Se connecterSuara motor sport berhenti di halaman depan rumah, disusul ketukan pintu yang bersemangat. Aisyah yang sedang melipat mukena setelah sholat Ashar terlonjak kaget. Dia mengenali suara itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena rindu, melainkan karena ketakutan yang mendadak menyergap.
"Assalamualaikum! Aisyah! Bu Nur!" Itu suara Bryan. Aisyah meremas jemarinya yang dingin. Dia menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Wajahnya masih pucat, dan ada bekas lebam samar di sudut bibir yang tertutup cadar. Dia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang dia punya. Cepat atau lambat, dia harus menghadapinya. Dengan langkah berat, Aisyah keluar kamar menuju ruang tamu. Di sana, Ibunya sudah membukakan pintu. Bryan masuk dengan senyum lebar, tangannya memanggul sebuah kardus besar berwarna cokelat yang terlihat berat. "Waalaikumsalam, Nak Bryan. Tumben sore-sore mampir, nggak bilang dulu," sapa Bu Nur ramah, berusaha menutupi kegugupannya melihat kondisi putrinya yang berdiri kaku di ambang pintu kamar. Bryan meletakkan kardus itu di atas meja kayu dengan hati-hati. Wajahnya berseri-seri, kontras sekali dengan aura mendung di wajah Aisyah. "Kejutan, Bu! Pihak percetakan baru saja telepon kalau undangannya sudah jadi. Mumpung saya lewat, sekalian saya ambil dan bawa ke sini," ujar Bryan antusias. Dia merobek lakban kardus itu dengan kunci motornya. "Saya mau Aisyah lihat duluan sebelum disebar." Bryan mengambil satu undangan hardcover berwarna merah marun dengan tulisan emas timbul. Dia mengelusnya bangga lalu menyodorkannya pada Aisyah. "Nih, Syah. Coba lihat. Bagus banget, kan? Sesuai permintaanmu. Emasnya mengkilap, kertasnya wangi. Ini jatah buat teman-teman kampus kamu dan tetangga sekitar sini. Besok mulai disebar ya, soalnya waktu kita tinggal dua minggu lagi." Aisyah menatap undangan di tangan Bryan. Di sana tertulis jelas, The Wedding of Bryan Adhitama & Aisyah Humaira. Alih-alih mengambilnya, tangan Aisyah justru gemetar hebat di sisi tubuhnya. Matanya memanas. Undangan itu terasa seperti surat kematian baginya. Dia tidak pantas bersanding dengan nama Bryan di kertas suci itu. "Syah? Kok diam aja? Nggak suka desainnya?" tanya Bryan bingung, senyumnya perlahan pudar melihat reaksi kaku calon istrinya. Aisyah menggeleng pelan. Air matanya mulai jatuh membasahi cadar. "Mas Bryan," panggil Aisyah lirih. "Ya? Kenapa nangis? Terharu?" Bryan terkekeh pelan mencoba mencairkan suasana, lalu melangkah mendekat hendak menyentuh bahu Aisyah. "Jangan sentuh aku!" pekik Aisyah mundur selangkah, membuat Bryan dan Bu Nur terkejut. "Lho, kenapa? Kamu sakit?" Aisyah menatap ibunya sekilas, meminta kekuatan, lalu kembali menatap Bryan. Dia tidak bisa membohongi pria ini. Dia tidak bisa membiarkan Bryan menikahi wanita yang menyimpan aib besar. "Mas, bawa pulang undangan itu. Aku tidak bisa membagikannya." "Maksud kamu apa? Jangan bercanda, Syah. Ini sudah dicetak ribuan lembar. Mahal lho ini." "Aku tidak bercanda," suara Aisyah bergetar tapi tegas. "Aku tidak pantas buat Mas Bryan lagi. Aku sudah kotor, Mas." Dahi Bryan berkerut dalam. "Kotor gimana? Kamu ngomong apa sih?" Aisyah menarik napas dalam, membiarkan rasa sakit itu menghujam dadanya saat dia harus menceritakan ulang mimpi buruknya. "Dua minggu lalu, saat aku pulang KKN sendirian, aku lewat gang sempit dekat pasar. Ada preman di sana. Mereka... menyerangku. Bajuku dirobek paksa. Mereka