Inicio / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 74 Kecupan Dalam Selimut

Compartir

Bab 74 Kecupan Dalam Selimut

last update Fecha de publicación: 2026-07-09 16:10:01

Pura-pura merawat Karin.

Itu alasan yang tepat Arlan masih di dalam kamar Karin tanpa dicurigai. Karin juga manja dengan Arlan sampai pelukan Arlan saja tidak dilepasnya.

“Arlan sayang dengan Karin seperti anaknya sendiri,” gumam Mami Kaina dengan Nenek Karin.

Melihat pemandangan itu, Mami Karin terharu sekali. Karin tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Papinya. Karin dibesarkan dengan banyak uang tapi tidak cukup cinta.

“Arlan memang baik, biarkan saja Karin tidur. Arlan yang akan ber
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 612 Maafkan Aku, Sayang!

    “Sayang, maafin aku soal yang tadi, ya....” bisik Arlan lembut, suaranya terdengar akan penyesalan yang tulus.“Sumpah, aku benar-benar gak tau kalau ada koas yang berani kirim foto gak pantas kayak gitu ke nomor pribadiku. Tolong jangan marah lagi, ya?”Karin menarik napas panjang.Rasa hangat dari pelukan Arlan perlahan mencairkan ketakutan dan kecemburuan yang sejak tadi membakar dadanya. Ia membalikkan badan di dalam dekapan suaminya, menatap mata Arlan dengan lekat.“Kamu serius gak tau, Sayang?”“Serius, Sayangku. Aku bahkan belum sempat buka pesannya, kamu udah keburu datang kayak angin tadi,” ucap Arlan sambil meringis kecil, mencoba mencium ujung hidung Karin untuk membujuknya.Emm, Karin masih merajuk kecil!Wajah manja Arlan kemudian seketika berubah tegas, memancarkan wibawa penuh sebagai seorang Direktur Utama.“Sekarang, aku mau membuktikan ke kamu kalau aku gak main-main. Aku sudah menyuruh sekretarisku untuk memanggil dua koas yang bergosip dan mengirim pesan gak panta

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 611 Aku Bisa Saja Menghancurkanmu!

    “Sil, itu Pak Aldi,” ucap Karin. Mereka baru saja keluar dari lift.Rapat besar mengenai pengadaan alat medis canggih dari Jerman akhirnya ditutup.Aldi melangkah keluar dengan wibawa yang begitu masif, diikuti oleh beberapa ajudan bertubuh tegap di belakangnya.Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ke arah Silvi berada.Aldi menemukan Silvi di dekat lorong lift eksekutif. Tanpa ada bentakan, tanpa ada kemarahan publik yang mencoreng reputasinya, Aldi hanya menatap Silvi dengan senyum tenang khasnya.Namun, sorot mata itu mengirimkan perintah mutlak yang tidak bisa dibantah.“Masuk ke mobil lebih dulu, Sayang. Aku ada urusan sebentar dengan Dokter Arlan, setelah itu kita pulang,” ucap Aldi lembut, namun suaranya terdengar seperti ketukan palu hakim.Silvi tidak punya pilihan.Dengan tubuh yang masih sedikit gemetar, ia berjalan tertunduk melewati deretan ajudan Aldi menuju basement parkir VIP, tempat mobil sedan mewah hitam milik Aldi sudah bersiap.Sepuluh menit kemudian, pintu mo

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 610 Jangan Coba-Coba

    “Kamu dimana, Sayang?” tanya Aldi mengirim pesan pada Silvi.Skors rapat lima belas menit baru saja berakhir.Para dokter spesialis dan perwakilan dari Jerman mulai kembali menduduki kursi masing-masing di ruang rapat utama. Mereka masih meeting.Namun, suasana di dalam ruangan itu terasa jauh lebih menekan daripada sebelum rehat.Arlan kembali duduk di kursi kepemimpinannya sebagai Direktur Rumah Sakit. Ia sesekali mencuri pandang ke arah Aldi yang duduk di sisi kanan meja panjang.Ekspresi sang taipan itu kembali tenang, bahkan terlalu tenang, hingga membuat Arlan merasakan firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan dengan nalar.“Baik, bisa kita mulai kembali?” Arlan membuka suara, memecah keheningan sembari membuka berkas logistik di hadapannya.“Dokter Diego, sebagai ketua tim ahli, silahkan sampaikan poin evaluasi terakhir mengenai integrasi sistem kecerdasan buatan dari Jerman ini sebelum kita mengetuk palu persetujuan.”Diego berdiri dari kursinya dengan raut wajah dingin yang

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 609 Tenggelam Di Laut!

