Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 293 Jangan Lama-Lama

Share

Bab 293 Jangan Lama-Lama

last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-22 12:55:26
“Kok kamu tau aku liburan ke Bali?” Karin melilitkan tangannya ke leher Arlan, ia memandang Arlan sekarang berbeda. Padahal seharusnya Karin sedih.

Ya, ia sedih tapi yang membuat Karin senang. Ternyata ia tidak punya hubungan darah dengan Arlan dan Karin belum ingin memberitahu semua itu. Ia saja masih shock.

“Kamu yang memberitahu, memang kamu yang mau aku datang,” jawab Arlan dengan percaya dirinya dan Karin hanya tersenyum sambil menatap wajah Arlan dengan binar kebahagiaan yang nyata.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 316 Gagah Perkasa Di Ranjang

    Karin dan Silvi sudah berusaha bangun sangat lagi supaya tidak bertemu dengan Papi Rion. Kabarnya, Papi Rion pulang malam itu juga saat tahu Silvi menginap di rumahnya. “Sudah kayak dikejar hantu, Sil.” Karin berdandan jam lima pagi, mandi pagi juga, hanya untuk cepat-cepat keluar dari rumah. “Sama, aku deg-degan banget ketemu Bapak kamu Rin,” jawab Silvi yang baru selesai mandi dan langsung menggunakan pakaian terbaiknya.“Baju baru?” tanya Karin sambil memicingkan matanya, katanya tidak mau menggoda Papi Rion tapi pakaian seperti gadis manja. “Iya, kenapa?” “Gak apa, aku pikir kamu mau ketemuan sama cowok pakai baju itu,” sindir Karin. “Sumpah Rin, aku cuma coba baju baru yang aku beli kemarin aja.” Silvi panik sekali kalau Karin bicara seperti itu, Silvi tahu kalau Karin menduganya masih mau menggoda Papinya. “Udah Rin, cepet! Aku takut.” Silvi menarik tangan Karin untuk bergegas, Karin sampai bingung, takut alat medisnya ketinggalan. “Sabar dulu.” Ceklek! Begitu mereka in

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 315 Racun Tahap Awal

    “Rin?” Silvi memeluk tubuhnya sendiri. Pikiran Papi Karin benar-benar diluar nalarnya. Bagaimana bisa ia berencana menjadikannya istri kedua.Cita-cita Silvi jadi istri pertama yang disayang. Bukan jadi istri kedua sebagai pelakor. “Papi udah gila, yang penting kamu jangan peduli dengan dia Sil, dari kemarin aku udah ngomong. Sekarang kamu tau, kan?” Silvi menggigit bibirnya kuat dan berdiri menyudut. Ia takut sekali ada di rumah ini, Rion pasti memperhatikan dari CCTV rumahnya. “Blokir aja nomor Papi,” ucap Karin dan Silvi menurut. Ia memblokir semua akses agar Papi Rion tidak lagi mengganggu hidupnya. “Rin, apa aku pulang aja?” “Papi juga gak ada di rumah kok,” jawab Karin malas. Ia sudah tidak mengerti harus bersikap seperti apa. Karin tahu kalau Silvi tidak pernah bermaksud menggoda Papinya tapi semua sudah terlanjur. “Aku takut Papi Rion menculikku, Rin.” “Kamu bisa teriak Sil, ini bukan kampung. Ini Jakarta!” Hebat sekali kalau menasehati orang, dirinya sendiri saja taku

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 314 Istri Kedua Papi

    “Ngapain sih lihat pintu terus?” tanya Karin bingung. “Aku takut, Papi gak ada di rumah, kan?” Karin memutar bola matanya malas. Silvi benar-benar menjauh dari Papinya atau bohong, sebenarnya masih berharap disentuh oleh Papi Karin yang tampan itu. “Gak ada, di Bandung.” Silvi mengusap dadanya, ia senang sekali kalau tidak ada orang tua Karin di rumah. Ia bebas, hanya Dion saja. Pria kasar itu juga tidak mungkin keluar masuk kamar Karin sesuka hatinya. “Kak Dion?” “Kenapa? Kamu suka dia?” “Gaklah, gak mungkin!” Karin bilang Dion kasar, mana mungkin Silvi mau. Pria yang lembut saja dijauhi oleh Silvi apalagi pria kasar seperti Dion. Bisa-bisa makan hati karena disiksa oleh Dion. “Ngapain nanya dia?” “Nanya aja, gak boleh?” Aneh saja pikir Karin. Biasanya juga tidak pernah menanyakan kabar Kakaknya.Ponsel Silvi bergetar. Papi Rion? Padahal tadi tidak ada telpon dari Papi Karin, ketika Silvi di rumahnya, Papi Rion malah menghubunginya. “Kok dia telpon? Kamu masih berhubunga

