LOGIN“Makanlah!” Dion membantu Karin memotong steak untuknya, ia tidak peduli menjadi tontonan Arlan. Sebenarnya Karin cantik, ia hanya tidak bisa menunjukkan rasa sayang yang benar. Mereka terbiasa dengan cara yang kasar, bahkan Dion tidak pernah peduli dengan Karin. “Untukku?” tanya Karin tidak percaya. “Ya, makan!” Saat sedang makan, kaki Karin yang duduk di depan Arlan mulai nakal, ia sengaja menggoda Arlan dengan menyentuh kaki Arlan sampai naik ke atas dan menggosok lembut dengan jempolnya. Arlan tersenyum dan menyentuh kaki Karin. “Dasar nakal,” gumam Arlan sambil mengunyah potongan steak mahal yang dipesan oleh Dion. “Apa yang kau lakukan?” tanya Dion sambil melihat ke bawah kaki Karin. Sebenarnya apa yang terjadi di bawah mejanya. Kenapa seperti ada gesekkan? Untungnya Karin cepat-cepat menurunkan kakinya. Kalau tidak? Kakaknya pasti akan marah melihat Karin menggoda Arlan seperti itu. “Kenapa Kak?” tanya Karin bingung. “Tidak ada.” Saat Dion sibuk menghubungi klien, Ka
Karin mengenakan dress hitam tali spaghetti yang menunjukkan belahan dadanya yang menonjol, itu pakaian yang biasa, tidak seksi menurut Karin apalagi mereka sedang di Bali saat ini. Kacamata diletakkan di atas kepalanya dengan rambut Curly. Sumpah, Karin cantik sekali seperti itu. Sinar matahari malah membuat kulit Karin tambah bercahaya. “Sakit, Kak.” Dion terus mencengkram tangan Karin, tidak ia biarkan Arlan mendekati Karin bahkan dibuatnya batasan. Salah apa Arlan? Ia bahkan diam saja sedari tadi dan berusaha sabar menghadapi tingkah Dion yang aneh. Dion malah seperti pria yang cemburu dengan kekasihnya. “Diam!” Dion tidak suka dibantah, semakin Karin menolak dipegang tangannya, semakin kuat cengkraman tangannya. “Kita mau kemana?” tanya Karin saat mereka masuk ke daerah pantai. Karin ikut saja karena tidak mau bertengkar dengan Dion. Dion sangat kasar, Karin tidak berani dengan Kakaknya. “Mata kamu buta, hahh? Cari makan!” Karin mengumpat dalam hati suara Dion yang menje
“Kenapa Sayang? Kok sedih gitu wajahnya?” tanya Arlan sambil mengusap pipi Karin. Mereka ingin pulang tapi sudah tanggung, makanya Arlan dan Karin mengambil penerbangan malam. Supaya pagi sampai sore bisa menikmati hidup di Bali. “Gak ada, Silvi tadi.” “Ngomong apa?” Arlan menyeruput kopi yang sudah disiapkan, setengah tubuhnya masuk ke kolam. “Masalah kemarin,” jawab Karin. Ternyata Karin masih memikirkan itu, Arlan juga terkejut dan lebih terkejut lagi, ternyata Rion juga suka bercinta yang kasar.“Mami kamu sudah tau?” tanya Arlan, ia tidak suka ikut campur, karena ia saja sama gilanya dengan Rion. Rion belum tahu saja kalau Arlan bercinta dengan Karin, kalau Rion sudah tahu, Rion pasti akan mencabik-cabik tubuh Arlan karena sudah berani menodai putri kecilnya. “Walaupun Mami tau, Mami pasti pura-pura gak tau, Mami gak mau cerai, dok. Dia mencintai Papi, kemarin juga aku udah kasih tau Mami kalau Papi bercinta dengan Clara, dia cuma buang ranjang di rumah.” Arlan tersenyum g
“Karin kamu di mana?” Sudah dua hari Karin tidak menghubungi Silvi, Silvi sangat merasa kalau Karin berubah dan mulai menjauhinya, Silvi tahu kalau Karin pasti kecewa dengan apa yang dilihatnya tapi itu juga bisa Silvi jelaskan. Silvi tidak pernah menggoda Papi Rion, ia sendiri yang datang dan langsung menerkam Silvi seperti mangsa, Silvi tidak bisa menolak, akhirnya ia bersedia dan malam itu mereka bercinta. “Karin tidak masuk lagi,” gumam Silvi saat ada di rumah sakit pagi ini, dr. Arlan juga tidak ada, padahal hari ini jadwal Silvi dan Karin ikut visit pasien bersama dengan dr. Arlan. “Apa pergi bersama?” Silvi masih mengkhawatirkan sahabatnya itu, Silvi tahu sebagai sahabat ia banyak sekali kekurangan bahkan sangat kurang tapi ia menyayangi Karin seperti keluarganya sendiri. “Aku di Bali.” Akhirnya Karin membalas pesannya juga. Mungkin Karin sudah tidak lagi marah. “Kamu gak ke rumah sakit? Cuti udah dua hari, kamu gak takut nilai kamu kecil, Rin?” tanya Silvi sambil mengg
“Dokter?” Karin keluar dari kamarnya yang mewah dengan menggunakan bikini yang sudah siapkan, malam ini ingin berenang. Sudah lama mereka tidak bercinta di dalam kolam. “Ya,” jawab Arlan sambil menyapu tubuh Karin dari atas sampai bawah. Wanita itu seksi sekali, ia berjanji akan menggoda dirinya persis seperti yang dilakukan Renata. Dan Arlan menunggunya. Karin menantang Arlan dengan duduk di pangkuan Arlan, memaksa mulut Arlan terbuka dan dikecupnya dengan rakus. Lidahnya mendobrak masuk lebih dalam dan menyapu seluruh isi di dalamnya. “Nikmati saja,” bisik Karin dengan nakal. Sesekali ia ingin berlagak seperti wanita penggoda meskipun sebenarnya ia malu melakukan ini. Ia takut pandangan Arlan berubah tapi ….“Kau seksi, Sayang.” Arlan suka, ia malah berbisik sambil mengecup telinga Karin dan membiarkan Karin membuka seluruh pakaiannya. Dengan gerakan cepat dan pasti, Karin membuka kancing kemeja yang digunakan Arlan, ujung lidahnya membasahi leher Arlan hingga Arlan mengera
“Kok kamu tau aku liburan ke Bali?” Karin melilitkan tangannya ke leher Arlan, ia memandang Arlan sekarang berbeda. Padahal seharusnya Karin sedih. Ya, ia sedih tapi yang membuat Karin senang. Ternyata ia tidak punya hubungan dengan Arlan dan Karin belum ingin memberitahu semua itu. Ia saja masih shock. “Kamu yang memberitahu, memang kamu yang mau aku datang,” jawab Arlan dengan percaya dirinya dan Karin hanya tersenyum sambil menatap wajah Arlan dengan binar kebahagiaan yang nyata. Ah, ternyata? “Kamu sayang aku?” Begitu banyak pertanyaan Karin. “Sangat sayang makanya aku mencarimu. Kenapa kabur dari rumah?” Karin yang tadinya tersenyum tiba-tiba menarik senyumnya, ia tidak mengerti. Hanya tidak ingin mengerti saja. Mungkin ia bosan, mungkin juga lelah atau mungkin ini sudah di titik batas kesabarannya. “Aku gak betah di rumah, dok. Terlebih ada Kak Dion, dia gak suka aku, dia benci aku. Aku juga capek kuliah, sejujurnya kuliah kedokteran itu bukan jiwaku tapi aku tetap jalan
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







