Share

Bab 73 Menghancurkanku

last update publish date: 2026-07-09 14:55:02

“Sepertinya kau senang sekali berdiri di jendela dengan pakaian seksimu itu?”

Pesan masuk dari dr. Arlan. Arlan mengintipnya dan Karin tidak sadar, padahal ia hanya saling memandang dengan Xavier dari jauh. Apa salahnya?

Karin memutar bola matanya malas dan sama sekali tidak membalas pesan Arlan.

Ia tidak berbuat macam-macam dengan Xavier, hanya sebatas mengagumi. Karin bahkan tidak peduli saat ini Arlan duduk dan bercengkrama dengan Winda.

Ya, semoga saja mereka cepat menikah. Silahkan! Pe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 328 Main Denganku

    Diego menarik sudut bibirnya, wanita itu sudah menggodanya tetapi tidak bertanggung jawab. Diego bahkan sudah berpikir untuk pulang dan membawa Silvi bersama dengannya.“Apa dia hanya mengetesku?” tanya Diego dengan kesal. Sialan! Diego tidak senang diperlakukan seperti ini. Padahal ia sudah sangat baik membantu Silvi untuk menyelesaikan masalahnya. Silvi sedang menunggu taxi saat Diego melewatinya. “Belum pulang?” tanya Diego.“Susah dapat taxinya, dok. Ini lagi nunggu masih sepuluh menit lagi.” Silvi melirik ragu wajah tampan itu. “Cancel saja, ikut aku pulang!” Diego mengambil ponsel Silvi dan membatalkan pesanan Silvi dengan cepat tanpa bisa Silvi cegah lagi. “Ayo masuk mobil!” Silvi melihat ke sekitar, sudah sepi sekali. Ia masuk ke mobil mewah dr. Diego. Pria yang pernah ditipunya dengan Karin, malah pernah pacaran dengan Karin dan sekarang bersama dengannya. Oh tidak!“Ke rumahku dulu, ya. Gak jauh dari rumah sakit, aku mau mandi, sudah gerah banget,” ucap Diego dengan s

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 327 Pemeriksaan Lanjutan

    “Naik! Lebarkan kakimu!” Silvi di ruangan Diego dan ini sudah malam sekali, tidak ada pasien, bahkan seharusnya Diego juga sudah pulang. Silvi ingin menemani Karin tetapi ia sudah janji untuk berobat lagi dengan Diego. Tapi, Duda tampan ini rela menunggu pasien cantiknya.“Ayo! Ngapain melamun?” tanya Diego dengan kedua tangannya yang mengudara ke atas, ia sudah siap untuk mengecek kewanitaan Silvi yang bermasalah. “Kenapa Silvi? Kau malu? Aku sudah melihatnya kemarin,” lanjut Diego dengan senyum sinisnya. Diego sepertinya paham betul, kedua kali ia melebarkan kaki di hadapan Diego, mereka tidak bercinta tapi malah hal ini yang membuat Silvi deg-degan luar biasa.Silvi dengan pelan melebarkan kakinya, mata Diego begitu tajam melihatnya, ia melirik wajah Silvi yang malu, Silvi juga sudah pasrah.“Eughhh!” Silvi melipat bibirnya saat kedua jari Diego memenuhi inti tubuhnya. “Ahhhhh ahhhh dok, please! Jangan berlebihan,” bisik Silvi di telinga Diego. Bukan jantung Silvi saja yang ti

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 326 Mengambil Kesempatan

    Arlan mengusap wajahnya frustasi, Renata tidak mengerti maksudnya. Ia sudah tidak cinta! Tapi, bicara di telepon tidak baik. Arlan harus segera selesaikan jangan sampai berlarut-larut. Arlan membaca pesan Karin, ia menangis. “Aku bisa dok dengan pria lain kalau aku mau, tapi aku putuskan mereka semua, aku pilih kamu. Aku juga bisa sekarang bersama Xavier tapi aku juga gak melakukan karena aku sayang sama kamu, dok. Tapi apa balasannya, kamu nikahin cewek lain. Terus hubungan kita ini? Gak ada arti?” Panjang sekali pesan yang Karin kirim, kalau Arlan mengajaknya menikah, Karin juga tidak mau. Saat ada berita pernikahan tentangnya, Karin seolah tersakiti. Kenapa wanita bisa seperti ini?“Please, Sayang! Aku gak tau apapun, bukan aku yang mengurus pernikahan ini. Tapi, aku gak akan menikah. Itu yang harus kamu tau, kamu calon istriku.” Karin tidak lagi membalasnya karena tidak percaya dengan apa yang Arlan katakan, buktinya sudah jelas. Arlan mengkhianati cinta mereka. Undangan ini