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 313 Jadi Pelakor

    Arlan sudah mendapatkan semua data-data yang ia perlukan dari Karin, sekarang ia pulang ke rumahnya karena Karin memintanya pulang. Oke, tidak masalah. “Kau akan terkejut nanti, Sayang.” Arlan menyeringai puas atas hasil kerjanya. Karin pikir bisa terus menerus menolaknya, tidak mungkin! Dengan sikap ia yang posesif seperti ini, Arlan akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan apa yang ia mau meskipun seluruh dunia menolak mereka. Sementara di tempat lain, Karin bingung. “Ngapain minta syarat begitu?” tanya Karin dalam hati. Memangnya ujian harus memenuhi syarat-syarat aneh seperti yang Arlan minta tadi dengannya. Ponsel Karin bergetar, dari Silvi. “Rin, aku takut malam ini tidur sendiri. Bisa gak kamu temenin aku di apartemen?” tanya Silvi sambil merengek dengan manja. “Kamu ajalah ke rumahku,” jawab Karin dengan santai karena ia malas keluar. Karin lupa atau ia amnesia. Silvi takut ke rumahnya karena nanti ada Papi Rion, sedangkan Papi Rion saja sampai saat ini masih men

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 312 Kejutan Arlan Untuk Karin

    “Ayo!” Akhirnya bisa juga mengajak Karin jalan, setelah banyaknya rintangan. Untuk bertemu saja sulit. Padahal tempat sepi banyak. Di dalam mobil, Karin banyak diam. Arlan juga tidak tahu apa salahnya. Apa karena nekat datang ke rumahnya dan membuat Dion semakin curiga dengan hubungan mereka. Seorang Paman yang sebentar lagi akan menikah, punya tunangan bahkan satu bulan lagi sudah merencanakan akad nikah dengan janda satu anak, tetapi malah peduli dengan Karin. Apa itu tidak mencurigakan? “Kenapa marah?” tanya Arlan sambil mengemudi. Seharusnya yang marah itu Arlan karena tidak pernah dianggap. Karin tidak tahu saja bagaimana ia bertengkar dengan Billy demi Karin. Demi membela cintanya. Karin cucu satu-satunya wanita di Keluarga Wijaya, makanya selalu disayang. “Aku udah bilang dok, gak usah datang,” jawab Karin sambil melipat tangannya. “Kalau aku gak datang, Dimas pasti sukses merebut hatimu kembali dan aku terpaksa melihat kalian lagi pacaran, begitu?” “Apa sih, dok? Aku

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 311 Dia Milikku!

    Dua hari, Arlan sudah sangat sabar. Ia biarkan Dion mengantar dan menjemput Karin, tetapi hari ini kesabarannya habis. “Malam,” ucap Arlan datang ke rumah Karin dan tidak peduli lagi dengan kemarahan Karin. Ia tidak takut dengan Dion. “dr. Arlan?” Malam ini Dion mengundang dr. Dimas untuk makan malam, ia hanya ingin tahu pacar Karin di rumah sakit itu seperti apa. Meskipun sebenarnya Dion sudah mencari tahu sendiri. Punya skandal, pernah menggugurkan kandungan. Ah, dari latar belakangnya saja membuat Dion tidak suka. Bukan hanya Karin yang terkejut, Arlan juga. Karin tidak mengatakan kalau malam ini ada makan malam istimewa dengan mantan kekasihnya. Bagus!“Sepertinya aku datang di waktu yang salah?” tanya Arlan dengan senyum palsunya. Ia duduk di samping Karin dan menatap Dimas yang berada tepat dihadapannya. “Kami baru mulai Om,” jawab Dion sambil menggoyangkan anggur merah dihadapan Arlan. “Oh ya? Ada apa ini?” tanya Arlan sambil melirik Karin yang gelisah, ia bahkan tidak

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status