로그인Ponsel Karin berdering tidak berhenti, itu dari Dimas. Karin sedang di laboratorium periksa urine dan darahnya. Ia ingin mematikan kalau Dimas sejahat itu dengannya semalam sampai mencekokinya dengan obat perangsang. Karin tidak menjawab telepon Dimas bahkan pesannya sama sekali. Dengan sabar Karin menunggu hasilnya. “Positif mengandung afrodisiak.” Dimas memang memasukkan obat gila itu ke tubuhnya. Karin lemas sekali, tidak menyangka kekasihnya yang baik hati ternyata begitu jahat hanya untuk menguasai tubuhnya. Karin pulang membawa laporan tesnya ke rumah sakit. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Karin menangis. Apa benar yang Arlan ceritakan pagi tadi? Ia menemukan Karin diranjang Dimas dengan hanya menggunakan underwear dan pengaman yang sudah dipakai oleh Dimas. Arlan melihat ada kotak pengaman di atas nakas. Karin kecewa! “Kamu sampai harus seperti itu dok, untuk apa? Padahal aku sudah mulai sayang sama kamu,” ucap Karin sambil menghapus air matanya. Karin naik taxi kare
Setelah memastikan semuanya, tidak ada bekas cairan kental dari pria lain yang masuk ke tubuh Karin. Karin memang dicekoki obat perangsang dalam minumannya dan sekarang membutuhkan bantuan untuk menyalurkan hasratnya. “Akhhhh!” Arlan menekan miliknya dengan kuat dan bermain dengan semangat malam ini, Karin sampai mendesah hebat. Memikirkan Karin bercinta dengan pria lain membuat Arlan frustasi. Ia tidak sanggup, untung saja ia mengikuti Karin dan Dimas, kalau saja Arlan percaya Karin bersama Dimas, malam ini ia akan kehilangan Karin untuk selamanya. “Ahhhhh dok, lebih dalam Sayang. Ouhhhhh yes.” Karin merasakan nikmat yang luar biasa saat Arlan menekan tubuhnya dengan cepat. Malam itu Arlan tidak mengampuni Karin, mereka bercinta berapa ronde sampai akhirnya Karin tidur pulas. Begitu bangun, Karin dalam pelukan Arlan dan tanpa menggunakan apapun. Kamar mereka berantakan sekali. Seingat Karin, ia pergi dengan Dimas. Lalu, kenapa ia malah tidur dengan Arlan. Karin tidak ingat apapu
“Pak Dimas, ada orang di luar.” Dimas berdecak kesal, entah kenapa Arlan selalu tahu saat Karin di rumahnya, selalu mengganggu waktu kebersamaan mereka yang singkat. Ternyata Arlan mengikuti Karin ke restoran, setelah mengantar Renata, rumah Renata tidak jauh dari Restoran ini, memantau Karin keluar dari Restoran dalam keadaan mabuk. Tadinya Arlan pikir, Dimas akan mengantar Karin ke rumahnya ternyata Dimas mengajak Karin ke tempat pribadinya. “Aku sudah tidur, aku tidak ingin bertemu dengan siapapun,” jawab Dimas. Ia sudah siap ingin menikmati tubuh Karin, wanita ini tidak berdaya bahkan sekarang sedang bergairah karena obat perangsang yang diberikannya pada minuman Karin bereaksi dengan cepat. Dimas naik ke ranjang, menatap wajah Karin dengan sangat lama dan bongkahan gunung kembar yang tepat di depannya. Tubuh Karin menggelinjang hebat, inti tubuhnya sudah basah. Dimas sudah tidak sabar lagi menghentakkan miliknya sampai Karin puas. Tapi, tamu yang datang mengganggu pikirann
Cup! Haikal mencium kening Silvi dan Karin tertawa melihatnya. Silvi hanya diam dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dosennya minta ia datang karena ingin melamarnya? Pantas saja Silvi disuruh pakai gaun malam. Tadinya Silvi tidak mengerti. Sekarang ia seperti orang bodoh sendirian. Lamaran yang tidak pernah ia pikirkan, ia dijebak. Kenapa dr. Haikal tiba-tiba melamarnya? “Sil, selamat ya Sayang, akhirnya kamu menikah duluan, cita-cita kamu memang mau menikah, kan?”Karin mencium pipi kanan dan kiri Silvi tapi Silvi masih saja bengong. Cita-cita? Rasanya Silvi tidak punya cita-cita seperti itu. Lagipula ia tidak siap menikah sekarang. Ia tidak kenal dengan dr. Haikal.Hidupnya saja hancur dengan hutang yang banyak. Bisa-bisa setelah menikah jadi janda dan ditinggalkan. Tidak! Silvi harus putuskan hubungan ini setelah acara ini selesai. Anggap saja Silvi membantu Haikal supaya tidak malu tapi tidak mungkin mereka sampai menikah.“Rin, ini ada apa sih? Ini prank atau g
“Capek Honey?” tanya Dimas karena Karin mengantuk, ia lelah sekali bercinta dengan Arlan, rasanya ingin tidur tapi Dimas mengajaknya makan malam. “Hemm,” jawab Karin. “Mau pulang ke apartemen saja?” “Gak usah Hun, katanya mau makan malam, yaudah kita ke sana aja,” jawab Karin dengan senyum manisnya. Salah tidak ia melakukan semua ini dibelakang Dimas. Dimas begitu tulus mencintainya tapi Karin tidak berubah, ia masih bersama Arlan, masih bercinta dan masih bertemu. Dimas seperti tameng saja untuk Karin tapi Karin juga tidak berpikir seperti itu. Dimas tidak peduli dengan wanita itu perawan atau tidak asal ia suka, makanya Karin pikir pria seperti Dimas sangat tulus dan Karin tidak mau melepaskannya. “Sebenarnya makan malam ini tidak terlalu penting,” ucap Dimas sambil mengemudi dan Karin ternyata sudah tertidur. Karin kelelahan dan tidak lagi mendengar apa yang Dimas katakan padanya, saat di lampu merah, Dimas mendekati wajahnya ke wajah Karin, mengecup bibir Karin dengan lembu
Arlan menjauh dari Karin, saat Dimas masuk lagi ke dalam butik, ia menunggu Renata keluar dari kamar pas, Arlan tersenyum mengejek sambil melihat Karin. Wanita itu pembohong!Sampai kapanpun Karin tidak akan melepaskan Dimas karena Karin tahu kalau ia dan Arlan itu hanya sementara.“Aku kok ngerasa kayak ketangkap basah lagi selingkuh,” gumam Karin sambil meletakkan lagi gaun berwarna hitam dan ia mencari gaun berwarna pink. Biar saja Renata yang menggunakan gaun berwarna merah, Karin tidak mau. Sudah berapa kali Karin ketahuan Arlan tapi malam ini yang membuat Karin grogi. Mungkin karena Karin sudah mengatakan isi hatinya pada Arlan makanya Karin jadi malu. “Sudah selesai, Honey?” tanya Dimas sambil merangkul Karin. Mereka sudah ditunggu makanya Dimas ingin cepat-cepat, Dimas sudah memilih setelan jasnya dan sudah ia kenakan, tinggal Karin saja. “Hemm sudah, ini saja.” “Oke, kamu coba dan kita langsung bayar,” jawab Dimas. Karin masuk ke kamar pas setelah Renata keluar, tiba-t
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







