หน้าหลัก / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 616 Wanita Simpanan Paling Disayang

แชร์

Bab 616 Wanita Simpanan Paling Disayang

ผู้เขียน: Madamme Yellow
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-16 00:17:52

“Maaf Nyonya, ada tamu!”

Sementara itu, pagi hari di rumah Karin, suasana terasa hangat setelah badai kecil dengan Arlan berhasil diredakan.

“Siapa?”

Arlan baru saja berangkat ke rumah sakit, meninggalkan Karin yang sedang merapikan cangkir teh di ruang makan.

Namun, keheningan pagi itu mendadak pecah ketika bel rumah berbunyi.

Begitu pintu dibuka, Karin tertegun melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.

Laura!

Kembarannya datang membawa undangan pernikahan.

“Laura? Kamu ... kok gak ngabari d
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 618 Undangan Yang Menyedihkan

    “Kita seriusan diem-dieman begini?” tanya Karin sambil melirik Silvi.Keheningan di dalam mobil terasa kian mencekam seiring roda kendaraan yang terus berputar membelah kemacetan kota.Karin memegang kemudi dengan pandangan lurus ke depan, sementara di sebelahnya, Silvi duduk dengan tubuh kaku.Di atas paha Silvi, selembar kertas coretan menjadi satu-satunya jembatan kata di antara mereka.Karin dan Silvi diam, mereka berkomunikasi lewat kertas karena takut bersuara.Tas di kursi belakang yang menyimpan ponsel baru itu terasa seperti bom yang siap meledak.Keberadaannya memaksa kedua dokter baru itu membisu, menelan semua kata yang ingin mereka teriakkan.“Aku gak tau mau ngomong apa jadinya, kok lupa.”Karin melirik ke arah Silvi ketika pulpen kembali digoreskan dengan jemari yang gemetar hebat.Di atas kertas putih itu, coretan tulisan tangan Silvi mulai menari, menumpahkan mimpi buruk yang ia lalui beberapa jam lalu di kamar mewah yang sunyi.“Rin, ini benar-benar gila! Aldi ternya

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 617 Kecenderungan Menyukai Milik Orang Lain

    Silvi berdiri di sana dengan wajah yang luar biasa pucat. Tatapan matanya yang sembab memancarkan ketakutan yang teramat sangat.Alih-alih menyapa atau memeluk Karin seperti biasa, Silvi justru menarik lengan Karin masuk ke ruang tengah dengan terburu-buru, sembari membawa selembar kertas dan sebuah pulpen“Apa sih? Kenapa?” tanya Karin tidak sabaran.Bibir Silvi terkatup rapat-rapat.Ia sama sekali tidak mau bersuara apapun.Silvi meletakkan buku catatannya di atas meja marmer, lalu jemarinya yang gemetar mulai menulis dengan gerakan yang sangat cepat dan panik.“Aku gak ngerti deh, mau ngomong apa?” Karin masih menunggu dengan sabar.Karin yang melihat tingkah aneh sahabatnya itu langsung mengernyitkan dahi dengan bingung."Sil, kamu kenapa sih? Kenapa kita harus tulis-tulisan seperti ini kalau ada mulut? Kita kan bisa….”Sebelum satu patah kata lagi lolos dari bibir Karin, Silvi langsung menghambur maju dan membekap mulut Karin dengan telapak tangannya yang sedingin es.“Shhhttttt!

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 616 Wanita Simpanan Paling Disayang

    “Maaf Nyonya, ada tamu!”Sementara itu, pagi hari di rumah Karin, suasana terasa hangat setelah badai kecil dengan Arlan berhasil diredakan.“Siapa?”Arlan baru saja berangkat ke rumah sakit, meninggalkan Karin yang sedang merapikan cangkir teh di ruang makan.Namun, keheningan pagi itu mendadak pecah ketika bel rumah berbunyi.Begitu pintu dibuka, Karin tertegun melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.Laura!Kembarannya datang membawa undangan pernikahan.“Laura? Kamu ... kok gak ngabari dulu kalau mau ke rumah?” tanya Karin, menatap amplop undangan beludru merah maroon berdesain mewah yang disodorkan saudara kembarnya itu.Karin membuka undangan itu dan matanya langsung membelalak melihat tanggal yang tertera di sana.Pernikahan Laura dipercepat secara mendadak bulan depan. Karin bingung kenapa, bukannya Moreno, calon suami Laura, sudah menjadwalkan pernikahan mereka di akhir tahun ini?Hubungan bisnis keluarga mereka dengan Moreno pun awalnya sepakat untuk tidak terburu-buru.“

