Share

Bab 70 Main Kasar

last update publish date: 2026-07-08 13:05:54

Arlan mondar mandir di depan kamar Karin, ia bukan tidak berani masuk, Arlan tahu kuncinya, ia bisa membuka pintu itu dengan sidik jari juga. Tapi, masih ada keluarganya di ruang tengah.

Tok! Tok!

Akhirnya Arlan beranikan diri untuk mengetuk pintu Karin. Sudah dua jam Karin di dalam kamar. Tidak ada suara.

Anggap saja Arlan takut Karin mati.

“Ya, Om?” Cepat sekali Karin membukakan pintu untuk Arlan.

Karin sedang bersama dengan keluarga besar, tidak mungkin ia memanggil Arlan dengan sebutan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 498 Sangkar Emas

    “Investasi untuk proyek di kelapa gading akan segera cair begitu dokumen kesepakatan awal ditandatangani,” suara Papi Moreno terdengar mantap, menyela keheningan semu di antara dua anak manusia itu.Daddy Laura mengangguk antusias, tampak sangat terikat dengan angka-angka fantastis yang baru saja disebutkan.Moreno memanfaatkan momen itu. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Laura yang masih bersikap dingin.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh kendali.“Pak Vincent,” panggil Moreno memotong pembicaraan para orang tua, membuat atensi seisi meja kini tertuju padanya.“Mengenai investasi dan perluasan bisnis yang kita bahas tadi ... saya rasa akan jauh lebih kuat jika kita mengikatnya dengan kepastian hukum yang lebih personal.”Daddy Laura menaikkan alisnya, tertarik.“Maksudmu, Moreno?”Moreno mengalihkan pandangannya langsung ke manik mata Laura, mengunci tatapan wanita itu.“Saya sudah menyiapkan draft perjanjian khusus. Keluarga Moreno akan menyunti

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 497 Penggaris Untuk Burungmu

    “Sayang ….”Karin menerobos masuk ke ruangan Arlan dan langsung memeluknya begitu erat, hampir membuat tulang rusuk Arlan berbunyi krek.Arlan sempat terharu, mengira istrinya sedang butuh kehangatan dan sandaran jiwa setelah seharian menghadapi kejamnya dunia.Siang itu, ruang direktur terasa seperti zona meditasi darurat.Cahaya matahari menyusup melalui kaca besar, menyinari piring makan siang yang masih mengepulkan aroma hangat.Karin langsung duduk setelah memeluk Arlan dan memandangi makanannya seolah-olah nasi goreng di hadapannya bisa mendadak bicara dan menjelaskan rumus kalkulus.Sendok di tangannya bergerak acak, mengaduk makanan tanpa niat menyuap.“Ada apa?”Arlan memperhatikannya sejak tadi dengan alis berkerut, menimbang-nimbang apakah istrinya sedang kesurupan atau hanya sedang mode mogok makan.Ia tahu diam Karin bukan sekadar diam. Ada beban berat yang sedang dipikul istrinya.“Silvi minta maaf lagi,” ucap Karin akhirnya. Suaranya pelan sekali, nyaris kalah saing den

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 496 Siapa Pria Itu?

    “Karin!” Tangan Laura melambai, ia melihat Karin di koridor dan kebetulan Laura ada di rumah sakit ini.Kening Karin berkerut, kembarannya ini sekarang sering sekali datang ke rumah sakit. Entah sengaja bertemu dengannya atau memang berobat di rumah sakit ini.“Aku boleh cerita?” tanya Laura sambil menggandeng tangan Karin. Karin mengangguk dan mengajak Laura ke ruang koas. Hanya tempat itu yang aman untuk mereka dan tidak ada yang akan mengganggu. Pintu ruang koas kembali terbuka. Laura melangkah masuk dengan sisa rasa tidak nyaman di tubuhnya.Laura baru saja melewati prosedur medis yang cukup menguras energi, Dimas baru saja selesai merapikan kateter word yang terpasang di area intimnya akibat kista bartholin yang dideritanya.Laura berjalan perlahan, lalu duduk dengan lambat ke sofa di sudut ruangan dengan helaan napas panjang.Wajahnya tampak lelah, namun ada kilat emosi lain yang menuntut untuk dikeluarkan. Ia datang siang itu murni hanya ingin bercerita dan menumpahkan keluh k

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 495 Pemuas Ranjang, Terserah!

