MasukKarin sakit perut mendengarnya, Arlan memang suka warna merah tapi kalau ia yang gunakan. “Pernah, dr. Arlan sendiri yang ngomong kalau cewek pakai warna merah itu seksi.” “Oh, iya sudah dipakainya, ia siap Karin, kata Kakak Sepupuku saat aku tunjukkan foto dr. Arlan, bergetar rahimnya, langsung anget minta dibasahi, hahahaha.” Ya Tuhan, Karin tidak tahu kalau Kakak Sepupu Silvi seagresif itu. Cocok sekali dengan Arlan yang hyper. “Takutnya dr. Arlan jijik gak kalau Kakak kamu begitu banget, nanti walaupun dia datang, biasa aja bilangin, jangan heboh banget, jangan langsung goyang gergaji. Sabar!” Silvi terkekeh, Karin pun ikut tertawa. Sepertinya sulit biasa saja kalau orang lain pertama kali melihat Arlan. Ketampanan Arlan dan sikapnya yang dingin dengan wanita membuat wanita penasaran. “Oke deh, nanti aku omongin pokoknya hari ini usahakan jadi.” “Siip!” Karin menutup teleponnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah rumah dan saat dalam perjalanan, ponselnya berdering.“Xavier?
“Kenapa seperti anak kecil?” tanya Arlan ketika Karin keluar dari mobilnya. “Maksudnya? Aku cuma kasih kesempatan dokter supaya bisa kenal dengan Mbak Winda lebih dekat lagi, itu yang dokter mau, kan?” Cih! Padahal ada bekas lipstik di pipi Arlan bahkan di dekat bibirnya, sekarang Arlan sok mencintai Karin. “Dia mabuk, orang mabuk gak ada yang sadar apa yang dia lakukan Sayang,” jawab Arlan jujur. Arlan juga tidak mau menjemput Winda tapi bartender di club itu yang menghubungi Arlan. Mau tidak mau, Arlan datang. “Aku antar dia ke hotel, staf hotel saksinya, aku gak sendirian. Ngapain Karin aku bohong sama kamu.” Sepertinya Arlan memang tidak mau ada salah paham dengan Karin tapi pikiran Karin berbeda, ini kesempatan untuk lepas dari Arlan. “Aku gak percaya dok, kamu jelasin apapun ke aku, aku gak akan percaya. Memangnya bercinta perlu berapa lama apalagi sampai kamu antar check in ke hotel. Omong kosong kalau gak ngapa-ngapain. Bibir kamu aja ada bekas lipstik, leher, pipi juga
“Hihihihi.” Karin dari keluar apartemen Arlan sampai di dalam taxi, ia tertawa tidak berhenti padahal ia dan Arlan sedang bertengkar hebat dengan alasan cemburu buta. Tidak, Karin tidak cemburu. Itu hanya alasan saja supaya bisa lepas dari Paman mesumnya. Sekarang Karin bebas, ia tidak perlu lagi jadi budak ranjang Arlan.Karin masih lucu melihat wajah cemas Arlan, ia sampai bersumpah dan memohon untuk tidak meninggalkannya dan Karin tetap pergi dengan air mata buaya. “Ya ampun, aku kalau ikut casting jadi artis pasti lulus deh,” ucap Karin sambil melihat cermin dari cushion miliknya. Cantik tapi gila! Karin menuju cafe semalam tempat Arlan menjemputnya karena Karin meninggalkan mobilnya di sana. Tapi, malam ini ia tetap harus berhasil membawa Arlan untuk bermain padel karena Silvi ingin mengenalkan Kakak Sepupunya yang cantik dengan Arlan, semakin banyak pilihan wanita akan semakin bagus. Supaya mata Arlan terbuka, wanita di dunia ini banyak dan sadarlah. Jangan berharap pada
“Winda bangun!” Arlan menepuk lembut pipi Winda saat ia sudah sampai club tapi wanita itu begitu pulas tidur di sofa, pakaiannya begitu seksi dan club sudah mulai sepi. Terpaksa Arlan menggendong Winda ke mobilnya, ia ingin mengantar Winda pulang ke rumahnya tapi ini sudah malam. Bagaimana kalau dr. Anwar tidak senang anaknya diantar hampir jam empat pagi. Terpaksa, Arlan memesan kamar hotel terdekat. “Arlan? Sayang, aku kangen.” Saat dalam gendongan, Winda mencium pipi Arlan, mencium bibir Arlan, Arlan tidak bisa menghindar karena sedang menggendongnya. Sial sekali nasibnya. Arlan takut ada yang melihat ia sedang seperti ini dengan Winda dan membuat semua orang salah paham. “Kamu kenapa sih sombong banget, aku tu sukaaaaa banget sama kamu,” ucap Winda yang sedang mabuk dan sekarang duduk di atas pangkuan Arlan, Arlan menghindar karena Winda ingin menciumnya tapi tangan Winda dengan cepat mencengkram dagu Arlan dan menciumnya dengan brutal. Shit! “Kamu mabuk Winda, dudukla
Masih dengan menggunakan celana pendek, Arlan menarik Karin kembali, bahkan menggotongnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Untungnya Karin belum sempat masuk ke dalam lift. “Dok, kamu kenapa?” Karin ingin keluar dari apartemen Arlan. Ia mau mencari hiburan, karaoke dengan Silvi atau pergi ke Club, terserah apa saja asal bisa menghiburnya. “Aku tidak pernah main-main Karin. Kenapa kamu tidak pernah berpikir kalau kita akan menikah?” tanya Arlan serius. “Dok, aku masih muda banget, umur kamu dan aku jauh berbeda dan aku gak mau cepat menikah dengan siapapun. Masa mudaku masih panjang, aku gak lagi hamil. Ngapain aku nikah?” Mulut Karin benar-benar lantang. “Oke! Kita pacaran dulu.” Akhirnya Karin bisa mengontrol dirinya, Karin tidak suka obrolan yang mengarah ke pernikahan masalahnya umur Karin masih sangat muda, ia belum jadi dokter. Untuk apa membahas pernikahan terus menerus. Itu membosankan! “Tapi aku gak mau diduakan Karin, kamu harus pilih. Aku atau Dimas?” “Dimas!” Tanpa
“Kenapa?” Arlan marah, karena Karin selingkuh tepat di depan matanya. Bahkan bisa-bisanya meminta Dimas mengirimkan sesuatu yang Arlan tidak suka. “Cuma bercanda aja dok, gak mungkin juga dikirim sama dr. Dimas.” Ting! Tiba-tiba pesan masuk dari dr. Dimas dan itu foto. Karin panik dan cepat menghapusnya tanpa melihatnya dengan fokus. Arlan berkacak pinggang sambil menatap tajam wajah Karin. Baru saja Karin bilang tidak mungkin dan sekarang apa? Dimas tanpa ragu menunjukkannya pada Karin.“Apa tadi?” tanya Arlan dengan tegas. “Kamu mau marah dok?” Padahal Karin yang salah tapi Karin juga yang marah. Karin bergegas menggunakan kembali pakaiannya dan ingin pulang. Ia tidak mau disalahkan seperti ini, Dimas yang punya inisiatif, Karin tidak memaksa Dimas sama sekali lagipula Karin langsung hapus tanpa melihatnya. Apa yang membuat Arlan marah? “Mau ke mana?” tanya Arlan menarik pergelangan tangan Karin dengan kasar. “Pulang! Aku mau pulang.” “Kemana? Ke rumahmu? Kalau masih ada P
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di







