LOGINBan mobil Toyota Alphard itu berdecit nyaring, menciptakan gema memekakkan telinga saat bergesekan kasar dengan lantai beton basement apartemen. Keinan menghentikan mobilnya dengan manuver yang nyaris sembrono, membuat tubuh Aisyah terhuyung ke depan meski sabuk pengaman menahannya. Napas Aisyah memburu. Wajahnya pucat pasi di balik cadar yang kini sedikit miring. Sepanjang perjalanan dari hotel menuju apartemen, Keinan mengemudi seperti orang kerasukan setan. Dia meliuk-liuk di antara kendaraan lain, menekan klakson tanpa henti, dan mengabaikan setiap lampu kuning yang berubah merah. "Turun," perintah Keinan dingin. Tangannya masih mencengkeram setir erat, matanya menatap lurus ke dinding beton di depan. Aisyah tidak membantah. Tangannya yang gemetar membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil. Kakinya terasa goyah saat memijak lantai. Gaun mewah emerald green yang dipaksa Keinan untuk dia kenakan kini terasa seperti kostum badut yang mengejek nasibnya. Mereka naik ke pentho
Minggu siang itu berlalu dengan kecanggung yang menyelimuti setiap sudut penthouse mewah Keinan. Hujan sisa badai kemarin sudah berhenti total, digantikan oleh langit Jakarta yang abu-abu dan lembap. Di dalam apartemen, suhu pendingin ruangan disetel lebih hangat dari biasanya atas inisiatif Aisyah, mengingat sang pemilik rumah baru saja sembuh dari demam tinggi. Aisyah keluar dari kamarnya setelah menunaikan sholat Dzuhur. Dia mengenakan gamis rumah berbahan katun yang nyaman berwarna hijau sage, lengkap dengan jilbab instan yang menutupi dada. Dia berniat mengecek kondisi Keinan, namun langkahnya terhenti di ambang ruang tengah. Aroma gurih yang menggugah selera memenuhi udara. Di meja makan, sudah tersaji beberapa kotak makanan takeaway dari restoran Chinese food halal langganan kantor. Keinan sudah duduk di sana, sudah mandi dan terlihat segar meski wajahnya masih sedikit pucat. Dia mengenakan kaos polos putih dan celana training abu-abu, tampilan santai yang jarang sekali Aisy
Malam semakin larut di apartemen mewah itu. Hujan di luar sudah reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam. Aisyah terbangun karena rasa haus yang mendera. Dia keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, mengenakan piyama panjang longgar dan jilbab instan rumahannya. Suasana apartemen gelap, hanya lampu temaram di lorong yang menyala. Saat melewati ruang tengah menuju dapur, langkah Aisyah terhenti. Dia mendengar suara erangan tertahan dari arah sofa panjang di depan televisi. Aisyah menyipitkan mata. Di sana, Keinan terbaring meringkuk dengan posisi yang tidak nyaman. Laptopnya menyala menampilkan screensaver, tergeletak miring di karpet seolah jatuh dari pangkuan. "Tuan?" panggil Aisyah ragu. Tidak ada jawaban, hanya suara gigilan napas yang terdengar berat. Aisyah mendekat perlahan. Hatinya berperang antara rasa peduli dan rasa enggan. Namun, sisi kemanusiaannya menang. Dia menyalakan lampu meja kecil di samping sofa.
Mobil Alphard hitam itu melaju kencang meninggalkan gerbang megah kediaman keluarga Wijaya. Di balik kemudi, Keinan mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Keheningan di dalam kabin terasa begitu mencekam, lebih dingin daripada AC yang menyembur di angka terendah. Aisyah duduk di kursi penumpang depan, memeluk tasnya erat-erat. Tubuhnya masih gemetar sisa dari sarapan neraka tadi. Kata-kata Bryan di meja makan masih terngiang jelas, berputar-putar di kepalanya seperti rekaman rusak yang menyakitkan. "Mantan gue itu barang rusak... Jijik banget kan? Untung ketahuan sebelum akad..." Aisyah memejamkan mata di balik cadarnya. Air mata panas kembali meleleh. Dia ada di sana. Dia duduk tepat di depan Bryan. Dan pria itu dengan entengnya menceritakan aibnya sebagai lelucon pagi, tanpa tahu bahwa objek penderitaannya sedang mendengarkan setiap katanya. "Aisyah..." suara Keinan memecah keheningan. "Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulut Keinan. Dia merasa gag
Sinar matahari pagi hari Minggu menerobos masuk melalui celah gorden sutra kamar tamu kediaman Wijaya. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di wajah Keinan yang tertidur gelisah. Dia mengerjap, bangun dengan kepala yang sedikit pening akibat kurang tidur.Hal pertama yang dia lakukan adalah menoleh ke sofa di ujung ruangan. Kosong. Bantal dan selimut sudah terlipat rapi, seolah tidak pernah dipakai tidur.Keinan menyibakkan selimutnya dengan panik, matanya menyapu seluruh ruangan. Aisyah berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Gadis itu sudah rapi dengan gamis berwarna mocca dan cadar senada. Dia sedang menatap kosong ke arah taman belakang rumah yang luas."Aisyah?" panggil Keinan dengan suara serak khas bangun tidur.Bahu Aisyah menegang, tapi dia tidak menoleh."Sudah jam tujuh, Tuan. Oma meminta kita turun sarapan jam tujuh lima belas," jawab Aisyah. Suaranya datar, tanpa emosi, tanpa nada. Seperti mesin penjawab otomatis.Keinan menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. Rasa
Akhir pekan tiba. Sesuai ultimatum Oma Larasati, Keinan dan Aisyah harus menginap di kediaman utama keluarga Wijaya di Menteng. Ini adalah ujian sandiwara terbesar mereka.Di dalam mobil mewah yang melaju membelah kemacetan Sabtu sore, keheningan terasa begitu tebal. Aisyah duduk di kursi penumpang depan, memandang kosong ke luar jendela. Sejak insiden di kantor, saat Keinan cemburu buta pada arsitek bernama Rian. Aisyah membangun tembok es yang kokoh. Dia melayani Keinan dengan sempurna, tapi tanpa jiwa."Ingat, Aisyah," suara Keinan memecah kesunyian. "Di rumah Oma, kita adalah pasangan bahagia yang sedang dimabuk asmara. Jangan pasang wajah kaku seperti itu. Kalau Oma curiga, tamat riwayat kita.""Saya mengerti, Tuan. Saya akan bekerja profesional sesuai kontrak," jawab Aisyah datar tanpa menoleh.Keinan mencengkeram setir lebih erat. Kata "Tuan" dan "Kontrak" itu benar-benar mengganggunya.Mobil memasuki gerbang besi raksasa bercat hitam dengan ornamen emas. Rumah utama keluarga W