    “Aku tau percuma minta maaf tapi aku akan coba lagi,” ucap Silvi. Sudah berulang kali Silvi minta maaf tapi tidak pernah Karin mau memaafkannya, bahkan pagi ini ia masih baik membantu Karin yang terlambat presentasi, Karin pun tetap dingin. Siang itu, udara di dalam ruang istirahat koas terasa begitu mencekam. Silvi berdiri di depan meja sahabat lamanya itu dengan tubuh gemetar dan mata yang mulai sembab. Di hadapannya, Karin duduk dengan posisi tegak, wajahnya sedingin es, sama sekali tidak menampilkan riak emosi. “Rin, aku minta maaf ... aku mohon, maafkan aku,” suara Silvi pecah, air matanya kini luruh tanpa bisa ditahan lagi. “Aku gak pernah punya niat sedikitpun untuk menghancurkan keluargamu. Tolong pahami posisiku, Rin. Lagipula ... Papi Rion sudah duda sejak Mami Kaina meninggal. Aku gak merebutnya dari siapapun sekarang.” Silvi menarik napas pendek, mencoba mengatur suaranya yang serak. “Dan soal hubunganku dengan Diego ... itu murni atas kehendakku sendiri. Aku tidak

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 494 Tinggal Bersama

    Langkah kaki Diego terdengar tegas di sepanjang koridor, namun pikirannya berkecamuk.Begitu pintu lift tertutup dan ia sendirian, ia langsung merogoh ponsel dari saku jas putihnya dan menekan sebuah nama.“Silvi, ke tangga darurat lantai tiga sekarang. Kita perlu bicara,” ucap Diego tanpa basa-basi begitu telepon tersambung.Hanya butuh waktu tiga menit sampai pintu besi tangga darurat itu terbuka, menampilkan sosok Silvi dengan napas sedikit terengah.Wajah cantik mahasiswi koas itu tampak cemas.Diego langsung melangkah mendekat, menatap Silvi lekat-lekat.“Karin sudah mengadukan hubungan kita dengan Arlan.”Mata Silvi membelalak sempurna. Wajahnya mendadak pucat, kehilangan rona darah.“Apa? Karin?”Silvi menyandarkan punggungnya ke dinding pembatas tangga, mendadak merasa lemas.“Demi Tuhan, Dok ... aku sudah takut dari kemarin. Ternyata benar firasatku. Akhir-akhir ini perawat di bagian obgyn sudah mulai menyindirku. Mereka membicarakan betapa seringnya aku keluar masuk ruanganm

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 493 Peringatan Dari Seorang Sahabat

    “Duduk!”Aroma kopi hitam dan sterilisasi khas rumah sakit menguar di antara mereka.Di ruang kerja Arlan yang tertutup rapat, atmosfer terasa berat, namun anehnya, ada ketenangan yang dingin di sana.Diego duduk bersandar di kursi hadapan Arlan. Punggungnya tegap, wajahnya tanpa ekspresi, seolah-olah ia hanya dipanggil untuk membahas jadwal operasi pasien bedah sesar, bukan soal skandal moral.Sebagai sesama dokter spesialis obgyn, mereka tahu persis cara menjaga ketegangan emosi di bawah jas putih yang mereka kenakan.Diego sudah bisa menebak arah pembicaraan ini sejak kakinya melangkah melewati pintu.Ini pasti soal Karin. Dan tentu saja, soal Silvi, koas yang kemarin menghabiskan waktu bersamanya dibalik pintu terkunci.Arlan meletakkan cangkir kopinya, bunyi detak keramik beradu dengan meja kaca terdengar begitu nyaring di ruangan yang sepi.“Ada apa, Dokter Arlan?” tanya Diego sudah mulai penasaran. Tumben sekali sahabatnya ini memanggilnya di jam krusial. Matanya menatap Diego

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status