menyentuhku, Mas. Aku sudah tidak suci lagi seperti yang Mas harapkan." Hening. Suasana ruang tamu itu mendadak mati. Suara jam dinding yang berdetak terdengar begitu nyaring. Wajah Bryan yang tadi cerah perlahan berubah merah padam. Matanya menatap Aisyah dengan tatapan tak percaya yang perlahan berubah menjadi sorot jijik. Dia menjatuhkan undangan di tangannya ke lantai. "Kamu ... diperkosa?" tanya Bryan datar, nadanya dingin menusuk tulang. "Mereka melucuti pakaianku. Aku pingsan setelah itu. Aku minta maaf. Aku gagal menjaga diri." Aisyah jatuh berlutut di lantai, menangis tergugu. Bu Nur segera memeluk putrinya, ikut menangis. Bryan tertawa. Tawa yang kering dan sumbang. Dia mengusap wajahnya kasar, lalu menendang kardus undangan di meja hingga jatuh berhamburan ke lantai. Ribuan undangan merah marun itu berserakan seperti sampah. "Sialan! Jadi gosip di pasar itu benar? Anak Bu Nur pulang malam-malam dan ditemukan telan jang di tengah gang sempit?" bentak Bryan. "Nak Bryan, istighfar. Ini musibah," sela Bu Nur membela. "Musibah? Ini aib, Bu! Aib!" tunjuk Bryan tepat ke wajah Aisyah. "Gila ya kamu. Dua minggu lagi kita nikah, dan kamu malah setor badan ke preman pasar? Di mana otak kamu, hah?" "Demi Allah, Mas, aku cuma mau menolong orang..." "Persetan sama alasan kamu!" potong Bryan kasar. "Dengar ya, Aisyah. Saya ini laki-laki terhormat. Keluarga saya keluarga pandang. Mana mungkin saya nikah sama wanita bekas sisa orang lain? Mau ditaruh di mana muka Papa saya?" Bryan mengambil satu undangan yang tergeletak di dekat kakinya, lalu merobeknya menjadi dua bagian tepat di depan mata Aisyah. "Kita batal. Hari ini juga, detik ini juga, hubungan kita selesai." Aisyah mengangkat wajahnya. Meski sakit hati mendengar hinaan itu, dia sudah menduganya. "Iya, Mas. Aku terima. Memang aku yang salah." "Bagus kalau sadar diri. Tapi urusan kita belum selesai cuma sampai kata putus," ucap Bryan dengan senyum sinis yang mengerikan. Dia mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu di kalkulator dengan cepat, lalu menunjukkan layarnya ke hadapan Bu Nur dan Aisyah. "Kalian pikir membatalkan pernikahan itu gratis? Kalian pikir undangan sampah yang berserakan di lantai ini belinya pakai daun?" "Maksud Nak Bryan apa?" tanya Bu Nur ketakutan. "Ganti rugi," desis Bryan tajam. "Gedung, katering, baju pengantin, WO, dan semua perintilan yang sudah lunas dibayar keluarga saya. Total kerugian materi dan imateri karena pembatalan sepihak akibat aib anak Ibu ini adalah lima ratus juta rupiah." Mata Aisyah terbelalak lebar. "Li-lima ratus juta?" "Iya. Saya kasih waktu empat bulan. Kalau uang itu tidak kembali ke rekening saya, sertifikat rumah butut ini akan saya sita dan saya perkarakan ke polisi atas tuduhan penipuan. Camkan itu!" Tanpa menunggu jawaban, Bryan meludah ke samping, tepat ke arah tumpukan undangan itu, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Aisyah dan Ibunya yang mematung di antara puing-puing rencana pernikahan yang hancur lebur.Spin offKantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis hari itu seramai biasanya. Aroma kopi espresso dari kedai waralaba ternama bercampur dengan wangi parfum mahal para mahasiswa yang berlalu-lalang. Di salah satu meja sudut yang menghadap langsung ke taman rektorat, Keisha duduk mengaduk iced caramel macchiato-nya dengan gerakan pelan dan tatapan kosong. Di depannya, setumpuk jurnal manajemen strategi terabaikan begitu