LOGIN“Otakmu masih belum benar?”
Sylvia mendongak, menatap Maxwell yang berdiri menjulang tepat di sisi meja makan. Jas abu-abu gelapnya belum terpasang, tetapi kemeja hitam yang membungkus tubuh kekarnya sudah memancarkan aura intimidasi yang pekat.
“Hah? Maksudnya, Kak?” balas Sylvia. Ia mengurungkan niatnya menyendok sereal, menatap Maxwell yang baru datang dengan bibir cemberut. “Tolong tanya yang benar.”
Mata tajam Maxwell mengamati wajah Sylvia yang tampak bengkak dan berkomentar, “Matamu merah.”
“Eh, iyakah?” balas Sylvia. “Oh, mungkin karena semalam aku–”
“Menangisi mantan pacarmu lagi?”
“Hah?”
“Wajah kusut, mata bengkak. Sudah jelas. Tingkah bodoh apa lagi yang kamu lakukan?”
Sylvia yang tertegun karena tuduhan itu langsung berdiri. “Kenapa Kakak jadi asal tuduh begitu!?” balasnya. “Ini karena begadang.”
Maxwell menatap Sylvia datar, tidak terpengaruh dengan ledakan Sylvia.
“Bohong lagi?” komentarnya.
“Ih!”
Sylvia meninggalkan meja makan, malas berdebat.
Ia langsung pergi ke kamarnya. Dengan tangan yang masih gemetar karena emosi, ia menyambar ponsel pintarnya di atas meja dan langsung membuka aplikasi kencan yang sudah menemaninya selama satu minggu itu.
Tentu saja yang dia tuju adalah Tuan Finn.
[Vya: Pria itu memang sering asal tuduh begitu ya?]
[Vya: Ada manusia arogan di rumahku. Rasanya ingin kucakar wajah sok tampannya sampai hancur!]
[Vya: Benar-benar pria menyebalkan!]
Sylvia melihat tanda aktif di sisi nama Tuan Finn menyala begitu ia selesai mengirim pesan.
Pria itu tampak mengetik selama beberapa saat, tapi tak kunjung mengirimkan pesannya.
Sylvia mengernyit. “Kenapa dia–”
Ting! Balasan pesan Tuan Finn datang.
[Tuan Finn: Siapa yang kamu maksud?]
[Vya: Ada, lah! Poin ceritanya bukan di sana.]
Sylvia melempar ponselnya ke sofa dengan napas memburu. Namun, belum genap dua menit berlalu, getaran pendek terasa di bantalan sofa.
[Tuan Finn: Kenapa marah? Memang ucapannya benar?]
Sylvia mendengus kencang, menatap layar dengan mata menyipit tajam.
[Vya: Tentu tidak! Kenapa kamu malah seperti membela dia, sih?! Kalian berdua sama saja! Dingin, kaku, dan sok tahu.]
[Tuan Finn: Aku tidak sedang membela siapa pun.]
Sylvia menatap layar ponselnya dengan perasaan dongkol, menunggu Tuan Finn mengetikkan balasan.
[Tuan Finn: Kalau memang tidak benar, bela dirimu. Jelaskan. Manusia diciptakan dengan mulut untuk bicara.]
[Vya: Malas. Dia bukan pria yang mudah diubah pemikirannya.]
[Tuan Finn: Tidak keberatan dia salah paham?]
[Vya: Dia bukan siapa-siapa. Cuma pria aneh.]
[Tuan Finn: Hidupmu dikelilingi pria-pria aneh.]
[Vya: Cemburu?]
[Tuan Finn: Apa itu membuat perasaanmu lebih baik?]
[Vya: Lumayan.]
[Tuan Finn: Oke.]
Sylvia tertawa pelan membaca deretan pesan itu. Perasaan kesal yang ada di hatinya tadi sudah hampir surut sempurna, berganti menjadi perasaan ringan yang menenangkan.
Tanpa Sylvia sadari, hari-hari berikutnya bergulir dengan percakapan singkat yang kian ia nantikan.
Tuan Finn membuat Sylvia betah chat seharian dengannya, hari-hari hanya berisi ngobrol dengan Tuan Finn sampai malam.
Hingga suatu sore, dorongan impulsif Sylvia kembali mengambil alih jemarinya.
[Vya: Finn, bagaimana kalau kita bertemu?]
[Vya: Finn, kamu sudah banyak menyelamatkan kewarasanku akhir-akhir ini. Boleh aku mentraktir secangkir kopi sebagai tanda terima kasih? Tiga puluh menit saja, aku janji tidak akan merepotkan, kok.]
