Se connecterArlan pulang ke rumahnya tapi ia terkejut saat melihat ada Papanya duduk di ruang tamu dengan mata yang menahan emosi. “Kamu masih mendekati Karin?” tanya Billy saat Arlan masuk ke rumah mewahnya. Arlan pikir mungkin Papanya tidak tahu kalau ia membeli aset baru, ternyata yang Arlan pikirkan salah. Entah darimana Billy tahu keberadaan rumah barunya ini. Padahal ia membeli rumah ini untuk menghindar dari Billy yang selalu memantau aktivitasnya dengan Karin. “Aku mencintainya,” jawab Arlan dengan tegas. “ARLAN!” teriak Billy sambil melempar gelas ke arah Arlan. Arlan menghindar dengan cepat. Ia sudah tidak mau lagi bersembunyi, kalau Karin ingin ia diam, Arlan tidak akan mengikutinya karena yang Arlan inginkan, hubungan yang normal. “Kenapa Pa? Umurku sudah tidak mudah lagi dan aku nyaman dengan Karin. Aku merasa dia jodohku dan aku tidak mau menikah dengan wanita lain kecuali Karin.” Arlan menantang Papanya, ia bersikap sombong sekali setelah menjadi orang yang sukses. Ia dokter
“Dokter?” Mata Karin berbinar saat melihat mobil sport dr. Arlan mendekatinya, ternyata Arlan sudah mengikuti mereka dari tadi. “Masuklah Sayang!” Karin masuk tanpa banyak berpikir, ia langsung memeluk tubuh kekar Arlan, begitu senangnya bertemu dengan kekasih yang dirindukannya sedari tadi. “Kenapa ditinggal di jalan?” tanya Arlan bingung. Dion ini memang kejam sekali dengan adiknya, kalau saja Arlan tidak lihat, mungkin Karin akan sendirian di cafe seperti orang bodoh. “Gak tau, Silvi di mobil Kak Dion,” ucap Karin sambil menunjuk mobil Dion yang sudah jauh. “Kamu mau kita ikuti mobilnya?” Mungkin saja Dion sudah tahu masalah Silvi dan Rion makanya Dion marah dan ingin membuat perhitungan dengan Silvi. “Ayo, dok. Aku takut Silvi kenapa-kenapa.” Arlan mengikutinya dari jauh, mereka melihat Silvi dan Dion masuk ke club, mereka juga ikut masuk dan melihat dari jauh. Tidak ada yang aneh, hanya berdansa seperti biasa, Dion malah hanya duduk sambil menikmati hiburan. Ia tidak men
“Aku udah di rumah Sil.” Karin mengangkat telepon Silvi, ia sebenarnya masih tidak nyaman dengan Silvi, masih kecewa tapi semua ini bukan salah Silvi. Rasanya Silvi juga korban dari godaan Papi Rion. “Kamu lagi dimana? Kamu gak pulang ke apartemen?” tanya Silvi dengan wajahnya yang memelas. “Lagi sama Kak Dion, mau ke Club, temenin dia aja, kamu mau ikut?” “Maaauuuuu, aku kesana sekarang.” “Oke.” Daripada ia sendiri, lebih baik ajak Silvi saja. Silvi janji ia tidak akan peduli lagi dengan Papi Rion. Karin akan memberikan kesempatan itu untuk Silvi. Di dunia ini Silvi boleh bersama dengan siapapun yang ia suka asal jangan Papinya meskipun Papi Rion sangat tergila-gila dengan permainan ranjang Silvi. “Temen kamu?” tanya Dion. “Hemm.” “Oh, itu ada temen, kamu gak ada niat kenalin ke aku?” “Kakak mau kenalan?” tanya Karin. “Cantik?” “Hemm cantik.” “Boleh deh,” jawab Dion malas. Ia bukan tertarik ingin pacaran tapi seperti yang Karin pikirkan, ia memang punya kebutuhan biologi
Karin disambut dengan pelukan saat ia sampai di rumahnya, Mami nya menangis dan Papi Rion membelai rambutnya. “Jangan kabur lagi, Sayang. Mami gak pernah mempermasalahkan Karin itu darah daging Mami sendiri atau tidak,” ucap Mami Kaina sambil menangis.Untungnya Arlan tidak mendengar, entah mungkin Arlan juga sudah tahu, Karin tidak mengerti. Karin juga tidak ingin membahas, biarlah Arlan sendiri nanti yang bertanya padanya. “Karin cuma liburan aja Mi, sudah lama pengen banget liburan, belajar terus selama ini, jadi bosan,” jawab Karin dengan matanya yang berbinar. Keluarganya sangat mencintainya, itu tidak dibuat-buat, kelihatan sekali kalau Karin memang diharapkan ada di rumah ini meskipun tidak disayang.“Liburannya gimana, Sayang? Kamu senang? Ada yang mengganggumu? Katanya dengan Om Arlan, dia baik?” Begitu banyak sekali pertanyaan dari Papinya, tapi Karin malah malas menjawabnya. “Asik,” jawab Karin sambil melengos ke arah lain, Papi Rion membelai pipi Karin dan tersenyum l
Sampai di Jakarta, tangan Karin ditarik paksa menuju mobil Keluarga Wijaya yang sudah menunggu di depan, satu tangannya yang lain sibuk mendorong koper Karin. Dion sudah melihat isinya, tidak layak! Hanya lingerie dan dress mini ketat, setelah itu make up dan sepatu juga underwear yang seksi-seksi. Karin bukan mau kabur tapi mau menggoda pria. Mungkin saja di Bali ia sudah janjian dengan pria mesum dan mereka bercinta di sana. Atau pria itu dr. Arlan karena Dion melihat Karin berduaan saja dengan pakaian yang tidak pantas, bisa jadi! “Om, mobil gak cukup untuk Om, naik taxi saja,” ucap Dion dengan sinis. Arlan begitu sabar menghadapi anak sulung Rion, kalau saja tidak ada Karin di depannya, Arlan ingin sekali menonjok wajah Dion sampai babak belur. Dion kasar sekali, tangan Karin sampai merah ditarik paksa seperti itu dan Karin hanya pasrah bahkan saat Arlan ingin menolongnya, Karin menggeleng dan melarangnya dengan cepat. Karin tau sifat Dion, semakin banyak yang menolongnya,
Karin seperti patung, ia bahkan tidak bisa bermain ponsel saat duduk di dekat Dion, padahal Dion saja sibuk dengan ponselnya tapi perhatian Dion dan lirikan tajam matanya setiap kali Karin bergerak, membuat Karin memilih untuk diam membisu sambil melihat majalah. Mereka sudah di pesawat menuju ke Jakarta, Dion duduk di sebelahnya, sedangkan dr. Arlan ada di belakang Karin. Sudah dari tadi Arlan mengirim pesan nakal tapi Karin tidak mampu melihatnya. Pesawat belum lepas landas, makanya mereka masih bebas bermain ponsel. Sebenarnya mereka juga sudah membayar untuk Wifi yang disediakan maskapai tapi tidak berguna kalau begini caranya. “Kenapa?” tanya Dion melihat Karin gelisah. “Mau pipis, Kak.”Karin tidak main-main, ia sangat takut dengan Dion. Mungkin terdengar berlebihan tapi masa kecilnya memang dipenuhi dengan tekanan yang diberikan oleh Dion sehingga Karin harus tunduk dan patuh dengan aturan dari Kakaknya ini.“Pergilah, jangan lama!” Karin mengangguk dan bergegas ke toilet m
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”