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 615 Pura-Pura Cinta

    “Dan aku masih berpikir bisa kabur darinya.”Ruangan kamar tidur mewah itu mendadak terasa seperti ruang isolasi yang dingin dan hampa.Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah gorden tidak lagi membawa kehangatan, melainkan hanya memperjelas detail kemewahan yang kini terasa seperti tumpukan barang rongsokan di mata Silvi.Silvi terdiam pagi ini.Ia duduk bersimpuh di lantai karpet berbulu tebal di samping ranjangnya yang masih berantakan. Ia terus menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong yang mati rasa.Tangannya gemetar hebat, begitu lemas hingga ponsel pintar di genggamannya beberapa kali hampir merosot jatuh.Aplikasi mata-mata yang mengunggah data suaranya setiap menit langsung ke email Aldi masih terbuka di layar.Kenyataan bahwa setiap hembusan napas, tangis keputusasaan, dan bisikan rahasianya di toilet rumah sakit kemarin telah ditelanjangi oleh teknologi itu, benar-benar meruntuhkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.“Ternyata selama ini aku gak pernah

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 614 Jangan Menghindari Ciumanku!

    “Kenapa menghindar dari ciumanku? Kamu malu punya kekasih seperti aku?” tanya Aldi dengan lembut sambil mengusap pipi Silvi. Apa yang kurang dalam dirinya, ia tampan, ia kaya, banyak wanita yang mendekatinya.“Aku gak malu, Pak Aldi,” jawab Silvi sambil menatap mata Aldi. “Aku gak suka dipanggil seperti itu kalau berdua, sudah aku bilang panggil Sayang atau Aldi.”Malam yang dingin karena guyuran hujan diluar jendela tidak membawa ketenangan sedikitpun bagi Silvi di dalam rumah mewah itu.“Aku menginginkanmu malam ini!”Di dalam kamar utama yang beraroma lilin aromaterapi mahal, atmosfer justru terasa begitu pekat dan menekan.Di atas ranjang king size yang empuk, Silvi malam ini terpaksa melayani Aldi.Padahal, sejak pulang dari rumah sakit siang tadi, tubuh Silvi sedang tidak nyaman.Kepalanya pusing akibat stres yang menumpuk dan perutnya terasa melilit karena kecemasan yang luar biasa setelah konfrontasi di lorong lantai empat.Namun, semua keluhan fisik dan raut lelah di wajah

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 613 Tidak Boleh Jauh

    “Kenapa masih cemberut, Sayang?” tanya Arlan sambil menggenggam tangan Karin dan menciumnya setelah itu.Padahal tadi mereka sudah baikan di rumah sakit.Apa belum cukup yang Arlan lakukan untuk membuktikan kalau ia tidak bersalah?Arlan mengira badai dalam rumah tangganya sudah sepenuhnya mereda setelah sidang etik yang menegangkan di rumah sakit siang tadi. Ia berpikir, ketegasannya menghukum koas genit di depan para dewan direksi dan konsulen sudah cukup untuk membuktikan kesetiaannya dan menebus segalanya di mata Karin.Namun, perkiraan pria itu meleset jauh.“Ngomong dong, Sayang!”Begitu mobil mereka melewati gerbang rumah dan pintu depan dikunci, atmosfer hangat yang Arlan harapkan sama sekali tidak tercipta.Karin masih mendiamkannya.Wajah dokter baru itu masih ditekuk, memancarkan aura merajuk yang sangat pekat.Cemburunya awet sekali pikir Arlan.Karin berjalan cepat menuju kamar tidur utama mereka, namun bukan untuk beristirahat bersamanya.Dengan gerakan ketus, ia menyamb

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status