Share

Bab 22 Enak Banget

last update publish date: 2026-05-31 12:01:23

“Aku tidak mau,” jawab Karin jutek.

Cukup! Sudah cukup semalam ia seperti badut yang mengikuti semua yang Arlan mau. Karin tidak mau lagi bermain-main. Meskipun Arlan adalah obatnya tetapi Karin tidak sudi bermesraan dengan paman sendiri.

“Baru semalam dan sekarang sudah tidak mau?” tanya Arlan dengan senyum mengejeknya.

Semalam bahkan Karin sama sekali tidak menolak, mengikuti semua arahannya, menikmatinya, bergairah dan mendesah dibawahnya. Karin bahkan membalas melumat bibirnya dengan rakus
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 284 Basahi Milikku

    “Kau bersama Karin, Arlan?” Sudah Arlan duga, setelah Renata menghubungi Papa nya, sudah pasti Papanya akan marah karena Arlan bersama dengan Karin, berduaan saja dan ini sudah malam. “Ya,” jawab Arlan. Arlan meminta Karin untuk diam dan tidak bersuara. “Pulangkan Karin!” Arlan tidak mau, ia sudah berjanji dengan Karin malam ini mereka ingin bersama. Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, mereka bahkan tidak sedarah.“Halo Kek, Karin di jalan dengan dr. Arlan, ini sudah mau pulang. Kakek kenapa marah-marah? Om Arlan jagain Karin kok,” jawab Karin dengan begitu santai padahal Kakek Billy sudah tahu kelakuan mereka berdua. “Pulanglah Sayang atau kau ingin Kakek menghubungi Xavier untuk menjemputmu?” Karin melihat wajah Arlan yang kesal. Kenapa harus panggil pria itu? Karin sakit saat ini dan yang diperlukan Karin itu seorang dokter yang mengerti tubuhnya.“Oke Karin pulang sekarang,” jawab Karin bohong. Karin hanya tidak ingin masalah ini panjang. Toh, Kakek Billy juga tida

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 283 Tenggelam Lebih Dalam

    Tidak ada CCTV di dalam rumah Renata, Renata hanya menggunakan CCTV untuk bagian luar rumahnya. Pembantunya juga sudah keluar untuk izin pulang tadi, sedangkan di rumah ini Renata tinggal bersama anaknya. Arlan tidak melihat pengasuh anaknya dan bayi itu. “Ahhh, dokter!” Karin panik, ia melihat ke arah kamar Renata, Karin takut Renata melihat kalau Arlan membawanya duduk di pangkuannya sekarang. “Wanita itu sengaja mandi lama supaya aku menginap, aku sudah tidak tahan melihat tubuhmu Sayang,” bisik Arlan sambil mengusap pinggul Karin dan mencengkramnya dengan kuat. “Ahhh sakit, kau mau apa, dok?” tanya Karin panik. Arlan menyingkap dress mini Karin ke atas, menutup paha Karin dengan jas dokternya dan mendorong dalaman renda hitam itu sampai ke lantai. “Dia mandi, dia tidak akan melihat apa yang kita lakukan.” Karin merasa ada benda yang begitu keras menahan bagian bawahnya, menggesek pelan menyentuh area sensitifnya yang sudah basah. Arlan memposisikan miliknya yang sudah mengera

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 282 Tidak Tahan Lagi

    Land Rover Range Rover 3.0 LWB SV terparkir bebas di cafe tempat Karin nongkrong, katanya tadi sudah dekat, ternyata Karin yang lebih dulu sampai, ia juga sudah menghabiskan secangkir kopi pahit tapi Arlan dan Renata belum juga sampai. Wajah Karin mendadak masam saat melihat kedua orang itu berjalan ke arahnya dan yang membuat Karin muak adalah tangan Renata yang tidak henti bergelayut di lengan kekar Arlan. “Sorry, Karin. Tadi aku minta temenin Arlan untuk membeli kue, anakku suka sekali kue strawberry itu,” ucap Renata dengan senyumnya yang begitu lebar. Seakan puas sekali membuat Karin menunggu lama. “Gak apa dok,” jawab Karin berusaha sesantai mungkin tetapi tidak bisa karena wajahnya tidak bisa menipu, ia benar-benar kesal. “Kita langsung saja?” tanya Arlan sambil melepaskan tangan Renata. Arlan tidak suka melihat tatapan Karin yang jengah. “Hemm.” Karin berjalan di belakang sedangkan Renata terus mengekori Arlan. Sampai di mobil, Arlan membukakan pintu untuk Karin di belaka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 281 Kunjungan Dadakan

