangkat tubuh mungil yang basah dan licin itu ke dalam dekapannya. "A-aww... pelan-pelan, Kak..." rintih Sylvia lirih. Seca

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   71.

    “Yakin seratus persen!” jawab Sylvia tanpa ragu. “Di foto profilnya, dia pasang foto dari samping belakang dan ada tato kecil di belakang lehernya. Tadi siang di kafe kampus, ada cowok yang tatonya persis kayak gitu! Kita bahkan udah tukeran kontak pribadi, dan dia manis banget. Jadi, bayangan mimpiku kemarin soal Kak Max udah nggak ada artinya lagi.” Maxwell tercekat. Otaknya langsung memutar memori saat ia membuat akun palsu dengan nama Tuan Finn beberapa waktu lalu. Demi menjaga kerahasiaan identitasnya dari Sylvia, Maxwell memang sengaja mengunggah foto acak dari arsip lama—foto siluet tubuhnya sendiri saat liburan di Bali beberapa tahun lalu, ketika seorang teman iseng melukis tato temporer di tengkuknya! Dan sekarang, gadis ceroboh dan polos ini mengira mahasiswa asing mana pun yang kebetulan punya tato serupa adalah dirinya?! Gadisnya... Sylvia-nya... berniat mendekati pria asing itu karena mengira pria itulah yang selama ini bertukar pesan panas dengannya?! Mata Maxwell

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   70.

    Detik berikutnya, Maxwell memiringkan ponselnya sedikit untuk membalas email kerja, lalu mengunci layar sebelum Sylvia sempat memastikan apa yang baru saja ia lihat.Sylvia langsung menarik kepalanya ke belakang dinding koridor, mendekap dadanya yang berdegup kencang seperti genderang perang.'Nggak... nggak mungkin!'Sylvia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merutuki kebodohannya sendiri.Mata minusku pasti sudah parah banget! Mana mungkin Kak Max main aplikasi kencan esek-esek kayak gitu?! Dia itu manusia es batu, workaholic gila kerja yang bahkan alergi senyum sama cewek!Sylvia memijat pelipisnya yang berdenyut.Tadi itu pasti grafik presentasi saham atau iklan pop-up warna merah muda yang kebetulan lewat. Sylvia, kamu ini saking merasa bersalahnya sampai halusinasi akut! Masa iya Kak Max yang kaku itu adalah Tuan Finn yang barusan nyuruh kamu nyentuh diri sendiri di toilet?! Mustahil!Dengan langkah berjingkat dan rasa malu yang kian menumpuk akibat prasangka liarnya, Sylvia ber

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   69.

    Vya: [Finn?! Ihh, nakal! aku masih di toilet kampus!] Tuan Finn: [ Pintu bilikmu terkunci, tidak ada yang melihat. Masukkan tanganmu ke dalam celana sekarang. Raba bagianmu yang basah itu, dan bayangkan itu bukan jarimu... tapi jemari pria yang membuatmu bermimpi semalam.] Sylvia menahan napas. Perintah dingin Tuan Finn terdengar begitu mendominasi, meruntuhkan sisa-sisa akal sehatnya. Dengan tangan kiri yang gemetar hebat, Sylvia menurunkan resleting celananya sedikit. Jemarinya menyelinap ke balik kain pakaian dalamnya yang sudah basah dan hangat. Saat ujung jarinya menyentuh titik paling sensitif di sana, desahan pelan lolos dari bibirnya. Vya: [A-aku udah sentuh...] Vya:[ Finn, rasanya basah banget. Berdenyut-denyut , emm, parah.] Tuan Finn: [Nikmati, usap perlahan. Putar jarimu di titik itu, Vya. Bayangkan pria itu sedang menatap matamu sambil memilin putingmu dengan tangan yang lain. Apa yang tubuhmu rasakan sekarang?] Sylvia memejamkan mata rapat-rapat. Jarinya be

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   68.

    Vya: [Masa iya pas tidur aku nggak sadar nyubit diriku sendiri saking penginnya disentuh Kak Max?! Tapi mana mungkin cubitan bisa jadi lebam ungu kayak gitu?!] Maxwell tersenyum miring. Alasan konyol gadis itu benar-benar menggemaskan. Tuan Finn: [Cubitan tanganmu sendiri tidak akan pernah meninggalkan tanda ungu pekat seperti itu, Vya. Mungkin kamu hanya digigit serangga atau ada alergi kulit.] Vya: [Ihhh, aku yakin bukan serangga deh! Bentuknya oval dan jelas banget bekas bibir!] Tuan Finn: [Aku tidak percaya sebelum melihat buktinya. Kirimkan fotonya padaku. Biar aku yang menilai itu bekas cubitan, alergi, atau tanda lain.] Tuan Finn: [Kamu kan sudah sering mengirim foto yang jauh lebih terbuka padaku. Kenapa sekarang harus ragu?] Membaca balasan itu, Sylvia tersentak. Benar juga. Ia sudah sering mengirim foto pundak atau belahan dada berbalut singlet tipis hanya untuk menggoda kekakuan Tuan Finn. Kenapa sekarang ia harus bersikap sok suci? Sylvia segera menatap cermin

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   67.

    Brak!Sylvia membanting pintu bilik toilet kampus dan memutar kuncinya kasar. Napasnya memburu, dadanya naik-turun di balik cardigan abu-abu. Dengan jemari gemetar, ia merogoh ponsel dari saku dan langsung membuka aplikasi kencan privat itu. Vya: [Finn! Kamu harus balas sekarang juga! Kepalaku mau pecah!] Vya: [Please, tolongin aku!]Di lantai teratas gedung perkantoran megah di pusat kota, ponsel hitam di sudut meja kerja Maxwell bergetar keras. Maxwell yang sedang mendengarkan laporan manajer keuangannya langsung mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar bawahannya itu diam.Ia meraih ponsel rahasia itu, membuka pesan yang baru masuk, dan seringai tipis terbit di bibirnya.Tuan Finn: [Ada apa, Vya? Kenapa kamu heboh sekali di jam kuliah seperti ini?]Melihat balasan itu muncul dalam hitungan detik, Sylvia nyaris menjerit lega di dalam bilik toilet.Vya: [Semalam aku mimpi basah, Finn! Mimpi mesum yang bener-bener parah!]Vya: [Dan cowok di mimpiku itu... Kak Max! Teman kakakku

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status