Mag-log in“Kenapa sih? Kenapa operasi hari ini harus ketemu lagi dengan dr. Dimas?” batin Karin jengkel.Karin benar-benar malas melihat senyum Dimas yang mengembang begitu merekah sejak pagi hingga siang.Ia tahu betul, binar di mata dokter muda itu ada karena dirinya ikut di dalam ruang operasi hari ini. Karin saat ini sedang terjebak mengikuti konsulen dokter bedahnya.Kebetulan, dr. Dimas adalah salah satu dokter spesialis yang ikut berkolaborasi dalam tim untuk menangani pasien tersebut.Operasi kali ini adalah kasus kanker serviks (leher rahim), sebuah tindakan pembedahan besar dan rumit yang melibatkan histerektomi radikal serta pengangkatan jaringan kanker oleh tim dokter bedah demi menyelamatkan nyawa pasien.“Halo, kamu cantik. Kembaran kamu juga cantik,” puji Dimas lembut setelah mereka selesai merapikan alat pasca-operasi.Karin berusaha menjauh sejauh mungkin, menenggelamkan diri di antara kesibukan ruang operasi, tetapi gerak-geriknya masih saja tertangkap oleh netra Dimas.“Makas
“Pak Moreno, ada?”Siang itu, Laura berdiri di hadapan gedung pencakar langit yang seolah menantang langit Jakarta.Gedung itu adalah poros kekuasaan Moreno, seorang konglomerat muda yang namanya bertengger di daftar teratas orang terkaya di Indonesia.Moreno bukan sekadar pengusaha, ia adalah pemilik gurita bisnis raksasa, mulai dari konsesi pertambangan batu bara dan nikel yang tak habis direngkuh mata, armada penyewaan alat-alat berat berskala internasional, hingga lini properti mewah yang mencengkeram kawasan elite ibu kota.Tak hanya itu, pengaruh finansialnya menancap kuat dalam bentuk kepemilikan saham mayoritas di berbagai perusahaan multinasional, membentang melintasi selat hingga ke Malaysia dan Singapura.Kesibukan tingkat tinggi itulah yang membuat sang mumpuni kerap bolak-balik ke negara tetangga demi mengontrol aset-asetnya.“Maaf Pak, ada Nona Laura,” ucap sekretaris pribadi Moreno, wanita yang penampilannya selalu tampak terlalu sempurna, sembari melangkah masuk tanpa
“Akhhhh! Kebakarannn!”Pekikan histeris Laura memecah keheningan pagi, bersaing sengit dengan bunyi nyaring alarm pendeteksi asap di dapur.Di atas wajan, sebongkah benda hitam legam yang dulunya adalah telur mata sapi kini lebih mirip arang prasejarah.Padahal, tepat sepuluh menit yang lalu, pembantu sudah mewanti-wantinya untuk duduk manis saja di meja makan.Alih-alih membuat Karin, saudari kembarnya, kagum dengan 'bakat memasak terpendam' yang selama ini tidak ada, Laura justru sukses menciptakan kepanikan massal.Karin yang sedang terlelap langsung melompat dari tempat tidur. Tanpa sempat berpikir, ia berlari tunggang-langgang menuju sumber suara.Ia hanya mengenakan lingerie sutra merah marun yang sangat seksi.Di koridor, ia nyaris bertabrakan dengan Arlan yang berlari tak kalah panik.Suaminya itu hanya memakai celana pendek dan kimono piyama sewarna dengan lingerie Karin, yang ikat pinggangnya terikat asal-asalan hingga mengekspos dadanya.Begitu sampai di ambang pintu dapur,
"Suara apa, sih, tengah malam begini?"Laura celingukan keluar dari kamarnya. Alih-alih suasana horor, ia malah mendengar suara samar-samar jeritan seorang wanita yang terdengar seperti sedang... disiksa?“Ahhhh Sayang, pelan-pelan ahhhh….”Laura mengerutkan kening.Pikirannya langsung traveling.“Wah, heboh banget di dalam. Lagi tanding smackdown apa gimana?”Atau lagi kerja bakti memeras keringat massal? Batin Laura mulai traveling ke mana-mana.Meski otaknya menyuruh pergi, kakinya seolah kena lem Castol di depan pintu kamar Karin dan Arlan.Usut punya usut, Arlan yang pulang larut malam ternyata langsung tancap gas menggempur istrinya dengan serangan-serangan 'mematikan' di ranjang.Sadar dirinya sedang menjadi penonton gelap yang tidak diundang, Laura akhirnya kembali ke kamarnya sebelum ketahuan.Sementara itu di dalam kamar, dua sejoli yang statusnya masih hangat-hangat kuku alias pengantin baru ini akhirnya tumbang juga.Maklum, sebagai pasangan sibuk yang jarang di rumah, mer
Tok! Tok!Karin mengetuk pintu kamar tamu tempat Laura mengungsi malam ini. Sesuai janji sucinya, yang agak terpaksa, ia harus merelakan waktu istirahatnya demi mendengarkan dongeng sebelum tidur versi Laura yang menurut Karin sangat tidak penting.Wow! Cekrek.Pintu terbuka dan Karin hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Laura berdiri di sana dengan setelan lingerie super mini yang mengekspos segalanya.Masalahnya adalah Laura itu kembarannya.Jadi, melihat Laura seksi begitu, rasanya seperti melihat diri sendiri versi kurang bahan.Karin langsung celingukan ke kanan dan ke kiri bak buronan kakap. Takut setengah mati kalau tiba-tiba Arlan, suaminya, pulang dan salah peluk.Dengan gerakan secepat kilat, Karin menyelinap masuk, membanting pintu, lalu menyambar bantal terdekat untuk menutupi dada Laura.“Kenapa sih, Rin? Datang-datang kayak abis dikejar PakPol,” protes Laura bingung, menatap bantal yang menempel di badannya.Rasa-rasanya tidak ada yang salah dengan pakaiannya.Toh, di
Dimas sukses mengantar Laura sampai ke gerbang rumah mewahnya yang mirip istana di sinetron.Detik itu juga, Dimas baru sadar kalau Laura bukan warga lokal biasa, melainkan anak sultan.Tapi tenang, Dimas tidak minder. Profesi dokternya itu cuma kedok, semacam hobi sampingan biar kelihatan punya kerjaan saja.Aslinya, dia adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarganya yang uangnya tidak berseri.“Dokter gak mau mampir dulu?” tanya Laura dengan suara yang begitu lembut, tipe suara yang bisa bikin es batu langsung mencair.Sumpah demi apapun, Dimas merasa sedang melihat glitch di dunia nyata.Wajah Laura ini kembar siam dengan Karin, bedanya cuma di pembawaan.Laura selembut sutra, sedangkan Karin sekeras kerikil jalanan. Dimas jadi nostalgia.Dulu, Karin juga pernah berada di fase ramah, ceria dan bucin akut kepadanya, sebelum semuanya berubah menjadi sedingin kulkas dua pintu.“Gak perlu, Laura. Sore ini aku ada jadwal operasi. Kamu jangan sedih lagi, ya,” ujar Dimas sok puitis sa
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







