ホーム / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 71 Melanjutkan Permainan

共有

Bab 71 Melanjutkan Permainan

last update 公開日: 2026-07-08 15:16:14

Jam sembilan malam lewat sepuluh menit, mobil mewah milik Xavier masuk melewati pagar besi tinggi Villa Arlan, Xavier ternyata membawa sesuatu saat turun, hadiah untuk Tuan rumah dan Karin tentunya.

Ah, Xavier memang romantis. Ia membeli bunga juga ada paper bag kecil. Mungkin isinya perhiasaan atau sejenisnya.

Arlan melihat dengan tatapan tidak suka saat Xavier menyapa orang tuanya, wajahnya mendongak dengan kedua tangan masuk ke kantong celana.

Cih!

“Malam Om, sorry terlambat.” Xavier ber
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 301 Mandi Berdua

    Karin disambut dengan pelukan saat ia sampai di rumahnya, Mami nya menangis dan Papi Rion membelai rambutnya. “Jangan kabur lagi, Sayang. Mami gak pernah mempermasalahkan Karin itu darah daging Mami sendiri atau tidak,” ucap Mami Kaina sambil menangis.Untungnya Arlan tidak mendengar, entah mungkin Arlan juga sudah tahu, Karin tidak mengerti. Karin juga tidak ingin membahas, biarlah Arlan sendiri nanti yang bertanya padanya. “Karin cuma liburan aja Mi, sudah lama pengen banget liburan, belajar terus selama ini, jadi bosan,” jawab Karin dengan matanya yang berbinar. Keluarganya sangat mencintainya, itu tidak dibuat-buat, kelihatan sekali kalau Karin memang diharapkan ada di rumah ini meskipun tidak disayang.“Liburannya gimana, Sayang? Kamu senang? Ada yang mengganggumu? Katanya dengan Om Arlan, dia baik?” Begitu banyak sekali pertanyaan dari Papinya, tapi Karin malah malas menjawabnya. “Asik,” jawab Karin sambil melengos ke arah lain, Papi Rion membelai pipi Karin dan tersenyum l

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 300 Aku Pintar!

    Sampai di Jakarta, tangan Karin ditarik paksa menuju mobil Keluarga Wijaya yang sudah menunggu di depan, satu tangannya yang lain sibuk mendorong koper Karin. Dion sudah melihat isinya, tidak layak! Hanya lingerie dan dress mini ketat, setelah itu make up dan sepatu juga underwear yang seksi-seksi. Karin bukan mau kabur tapi mau menggoda pria. Mungkin saja di Bali ia sudah janjian dengan pria mesum dan mereka bercinta di sana. Atau pria itu dr. Arlan karena Dion melihat Karin berduaan saja dengan pakaian yang tidak pantas, bisa jadi! “Om, mobil gak cukup untuk Om, naik taxi saja,” ucap Dion dengan sinis. Arlan begitu sabar menghadapi anak sulung Rion, kalau saja tidak ada Karin di depannya, Arlan ingin sekali menonjok wajah Dion sampai babak belur. Dion kasar sekali, tangan Karin sampai merah ditarik paksa seperti itu dan Karin hanya pasrah bahkan saat Arlan ingin menolongnya, Karin menggeleng dan melarangnya dengan cepat. Karin tau sifat Dion, semakin banyak yang menolongnya,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 299 Bayangan Malam Panas

    Karin seperti patung, ia bahkan tidak bisa bermain ponsel saat duduk di dekat Dion, padahal Dion saja sibuk dengan ponselnya tapi perhatian Dion dan lirikan tajam matanya setiap kali Karin bergerak, membuat Karin memilih untuk diam membisu sambil melihat majalah. Mereka sudah di pesawat menuju ke Jakarta, Dion duduk di sebelahnya, sedangkan dr. Arlan ada di belakang Karin. Sudah dari tadi Arlan mengirim pesan nakal tapi Karin tidak mampu melihatnya. Pesawat belum lepas landas, makanya mereka masih bebas bermain ponsel. Sebenarnya mereka juga sudah membayar untuk Wifi yang disediakan maskapai tapi tidak berguna kalau begini caranya. “Kenapa?” tanya Dion melihat Karin gelisah. “Mau pipis, Kak.”Karin tidak main-main, ia sangat takut dengan Dion. Mungkin terdengar berlebihan tapi masa kecilnya memang dipenuhi dengan tekanan yang diberikan oleh Dion sehingga Karin harus tunduk dan patuh dengan aturan dari Kakaknya ini.“Pergilah, jangan lama!” Karin mengangguk dan bergegas ke toilet m