    “Buat apa aku nanya itu? Apa Mami gak curiga?” tanya Karin sambil melirik ke Silvi, Silvi yang membawa mobilnya dan mengantarnya pulang ke rumah. “Makanya, aku juga lagi mikir itu,” jawab Silvi. Karin berpikir keras, ia juga bingung memberikan alasan yang tepat. Apa ia samakan saja seperti saat ia bertanya pada Kakek Billy.Namun, semua itu seharusnya sudah jelas untuk Karin. “Udahlah tanya biasa aja, jangan kelihatan banget kalau kamu pulang cuma mau menanyakan itu saja,” jawab Silvi. Karin mengangguk. Setelah sampai ke rumahnya, Karin langsung turun tapi Silvi tidak, ia tidak mau mampir, takut ketemu dengan Papi Rion, lebih takut lagi kalau Papi Rion memanfaatkan tubuhnya. Silvi tidak mau dijadikan budak ranjang oleh Papi Rion. Seperti biasa, rumah sepi. Tidak ada penghuni, mungkin Mami Kaina juga belum pulang. Saat Karin menuju kamar Maminya, tidak ada tanda-tanda ada orang tuanya. “Bik, Mami ada atau Papi?” tanya Karin saat melihat ada pembantunya di dapur. “Nyonya pergi de

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 280 Main Lagi

    Karin tidak sempat merapikan setiap sudut apartemennya, ia bergegas mengusir Arlan karena sebentar lagi Silvi pulang. Begitu Silvi sampai dengan kedua pizza di tangannya, Silvi terkejut bukan main. Apartemen seperti kapal pecah, piring berantakan, kotak makanan yang masih ada di meja makan, bantal sofa sudah ada di bawah lantai, air mineral yang tumpah. “Ini sebenarnya kenapa? Kok seperti dirampok?” Silvi bingung melihatnya, ia pun melihat kamar Karin, membuka kamar sahabatnya yang dingin, Karin tidur tengkurap tanpa busana dan ditutup selimut, tapi punggungnya masih terbuka. Silvi melihat ke lantai ada pengaman yang masih terisi cairan kental. “Sialan,” gumam Silvi mengutuk Karin, pantas saja Karin memintanya membeli Pizza di tempat yang jauh. Ternyata di apartemen ia mengajak seseorang untuk bercinta. Masih tercium wangi parfum maskulin bercampur kayu dan jeruk segar.Karin tidur, ia tidak bangun mungkin lelah. Silvi pun tidak membangunkan Karin, ia malah merapikan ruang tamu y

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 279 Hormon Yang Meningkat

    “Siapa yang telpon?” tanya Xavier saat Karin keluar dari kamar. “Mami,” jawab Karin bohong. “Mami mau ke apartemenku Xavier, kamu pulanglah, sudah ada Mami yang temani aku,” lanjut Karin sambil melihat ke arah lain. Ia tidak berani menatap wajah Xavier karena saat ini ia sedang berbohong. “Ok, tapi makan siang dulu. Ayo, aku sudah siapkan.” Xavier membantu Karin untuk ke meja makan dan Karin melihat semua makanan mewah dari Restoran bintang lima yang dipesan khusus oleh Xavier bahkan datang saat makanan itu masih hangat. “Eugh!” Karin melenguh menahan sakit dan nyeri dibagian dadanya, ia memang mengikuti saran Arlan untuk Induksi Laktasi, memang Karin menginginkan tubuhnya mengeluarkan susu seperti Renata karena Karin cemburu dengan tubuh Renata yang menggoda. Karena Karin tidak ingin Arlan berpindah hati meskipun ia selalu saja mengusir Arlan dengan kejam. “Ada apa Karin, kenapa dadamu basah?” tanya Xavier. Mata Xavier terbelalak. Mungkinkah Karin menyusui? Ia tidak hamil, tid

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status