saja."Lo kesambet apa sih, Kei? Dari tadi ngaduk kopi sampai es batunya cair semua. Nggak biasanya lo blank begini kalau lagi brainstorming tugas Pak Hadi."Suara cempreng Nadine, sahabat karib Keisha sejak SMA, memecah lamunan gadis itu. Nadine meletakkan nampan berisi kentang goreng dan duduk di hadapan Keisha sambil menatapnya curiga.Keisha mengerjap, melepaskan sedotannya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Aku lagi mikirin orang, Nad."Nadine nyaris tersedak kentang gorengnya. Mata gadis berambut bob itu membelalak lebar. "Serius? Seorang Keisha Humaira, putri mahk
Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detik jarum jam dinding yang terdengar seperti ketukan palu hakim. Aisyah masih mematung, menatap test pack yang tergeletak di atas meja nakas dengan pandangan kosong. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut pada Keinan, melainkan pada kenyataan bahwa Bryan masih memiliki tangan yang panjang untuk menjangkau kehidupan tenang mereka dari balik jeruji besi.Keinan meletakkan kertas itu dengan gerakan kasar, lalu merobeknya menjadi potongan-potongan kecil. Ia kemudian menyambar test pack tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, seolah benda itu adalah virus yang bisa menginfeksi mereka."Dia gila," desis Keinan. Suaranya rendah, bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Dia benar-benar sudah gila kalau berpikir cara murahan seperti ini bisa memecah belah kita."Aisyah menoleh, menatap suaminya dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Mas... bagaimana dia bisa tahu kita di sini? Bagaimana dia bisa mengirim barang ini ke rumah kita? D
Enam bulan berlalu sejak keruntuhan dinasti Wijaya Group mendominasi tajuk utama berita nasional. Waktu bergulir, membawa perubahan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.Di sebuah gedung perkantoran menengah di kawasan Sudirman, sebuah plakat perak bertuliskan "Keinan & Partners - Business Consulting" terpasang elegan di sebelah pintu kaca. Kantor itu tidak sebesar satu lantai penuh di Wijaya Tower, hanya berukuran sedang dengan selusin karyawan pilihan. Namun, dering telepon di sana nyaris tak pernah berhenti, dan daftar tunggu klien mencapai antrean tiga bulan.Keinan Wijaya duduk di balik meja kerjanya. Tidak ada lagi jas custom seharga puluhan juta. Ia mengenakan kemeja biru muda yang lengannya digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana bahan yang sederhana namun pas di tubuh kokohnya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, lebih hidup, dan sesekali dihiasi tawa lepas saat berdiskusi dengan timnya."Pak Keinan," sapa seorang stafnya, mengetuk pintu kaca yang terbuka. "Ada
Fajar menyingsing di ibu kota, membawa semburat jingga yang menembus gedung-gedung pencakar langit. Bagi sebagian orang, pagi ini adalah awal dari rutinitas yang biasa. Namun bagi keluarga Wijaya, pagi ini adalah awal dari sebuah kiamat.Tepat pukul tujuh pagi, saat lobi utama Wijaya Tower baru saja dibuka untuk para karyawan, belasan mobil hitam dengan pelat merah dan sirene yang dimatikan berhenti mendadak di pelataran gedung. Puluhan petugas berseragam rompi bertuliskan KPK, didampingi aparat kepolisian bersenjata lengkap, merangsek masuk melewati pintu putar kaca.Satpam yang berjaga tak berkutik. Mereka hanya bisa ternganga melihat surat perintah penggeledahan yang disodorkan tepat di depan wajah mereka.Di saat yang sama, Bryan Adhitama baru saja tiba. Ia turun dari Porsche Panamera putihnya dengan setelan jas abu-abu custom-made yang membalut tubuhnya. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, menutupi kantung mata akibat pesta perayaan semalam suntuk bersama kolega-kolega penjil
