Share

Bab 477 Jackpot

last update publish date: 2026-09-23 14:03:05

Jantung Dimas mencelos. Kemiripan ini rasanya terlalu nyata untuk dianggap kebetulan.

Karin juga selalu mengalami penderitaan yang sama persis setiap kali siklus bulanannya datang.

“Dari hasil periksa luar tadi, area panggul kamu memang mengalami inflamasi atau peradangan hebat.

Dalam dunia medis, ini disebut Pelvic Inflammatory Disease. Rasa nyeri luar biasa saat kamu menstruasi atau duduk terlalu lama itu terjadi karena jaringan di dalam rahim dan saluran tuba kamu sedang meradang, membengkak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Asy Nahak
lanjut......donkkk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 481 Makanan Rion

    “Apalagi alasan untuk tidak melakukan itu, Rion pasti sudah kesal mendengar alasanku,” gumam Silvi saat sampai di apartemen. Malam ini ia tidak lembur, ia juga harus datang menemani Rion, karena sudah lama sekali Silvi tidak menemani Rion tidur sejak Karin menikah dengan Arlan.Pintu apartemen mewah itu tertutup dengan bunyi klik yang dingin. Silvi berdiri di ruang tengah, merapikan sedikit gaunnya yang terasa mencekik.Di sinilah ia berada, di tempat yang dibelikan Rion untuknya. Statusnya jelas, tertulis hitam di atas putih dalam selembar kontrak, ia harus selalu ada kapanpun Rion memanggil.Harga diri?Silvi sudah membuangnya jauh-jauh.Namun, yang paling kerap menusuk dadanya adalah kenyataan bahwa ia kini kehilangan Karin.Berulang kali Silvi dengan wajah tebal meminta maaf, mencoba mengetuk pintu hati Karin, namun benteng yang dibangun sahabatnya itu terlampau kokoh. Silvi telah menjadi orang asing bagi orang yang paling disayanginya.“Kau terlambat, Silvi.”Suara berat dan ser

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 480 Jadi Pacarku!

    “Katakan kalau kamu tidak nyaman?”“Eumph, iya dok.”Laura pasrah saja karena ia tahu Dimas sedang mengobatinya.Setelah itu, ia membentangkan selembar kain steril berlubang untuk mengisolasi area tindakan.“Mungkin akan terasa sedikit perih saat disuntik, Laura. Tahan sebentar, ya,” ucap Dimas saat menyiapkan jarum suntik kecil.“Ah, stop dok, ini sakit dok,” rengek Laura dengan manja, Dimas ingin memeluk Laura saat itu juga tapi sekarang ia seorang dokter dan mereka belum selesai.Dimas menyuntikkan obat mati rasa jenis Lidokain langsung ke jaringan kulit di sekitar kista.Dimas menunggu beberapa menit, membiarkan obat itu bekerja hingga Laura tidak lagi merasakan nyeri di area tersebut.Karena kista Laura sudah cukup besar dan menimbulkan rasa sakit yang hebat, Dimas memilih metode insisi dan drainase menggunakan Word Catheter, sebuah alat khusus berbentuk selang silikon kecil dengan balon di ujungnya.Dimas mengambil pisau bedah steril berukuran kecil. Dengan tangan yang sangat st

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 479 Rumahnya Sepi

    Seperti janjinya pada Dimas, ia datang ke rumah Dimas dan Dimas sudah menunggunya dari tadi. “Sepi banget rumahnya,” gumam Laura merasakan tubuhnya meremang, malam ini Laura sengaja menggunakan dress, supaya cepat nanti dalam pengobatan.“Hai, padahal aku mau jemput tapi kamu mau datang sendiri,” ucap Dimas dengan senyumnya yang begitu manis. “Kok aku malah nyuruh dokternya yang jemput, pasiennya dong yang harus datang,” jawab Laura dengan tawanya yang renyah.“Ayo, masuk ke ruangan!” Dimas mempersilahkan Laura untuk masuk ke klinik pribadinya. Laura masuk dengan pelan dan sedikit ragu. Laura juga tidak tahu apa tindakannya ini benat.Dinding ruang periksa itu bercat putih gading, memantulkan cahaya lampu pemeriksaan yang temaram namun fokus.Laura berdiri terpaku di dekat meja periksa. Jemarinya meremas ujung dress yang ia kenakan, berusaha meredam detak jantung yang bertalu begitu hebat.Ada rasa malu yang membakar pipinya, bertarung sengit dengan rasa takut luar biasa atas benjo

