LOGIN“Sayang, aku takut banget.”
Karin menangis!Bagi Karin, ini semua seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Dia hanyalah wanita biasa yang mendambakan liburan romantis di Eropa, bukan aksi kejar-kejaran maut di atas aspal Autobahn Jerman yang membeku.Ketakutan yang sempat berhasil ia tekan di stasiun Zurich kini meledak menjadi kepanikan total yang melumpuhkan akalnya.“Sayang, tatap mata aku! Menunduk dan pegang tanganku dengan erat!” teriak Arlan tegas, meMalam semakin larut di rumah sakit, dan giliran Silvi yang duduk di kursi samping ranjang untuk menjaga Karin.Suasana kamar rawat inap itu sudah jauh lebih tenang setelah Karin mendapatkan obat pereda mual dari dokter jaga.Silvi melirik ke arah pintu kaca kecil yang tertutup rapat, lalu menatap Karin yang sedang bersandar pada bantal.“Rin, asli kasihan banget suamimu di luar,” ucap Silvi dengan nada iba namun setengah menggoda.“Wajah Dokter Arlan sedih banget, kelihatan merana karena tidak bisa masuk ke dalam sini. Kamu ini sebenarnya cuma bercanda atau serius sih, bisa muntah-muntah hebat begitu kalau ada dia?”Karin menghembus napas berat, wajahnya yang pucat tampak sangat pasrah.“Mana mungkin aku bercanda, Silvi. Isi perutku rasanya mau keluar semua setiap kali mencium bau parfumnya, bau tubuhnya atau bahkan cuma melihat wajah Arlan sedikit saja dari pintu. Aku langsung pusing dan mual gak karuan.”Karin membelai perutnya yang masih rata dengan tatapan bingung sekaligus heran.
“Sayang, aku kangen. Kapan kamu datang ke apartemenku? Kamu memangnya tidak mau aku puasin lagi?”Malam itu di rumah mereka, ketenangan yang baru saja Dimas dan Laura rasakan seketika pecah.Ponsel Dimas yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar nyaring. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar yang menyala terang.Pesan yang sangat sensual itu dikirim oleh nomor asing yang tidak dikenal.Kebetulan, Laura yang sedang berdiri di dekat meja sempat melihat kalimat terlarang tersebut secara jelas dari layar ponsel suaminya.Detik itu juga, suasana di dalam kamar langsung mendingin“Siapa wanita ini, Sayang?!” tanya Laura, suaranya bergetar menahan cemburu dan rasa sakit.Dimas yang baru menyadari situasi itu langsung menyambar ponselnya dengan geram.“Aku gak tau, Sayang. Sumpah, aku gak kenal!”Ting.Belum sempat Dimas menjelaskan lebih jauh, nomor asing itu kembali mengirimkan beberapa file foto. Begitu dibuka, foto-foto masa lalu terpampang nyata, menampilkan sosok Dimas ya
Dari balik celah pintu yang terbuka sedikit, Karin menatap suaminya dengan tatapan bersalah.“Sayang, aku minta maaf tapi sumpah, aku benar-benar gak tahan dengan bau parfum kamu yang sekarang. Atau... bagaimana kalau kamu masuk lagi tapi jangan pakai parfum itu? Ayo, kita coba!”Mendengar tantangan itu, harapan Arlan seketika membubung tinggi. Dengan penuh semangat, ia bergegas menuju ruangan Direktur, tempat kerjanya yang biasa.Sebagai salah satu dokter penting di rumah sakit ini, Arlan memang selalu meninggalkan beberapa stel pakaian ganti cadangan di sana. Ia mandi dengan cepat, membasuh seluruh tubuhnya hingga bersih dan berganti pakaian baru tanpa menyemprotkan wewangian apa pun.“Sayang, jangan tolak aku lagi!” Wajah Arlan cemberut. Ia ingin memeluk istrinya dan merayakan kehamilan Karin. Arlan sangat yakin kali ini istri tercintanya akan bisa menerimanya kembali.“Hoeeeekkkk!!!”Namun, begitu ia kembali melangkah masuk ke kamar rawat, kenyataan pahit kembali menghantamnya.B
“Hentikan, Moreno!”Laura melangkah kembali masuk ke dalam kamar rawat Karin dengan perasaan cemas.Namun, pemandangan di depannya seketika membuat langkahnya terhenti. Ia melihat Karin sedang membuka bingkisan mewah dari Moreno.Di dalamnya, kilau logam mulia dan permata langsung menyapa mata mereka. Pria gila itu memberikan hadiah berupa perhiasan yang sangat mahal.“Apa maksudnya ini?” gumam Laura dengan wajah memucat. Ia menatap Karin dengan cemas sekaligus takut.“Dia sengaja melakukannya, Karin. Moreno sengaja memberikan perhiasan ini agar Arlan salah paham dan mengira terjadi sesuatu di antara kalian selama di Monako.”Karin hanya bisa menghembus napas berat, menatap perhiasan itu dengan rasa jengkel yang tertahan di dadanya.Sementara itu, di area koridor dekat lift, Moreno berjalan perlahan untuk beranjak pulang. Langkah kakinya mendadak terhenti ketika melihat Dokter Dimas dan Dokter Arlan berjalan bersama.Setelah melewati masalah penculikan kemarin, kedua dokter itu kini t
“Karin masuk rumah sakit?”Kabar tentang kehamilan Karin dan kondisinya yang harus dilarikan ke rumah sakit langsung sampai ke telinga Moreno.Informasi itu tidak membuatnya luluh, melainkan justru memercikkan api amarah yang baru di dalam dadanya.Moreno seketika mengingat kembali nasib calon anaknya yang dikandung oleh Laura.Calon bayi yang sangat ia harapkan itu harus gugur karena Laura mengalami stres berat pasca pelarian bersama Dimas.Rasa kehilangan itu memicu insting kejam di kepala Moreno, ia ingin sekali membuat Arlan dan Karin merasakan kepedihan yang sama.Malam itu, dengan langkah santai namun penuh intrik, Moreno datang ke ruang rawat inap Karin. Ia datang dengan topeng pria yang perhatian, membawa sebuah bingkisan mewah sebagai hadiah atas kehamilan Dokter pribadinya tersebut.Namun, begitu pintu kamar dibuka, Moreno mendapati Laura juga ada di dalam ruangan itu.Kebetulan yang sempurna!Malam ini mereka hanya berdua di dalam kamar, sebab suami mereka, Dokter Arlan dan
Hoek!!!Suara Karin yang sedang mual terdengar jelas dari arah kamar mandi utama. Pagi ini, perutnya mendadak terasa sangat tidak nyaman. Ia terus-menerus muntah-muntah dan langsung menolak saat melihat hidangan sarapan pagi yang sudah disiapkan di atas meja.“Ya ampun, kenapa sih?”Wajah cantik Karin tampak begitu pucat, membuat Arlan yang sejak tadi memperhatikannya langsung diselimuti rasa khawatir yang mendalam.Arlan mendekat, memijat tengkuk istrinya dengan lembut untuk meredakan rasa mual. Sebuah kemungkinan medis langsung terlintas di kepalanya.“Sayang, kamu sudah terlambat periode berapa hari?” tanya Arlan, matanya menatap Karin dengan binar penuh harap.Mendengar pertanyaan itu, Karin seketika tertegun. Ingatannya berputar pada kalender di ponselnya dan ia baru menyadari bahwa ia memang sudah terlambat datang bulan.Selama ini, setelah semua masalah berlalu, mereka berdua memang sudah tidak lagi menggunakan pengaman atau menunda karena sangat mendambakan kehadiran seorang b
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K