Layar sempat hening berjam-jam. Sylvia hampir menyesali kenekatannya, menduga pria sedingin Tuan Finn pasti akan menolak. Namun, menjelang tengah malam, notifikasi balasan muncul.
[Tuan Finn: Lusa jam lima sore. Kafe The Lounge, lobi Grand Hyatt. Aku ada jeda waktu sebelum rapat malam. Jangan terlambat.]
Jantung Sylvia berdegup kencang seketika. "Dia benar-benar mau bertemu aku?"
Dua hari kemudian, Sylvia mematut diri di depan cermin kamar. Kali ini bukan pakaian terbuka atau kostum konyol, melainkan sebuah dress rajut panjang berwarna abu-abu mutiara yang membungkus tubuhnya dengan pas.
Potongannya anggun dengan kerah tinggi, menonjolkan lekuk pinggang rampingnya dengan sopan. Rambutnya disanggul modern dengan pulasan riasan natural yang manis.
Diam-diam Sylvia ingin membuktikan pada Tuan Finn bahwa ia adalah wanita yang berharga dan berkelas.
Pukul lima kurang lima belas menit, Sylvia sudah duduk manis di sudut kafe The Lounge.
Sylvia melipat jemarinya di pangkuan, menatap pintu masuk kafe dengan debar yang kian memburu.
"Hmm. Siapa sebenarnya pria di balik nama Tuan Finn, ya? Aku penasaran, apakah dia pria muda atau sudah tua? Aku belum pernah dengar suaranya, tapi aku yakin dia orang baik."
Sylvia meremas ponselnya kuat-kuat, menatap layar dengan senyum, menunggu pesan dari teman kencannya itu.
Tepat pukul lima kurang dua menit, ponsel di samping cangkir tehnya bergetar pendek.
Sylvia menyambar benda itu dengan senyum tertahan.
[Tuan Finn: Di mana?]
[Vya: Sudah di lokasi.]
[Vya: Aku pakai gaun panjang warna abu-abu. Pakai jepit rambut biru.]
Namun, tepat pada detik itu, ekor matanya menangkap gerakan tergesa-gesa dari balik dinding kaca kafe yang menghadap langsung ke arah lobi marmer hotel.
Di sana, Sylvia melihat siluet pria bertubuh jangkung dalam balutan kemeja hitam dan setelan jas abu-abu gelap yang tampak familier.
Gadis itu tertegun.
"Kak ... Max?"
Untuk apa … pria itu ada di sana?
Pintu studio apartemen berderit menutup rapat, mengunci desau angin dingin dan gemuruh sisa badai di luar. Ruangan berukuran tiga puluh meter persegi itu seketika dipenuhi aroma lembap kain basah dan wangi kayu cendana dari tubuh Maxwell yang kian pekat terbakar demam.Lampu tidur di sudut ruangan memancarkan temaram hangat berwarna kuning gading. Begitu kunci pintu berputar, tubuh Maxwell yang semula ditopang Sylvia perlahan mendorong gadis itu mundur hingga punggungnya merapat ke daun pintu kayu.Kedua telapak tangan Maxwell yang besar menempel di sisi kepala Sylvia. Pria itu menundukkan wajahnya, napasnya memburu pendek dan panas, menyapu kening serta pipi Sylvia yang masih basah oleh air mata dan hujan."Maxwell, bajumu basah kuyup..." bisik Sylvia dengan suara bergetar pelan. Kedua tangannya terangkat ke dada bidang pria itu, berniat mendorongnya menjauh agar bisa mengambil handuk kering di kamar mandi. "Kamu harus segera berganti pakaian atau demammu akan makin tinggi."Bukannya
Pintu ganda griya tawang di lantai puncak Salvador Tower terbanting menutup dengan suara dentuman memekakkan telinga. Sylvia terdorong masuk ke ruang tamu yang temaram, mantelnya basah oleh sisa gerimis sore. Dua pengawal bertubuh kekar langsung mundur dan mengunci akses lift privat dari luar atas perintah mutlak sang pimpinan. Sylvia berbalik cepat dengan dada naik-turun menahan luapan amarah, rasa takut, dan harga dirinya yang diinjak-injak setelah dijemput paksa dari kafe tempat Adrian mengantarkannya berteduh. Di depannya, Maxwell berdiri bagai monster yang baru saja lepas dari rantai neraka. Kemeja putih pria itu basah menempel di tubuh tegapnya, dasinya sudah terlempar entah ke mana, dan rahangnya bergemeletuk kaku dengan urat-urat leher yang menonjol tegang. "Kamu menyuruh anak buahmu menyeretku seperti kriminal, Maxwell?!" suara Sylvia pecah, bergetar hebat di tengah luasnya ruangan mewah yang mendadak terasa mencekik. "Siapa kamu sebenarnya?! K