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 478 Kita Tidak Cocok

    “Kenapa dia menghubungiku,” ucap Laura saat melihat nama Moreno di layar ponselnya. Padahal Laura sudah ingin menutup kisahnya dengan Moreno. Ia anggap memang dirinya yang tidak pantas dengan pria itu. Moreno terlalu sempurna!“Halo,” jawab Laura dengan sangat lembut. “Kamu dimana? Ayo, kita bertemu!” Laura pikir pria sombong ini, tidak akan pernah mau menghubunginya lebih dulu tapi siang ini, Moreno menurunkan egonya untuk menghubungi Laura lebih dulu. Sebenarnya alasan urgensi apa sampai Moreno melakukan semua itu.“Baik, berikan alamatmu!” Setelah mendapatkan alamat cafe tempat Moreno berada sekarang, Laura langsung mengarah ke tempat itu sendirian. Janji sore ini dengan dr. Dimas, bisa ia lakukan setelah bertemu Moreno. Sebenarnya semalam Dimas ingin menjemputnya tapi Laura menolak karena ia sudah dijemput Karin dan untungnya Dimas mengerti.“Apa ini tempatnya?” Laura sampai di cafe tempat ia dan Moreno bertemu. Baru masuk cafe saja, Laura mencium aroma kopi hitam dan asap

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 477 Jackpot

    Jantung Dimas mencelos. Kemiripan ini rasanya terlalu nyata untuk dianggap kebetulan.Karin juga selalu mengalami penderitaan yang sama persis setiap kali siklus bulanannya datang.“Dari hasil periksa luar tadi, area panggul kamu memang mengalami inflamasi atau peradangan hebat.Dalam dunia medis, ini disebut Pelvic Inflammatory Disease. Rasa nyeri luar biasa saat kamu menstruasi atau duduk terlalu lama itu terjadi karena jaringan di dalam rahim dan saluran tuba kamu sedang meradang, membengkak dan menekan saraf-saraf di sekitarnya.”Laura mendengarkan dengan saksama, meremas ujung bajunya.“Lalu ... cara mengobatinya bagaimana, Dok?”“Kita akan lakukan pengobatan menyeluruh,” jawab Dimas, matanya berbinar penuh tekad.“Langkah pertamanya, aku akan meresepkan kombinasi antibiotik spektrum luas untuk mematikan bakteri penyebab infeksinya secara tuntas. Kamu harus minum ini tanpa putus selama dua minggu. Selain itu, aku akan berikan obat anti-inflamasi non-steroid dosis tepat untuk mere

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 476 Sarapan Pagi Penuh Cinta

    “Untung gak nginep semalam, kalau gak, mana bisa buat sarapan untuk dr. Dimas.” Laura berjalan menuju ke ruangan Dimas.Pagi yang hangat itu terasa begitu sempurna di dalam ruang kerja dr. Dimas.Suasana tenang tanpa derap langkah buru-buru para Koas atau panggilan darurat dari ruang operasi seolah sengaja memberi ruang bagi debaran jantung yang kian berpacu cepat.Saat ketukan lembut terdengar dan paras manis Laura muncul di balik pintu, Dimas merasakan kebahagiaan yang membuncah, sebuah rasa yang begitu asing, namun sangat ia rindukan sejak Karin memilih menikah dengan pria lain.“Pagi, dokter ganteng.”Melihat Laura tersenyum manis sambil memuji ketampanannya, dinding pertahanan Dimas runtuh seketika.Ada ketakutan halus yang menyelinap di sudut hatinya, ia takut semua ini hanyalah manifestasi dari mimpi indah yang akan menguap saat ia terbangun.Ia tahu, cepat atau lambat ia harus jujur tentang masa lalunya dengan Laura, kembaran Karin yang memiliki wajah serupa namun jiwa yang se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status