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 325 Undangan Yang Tersebar

    Karin tidak bersemangat jaga di rumah sakit hari ini, ia terus memikirkan Maminya yang sedang sakit. Semua keluarganya di Singapura dan ia sendirian di Jakarta. “Rin, dr. Dimas panggil kamu di ruangannya.” Satu lagi, Dimas tidak pernah menyerah dengannya padahal Karin mengabaikan Dimas. “Ngapain?” tanya Karin pada Silvi. “Gak tau, tadi aku kumpul tugas, dia tanya tentang laporan kasus kemarin.” Sial! Karin belum menyelesaikan semua laporan itu, pantas saja Dimas mencarinya. Tapi, Karin sangat malas melakukan apapun hari ini, seharusnya ia tidak masuk saja.Namun, Karin sudah banyak sekali mengambil cuti dan temannya sudah siap untuk pindah stase lain. “Ya udah aku keruangannya,” ucap Karin malas. Karin mengetuk pintu ruangan Dimas dan di mejanya sudah banyak sekali makanan. “Masuklah!” Dimas dengan santai meminta Karin masuk, Karin masuk dan langsung menunduk, menunggu apa yang Dimas inginkan darinya.Perut Karin berbunyi. Ia memang belum makan dari pagi dan melihat makanan,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 324 Kau Yang Belum Melupakannya

    Hanya kata-kata seperti itu saja tetapi sudah membuat Karin marah. Padahal memang ia yang tidak menghindar saat Xavier ingin mengecup tangannya. “Kau selalu melupakanku.” Sepertinya Arlan cemburu, ia lupa kalau semalam mereka bercinta meskipun tidak puas karena ada Kakek Billy yang memantau mereka, Karin terpaksa menahan gairah yang perih malam tadi, seandainya Kakek Billy tidak mengajak Arlan ngobrol malam tadi, Karin pasti akan masuk ke kamar Arlan dan melanjutkan percintaan mereka yang tertunda. “Sayang, aku gak pernah lupa kamu. Kenapa marah? Semalam kamu gak puas? Pulang cepat, aku kangen. Aku sama kayak kamu, Sayang. Aku gak pernah puas.” “Oh ya? Jangan bohong Sayang, setelah bersama kau seperti batu, tidak bergerak sama sekali. Selalu aku yang memulai.” Apakah Arlan sedang protes dengan gaya bercintanya yang monoton?“Hahahah, aku bergerak nanti. Oke, aku masih belum terbiasa tapi aku akan buat kamu senang di ranjang, aku juga gak cukup semalam dan aku gak bisa tidur, aku

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 323 Kau Nakal!

    Subuh, mereka sudah siap ke rumah sakit. Pesawat pribadi juga sudah menunggu di Bandara, itu pesawat dari Keluarga Xavier dan pagi ini mereka ikut ke Singapura, Xavier bahkan sudah ada di rumah sakit. “Xavier sangat baik padamu, Karin.” Tiba-tiba saja Kakek Billy bicara seperti itu saat berada di mobil menuju ke rumah sakit, Silvi duduk di depan sementara dr. Arlan ada di mobilnya sendirian. “Dia yang menyiapkan semuanya bahkan pihak rumah sakit yang di Singapura sudah siap menerima kedatangan ibumu,” lanjut Kakek Billy menerangkan kebaikan Xavier agar Karin sedikit ada hati untuk membuka hatinya untuk pria itu. “Iya Kek, dia sangat baik,” jawab Karin. Karin menjadi kikuk, ia tahu arah pembicaraan ini kemana tapi Karin tidak bisa menjanjikan cinta palsu. Saat ini perasaannya sudah begitu besar pada dr. Arlan. “Kakek harap kalian bisa menjadi pasangan, bulan depan Om kamu menikah, setelah itu kau dan Xavier tunangan saja.” Begitu santainya Kakek Billy mengatakan itu seolah semua b

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status