Dentingan lift yang meluncur turun ke lantai dasar terasa bagai peti mati yang menyesakkan bagi Sylvia. Air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah membasahi pipinya, mengaburkan pemandangan lorong lobi marmer saat pintu baja terbuka. Setiap jengkal harga dirinya terasa hancur berkeping-keping; pemandangan Clarissa di pangkuan Maxwell seolah menjadi stempel pengesahan atas setiap kata hinaan yang dilontarkan Helena. Sylvia melangkah setengah berlari menembus pintu putar kaca gedung Salvador Group, sama sekali tidak memedulikan gerimis siang yang mulai membasahi aspal pelataran lobi. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari pria itu. Namun, derit ban mobil memecah lamunannya. Sebuah sedan Maybach hitam berhenti mendadak tepat di tepi trotoar, menghalangi langkah Sylvia. Pintu penumpang belakang terbuka cepat, dan sosok Adrian Pratama melangkah keluar. Mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, wajah pemuda itu tampak tegang, namun matanya memancarkan keleg
Keesokan paginya, suasana di lantai empat puluh terasa berbeda. Ketegangan dingin yang menggantung di antara Sylvia dan Maxwell sejak malam sebelumnya belum sempat mencair, namun ritme kerja korporat memaksanya tetap melangkah profesional. Sylvia baru saja selesai merapikan berkas analisis pasar di meja kerjanya saat pintu lift eksekutif berdenting terbuka. Langkah kaki dengan ketukan stiletto yang tegas memecah keheningan koridor. Seorang wanita melangkah keluar dengan percaya diri. Rambut cokelat bergelombang jatuh sempurna di atas bahu gaun terusan merah marun berpotongan pas badan yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Clarissa Wijaya. Putri salah satu mantan diplomat rekanan dekat keluarga Salvador, lulusan luar negeri yang baru saja ditempatkan langsung di kantor eksekutif melalui memo pribadi Helena Salvador—tanpa melalui persetujuan Maxwell, dengan dalih "asisten protokoler khusus urusan konsorsium internasional". Claris
Malam itu, griya tawang di puncak Salvador Tower tenggelam dalam temaram lampu gantung tembaga. Dari dinding kaca raksasa, kerlip lampu kota membentang bagai hamparan bintang mati. Sylvia berdiri mematung di dekat balkon kaca, jemarinya yang dingin memilin ujung lengan rajut putihnya. Di dalam kepalanya, suara Helena Salvador terus berdengung bagai racun yang mengendap, mengulang-ulang kalimat terkutuk itu tanpa henti: Pernahkah dia membicarakan pernikahan denganmu? Kamu tidak lebih dari pelacur simpanan yang kebetulan pandai bekerja. Denting pintu kamar utama terbuka perlahan. Aroma segar air sabun bercampur wangi maskulin kayu cendana langsung menyusup ke udara, mengumumkan kehadiran sang penguasa menara. Maxwell melangkah keluar hanya mengenakan celana tidur panjang berwarna abu-abu gelap. Dada bidangnya yang kokoh dan berotot masih basah oleh sisa bulir air, sementara handuk putih kecil melingkar longgar di lehernya. Melihat Sylvia masih berdiri kak
Helena sama sekali tidak gentar melihat serpihan kertas cek yang berhamburan di atas meja marmer. Sebaliknya, senyum di bibir wanita bergaun sutra gading itu justru semakin melebar—sebuah senyum dingin, penuh bisa, dan sarat kepuasan melihat mangsanya mulai menunjukkan riak emosi. "Robek sesukamu, Sylvia," suara Helena mengalun begitu tenang, bahkan nyaris lembut, namun setiap suku katanya bagai jarum beracun yang ditusukkan perlahan ke ulu hati gadis itu. "Sikap defensifmu itu membuktikan satu hal: kata-kataku tepat mengenai sasaran terlemahmu." Sylvia menahan napasnya di tenggorokan, berdiri mematung di seberang meja. Jemarinya yang terkepal di samping rok span bergetar samar. Ia berniat melangkah pergi meninggalkan ruangan VIP beraroma melati itu, namun tatapan tajam sang nyonya besar seolah memaku kedua kakinya di lantai karpet tebal. "Duduk kembali," desis Helena tanpa nada tinggi, namun sarat gravitasi kekuasaan yang menekan. "Aku belum selesai me