Suara kokok ayam dari pekarangan tetangga dan deru mesin motor yang bersahut-sahutan di gang sempit menjadi alarm alami yang membangunkan Keinan. Ia membuka mata perlahan. Tidak ada langit-langit gipsum berukir mewah atau lampu kristal chandelier yang menyambut pandangannya. Hanya ada asbes yang sedikit bernoda kecokelatan akibat rembesan air hujan lampau.Keinan meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tidur di atas kasur kapuk tipis beralaskan tikar memang jauh berbeda dengan kasur ortopedi seharga ratusan juta miliknya dulu. Namun, ajaibnya, ia merasa tidurnya semalam adalah tidur yang paling nyenyak selama sepuluh tahun terakhir hidupnya. Tidak ada beban target miliaran yang menghantuinya, tidak ada intrik keluarga yang harus ia waspadai saat menutup mata.Ia menoleh ke samping. Sisi kasur di sebelahnya kosong. Guling pembatas mereka sudah dirapikan, tersandar di dinding. Keinan tersenyum tipis, menghirup aroma sabun mandi bayi yang tertinggal di bantal Aisyah. Aroma itu terasa
Angin malam berhembus masuk melewati celah pintu yang terbuka, membawa hawa dingin sisa hujan. Namun, Keinan tidak merasakan dingin itu. Darahnya berdesir hangat, jantungnya berdebar kencang menatap sosok mungil di hadapannya.Aisyah berdiri di sana, menembus batas dunia mewah yang dulu memisahkan mereka, menyusulnya ke dasar jurang kemiskinan ini.Dengan tangan gemetar, Keinan perlahan melepaskan cengkeraman Aisyah dari pergelangan tangannya. Ia mundur selangkah, menyembunyikan tangannya di balik punggung, merasa sangat kotor dan tidak pantas disentuh oleh wanita itu."Kamu... dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya Keinan parau, menghindari tatapan mata Aisyah yang menuntut."Tidak sulit mencari tahu ke mana perginya seorang mantan CEO kalau kita bertanya pada Pak Jono. Beliau sangat mengkhawatirkan Bapaknya," jawab Aisyah. Suaranya masih bergetar. "Kenapa Mas Keinan bohong? Kenapa bilang ke Bali? Kenapa bilang menceraikan saya lewat surat?"Mendengar panggilan 'Mas Keinan'—bukan 'Tu
Lampu neon putih di lorong Unit Gawat Darurat (UGD) berkedip-kedip, menciptakan suasana yang mencekam di tengah keheningan malam yang hanya dipecah oleh suara sirene ambulans yang sesekali terdengar dari kejauhan. Keinan duduk di kursi plastik keras di depan ruang tindakan, kepalanya tertunduk dala
Malam semakin larut di apartemen mewah itu. Hujan di luar sudah reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam. Aisyah terbangun karena rasa haus yang mendera. Dia keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, mengenakan piyama panjang longgar d
Minggu siang itu berlalu dengan kecanggung yang menyelimuti setiap sudut penthouse mewah Keinan. Hujan sisa badai kemarin sudah berhenti total, digantikan oleh langit Jakarta yang abu-abu dan lembap. Di dalam apartemen, suhu pendingin ruangan disetel lebih hangat dari biasanya atas inisiatif Aisya
Suara decit rem bus yang beradu dengan aspal panas menandai akhir perjalanan panjang itu. Terminal sore ini begitu sesak dan pengap. Debu beterbangan setiap kali roda-roda besar melindas jalanan yang berlubang, namun bagi Aisyah, kekacauan ini terasa melegakan. Akhirnya dia pulang. Empat puluh har