    “Buruan, Silvi!” panggil Karin dengan suara bergetar, buru-buru berlutut di lantai koridor untuk merangkul tubuh sahabatnya yang lemas.“Sil, bangun, Sil. Tarik napas dulu. Mereka sudah turun. Pak Aldi sudah pergi.”Silvi mencengkram lengan blazer Karin dengan sangat kuat. Napasnya memburu, putus-putus seperti orang yang kehabisan oksigen.“Rin … kamu lihat mata Pak Aldi tadi? Kamu lihat, kan? Dia … dia marah besar, Rin. Aku belum pernah lihat sorot mata dia semengerikan itu. Nyawa Diego dalam bahaya, Rin. Ini semua gara-gara aku!”Silvi menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Sssttt, tenang dulu, Sil. Jangan panik di sini, nanti orang-orang lihat,” bisik Karin sambil celingukan, memastikan koridor lantai empat itu benar-benar sepi. Ia membantu Silvi berdiri dan menuntunnya duduk di kursi tunggu besi.“Diego itu dokter spesialis senior, dia juga ketua tim ahli proyek ini. Pak Aldi gak akan berani macam-macam di depan umum, apalagi ada Arlan dan perwakilan dari Jerman.”Tetap saja!

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 608 Mampus!

    “Mampus!”Suasana di lorong lantai empat Rumah Sakit Internasional mendadak mencekam, seolah oksigen di sekitar mereka menguap habis.Karin dan Silvi berdiri mematung dengan jantung yang berdegup kencang di dada.“Sil….”Karin bahkan secara refleks memeluk tas ranselnya, yang berisi ponsel rahasia Silvi dengan sangat erat.Rasanya, kedua dokter baru itu ingin sekali tenggelam ke dasar laut paling dalam saat ini juga agar bisa menghilang dari hadapan sang taipan raksasa.Namun, ketegangan itu mendadak dipecahkan oleh langkah kaki yang terdengar santai dari ujung koridor.Dokter Diego berjalan mendekati kerumunan tersebut tanpa raut cemas sedikit pun.Penampilannya yang rapi dengan jas dokter spesialis berpadu kontras dengan tatapan matanya yang dingin dan datar.Ternyata, ada satu fakta besar yang tidak diketahui Silvi sebelumnya, Dokter Diego juga ikut andil sebagai ketua tim ahli dalam proyek pengadaan alat medis AI dari Jerman yang didonasikan oleh Aldi.Benar-benar sial!Sebagai sp

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 607 Ponsel Baru

    “Pasti setelah aku gak di rumah sakit lagi, dia makin seneng sama koas-koas itu,” ucap Karin kesal.Karin melangkah keluar dari lift dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Rasa cemburu dan kesal kepada Arlan membuat dadanya terasa sesak.Namun, saat ia berjalan cepat menembus area parkiran rumah sakit yang terik, sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya dengan lembut namun terburu-buru.Itu Silvi.Wajah sahabatnya itu tampak pucat pasi, matanya sembab dan ia terus melirik ke kanan dan ke kiri dengan cemas.Silvi langsung menarik Karin menjauh, bersembunyi di antara deretan mobil SUV yang terparkir di sudut yang sepi.“Rin, tolong aku!” seru Silvi dengan suara bergetar, nyaris tidak terdengar.Karin yang tadinya ingin meluapkan kekesalannya tentang koas genit tadi mendadak mengurungkan niat begitu melihat kondisi Silvi yang mengenaskan.“Sil, kamu kenapa? Kok mukanya pucat banget? Kamu sakit!”Silvi mendekatkan wajahnya ke telinga Karin, berbisik diam-diam.“Semalam ... Pak A

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status