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 298

    “Makanlah!” Dion membantu Karin memotong steak untuknya, ia tidak peduli menjadi tontonan Arlan. Sebenarnya Karin cantik, ia hanya tidak bisa menunjukkan rasa sayang yang benar. Mereka terbiasa dengan cara yang kasar, bahkan Dion tidak pernah peduli dengan Karin. “Untukku?” tanya Karin tidak percaya. “Ya, makan!” Saat sedang makan, kaki Karin yang duduk di depan Arlan mulai nakal, ia sengaja menggoda Arlan dengan menyentuh kaki Arlan sampai naik ke atas dan menggosok lembut dengan jempolnya. Arlan tersenyum dan menyentuh kaki Karin. “Dasar nakal,” gumam Arlan sambil mengunyah potongan steak mahal yang dipesan oleh Dion. “Apa yang kau lakukan?” tanya Dion sambil melihat ke bawah kaki Karin. Sebenarnya apa yang terjadi di bawah mejanya. Kenapa seperti ada gesekkan? Untungnya Karin cepat-cepat menurunkan kakinya. Kalau tidak? Kakaknya pasti akan marah melihat Karin menggoda Arlan seperti itu. “Kenapa Kak?” tanya Karin bingung. “Tidak ada.” Saat Dion sibuk menghubungi klien, Ka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 297 Didikan Militer

    Karin mengenakan dress hitam tali spaghetti yang menunjukkan belahan dadanya yang menonjol, itu pakaian yang biasa, tidak seksi menurut Karin apalagi mereka sedang di Bali saat ini. Kacamata diletakkan di atas kepalanya dengan rambut Curly. Sumpah, Karin cantik sekali seperti itu. Sinar matahari malah membuat kulit Karin tambah bercahaya. “Sakit, Kak.” Dion terus mencengkram tangan Karin, tidak ia biarkan Arlan mendekati Karin bahkan dibuatnya batasan. Salah apa Arlan? Ia bahkan diam saja sedari tadi dan berusaha sabar menghadapi tingkah Dion yang aneh. Dion malah seperti pria yang cemburu dengan kekasihnya. “Diam!” Dion tidak suka dibantah, semakin Karin menolak dipegang tangannya, semakin kuat cengkraman tangannya. “Kita mau kemana?” tanya Karin saat mereka masuk ke daerah pantai. Karin ikut saja karena tidak mau bertengkar dengan Dion. Dion sangat kasar, Karin tidak berani dengan Kakaknya. “Mata kamu buta, hahh? Cari makan!” Karin mengumpat dalam hati suara Dion yang menje

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 296 Monster Di Mata Karin

    “Kenapa Sayang? Kok sedih gitu wajahnya?” tanya Arlan sambil mengusap pipi Karin. Mereka ingin pulang tapi sudah tanggung, makanya Arlan dan Karin mengambil penerbangan malam. Supaya pagi sampai sore bisa menikmati hidup di Bali. “Gak ada, Silvi tadi.” “Ngomong apa?” Arlan menyeruput kopi yang sudah disiapkan, setengah tubuhnya masuk ke kolam. “Masalah kemarin,” jawab Karin. Ternyata Karin masih memikirkan itu, Arlan juga terkejut dan lebih terkejut lagi, ternyata Rion juga suka bercinta yang kasar.“Mami kamu sudah tau?” tanya Arlan, ia tidak suka ikut campur, karena ia saja sama gilanya dengan Rion. Rion belum tahu saja kalau Arlan bercinta dengan Karin, kalau Rion sudah tahu, Rion pasti akan mencabik-cabik tubuh Arlan karena sudah berani menodai putri kecilnya. “Walaupun Mami tau, Mami pasti pura-pura gak tau, Mami gak mau cerai, dok. Dia mencintai Papi, kemarin juga aku udah kasih tau Mami kalau Papi bercinta dengan Clara, dia cuma buang ranjang di rumah.” Arlan tersenyum g

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status